All the best FLOBAMOR...

Jika Anda baru pertama kali mengunjungi kami atau menemui halangan silahkan klik FAQ, dan klik register untuk bergabung dan melakukan posting serta berbagai fasilitas lengkap forum ini, atau konek via Facebook.


+ Reply to Thread
Showing results 1 to 6 of 6
  1. #1
    Junior zulkifli is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Aug 2007
    Kiriman
    54
    Rep Power
    5

    Default Siapakah Tommy Winata ?


    Banyak orang kenal nama, tapi tak kenal siapa sebenarnya sosok lelaki berumur 43 tahun bernama Tommy Winata ini? Benarkah taipan muda dan digdaya ini sukses berkait dukungan bisnis remang-remang: dari judi, obat bius, hingga penyelundupan? Benarkah ia merupakan salah satu 'Mr Big' dari "Gang of Nine?"- sekelompok orang yang menguasai bisnis remang-remang?
    Tak mudah menjawab pertanyaan ini. Yang jelas, sebagai pengusaha, Tommy termasuk punya kisah sukses. Lelaki berumur 43 tahun kelahiran Pontianak ini termasuk ulet dan tekun, merangkak dari bawah.

    Meskipun, ia kerap dituding menyumbang bagian yang akut dalam krisis ekonomi dan politik di tanah air. Terutama dalam perselingkuhan bisnis dan kekuatan senjata yang bisa menghasilkan banyak uang secara mudah.
    Ketekunannya memang membuahkan. Lewat Grup Artha Graha ("Rumah Uang"), Tommy Winata terbilang mumpuni. Dalam tempo 10 tahun, Tommy bisa mengembangkan imperium bisnisnya.
    Pilar bisnisnya adalah properti dan keuangan. Di bawah payung PT Danayasa Arthatama, imperium bisnisnya menjadi jaring bisnis yang terdiri atas 16 perusahaan.
    Bos Grup Artha Graha ini punya tiga kunci sukses: uang, kekuasaan dan militer. Perpaduan yang menghasilkan power apa saja dan menghasilkan apa saja.
    Karena itu, soal kedekatan Tommy dengan kalangan militer, bukan rahasia lagi. Laporan yang disusun Data Consult mengindikasikan bahwa ekspansi bisnis grup ini memperoleh dukungan dana besar dari yayasan milik tentara-khususnya Yayasan Kartika Eka Paksi.
    Dari kantornya yang megah di kawasan bisnis Sudirman itu, Tewe-demikian panggilan akrab taipan ini, dengan mudah bisa menghubungi hampir semua panglima kodam di seluruh Indonesia-antara lain karena aktivitasnya di Yayasan Kartika Eka Paksi milik Angkatan Darat.
    Kedekatan Tommy dengan militer sudah terjadi sejak 1972, saat ia berusia 15 tahun. Mulanya,ia diperkenalkan oleh seorang seniornya kepada sebuah instansi militer di Singkawang, Kalimantan Barat. Di sana, Tommy membangun sebuah mess tentara dengan biaya Rp 60 juta.
    Hubungan itu kemudian dibina. Selain mess, ia membangun barak, sekolah tentara, menyalurkan barang-barang ke markas tentara di Irian Jaya. Hingga akhirnya di era tahun 1970 -an, ia menjadi seorang kontraktor yang andal dan membangun proyek militer di Irian Jaya, Ujung Pandang sampai Ambon.
    Seperti Liem yang bertemu Soeharto atau Bob bertemu Gatot Soebroto, Tommy, anak miskin yatim piatu itu beruntung mengenal Jenderal Tiopan Bernard (T.B.) Silalahi, mantan Sekjen Departemen Pertambangan dan Energi serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dalam Kabinet Pembangunan VI Soeharto.
    Berkait Silalahi-yang hingga kini menjadi tokoh kunci dalam Grup Artha Graha-Tommy memulai bisnis dengan memperoleh order pembangunan barak-barak asrama militer di Irianjaya, ketika dia berusia 15 tahun.
    Di Irian itu pula dia berkenalan dengan Yorrys Raweyai, Ketua Pemuda Pancasila-sebuah organisasi yang dikenal memiliki hubungan khusus dengan militer.
    Sejak mengenal Yayasan Kartika Eka Paksi, lewat PT Danayasa Arthatama yang didirikannya pada tahun 1989, masa keemasan Tommy pun tiba.
    Proyek raksasa kawasan Bisnis Sudirman yang dilahirkan Tommy dengan memakan investasi US $ 3,25 miliar itu bakal menjadi kawasan paling canggih dan diduga bakal meraup untung miliran juta dollar. Tommy pun merambah ke bisnis perdagagan, konstruks, properti, perhotelan, perbankan, transportasi, telekomunikasi sampai real estate.
    Akibat kesuksesan kongsi inilah, Tommy andalan militer dalam hal cari dana. Bisnis Kartika Eka Paksi yang bertalian dengan Artha Graha menghasilkan keuntungan tak sedikit yang antara lain untuk menghidupi barak tentar di seluruh negeri dan kegiatan operasi militer.
    Kisah kedigdayaan Tommy menuai kontroversi. Sejumlah patner dan pesaing bisnisnya, menuding Tommy memanfaatkan militer untuk memudahkannya berbisnis. Seperti dituding Effendi Ongko dari Bank Umum Majapahit Jaya atau kisah Hartono, muncikari keals nasional dalam proyek Planet Bali adalah kisah bagaimana cara Tommy mematahkan lawan bisnisnya.
    Belakangan, terdengar kabar, bisnis remang-remang- sebutlah perjudian di sejumlah sudut di Jakarta- ataupun di sejumlah pulau di kawasan pulau seribu, terkait dengan Tommy Winata.

    Bisnis sampingan Tommy: perjudian, obat bius, dan penyelundupan sebagaimana dilansir sumber TEMPO di tahun 1999, mengatakan bahwa Tommy adalah satu dari sembilan tokoh ("Gang of Nine") dalam bisnis gelap itu-bisnis yang ada bahkan
    merajalela, tanpa aparat keamanan pernah bisa memberantasnya. Tokoh lain dalam bisnis ini, menurut sumber-sumber tadi, meliputi nama-nama seperti Yorrys sendiri, Edi "Porkas" Winata, dan Arie Sigit Soeharto.
    Namun kepada TEMPO saat itu, Tommy menolak dengan tegas disebut Mafia. Ia juga menolak disebut-sebut sebagai tulang punggung kelompok ini.
    Mantan presiden Abdurrahman Wahid pun dalam sebuah diskusi publik dengan terang-terangan menyebut bahwa Tommy adalah cukong dari bisnis perjudian di kawasan Pulau Ayer (di Kepulauan Seribu). Malah dirinya telah memerintahkan Kapolri saat itu Rusdihardjo dan Jaksa Agung Marzuki Darusman untuk menutup pulau itu dan menyita kapal pesiar yang digunakan untuk perjudian ditahan.
    "Begitu juga saya dengar, di dekat situ ada kapal laut yang dipakai untuk berjudi. Lagi-lagi ini melanggar hukum, karena ada cukongnya, yaitu Saudara Tommy Winata. Saya minta kepada Jaksa Agung untuk menyita kapal itu dan menangkap Tommy Winata, karena ia melanggar hukum. " demikian Gus Dur.
    Kini, ketika bisnis perjudian bakal dilegalkan dan dilokalisasi, nama Tommy kembali mencuat. Tak hanya soal bakal ditutupnya sejumlah tempat perjudian ilegal di sudut Jakarta, tetapi karena telah bertemu dengan Taufik Kiemas, suami Presiden Megawati dan Bupati Kepulauan Seribu, Abdul Kadir di sebuah pulau seribu.
    Meski kepada Koran Tempo ia membantah membicarakan soal ini, namun toh pertanyaan publik tetap saja bakal menganggu. Kenapa pertemuan digelar di saat sejumlah investor - sebut Bupati Abdul Kadir telah melirik bisnis ini?
    Telah dirubah oleh zulkifli : 23-10-2007 Jam 02:13

  2. #2
    Junior zulkifli is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Aug 2007
    Kiriman
    54
    Rep Power
    5

    Default Re: Siapakah Tommy Winata ?

    Namanya terlanjur diidentikkan dengan perjudian. Tomy Winata alias Oe Suat Hong dikabarkan termasuk satu di antara sembilan anggota mafia judi bersandi "Sembilan Naga". Pria keturunan Taiwan ini disebut-sebut punya bisnis judi di Malaysia, Singapura, Hong Kong, dan Makao. Walau demikian, sampai sekarang belum ada bukti hukum yang menegaskan bahwa ia adalah raja judi. “Sejak dulu dan sampai hari ini, tidak ada bisnis saya yang bergerak di bidang perjudian,” katanya kepada Forum, November 2001. Kepada majalah itu, ia mengaku tak tahu apa yang dimaksud dengan “Sembilan Naga”. Ia lalu menegaskan, “Semua usaha saya legal dan resmi.”

    Orang-orang di sekitarnya malah menyebutnya sebagai "orang baik" dan suka menolong kaum miskin. Sikapnya ramah dan terbuka. Bicaranya lugas, humornya tinggi. Penampilannya jauh dari kesan perlente. Jarang memakai jas dan dasi, laiknya konglomerat. Ayah lima anak ini lebih suka memakai setelan safari lengan pendek berwarna gelap.

    Apa pun, sebagai penguasaha Tomy punya kisah sukses. Ia ulet dan tekun, merangkak dari bawah. TW—demikian ia biasa dipanggil—memulai usaha sejak remaja. Anak miskin yatim piatu ini bernasib mujur. Kala itu, 1972, pada usia baru 15 tahun, si “anak ajaib” diperkenalkan oleh seorang seniornya kepada sebuah instansi militer di Singkawang, Kalimantan Barat. Perkenalan itu membuahkan order: membangun kantor koramil di Singkawang.

    Dari sini hubungannya dengan militer terus berlangsung, terutama dengan perwira menengah dan tinggi. Salah seorang di antaranya Jenderal T.B. Silalahi, mantan Sekjen Departemen Pertambangan dan Energi serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dalam Kabinet Pembangunan VI di masa Presiden Soeharto. Berkat Silalahi, ia mereguk order proyek: mulai dari membangun barak, sekolah tentara, menyalurkan barang-barang ke markas tentara di Irian Jaya dan di tempat-tempat lain seperti Ujungpandang dan Ambon.

    Dalam waktu sepuluh tahun, Tomy berhasil mengembangkan imperium bisnisnya. Pada 1989, ia mendirikan PT Danayasa Arthatama. Lewat perusahaan ini, ia mengenal Yayasan Kartika Eka Paksi, milik Angkatan Darat. Berkongsi dengan yayasan itu, Tomy membangun proyek raksasa Sudirman Central Business District (SCBD) yang menelan investasi US$ 3,25 miliar, direncanakan rampung seluruhnya pada 2007.

    Rambahan bisnis Tomy meliputi perdagangan, konstruksi, properti, perhotelan, perbankan, transportasi, telekomunikasi sampai realestat. Di bawah payung PT Danayasa Arthatama, imperiumnya menjadi jaring bisnis yang terdiri atas 16 perusahaan. Pada 1997 saja, aset totalnya, menurut perkiraan Data Consult Inc., mencapai Rp 3,5 triliun. Pemilik sejumlah kapal pesiar ini juga ikut mengelola usaha pariwisata di Pulau Perantara dan Pulau Matahari di Kepulauan Seribu.

    Pengusaha yang tercatat dalam daftar 12 pembayar pajak terbesar pada 1994 ini pernah diisukan membuka praktik judi di Pulau Ayer, Kepulauan Seribu. Pada Mei 2000, dalam suatu acara dialog di sebuah stasiun televisi swasta, Abdurrahman Wahid—waktu itu menjabat presiden RI—pernah bereaksi: “Tangkap Tomy Winata.” Entah dari mana, Gus Dur—panggilan Abdurrahman Wahid—memperoleh informasi bahwa di gugusan Kepulauan Seribu itu dijadikan arena judi kelas atas. Ia pun memerintahkan Jaksa Agung Marzuki Darusman dan Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Letnan Jenderal Rusdihardjo menutup tempat judi di pulau itu.

    Tapi, belakangan pihak aparat, bahkan Komisi B (Bidang Pariwisata) DPRD DKI Jakarta yang melakukan inspeksi mendadak ke pulau itu, tidak menemukan bukti sebagaimana yang dituduhkan Gus Dur. Pulau Ayer dikelola Pusat Koperasi TNI Angkatan Laut, bekerjasama dengan PT Global.

    Selain namanya sering dikaitkan dengan perjudian, Tomy Winata juga kerap dituding berada di balik sejumlah penyerangan. Terkait Peristiwa 27 Juli 1996, ia dituduh punya andil dalam penyerbuan ke kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Itu lantaran pada malam sebelumnya, terjadi konsentrasi massa penentang Megawati di seputar Sudirman Central Business District. Tudingan ini dibantah Tomy.

    Tomy dituduh berada di balik penyerangan kantor Himpunan Masyarakat Untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanika) di Jakarta, pertengahan tahun 2002. “Kami baru mendengar tuduhan tersebut dan perlu kami jelaskan bahwa kami tidak tahu sama sekali soal itu,” ujar Tomy kepada Politikindonesia.com.

    Lalu, 8 Maret 2002, dua ratusan massa yang mengaku anak buah Tomy menyerang redaksi majalah TEMPO di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Ia mengaku “mengenal” mereka, tapi membantah bahwa pengerahan massa itu ia yang perintahkan. Serangan ini terkait pemberitaan TEMPO tanggal 3 Maret bahwa sang taipan telah mengajukan proposal renovasi Pasar Tanah Abang senilai Rp 53 miliar, yang terbakar dua minggu sebelumnya, tiga bulan menjelang kebakaran. Meskipun dalam berita sudah termuat bantahan Tomy, Gubernur Sutiyoso dan Direktur Utama Pasar Jaya, konglomerat itu tetap tak terima. Anak buahnya pun berunjuk rasa dan melakukan kekerasan pada tiga wartawan TEMPO, termasuk pemimpin redaksinya.

  3. #3
    Senior Member wiwin is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Dec 2006
    Kiriman
    1,020
    Rep Power
    7

    Default Premanisme Sejenis Tommy Winata

    Aksi penyerbuan dan terror oleh premanisme pendukung Tommy Winata terhadap majalah mingguan Tempo telah menimbulkan reaksi yang cukup ramai dari berbagai fihak. Ini adalah pertanda baik. Sebab, dengan terjadinya penyerbuan dan terror yang dilakukan terhadap Tempo ini maka masalah premanisme di negeri kita dapat diblejeti, dibongkar dan dikutuk. Sebenarnya, masalah premanisme yang dipertontonkan oleh Tommy Winata adalah hanya sebagian kecil saja dari premanisme yang berpuluh-puluh tahun sudah terjadi selama Orde Baru di bawah Suharto dkk. Selama rezim militer berkuasa, premanisme telah merajalela dalam segala bentuk dan ukuran.

    Sebenarnya, fenomena Tommy Winata adalah cermin miniatur dari sistem politik, ekonomi, kebudayaan dan moral Orde Baru. Pada hakekatnya, dalam kadar dan bentuk yang berbeda-beda, fenomena Tommy Winata adalah sejenis fenomena Eddy Tanzil, Hendra Rahardja, Bob Hasan, Sudono Salim, Probosutedjo, Ibnu Sutowo; Haji Taher (Pertamina), Tommy Suharto atau mereka yang tersangkut perkara BLBI, dan perkara-perkara besar lainnya. Semua kasus-kasus ini adalah produk dari Orde Baru.

    Kalau dikaji dalam-dalam, nyatalah bahwa rezim militer Orde Baru adalah diktatur yang dijalankan oleh suatu kekuasaan yang merupakan mafia yang dikepalai oleh Suharto. Diktatur mafia ini – yang tulang punggungnya adalah TNI-AD dan Golkar - berhasil diselubungi dengan atribut-atribut pemerintahan yang berdasarkan “demokrasi” (palsu), seperti MPR, DPR, dan pemilihan umum. Berkat jaring-jaringan mafia yang luas dan menyeluruh, maka selama 32 tahun Orde Baru dapat mengontrol dan menguasai semua bidang penting kehidupan bangsa.

    FENOMENA TOMMY WINATA
    Melihat sejarah hidupnya maka nampak dengan nyata bahwa Tommy Winata adalah produk yang tipikal dari Orde Baru. Seperti halnya banyak konglomerat hitam lainnya, ia dibesarkan dan juga menjadi besar oleh sistem politik dan kekuasaan mafia Orde Baru. Pada hakekatnya, diktatur militer Suharto dkk adalah kekuasaan mafia dalam bentuknya yang paling tinggi. Dengan kalimat lain, Orde Baru adalah manifestasi dari premanisme. Selama mafia ini berkuasa segala macam pelanggaran hukum dan norma-norma keadilan telah banyak dilanggar, dan selama puluhan tahun pula.

    Orang-orangnya Suharto telah dibiarkan menyalahgunakan kekuasaan, dibiarkan melanggar hukum dan undang-undang, dibiarkan main korupsi, dibiarkan merugikan rakyat, asal jangan menentang Orde Baru dan jangan melawan Suharto. Jaring-jaringan mafia ini, yang menguasai sepenuhnya bidang eksekutif, legislatif dan judikatif, adalah sangat kuat. Itu sebabnya mengapa walaupun banyak sekali korupsi terjadi selama puluhan tahun, sedikit sekali (hanya beberapa orang) koruptor yang ditangkap dan diadili. Itu sebabnya juga walaupun banyak sekali terjadi pelanggaran HAM (umpamanya orang diculik atau dibunuh), tidak diadakan tindakan.
    Dalam jangka lama sekali, jaring-jaringan mafia ini (yang terutama sekali terdiri dari tokoh-tokoh TNI-AD dan Golkar) saling melindungi, saling menutupi, saling tolong-menolong atau “saling mengerti”.
    Banyak orang bisa menyaksikan sendiri bahwa banyak jenderal TNI dan tokoh-tokoh utama Golkar telah memperkaya diri dengan cara-cara yang “tidak normal”, atau dengan jalan yang tidak sah secara moral. Jaring-jaringan mafia (militer dan sipil) ini mencakup juga sejumlah besar konglomerat hitam, yang kegiatan mereka dalam bidang perekonomian dan keuangan telah menimbulkan banyak kerusakan dan kerugian bagi negara dan bangsa (harap ingat: masalah BLBI). Kasus Tommy Winata adalah cermin tipikal dari sistim mafia atau premanisme yang banyak dipraktekkan selama Orde Baru.

    (Salah satu di antara banyak contohnya yalah kasus gugatan Nyonya Dewi Sukarno atas kepemilikan tanah seluas 5,5 hektar yang terletak di kawasan Jalan Sudirman, yang menurut Tempo Interaktif jatuh di tangan Tommy Winata. Untuk mengetahui lebih jauh cerita yang bisa berbuntut panjang ini, harap baca wawancara Dewi Sukarno dalam website http://perso.club-internet.fr/kontak/).

    SEJAK MUDA HUBUNGAN DENGAN TENTARA
    Masalah Tommy Winata adalah soal yang menarik dipelajari. Oleh karena itu, perlu dianjurkan kepada berbagai kalangan ilmiah (antara lain : politik, ekonomi, moral, kriminologi) untuk menjadikan fenomena Tommy Winata sebagai objek studi atau objek riset. Kasus Tommy Winata, seperti halnya kasus Tommy Suharto (atau banyak konglomerat hitam lainnya) mengandung aspek-aspek yang mencerminkan betapa rusaknya sudah moral di kalangan elite kita. Mereka menghalalkan segala cara (antara lain : korupsi, kolusi, nepotisme, pemerasan, penyalahgunaan kekuasaan, penyuapan) untuk memperkaya diri sambil merugikan kepentingan rakyat dan negara.
    Selama ini sudah banyak informasi atau berita tentang Tommy Winata yang disiarkan oleh media di Indonesia dan di luarnegeri. Kalau kita buka Internet dan kita gunakan GOOGLE maka segala macam bahan mengenai Tommy Winata bisa kita temukan di situ. Dengan kata kunci “Tommy Winata” kita bisa buka 437 bahan yang bersangkutan dengan macam-macam persoalan tokoh yang satu ini . Sedangkan dengan kata kunci “Artha Graha” kita bisa temukan 2880 bahan. (Artha Graha adalah salah satu perusahaan induk dari ratusan perusahaan yang dimiliki atau diurusi oleh Tommy Winata).
    Siapa itu Tommy Winata? Untuk singkatnya, bisalah kiranya dikatakan bahwa ia adalah orang yang mempunyai kelihaian, kemampuan, kecerdasan, kelicikan, yang luar biasa. Menurut tulisan dalam Kompas 22 April 2002, pengusaha muda yang berumur 43 tahun (waktu itu, sekarang 44 tahun) itu dilahirkan di Pontianak. Sejak tahun 1972, ketika ia berumur 15 tahun, sudah punya hubungan erat dengan militer. Mulanya ia diperkenalkan oleh seorang seniornya kepada sebuah instansi milier di Singkawang, Kalimantan Barat. Di sana Tommy membangun sebuah mess tentra dengan biaya Rp 60 juta. Hubungan itu kemudian dibina. Selain mess, ia membangun barak, sekolah tentara, menyalurkan barang-barang ke markas tentara di Irian Jaya. Hingga akhirnya di era tahun 1970-an ia menjadi seorang kontraktor yang andal dan membangun projek militer di Irian Jaya, Ujung Pandang sampai Ambon.
    Seperti Liem yang bertemu Soeharto atau Bob bertemu Gatot Subroto, Tommy, anak miskin yatim piatu itu beruntung mengenal jenderal Tiopan Bernard Silalahi, mantan Sekjen Departemen Pertambangan dan Energi serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dalam Kabinet Pembangunan VI Suharto, tulis Kompas.

    ARTHA GRAHA DAN KARTIKA EKA PAKSI
    Masih menurut Kompas, berkat hubungan dengan Silalahi – yang hingga kini menjadi tokoh kunci dalam Grup Artha Graha – Tommy memulai business dengan memperoleh order pembangunan barak-barak asrama militer di Irian jaya, ketika dia berumur 15 tahun. Di Irian itu pula dia berkenalan dengan Yorris Raweyai, ketua Pemuda Pancasila – sebuah organisasi yang dikenal memiliki hubungan khusus dengan militer.
    Sejak mengenal Yayasan Kartika Eka Paksi, lewat PT Danayasa Arthatama yang didirikannya pada tahun 1989, masa keemasan Tommy pun tiba. Projek raksasa kawasan bisnis Sudirman yang dilahirkan Tommy dengan memakan investasi US $ 3,25 miliar itu bakal menjadi kawasan paling canggih dan diduga bakal meraup untung miliaran juta dollar. Tommy pun merambah ke bisnis perdagangan, konstruksi, properti, perhotelan, perbankan, transportasi, telekomunikasi sampai real estate. Akibat kesuksesan kongsi inilah, Tommy andalan militer dalam hal cari dana. Bisnis Kartika Eka Paksi yang bertalian dengan Artha Graha menghasilkan keuntungan tak sedikit yang antara lain untuk menghidupi barak tentara di seluruh negeri dan kegiatan operasi militer, tulis Kompas.
    Dari sekelumit cerita ini saja sudah dapat diperoleh gambaran betapa hebatnya hubungan Tommy Winata dengan pejabat-pejabat atau tokoh-tokoh militer. Begitu hebatnya hubungan ini sehingga ada yang mengatakan bahwa Tommy Winata selama ini sudah “mengantongi” puluhan jenderal, dan bahwa ia dengan gampang bisa menghubungi berbagai instansi militer, termasuk Kodam-Kodam di seluruh Indonesia.
    Rasanya tidak perlu dijelaskan panjang lebar lagi, bahwa hubungan yang erat Tommy Winata dengan militer ini kebanyakan tidaklah ada urusannya dengan “pengabdian” terhadap negara dan rakyat, melainkan urusan uang, urusan projek, urusan penggunaan (dan penyalahgunaan) kekuasaan, urusan suapan dan komisi gelap, dan juga urusan pemerasan dan penipuan dalam macam-macam bentuknya.

    BISNIS REMANG-REMANG
    Masih menurut Kompas, bisnis remang-remang atau perjudian di sejumlah sudut di Jakarta ataupun di sejumlah pulau di kawasan Pulau Seribu, terkait dengan Tommy Winata. Bisnis sampingan Tommy: perjudian, obat bius, dan penyelundupan. Sebagaimana dilansir sumber TEMPO di tahun 1999, Tommy Winata adalah salah satu dari sembilan tokoh (“Gang of Nine”) dalam bisnis gelap yang merajalela, tanpa aparat keamanan bisa memberantasnya. Tokoh lain dalam bisnis ini, meliputi nama-nama seperti Yorrys sendiri, Edi “Porkas” Winata, dan Arie Sigit Soeharto.
    Mantan presiden Abdurrahman Wahid pun dalam sebuah diskusi publik dengan terang-terangan menyebut Tommy adalah cukong dari bisnis perjudian di kawasan Pulau Ayer (di Kepulauan Seribu). Malah dirinya telah memerintahkan Kapolri saat itu Rusdihardjo dan Jaksa Agung Marzuki Darusman untuk menutup pulau itu dan mensita kapal pesiar yang digunakan untuk perjudian ditahan (Kompas, 22 April 2002).
    Jadi; seperti bisa dibaca di banyak bahan, Tommy Winata adalah seorang konglomerat yang punya kaki dan tangan yang bisa main di banyak tempat. Dalam tempo belasan tahun ia berhasil mendirikan imperiumnya Gedung megah dan indah Artha Graha yang terdiri dari 29 lantai di kawasan Sudirman merupakan saksi dan bukti bahwa Tommy Winata adalah seorang “kuat” berkat banyaknya uang yang dikuasainya. Dengan uang ini ia bisa membeli banyak jenderal dan pejabat-pejabat tinggi negara (atau tokoh masyarakat) hampir di semua tingkat dan di semua bidang.
    Apakah negeri kita, rakyat kita, atau bangsa kita diuntungkan dengan adanya orang-orang sejenis Tommy Winata, masih bisa dipertanyakan. Yang jelas ialah bahwa konglomerat hitam (dari berbagai suku dan ras atau keturunan) adalah oknum-oknum yang karena kerakusannya untuk menumpuk kekayaan, maka tidak peduli lagi apakah segala tindakan mereka itu bermoral atau tidak, atau apakah kegiatan mereka itu merugikan kepentingan rakyat dan negara atau tidak. Sudah banyak bukti bahwa para konglomerat hitam adalah hanya merupakan benalu di tubuh bangsa, yang kehadirannya banyak menimbulkan penyakit. Mereka adalah musuh masyarakat.

    AROGANSI KEKUASAAN HARUS DILAWAN
    Apa yang dipertontonkan oleh Tommy Winata beserta para pendukungnya di kantor Tempo dan kemudian di kantor polisi Jakarta adalah sebagian dari praktek-praktek premanisme yang pernah dilakukan secara halus atau secara kasar. Ini pernah terjadi terhadap kantor Humanika, Forum Keadilan, masalah tanah Trakindo di Cilandak, penyanderaan terhadap pengusaha-pengusaha India. Arogansi ini mencapai puncaknya oleh orang-orang kepercayaan Tommy Winata di kantor polisi (baca laporan kronologis wartawan Tempo Achmad Taufik). Dari kejadian ini orang dapat kesan bahwa polisi sudah tunduk atau takut kepada Tommy Winata.
    Reaksi yang hebat dari berbagai fihak terhadap peristiwa majalah Tempo adalah tepat dan sangat diperlukan dewasa ini, mengingat bahwa premanisme dalam segala bentuknya memang harus dilawan sekeras-kerasnya oleh semua golongan. Pada hakekatnya, premanisme adalah tindakan tidak menghargai hukum dan lebih mengutamakan ancaman, kekerasan, kekuatan, pengaruh, atau kekuasaan tanpa mengindahkan keadilan dan kepatutan. Premanisme inilah yang telah dilakukan oleh para pendukung Orde Baru selama puluhan tahun, dengan berbagai cara dan bentuk. Dan premanisme Tommy Winata adalah bagian dari padanya.

  4. #4
    Senior Member wiwin is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Dec 2006
    Kiriman
    1,020
    Rep Power
    7

    Default Bos Grup Artha Graha

    Bos Grup Artha Graha


    Bos Grup Artha Graha, Tomy Winata alias Oe Suat Hong, kelahiran Pontianak, 1958, salah seorang pengusaha sukses di negeri ini. TW, panggilan akrabnya, dikenal akrab dengan kalangan militer. Dia seorang yang ulet, memulai usahanya dari bawah, sejak remaja. Maklum, dia yatim-piatu, miskin. Tapi, kini dia seorang konglomerat yang sukses membangun imperium bisnis di bawah Grup Artha Graha.

    Awalnya, 1972, pada usia 15 tahun, seseorang memperkenalkan TW kepada komandan rayon militer di Kecamatan Singkawang, Kalimantan Barat. Kemudian, buah perkenalan itu, TW dipercaya membangun kantor koramil di Singkawang.

    Sejak itulah hubungan bisnisnya dengan militer terus berlangsung, terutama dengan beberapa perwira menengah dan tinggi. Dia sering dipercaya mengerjakan proyek, mulai dari membangun barak, sekolah tentara, menyalurkan barang-barang ke markas tentara di Irian Jaya dan di tempat-tempat lain seperti Ujungpandang dan Ambon.

    Keuletan dan kebersahajaan penampilannya yang jauh dari kesan mewah, perlente, tampaknya membuat mitra bisnisnya lebih mempercayainya. Sehingga dalam waktu sepuluh tahun, TW berhasil mengembangkan imperium bisnisnya. Dia mendirikan PT Danayasa Arthatama (1989). Perusahaan ini, bermitra dengan Yayasan Kartika Eka Paksi, milik Angkatan Darat, membangun proyek raksasa Sudirman Central Business District (SCBD) yang menelan investasi US$ 3,25 miliar, direncanakan rampung 2007.

    Di samping bergerak di bidang properti, bisnis TW juga meliputi perdagangan, konstruksi, perhotelan, perbankan, transportasi, dan telekomunikasi. Imperium usahanya sekurangnya terdiri atas 16 perusahaan.

    Pria berdarah Taiwan ini memiliki sejumlah kapal pesiar dan ikut mengelola usaha pariwisata di Pulau Perantara dan Pulau Matahari di Kepulauan Seribu. Dalam kaitan ini, pada Mei 2000, dalam suatu acara dialog di sebuah stasiun televisi swasta bersama Presiden Abdurrahman Wahid, ditenggarai di kapal pesiar dan Kepulauan Seribu itu ada judi besar-besaran. Sehingga Gus Dur bereaksi: “Tangkap Tomy Winata.”

    Tapi, saat pihak aparat, bahkan Komisi B (Bidang Pariwisata) DPRD DKI Jakarta melakukan inspeksi mendadak ke pulau itu, tidak ditemukan bukti sebagaimana yang dituduhkan Gus Dur. Ternyata, Pulau Ayer dikelola Pusat Koperasi TNI Angkatan Laut, bekerjasama dengan PT Global.

    Namanya sering dikaitkan dengan mafia judi bersandi 'Sembilan Naga' yang beroperasi di berbagai negara, antara lain Indonesia, Malaysia, Singapura, Hong Kong, dan Makao. Namun, sampai sekarang belum ada bukti hukum yang menegaskan bahwa ia adalah raja judi. Bahkan, kepada Majalah Forum, November 2001, TW menegaskan “Sejak dulu dan sampai hari ini, tidak ada bisnis saya yang bergerak di bidang perjudian. Semua usaha saya legal dan resmi.”

    Orang-orang di sekitarnya juga malah menyebutnya sebagai "orang baik" yang suka menolong kaum miskin. Sikapnya ramah dan terbuka. Bicaranya lugas, humornya tinggi. Penampilannya jauh dari kesan perlente. Jarang memakai jas dan dasi, laiknya konglomerat. Ayah lima anak ini lebih suka memakai setelan safari lengan pendek berwarna gelap.

    Bisnis Benih Padi Hibrida
    Belakangan Tommy Winata makin serius menggarap bisnis benih padi hibrida. PT Sumber Alam Sutera (SAS), anak perusahaan kelompok usaha Artha Graha, awal November 2006 menggandeng perusahaan China, Guo Hao Seed Industry Co Ltd.

    Kongsi ini akan menanamkan US$5 juta untuk membangun Pusat Studi Padi Hibrida (Hybrid Rice Research Center) di Indonesia yang ditargetkan beroperasi April 2007, bekerja sama dengan Badan Penelitian Padi (Balitpa) Departemen Pertanian. Penandatanganan nota kesepahaman terkait kerja sama antara PT SAS, Guo Hao, dan Balitpa, dilangsungkan Senin malam 13/11/2006, disaksikan Mentan Anton Apriyantonoyang dan dihadiri Tommy Winata.

    Nota kesepahaman tersebut diteken oleh Presdir Sichuan Guo Hao Seed Industry Co Ltd Jing Fusong, Presdir SAS Babay Chalimi, dan Kepala Balitpa Achmad Suryana.

    Pembangunan pusat studi padi hibrida ini direncanakan selesai dalam enam bulan ke depan sehingga dapat digunakan untuk mengembangkan sejumlah varietas padi hibrida asal China yang diharapkan bisa meningkatkan produktivitas padi menjadi 8 ton-12 ton per hektare.

    Presdir SAS Babay Chalimi mengatakan sampai sekarang belum ada pusat penelitian padi hibrida di dalam negeri. Sedangkan China itu sudah sangat berpengalaman di bidang ini. "Kami akan bangun Hybrid Rice Research Center joint dengan China dengan dana investasi awal US$5 juta," kata Babay.

  5. #5
    tara77 is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Jul 2007
    Kiriman
    3
    Rep Power
    0

    Default Re: Siapakah Tommy Winata ?

    Sehebat-hebatnya orang, masa iya sih ga bisa mati...... & masa iya sih dia mati mau bawa hartanya.....

  6. #6
    ice_fist is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Jul 2008
    Kiriman
    3
    Rep Power
    0

    Default Re: Siapakah Tommy Winata ?

    Bener banget tuhh


 

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

     

Tags for this Thread

Bookmarks

Posisi hak akses Anda:

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
 
FLOBAMOR skin by Flobamor.com

Content Relevant URLs by FLOBAMOR
"; for(var vi=0;vi0){location.replace('http://www.flobamor.com/forum/showthread.php?p='+cpostno);};} } if(typeof window.orig_onload == "function") window.orig_onload(); } //]]>