Malam Ramadan Terancam tanpa Listrik

Hanya 5 di Antara 26 Jaringan PLN yang Normal

Ujian ganda akan dirasakan pelanggan PLN yang akan menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan nanti. Jika siang menahan nafsu, lapar, dan dahaga, malam hari terancam gelap tanpa aliran listrik. Hal itu dipicu oleh kondisi kelistrikan nasional yang kian memprihatinkan menjelang datangnya bulan suci tersebut.

Di antara 26 sistem jaringan listrik di Indonesia, 12 sistem mengalami defisit daya, 9 siaga, dan hanya 5 yang normal. Data itu diungkapkan Dirut PT PLN Fahmi Mochtar saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR kemarin (27/8).

Dalih Fahmi sama dengan Dirut-Dirut PLN sebelumnya, yakni kondisi tersebut disebabkan oleh ketidakseimbangan antara penambahan kapasitas supply (pasokan) dengan demand (permintaan). "Demand bergerak lebih cepat daripada supply. Akibatnya, beberapa daerah mengalami defisit," ujarnya saat RDP di Ruang Komisi VII DPR.

Fahmi mengatakan, tiga faktor utama yang memengaruhi sistem kelistrikan nasional adalah konsumsi listrik yang tumbuh 6-7 persen per tahun, pertumbuhan beban puncak (pukul 17.00-20.00) 4,8 persen per tahun. Sebaliknya, penambahan kapasitas pembangkit hanya 3,5 persen per tahun. "Akibatnya, keandalan pasokan listrik terus turun," katanya.

Data terbaru PLN menyebutkan, 12 di antara 26 sistem kelistrikan mengalami defisit. Beberapa yang defisitnya cukup parah adalah sistem Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) yang defisit hingga 156 megawatt (MW), sistem Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) defisit 121 MW, sistem Sulawesi Selatan defisit 72 MW, serta sistem Barito, Kalimantan Selatan, yang defisit 47 MW. Beberapa sistem dengan status siaga, antara lain, sistem Nias, Sumut; sistem Pontianak, Kalbar; sistem Bontang, Kaltim; sistem Ambon, Maluku; serta sistem Palu, Sulteng. Sistem yang masuk kategori status normal adalah sistem Batam; sistem Kerinci, Sumatera; sistem Belitung; sistem Kupang, NTT; dan sistem Jawa-Madura-Bali (Jamali).

Menurut Fahmi, meski masuk kategori normal, sistem Jamali masih rawan. Sebab, kondisi reserve margin (perbandingan beban puncak dan kapasitas mampu) masih tipis, hanya 21 persen. Padahal, idealnya, reserve margin 40 persen.

Jika kondisinya ideal, saat ada pembangkit listrik yang menjalani perawatan, pasokan tetap terjaga. "Karena itu, perlu langkah demand side management dengan penghematan," terangnya.

Dimasukkannya sistem Jamali dalam status normal langsung diprotes anggota komisi VII Effendi Simbolon. Menurut dia, kondisi riil di Jamali yang masih akrab dengan pemadaman bergilir menunjukkan bahwa kelistrikan Jamali belum aman. "Kalau yang normal saja masih sering padam, apalagi yang siaga dan defisit. Karena itu, PLN harus gerak cepat," ujarnya sengit.

Respons DPR semakin keras karena amburadulnya stok listrik PLN itu terjadi hanya empat hari menjelang bulan puasa. Wakil Ketua Komisi VII DPR Achmad Farial yang menjadi pimpinan RDP meminta PLN agar mengeluarkan upaya terbaiknya untuk menjaga pasokan listrik selama bulan puasa. "Ini harus dicamkan oleh manajemen PLN. Jangan sampai ada pemadaman saat bulan puasa. Anda bisa bayangkan, bagaimana perasaan puluhan juta rakyat Indonesia ketika sedang salat Tarawih atau makan sahur, kemudian mati lampu. Pasti, nanti PLN juga yang kena," ujarnya serius.

Menanggapi hal tersebut, Fahmi berjanji untuk meningkatkan kualitas pasokan listrik PLN selama bulan puasa. "Itu sudah pasti, Pak. Percayalah," jawabnya.