PLN Tenderkan Interkoneksi Sumatra Akhir 2007

JAKARTA--MIOL: PT PLN (Persero) akan memulai tender proyek interkoneksi listrik bertegangan 275 kV di Pulau Sumatera senilai US$400 juta atau Rp3,6 triliun pada akhir 2007.
Direktur Transmisi dan Distribusi PLN Herman Darnel Ibrahim mengatakan, PLN menargetkan proyek yang akan menjadi tulang punggung sistem kelistrikan Sumatra itu dapat selesai tahun 2010.
"Ambisinya, lelang akhir tahun ini, sehingga tahun 2010 sudah beroperasi," katanya di Jakarta, Senin (30/7).
Proyek senilai US$400 juta tersebut, ujarnya, akan dibiayai PLN sendiri dengan mekanisme tahun jamak (multiyears).
Melalui pola tersebut, lanjutnya, maka pembayaran akan dilakukan secara bertahap mulai tahun anggaran 2008, 2009, dan 2010.
"Dengan demikian, kebutuhan dananya masih wajar saja kalau disediakan PLN sendiri," katanya.
Ia menjelaskan, proyek tersebut akan meliputi pembangunan jaringan kabel bertegangan 275 kV pada ruas Padang Sidempuan-Sarula-Galang dan Payakumbuh-Kiliranjao sepanjang 900 km.
Sekarang ini PLN sudah memiliki infrastruktur 275 kV, namun masih dioperasikan pada tegangan 150 kV yakni ruas Lahat-Lubuk Linggau-Muara Bungo-Kiliranjao.
Sementara itu, Japan Bank for International Cooperation (JBIC) akan mendanai proyek interkoneksi 275 kV pada ruas Payakumbuh-Padang Sidempuan sepanjang 300 km senilai US$155 juta.
Selain pembangunan jaringan transmisi, proyek interkoneksi Sumatera 275 kV juga mencakup pembangunan sejumlah garduk induk (GI) baru dan penambahan tegangan lima GI yang masih 150 kV menjadi 275 kV.
Kelima GI yang ditingkatkan kapasitasnya tersebut adalah Lubuk Linggau, Lahat, Bangko, Muara Bungo dan Kiliranjao.
Menurut Herman, dengan selesainya jaringan 275 kV maka sistem kelistrikan Sumatera akan semakin handal karena dipasok pembangkit besar yang murah seperti mulut tambang batubara.
"Proyek tersebut juga akan mendukung rencana proyek transmisi listrik Sumatara-Jawa sepanjang 650 km," katanya.
Herman juga mengatakan, total kebutuhan dana buat membiayai proyek transmisi secara nasional mencapai Rp28 triliun dalam beberapa tahun mendatang.
Kebutuhan tersebut terdiri dari transmisi untuk mendukung pembangkit berkapasitas 7.000 MW sebagai bagian proyek 10.000 MW di Pulau Jawa senilai Rp18 riliun dan transmisi di luar Jawa sebesar Rp10 triliun untuk pembangkit 3.000 MW.
Kapasitas pembangkit di luar Jawa sebesar 3.000 MW itu sudah mencakup program pembangkit 10.000 MW, proyek pembangkit listrik swasta (independent power producer/IPP) kemitraan dan IPP daerah krisis.
"Sedang kebutuhan dana buat jaringan distribusi idealnya mencapai Rp6,5 triliun per tahun guna mendukung target penyambungan dua juta pelanggan per tahun," jelasnya.