Mataram: Perusahaan Listrik Negara Kantor Wilayah Nusa Tenggara Barat akan membangun tiga Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan satu Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTM) di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Pembangunan empat pembangkit yang akan dimulai awal 2005 nanti, adalah hasil kerjasama PLN Pusat dengan investor.

Tiga PLTU yang akan dibangun itu berlokasi di Teluk Endok, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat dengan daya 50 mega watt, kemudian di Labu Buntek, Kabupaten Sumbawa dengan daya 12 mega watt, dan di Niu, Kabupaten Bima dengan daya 12 mega watt atau total seluruhnya 74 mega watt.

Sedangkan satu PLTM akan dibangun di Santong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Barat dengan daya 850 kilo watt atau untuk kebutuhan 1.300 kepala keluarga. Khusus untuk PLTM di Santong, mendapatkan dana bantuan dari Asian Development Bank (ADB).

Untuk tiga PLTU ini, kini telah dilakukan proses
tender yang langsung ditangani PLN Pusat. Dijadwalkan, pembangunan akan serentak dilakukan awal 2005 nanti. Proses persiapan, termasuk izin Analisi dan Dampak Lingkungan (Amdal) telah turun. "Pembangunannya tinggal tunggu waktu saja," tegas Wardiyono, Deputi Manager Komunikasi PLN Kantor Wilayah NTB, di kantornya di Mataram, Selasa (14/12) siang.

Dibangunnya tiga PLTU dan PLTM di NTB, nantinya
diharapkan tidak ada lagi jadwal giliran listrik padam
yang selama ini terjadi minimal satu minggu dua kali
di kota-kota di provinsi ini. Jadwal giliran listrik
padam ini terjadi karena terbatasnya daya yang
disediakan PLN Kanwil NTB yang hanya 85 mega watt.

Pembangunan pembangkit listrik itu juga bisa untuk menekan jumlah kerugian yang diderita PLN NTB, Rp 145 miliar per tahun.

Tingginya kerugian itu akibat biaya produksi tidak sebanding dengan biaya penjualan listrik di masyarakat, untuk konsumsi klasifikasi rumah tangga, bisnis dan sosial. Selama ini pihak PLN Kanwil NTB menjual listrik masih dengan harga Rp 552 rupiah per-KWH-nya dari tarif dasar listrik (standar) yang mestinya Rp 900 per-KWH-nya. Artinya, tiap satu KWH, PLN NTB masih mensubsidi konsumen sebesar Rp 348 per KWH-nya.

Jika nanti tiga PLTU dan satu PLTM telah rampung
terbangun -diperkirakan rampung 2007- jelas angka
produksinya bisa ditekan lebih rendah lagi. Setidaknya bisa menekan belanja untuk bahan bakar uap berupa batu bara dibanding solar untuk Pembangkit Listrik Tenaga Diesel.

Sebagai catatan, selama ini PLN Kanwil NTB mengeluhkan
tingginya harga produksi, untuk tiga PLTD. Di
antaranya untuk pembelian BBM terutama jenis solar
yang mencapai 60 persen dari biaya lainnya, seperti
untuk perawatan mesin, administrasi, kontrak daya
hingga gaji pegawai.

Faktor lain, PLN setempat juga masih mengeluh soal
tunggakan konsumen yang hingga bulan Oktober lalu
mencapai Rp 3,2 miliar. Tunggakan listrik itu sebagian
besar mengendap di pelanggan untuk rumah tangga yang
mencapai 90 persen dari 334.961 total jumlah pelanggan
di NTB.

Sebelumnya, Gubernur NTB Lalu Serinata, menyambut
gembira akan dibangunnya sejumlah pembangkit listrik
di daerahnya. Menurutnya, selama ini banyak investor
baik asing dan domestik yang melirik NTB. Namun,
mereka masih maju mundur karena alasan terbatasnya
daya listrik di NTB.

Dia mencontohkan, dari sektor pariwisata seperti di
kawasan Senggigi, Kabupaten Lombok Barat, juga di Kuta
Kabupaten Lombok Tengah berpotensi terus berkembang. Di kawasan itu, telah tumbuh banyak hotel kelas bintang. "Sisanya yang telah mengusulkan juga cukup banyak. Mungkin di antaranya kendala listrik, sehingga belum cepat terealisasi," paparnya.