JAKARTA--MIOL: PT PLN akan menunjuk langsung perusahaan pemasok batu bara bagi PLTU Suralaya. Langkah ini diambil setelah gagalnya tender kedua untuk memenuhi target satu juta ton batu bara yang dibutuhkan pembangkit tersebut.
"Prosedurnya kalau dua kali (tender) gagal, maka tunjuk langsung," kata Direktur Pembangkit dan Energi Primer Ali Herman Ibrahim di sela-sela diskusi energi di Jakarta, Senin (30/7).
Ditanya mengenai kemungkinan perusahaan yang akan mendapat penunjukkan langsung tersebut, menolak membeberkannya. "Ini tugasnya anak perusahaan, Indonesia Power. Biarkan mereka yang mengurus semuanya. Nanti kita tinggal lihat hasilnya saja," ungkapnya.
Usaha PLN menggelar tender untuk mendapatkan pemasok batu bara di PLTU Suralaya harus berakhir dengan kegagalan. Seperti tender batubara berkadar 5.100 kkal/kg yang pertama, tender kedua hanya diikuti dua perusahaan yakni PT Berau Coal dan PT Kideco.
Sesuai aturan, karena tender hanya diikuti dua peserta, maka dinyatakan gagal. Alasan kegagalan tender yang lainnya adalah karena harga batu bara yang diajukan peserta juga masih di atas harga penawaran sendiri (HPS) PT PLN (Persero) yang sesuai rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) hanya sebesar Rp384.000 per ton.
Mengenai HPS batu bara nantinya, Ali menjelaskan, dalam prosedur penunjukkan langsung, maka akan dinegosiasikan langsung PLN dengan perusahaan yang
terpilih nanti. "Harganya nanti akan didiskusikan sendiri, tapi merupakan owner estimate. Yang pasti dibawah harga kita," jelasnya.
PLN menggelar tender untuk menutupi kekurangan pasokan batu bara PLTU Suralaya tahun 2008 dari PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (BA) dari 6,1 juta ton menjadi 5,1 juta ton. Sesuai jadwal, PLN sudah harus menandatangani pengadaan batu bara dengan pemenang tender tiga bulan sebelum Januari 2008.
Sebelumnya, Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen ESDM J Purwono mengatakan persoalan tender tersebut merupakan mekanisme pasar sehingga menjadi urusan korporat.
"Persoalan ini tidak memerlukan bantuan pemerintah," katanya.
Ia juga meminta, PLN melakukan evaluasi, mengapa tender batubaranya terus menerus mengalami kegagalan.
Sementara itu, untuk mengatasi masalah pasokan batu bara yang berulangkali dialami PLN, Jeffrey Mulyono selaku Ketua Asosiasi Pengusaha Batu Bara Indonesia, mengusulkan agar BUMN listrik itu membuat kesepakatan perjanjian jangka panjang dengan perusahaan-perusahaan pemasoknya.
"Kami sebagai produsen, jika dikasih perjanjian yang aman selama 10 tahun, biarpun kepala dicincang akan kami kasih. Artinya, harganya akan lebih murah," katanya di kesempatan yang sama.
Pihak PLN sendiri, seperti dikatakan Ali, memang sedang mengusahakan perjanjian semacam itu kepada perusahaan-perusahaan pemasok pembangkitnya. Alasannya, adalah untuk jaminan ketersedian pasokan PLN.
"Jelas kita mau. Karena untuk mengamankan pembangkit kita. Misalnya, kita punya pembangkit untuk masa 20 tahun, maka seharusnya kita punya perjanjian jangka panjang selama 20 tahun, biar aman," tuturnya




LinkBack URL
About LinkBacks


Reply With Quote

Bookmarks