Sudah sejak dulu diketahui banyak orang bahwa masyarakat modern dengan perangkat teknologinya menyebabkan hubungan sosial antar sesama manusia menjadi renggang, jauh dan asing. Bahkan terhadap pasangan rumah tangga sekalipun. Keterasingan itu kemudian dipadu dengan tingkat stress yang tinggi di pekerjaan, akhirnya menyebabkan 'keinginan sexual' menjadi anjlog, bahkan impoten! Bila hubungan suami-isteri yang menyangkut 'perkara' yang satu ini sudah macet, apalagi usia pasangan ada yang masih di bawah 40 tahun ... risiko perceraian memang sangat tinggi. Kalau bisa bertahan, biasanya sang isteri yang usianya relatif muda, umumnya sudah punya selingkuhannya sendiri tanpa sang suami menyadarinya akibat kesibukan pekerjaannya

Pekerja TI Paling Rentan Perceraian

India, Pekerja TI (teknologi informasi) yang mapan dalam pekerjaan dan punya gaji tinggi ternyata tak menjamin kelanggengan hubungan pernikahan. Menurut survey terbaru tingkat perceraian pada pekerja di sektor ini makin meningkat.

Selain menggiurkan dengan gaji besar, bidang pekerjaan yang sedang naik daun ini ternyata juga punya risiko sendiri. Menurut T.K.R. Sudha, salah satu pengacara di pengadilan tinggi Madras, India, 40 persen dari kasus perceraian yang ditanganinya merupakan pasangan pekerja IT professional dan pasangan yang bekerja di bidang BPO (Bussines Process Outsourcing). Demikian dikutip detikINET dari Indiatimes, Rabu (1/8/20007).


Kecantikan, popularitas dan kekayaan ternyata tak jadi halangan untuk seseorang hendak bercerai

Di Kota Chennai, India setahun terakhir ini tercatat ada 3000 kasus perceraian yang didaftarkan di pengadilan tinggi. Pengadilan Keluarga yang biasanya sepi, tiba-tiba menjadi sibuk karena banyaknya kasus perceraian yang didaftarkan, sampai-sampai para pengacara merasa kesulitan menangani seluruh pekerjaan mereka. Kota Chennai dan daerah sekitarnya merupakan tempat tinggal (kurang lebih) dua ratus ribu pekerja IT dan BPO.

Dr. S Nambi, mantan President of Indian Psychiatrists Association, merasa profesi ini (programmer perangkat lunak) harus membayar mahal atas tawaran dan gaya hidup yang ditawarkan oleh pekerjaannya itu. Karena pekerjaan IT ini memeras otak dan merupakan pekerjaan yang sarat kompetisi, emosi tinggi sering melanda mereka, dan hal tersebut membawa dampak pada kehidupan keluarganya.

Karena permasalahan mental ini, banyak yang mengalami masalah dalam hubungan seksual yang berakibat pada keretakan rumah tangga, ungkapnya. Sekitar umur 28, mereka menjadi hyper sensitive. Pada usia 35 mereka akan merasa lelah (secara mental) dan capek, kata Nambi, yang kliniknya dipenuhi oleh sejumlah pasangan untuk konseling
detiknet online