Meski hanya ikut-ikutan heboh, saya akhirnya mengangkat juga topik ini di blog, karena tertarik tuk mencantumkan foto-foto semacam The Last Supper, yang mengandung unsur parodi kental.







Gonjang ganjing majalah tempo dengan parodi Soeharto dalam penggambarannya sesuai dengan lukisan Leonardo Da Vinci itu, lagi-lagi hanya membuktikan bahwa keber-agama-an kita (manusia khususnya indonesia) hanyalah keberagamaan superfisial, rigid dan imatur. Mudahnya makhluk-makhluk dalam agama ini teriritasi oleh sentilan-sentilan yang menyentuh wilayah-wilayah sakral menunjukkan kekurangpercayaan diri mereka sendiri. Masih kental -pasti- di memori masyarakat muslim, betapa hebohnya dahulu karikatur Nabi Muhammad dipermasalahkan. Memang, kita memerlukan counter balance terhadap perbuatan2 berbau blasphemy atau mocking. Karikatur Nabi yang dimuat di Jyylands Posten-Denmark, beberapa memang perlu untuk “diingatkan”. Namun cara-cara yang “over acting” hanya akan menambah pembenaran sebuah kritik/pandangan nyinyir yang tertuju sebelumnya.














Kembali pada The Last Supper versi Soeharto, ada sedikit perbedaan memang. Lukisan itu, sebagaimana yang disinyalir oleh Toriq Hadad, pimpinan redaksi majalah tempo, tidak dimaksudkan sama sekali untuk menghina kelompok agama manapun. Dan memang bila diperhatikan lebih lanjut, yang dibidik kan Soeharto dan anak-anaknya. Kalau lah kemudian, ilustrasi Perjamuan Terakhir yang didompleng tuk menggambarkan hal tersebut, saya yakin itu murni perbuatan seni. (Bedakan misal karikatur Muhammad, yang memang ditujukan tuk menyerang sosok Muhammad dan “kelembagaan” yang dibawahinya = islam).

Mari kita lihat, beberapa contoh “Perjamuan Terakhir” lainnya di sini (link didapat dari milis JIL) :

"perjamuan terakhir" ala House

Mr. Cruise mengajak gerombolan Scientology dalam perjamuan terakhirnya


















ala the simpson

ketika para superhero minum-minum di perjamuan terakhir

kali ini McD tidak hanya menawarkan friedchicken dan hamburger














bahkan iphone punya last suppernya sendiri







Dari beberapa contoh di atas, saya mengharapkan pembaca dapat menarik kesimpulannya sendiri di balik kehebohan The Last Supper versi Soeharto dan anak-anaknya. Saya sendiri tidak berani berkata-kata lebih banyak, karena paham, di wilayah di mana banyak derita dan air mata, ambang sensitifitas masyarakatnya memang akan rendah. Alih-alih dipuji, saya malah akan ditimpuki karena dianggap melanggengkan atau mendukung blasphemy.
Semoga, bangsa dan masyarakat kita bertambah matang, dan bertambah bersih hati, agar agama bukan semata dibela secara membabi buta sebagai bentuk unjuk gigi umatnya, tapi betul-betul merasuk esensinya dalam langkah dan kata menciptakan tujuan utama “adanya” yaitu : kedamaian.