Ibnu Khaldun dalam buku nya "Muqaddimah" mengemukakan sebuah thesis sekitar abad ke 11 lalu, bahwa berdasarkan hasil studi empirik tentang jatuh bangunnya sebuah negeri bangsa yang pernah diamatinya, usia rata-rata sebuah Negara/Kesultanan/Kerajaan, rata-rata sekitar 2 generasi atau sekitar 100 tahun. Kalau NKRI sekarang akan ber-ULTAH ke 63, maka ditambah 25 tahun sama dengan 88 tahun ... jadi belum sampai 100 tahun. Artinya, sebagai NKRI bisa saja bentuk Pemerintahan/ Negara ini berubah setelah 100 tahun dari tahun 1945, tetapi eksistensi sebagai sebuah bangsa tetap saja ada. Seperti halnya perubahan dari Majapahit, zaman Kesultanan, zaman penjajahan dan akhirnya zaman Kemerdekaan dimana NKRI kita bentuk hingga saat ini. Sepanjang perjalanan perubahan bentuk Negara itu, isinya tetap saja orang Indonesia yang bersatu dalam sebuah geografis yang luas. Siapa tahu, setelah 100 tahun dari sekarang, peta negara Indonesia seluas zaman Majapahit? Tapi tak ada jaminan ibukotanya tetap di Jakarta, bisa saja pindah di Singapore atau Kuala Lumpur atau Ho Chi Min City!
NKRI Hanya Akan Bertahan 25 Tahun Lagi
Jakarta - Sejarah tidak bisa dipisahkan dari perjalanan suatu bangsa mana pun di dunia. Dengan sejarah, orang bisa belajar bagaimana agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
"Dikhawatirkan, NKRI hanya akan mampu bertahan 25 tahun lagi apabila bangsa Indonesia tidak mampu mengambil pelajaran berharga dari sejarah Indonesia sampai saat ini yang harus diakui penuh dengan tragedi," tutur Ketua Persatuan Pelajar Indonesia di Nagoya, Jepang, Agustan.
Hal tersebut disampaikan Agustan dalam rilis yang diterima detikcom,
Minggu (28/7/2007) sebagai hasil dari diskusi tentang pembelajaran dan pemahaman sejarah nasional Indonesia di Nagoya, Jepang.
Poin yang merupakan buah dari diskusi tersebut adalah pelajaran seharusnya lebih
menekankan dalam proses 'bagaimana dan kenapa' memahami suatu peristiwa. Bukan
sekedar 'siapa, kapan dan di mana' dari suatu peristiwa.
"Dan sedapat mungkin tidak dijadikan alat legitimasi penguasa," terangnya. Dalam diskusi tersebut juga dibicarakan masalah persiapan pola pikir untuk menerima segala mecam perbedaan. Pluralisma, globalisasi, dan multikultur adalah suatu realita nyata yang harus diterima.
Adapun pemandu acara diskusi yaitu Dr. Singgih Tri Sulistiyono (pakar sejarah dari Universitas Diponegoro) dan ahli pendidikan sejarah yaitu Dr. Nasution (pakar pendidikan dari Aichi University dan Universitas Negeri Surabaya). Acara diskusi dimaksudkan untuk memperingati 20 hari menjelang peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
Detik news




LinkBack URL
About LinkBacks
Reply With Quote

Bookmarks