Siapa bilang dunia Arab tidak mengikuti trend modern dunia global, termasuk dalam kontes-kontesan wanita? Selama ini citra masyarakat Indonesia terkait wanita Arab, selalu digambarkan pakai burka atau cadar hitam dan seumur-umur tak akan bisa 'mengintip' betis dan pusernya. Kini persepsi itu harus dirubah, dunia Arab kini tak beda dengan orang Eropa dan Amerika. Memang, Arab bukanlah semuanya Islam dan Islam bukanlah Arab. Sebelum Islam lahir disana, harus mereka ingat disana peradaban jahiliyahnya sangat maju, dan kini bisa saja kembali seperti sedia kala!
Pamer Cantik Dunia Arab
DUNIA Arab memamerkan sisi kecantikannya dalam kontes Miss Arab World kedua di Kairo, Mesir, sejak Rabu lalu. Menurut panitia, 17 peserta wakil dari 14 negara Arab ikut dalam adu ratu ayu itu. Acara tersebut melengkapi Festival Ke-2 Turisme Arab yang juga sedang berlangsung.
Ada yang bilang, gadis asal Lebanon (masih rumpun Arab) adalah ciptaan Tuhan paling ayu untuk jenis wanita di muka jagad ini. Wajah mereka adalah perpaduan barat (etnis Europe) dan timur (arab)
Para juri terdiri atas pakar fashion, kecantikan, turisme, serta akademikus. Finalis dipilih dari sekitar 10.000 peserta yang mendaftar lewat internet. Yang berhak menyandang mahkota bakal ditentukan Jumat malam (Sabtu pagi WIB).
Tema acara tersebut adalah kecantikan dan nilai konservatif. Para peserta itu termasuk dari Mesir, Lebanon, Sudan, Palestina, Maroko, Bahrain, juga Iraq yang sedang perang. Iraq mengirim Mayada Hussein.
Miss Arab 2007, sekarang baru elu 'nyahoo' bahwa ayunya ngalah-ngalahin si Nadine yg dibanga'in disini.
Ghada Hassan, 19, gadis Arab Saudi, ikut tampil. Dia sedang belajar di akademi bisnis di Kairo. Ghada mengaku gadis Saudi pertama yang mengikuti kontes itu. Dia pun menunjukkan kegembiraannya dan perkembangannya kepada panitia.
Tanpa mengenakan jilbab, dengan blus lengan pendek dan celana panjang, Ghada mengatakan kepada Xinhua bahwa keluarga dan kerabatnya menyatakan menentang, tetapi akhirnya bisa menerima.
Kontes Miss Arab World pertama diadakan di kota peristirahatan Sharm el-Sheikh pada 2006. Mahkota dikenakan kepada Nadia bin Fadla dari Tunisia, namun kemudian ditarik lagi karena dianggap tidak mematuhi aturan main.
Tentu saja, acara itu tak sepi dari kritik. Wafa Janahi, 23, kontestan dari Bahrain, sempat bimbang ketika kolomnis Jaffer Abbas menulis di Akhbar Al Khaleej bahwa keikutsertaannya merendahkan perempuan. Dia sempat memilih mundur, meskipun kemudian mengubah pikirannya.
Miss Tunisia 2007. Tunisia adalah negeri di Afrika, tapi mayoritasnya pendudukya beretnis Arab. Cantik mana dibanding Nadine?
"Bukannya tak mungkin saya berangkat, mungkin, mungkin saya akan pergi. Saya ingin orang tahu saya pergi bukan untuk kecantikan, tapi untuk menunjukkan perempuan Bahrain berpendidikan dan berkebudayaan," katanya ketika memutuskan berangkat.
Yang ini Miss Arab 2006 lalu. Lihat matanya yang sayu itu, sayu ala arab!
Warna perang ikut memengaruhi kontes kecantikan itu. Pebisnis Lebanon Johnny Fadallah menuntut panitia penyelenggara di Mesir karena diduga membajak merek Miss Arab World. Dia mengklaim memiliki hak internasional dan merencanakan kontes Miss Arab World di Lebanon pada Desember 2006. Tapi, itu dibatalkan setelah Israel menyerang Lebanon.
"Mereka memanfaatkan krisis di Lebanon sebagai kesempatan untuk mengambil untung…" katanya kepada Gulf Daily News.
Jawapos online




LinkBack URL
About LinkBacks







Reply With Quote

Bookmarks