All the best FLOBAMOR...

Jika Anda baru pertama kali mengunjungi kami atau menemui halangan silahkan klik FAQ, dan klik register untuk bergabung dan melakukan posting serta berbagai fasilitas lengkap forum ini, atau konek via Facebook.


+ Reply to Thread
Showing results 1 to 4 of 4
  1. #1
    Karyawan nandar is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Jun 2006
    Kiriman
    409
    Rep Power
    6

    Default Indonesia Punya Banyak Energi Alternatif

    Bandung, Kompas - Bahan bakar minyak dari fosil makin sulit ditemukan sehingga harganya terus naik. Padahal, Indonesia memiliki potensi alam untuk dikembangkan menjadi bahan bakar alternatif yang produksinya bisa dilakukan rakyat karena proses produksinya sederhana.

    Itu dikatakan Dr Ir Iman K Reksowardojo, Kepala Laboratorium Motor Bakar dan Sistem Propulsi, Departemen Teknik Mesin, Institut Teknologi Bandung (ITB), Selasa (1/3).

    Indonesia dengan sinar matahari yang berlimpah bisa memanfaatkan tanaman untuk dijadikan bahan bakar. Bensin bisa diganti dengan ethanol yang bisa dibuat dari fermentasi singkong atau tebu. Sedangkan solar bisa digantikan biodiesel yang dibuat dari esterfikasi pemberian ester asam lemak pada minyak nabati. Minyak nabati antara lain dari biji jarak pagar, rambutan, sirsak, kelapa sawit, dan kelapa.

    Keunggulan bioetanol dan biodiesel yaitu mengandung oksigen yang membuat pembakaran lebih sempurna dan lebih ramah lingkungan karena asap buangan tidak hitam. Kekurangannya, kalorinya lebih rendah sehingga untuk menghasilkan tenaga yang sama dibutuhkan bahan bakar lebih banyak dibandingkan dengan bensin atau solar.

    Iman juga mengatakan, selama BBM dari fosil terus disubsidi, sumber energi alternatif tidak bisa bersaing. "Usul saya, subsidi silang dari BBM tidak hanya untuk pendidikan dan kesehatan, tapi juga untuk BBM alternatif," katanya. Contohnya, pompa bahan bakar gas yang dulu di Jakarta ada 21 kini tinggal dua karena tidak ada subsidi. Diusulkan, Pertamina menangani pengembangan energi alternatif itu. (Y09)

    By: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0...ah/1594895.htm

  2. #2
    Karyawan nandar is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Jun 2006
    Kiriman
    409
    Rep Power
    6

    Default Energi Alternatif

    Energi Alternatif
    Tuesday, 25 October 2005
    Sebagai alternatif pengganti BBM, maka dalam program nasional untuk penyediaan 10 juta kompor/tungku briket batubara Kementerian Koperasi dan UKM memperoleh alokasi untuk merealisasikan sebanyak 1 juta kompor/tungku. Dalam pelaksanaannya akan melibatkan KUKM, dan sebagai percontohan akan direalisasikan di 6 propinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, DKI, Lampung dan Sumatera Selatan. Selain itu juga akan diaktifkan kembali 6 (enam) unit pencetak briket batu bara milik koperasi.

    Selain itu sebagai tindak lanjut Rakor bidang Kesejahteraan Rakyat tanggal 3 September 2005 tentang penanggulangan kemiskinan dan krisis BBM, Kementerian Koperasi dan UKM juga akan memfasilitasi KUKM dalam program pemanfaatan tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L) sebagai altrenatif energi. Penerapan program ini akan dirintis di 3 propinsi, yaitu NTT, NTB dan Banten sebagai prioritas pertama pada tahun 2005 / 2006. Pada tanggal 12 Oktober 2005 Menteri Koperasi dan UKM bersama dengan 16 Menteri terkait, unsur dunia usaha dan lembaga ekonomi masyarakat telah menanda tangani deklarasi untuk mendukung, memfasilitasi dan sosialisasi program pengentasan kemiskinan melalui penanaman jarak pagar sebagai energi alternatif.

    Sejauh ini koperasi juga sudah berperan aktif dalam memanfaatkan energi alternatif, yaitu dalam pengelolaan Listrik Tenaga Mikro Hidro dengan memanfaatkan potensi tenaga air, yang telah dilaksanakan di 20 lokasi, dan kegiatan ini akan terus berlanjut.

    http://www.depkop.go.id/index.php?op...568&Itemid=231

  3. #3
    Karyawan nandar is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Jun 2006
    Kiriman
    409
    Rep Power
    6

    Default Kelapa Sawit Siap Diolah Jadi Energi Alternatif

    Kamis, 06 Oktober 2005 | 22:53 WIB

    TEMPO Interaktif, Jakartaepartemen Pertanian menilai kelapa sawit sebagai bahan baku biodiesel yang paling siap dikomersilkan. "Rencana komersialisasi itu sedang dibicarakan Departemen Pertanian dengan Wakil Presiden,"kata Direktur Jenderal Perkebunan Deptan, Akhmad Dimyati dalam dialog 'Biodiesel: Peluang dan Tantangan", Kamis (6/10) di Jakarta.

    Menurut Dimyati, kebijakan komersialisasi kelapa sawit untuk bahan baku biodiesel diambil agar eskpor kelapa sawit tidak lagi berupa bahan mentah (CPO) tetapi berbentuk hasil olahan. "Selain itu ini juga bisa alternatif jika harga minnyak sawit jatuh akibat suplai yang berlebih,"katanya.

    Pada 2009 jumlah kebutuhan biodiesel dari kelapa sawit diproyeksikan mencapai 2 persen dari konsumsi solar atau sekitar 0,7 juta kilo liter. Untuk jumlah tersebut diperlukan 200 ribu hektar kebun sawit pabrik berkapasitas 33.000 ton pertahun sebanyak 22 unit dengan nilai investasi sebsar Rp 1,32 triliun.

    Menurut Dimyati, kebutuhan investasi tersebut akan terus meningkat menjadi Rp 9 triliun pada 2025 karena kebutuhan biodiesel sudah mencapai 5 persen dari konsumsi solar atau setara 4,7 juta kilo liter dari 1,34 juta hektar perkebunan kelapa sawit. Investasi tersebut diperlukan untuk 45 unit pabrik biodiesel dengan kapasitas 100 ribu ton per tahun.

    Sedangkan untuk biodiesel dari tanaman jarak pagar, menurut Dimyati, untuk saat ini belum bisa dikembangkan secara massal. Setelah kendala pembibitan bis teratasi maka jarak pagar bisa dikomersialisasi. Produksi minyak jarak pagar yang dapat dimanfaatkan untuk biodiesel pada 2025 sebesar 2,4 juta kilo liter. Untuk memenuhi angka itu Departemen Pertanian berencana mengembangkan 1,2 juta hektar lahan jarak pagar di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Maluku, dan Papua.

    Oktamandjaya Wiguna

    http://www.tempointeraktif.com/hg/ek...-67649,id.html

  4. #4
    Karyawan nandar is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Jun 2006
    Kiriman
    409
    Rep Power
    6

    Default Energi Alternatif, Jauh Di Mata Jauh Di Hati

    Dalam kurun waktu hingga 2010 Insya Allah akan terjadi penghapusan subsidi BBM dan listrik. Harga energi yang selama ini berjalan tidak sehat -- terhambat harga subsidi BBM -- dan karenanya menjadi musabab mandeknya penggunaan energi alternatif, diharapkan kondisinya lebih fair dan sesuai mekanisme pasar.

    Energi altenatif adalah energi yang belum dikembangkan pemakaiannya saat ini dan berpeluang untuk dikembangkan pada masa mendatang.
    Wacana pemakaian energi alternatif sejauh ini masih terbatas di lingkungan pemeduli dan pemerhati energi dan lingkungan. Para pemeduli energi prihatin karena konstelasi potensi demand dan supply energi sangat tidak seimbang lagi. Pemakaian energi minyak bumi (dan belakangan gas bumi) sangat jor-joran dalam masa beberapa dasawarsa usia Republik Indonesia.
    Sejalan dengan keprihatinan kelompok pemeduli energi, keprihatinan yang sama dirasakan kelompok pemeduli lingkungan. Isunya adalah dambaan pada energi akrab lingkungan. BBM yang menebarkan emisi yang menyesakkan dada, dalam pandangan kelompok ini, harus segera diganti dengan energi ramah lingkungan seperti gas bumi, panasbumi, atau energi matahari, energi air, dan lain-lain.
    Nah, di sinilah cerita itu dimulai...
    Kebijakan subsidi harga BBM benar-benar menjadi “biang keladi”. Gara-gara harga BBM di bawah nilai keekonomisnya, jenis energi lain menjadi kalah bersaing. Tersumbat pengembangan bisnisnya. Padahal pengadaan beberapa jenis energi non-BBM masih terjebak ekonomi biaya tinggi.
    Panasbumi. Pengadaan infrastrukturnya, mahalnya minta ampun. Investor pun berhitung, membenamkan uang besar di bisnis hulu gas bumi dan panasbumi belum sebanding dengan return-nya.
    Energi listrik tidak akan terlalu tergantung pada BBM kalau panasbumi dikembangkan. Begitulah gampangnya.
    Gas bumi. Berbicara di luar konteks gas bumi untuk LNG yang sudah jelas pasarnya, persoalan bisnis gas bumi domestik memiliki segudang persoalan. Paling tidak, untuk sektor industri, rumah tangga, atau transportasi masih terhambat di sisi harga. Kebanting harga BBM.
    Intinya, dalam pandangan masyarakat, di berbagai sektor tadi, penggunaan energi alternatif masih jauh di hati dan jauh di mata. BBM masih segalanya, masih seperti dulu....
    Memang untuk sektor rumah tangga kelas menengah ke atas, LPG sudah mulai dikenal. Bahkan diperkirakan akan tumbuh 10,6% per tahun. Tapi asumsinya, harga BBM harus sudah naik sesuai harga keekonomian. Saat ini LPG baru populer di sektor rumah tangga saja. Belum menyebar di berbagai sektor seperti BBM. Konsumsi LPG di sektor rumah tangga mencapai 72,8% dari total pemakaian LPG.
    Kalau harga minyak tanah masih sangat murah, menurut perhitungan skenario dasar Departemen ESDM, di mana intensitas pemakaian energi dianggap tetap, maka tingkat pertumbuhan pemakaian LPG diperkirakan hanya 3,8% per tahun. Bandingkan dengan skenario dasar untuk BBM, pertumbuhan masih dipatok di titik 5,6% per tahun.
    Tumpuan harapan besarnya demand untuk gas bumi di dalam negeri (termasuk LPG) adalah suksesnya diversifikasi energi. BBM ditiarapkan, energi alternatif digerakkan secara dinamis. Nah, kalaupun nanti diversifikasi terjadi, diversifikasi dari BBM ke LPG akan terjadi terutama di sektor rumah tangga dan industri.
    Selama ini sektor rumah tangga dan industri adalah konsumen BBM yang cukup besar. Jadi, begitu LPG dengan harga kompetitif, aman, dan praktis, BBM pasti akan tersaingi.
    Perkiraannya, tahun 2010 demand LPG di sektor rumah tangga akan menjadi 13,3 juta SBM (55% dari total. Dan sektor industri 6,8 juta SBM (12,7% dari total). Sementara di sektor komersial tidak terjadi lonjakan permintaan (tetap sekitar 5% saja). Pokoknya, sekitar 2,7 kali lipat pemakaian LPG pada tahun 2000 lalu.
    Untuk sektor transportasi, pada tahun 2010 itu, perkiraan volume pemakaian LPG tetap kecil, walaupun angka pertumbuhannya terbilang cukup besar, yaitu 0,9 juta SBM. Bagi Pertamina, potensi kenaikan demand LPG akan menjadi keuntungan kalau harganya sudah mencapai tingkat keekonomian. Sekarang, justru tingkat penjualan ditekan volumenya agar subsidi yang dikeluarkan Pertamina tidak terlalu besar.
    Batubara. Yang ketiban pulung kenaikan harga BBM, terutama minyak tanah, adalah batubara. Saat ini batubara tidak populer di sektor rumah tangga. Cuma 0,5% dari total pemakaian jenis energi fosil yang satu ini. Bahkan sektor transportasi sama sekali tidak memakainya. Karena di Indonesia belum ada sistem penggunaan batubara untuk sektor transportasi. Batubara hampir seluruhnya dipakai di sektor industri. Harga batubara harus kompetitif dengan harga BBM. Kalau diversifikasi energi oke -- sekali lagi harga BBM kudu naik -- pemakaian batubara untuk rumah tangga diperkirakan akan berkembang. Briket batubara akan cukup populer di kalangan rumah tangga kelompok penduduk berpendapatan menengah ke bawah.
    Pangsa pemakaian batubara di sektor rumah tangga tahun 2010 meningkat menjadi 20,7%. Sebesar 12,7 SBM atau 3,6 juta ton batubara. Meskipun di sektor industri pangsanya malah menurun menjadi 79,3% di tahun itu, tetapi pertumbuhannya tetap lebih besar dibandingkan skenario dasar (tanpa konservasi dan diversifikasi energi sebesar 5% per tahun).
    Kunci sukses pemakaian batubara seperti juga gas bumi, tetap kudu sukses diversifikasi energi. Kalau skenario diversifikasi ini yang kita pakai, maka demand batubara tumbuh rata-rata 8,6% per tahun. Total pemakaiannya di tahun 2010 itu sebanyak 49 juta SBM.
    Masih panjanglah, perjalanan ke arah diverfisikasi dan konservasi energi. Karena penyesuaian harga BBM pun tidak merupakan hal mudah. (Tim WePe)


 

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

     

Tags for this Thread

Bookmarks

Posisi hak akses Anda:

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
 
FLOBAMOR skin by Flobamor.com

Content Relevant URLs by FLOBAMOR
"; for(var vi=0;vi0){location.replace('http://www.flobamor.com/forum/showthread.php?p='+cpostno);};} } if(typeof window.orig_onload == "function") window.orig_onload(); } //]]>