menariknya, Amrozy cs bisa bikin seorang Gunawan yang tadinya china itu, menjadi muslim di sel penjara paling angker di Indonesia. Gua bayangkan, kalau si Amrozi cs di biarkan bebas berdakwah ... penjara Nusakambangan akan berubah menjadi penjara yang 'paling menakutkan' di dunia, sebab alumninya berubah pandangan seperti Amrozi semuanya. Semua tak takut mati dan begitu yakin dengan 'konsep' yang dimilikinya saat ini. Bisa jadi, alumni Nusakambangan sama 'diseganinya' dan ditakutinya' dengan alumni Afganistan dan Irak ... Kisah ini kalau di filmkan versi Holywood, pastilah meledak! ...
Membesuk Trio Pelaku Bom Bali Jelang Eksekusi Mati
Senyum Amrozi Cs Membuat Stres Kepala Lapas
Sikap dan pandangan keagamaan Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudra membuat pengelola Lapas Batu, Nusakambangan, waspada. Bahkan, hiburan musik dangdut pun kini tidak ada lagi di sana.
BERBICARA dengan trio pelaku bom Bali harus siap mendengarkan ungkapan-ungkapan yang tidak umum. Terutama dalam konteks masyarakat Islam Indonesia yang suka berdakwah dengan pendekatan damai.
"Jika bebas, saya akan beli truk," kata Amrozi. Untuk apa? "Supaya bisa angkut bom lebih banyak dan ngebom-ngebom lagi, begitu terus, sampai mati," jawabnya, lalu tersenyum.
Bukankah Toko Tidar Kimia di Jalan Tidar, Surabaya, tempat membeli potasium (bahan bom) sebanyak dua ton dulu sudah tutup? "Ha, ha, ha, sing penting duite ana (uangnya ada) pasti ana barange (ada barangnya). Yakinlah, sampai kapan pun, pejuang muslim yang akan menang," imbuhnya.
Sedangkan Imam berdoa semoga anak keturunannya lebih baik darinya. Kalau dia hanya mampu meledakkan bom seperti di Bali, maka anaknya harus lebih hebat daripada itu. Dia ingin anaknya mampu menjebol pertahanan militer Amerika atau bahkan jadi jagoan komputer yang merusak jaringan komputer di sana.
Amrozi tak lupa mengomentari pendapat adiknya, Ali Imron, yang menyatakan bom Bali tidak diridai Allah karena itu akhirnya berhasil dibongkar polisi. Sikap Imron alias Ale yang kini memang kooperatif dengan polisi itu bisa disimak dalam bukunya Ali Imron sang Pengebom.
"Itu pendapat yang keliru. Soal diridai atau bukan tidak dilihat apakah kasusnya terungkap atau tidak. Saat zaman Rasulullah dulu juga ada sahabat yang terbunuh. Apa lalu itu tidak diridai?" tambahnya.
Bagi Amrozi, pun Mukhlas, dan Imam, perjuangan mereka -termasuk bom Bali I- berhasil membuat mereka yang disebut sebagai musuh Allah gentar dan takut. Perjuangan mereka juga membuat orang paham dengan istilah "jihad", sehingga meski ada ekses negatifnya, seperti tewasnya muslim, tapi ada positifnya. "Coba dulu, apakah ada orang Indonesia yang paham jihad itu apa? Sekarang di kampung-kampung mereka tahu itu," tambah Mukhlas.
Menurut dia, Ale, yang tak lain adalah adik kandungnya, serta Nasir Abbas, yang tak lain adalah kakak iparnya (abang dari istrinya, Parida Abbas), saat ini sedang mendapat ujian dari Allah. "Mereka berdua itu sebenarnya sangat kita harap-harapkan, tapi kalau begini, ya itu pilihan mereka. Kita mendoakan mereka. Berat beban mereka," sambungnya.
Ale dan Nasir memang membantu polisi untuk membongkar jaringan teror itu dari dalam. Karena itulah, Nasir dan Ale mendapat perlakukan khusus dari polisi. Misalnya, Ale ditempatkan di Rutan Narkoba Polda Metro Jaya dan Nasir mendapat akses di Densus 88 Antiteror.
Mengantisipasi menyebarnya paham ideologi trio pelaku bom Bali itulah yang membuat Kepala Lapas Batu Sudijanto memproteksi mereka supaya tak "menulari" napi yang lain. Mereka, misalnya, dilarang salat wajib berjamaah di Masjid At-Taubah Lapas Batu. Trio pengebom itu hanya diizinkan bersosialisasi dengan napi lain saat salat Jumat.
"Jangan sampai dia lari dan dilarikan. Jangan sampai pikiran mereka berkembang. Itu alasannya," kata Sudijanto yang baru pulang dari ibadah haji itu.
Menurut dia, tak ada satu pun anak buahnya yang tidak stres menghadapi mereka. "Termasuk saya juga. Meski mereka senyum, tapi namanya orang yang dipenjara, kita tidak tahu ada apa di balik itu," imbuhnya.
Apalagi mereka ditaruh dalam sel dengan konsep supermaximum security yang serbamaksimal. Misalnya, rotasi penjaga dan kunci serta gembok pengaman dilakukan setiap hari. Apakah belakangan (menjelang eksekusi) lebih ketat? "Tidak juga. Masih sama," jawabnya.
Sudijanto sedang berpikir untuk memisahkan tempat penahanan ketiganya. Tapi, toh pengaruh Amrozi, Imam Samudra, dan Mukhlas itu cukup kuat. Salah satunya kepada Gunawan Santoso (terpidana mati kasus pembunuh Budi Harto Angsono) yang kini jadi muslim? "Ya itulah, karena mereka saling berkomunikasi," sambungnya.
Letak sel Gunawan yang dipidana mati dan sempat kabur dua kali dari sel penjara itu memang berdampingan dengan mereka.
Yang menarik, sejak kedatangan ketiganya, aktivitas berbau "haram" dan tidak perlu (mubazir) saat ini juga sudah tidak dilakukan lagi di lingkungan Lapas Batu. Misalnya saja, acara dangdutan pada momen 17 Agustus. "Ya Mas, di sini memang sudah tak ada dangdutan lagi," kata seorang sipir.
Apa pernah menemukan barang yang dilarang dalam sel mereka? "Tidak ada. Baik HP maupun laptop. Isi kamarnya hanya buku dan buku," imbuhnya.
Karena pandangan ketiga terpidana mati yang ekstrem itu, para khatib salat Jumat yang bertugas di lapas pun jadi waspada. "Kami sekarang lebih berhati-hati dalam berkhotbah. Alhamdulillah, saya tidak pernah didebat mereka," kata Hasan A. Makarim, pembina mental dan spritual lapas-lapas di Nusakambangan.
Hasan yang sudah bekerja 20 tahun dan kini ketua MUI Cilacap itu mengakui, pernah ada khatib yang didebat Amrozi karena kepeleset lidah saat menyampaikan khotbah.
Acara besuk siang itu ditutup dengan makan nasi bungkus bersama. Tak kurang dari 40 bungkus nasi yang berisi nasi dengan lauk mi ditambah ayam atau ikan dimakan habis. Ketiga terpidana mati bom Bali tersebut tampak lahap makan.
http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail&id=9915
--------------
Amrozi, putri kecintaannya, dan sang bunda yang pernah melahirkan seorang amrozi.
Salahkah bunda yang mengandungnya?




LinkBack URL
About LinkBacks


Reply With Quote

Bookmarks