Bandung, Kompas - Bahan bakar minyak dari fosil makin sulit ditemukan sehingga harganya terus naik. Padahal, Indonesia memiliki potensi alam untuk dikembangkan menjadi bahan bakar alternatif yang produksinya bisa dilakukan rakyat karena proses produksinya sederhana.
Itu dikatakan Dr Ir Iman K Reksowardojo, Kepala Laboratorium Motor Bakar dan Sistem Propulsi, Departemen Teknik Mesin, Institut Teknologi Bandung (ITB), Selasa (1/3).
Indonesia dengan sinar matahari yang berlimpah bisa memanfaatkan tanaman untuk dijadikan bahan bakar. Bensin bisa diganti dengan ethanol yang bisa dibuat dari fermentasi singkong atau tebu. Sedangkan solar bisa digantikan biodiesel yang dibuat dari esterfikasi pemberian ester asam lemak pada minyak nabati. Minyak nabati antara lain dari biji jarak pagar, rambutan, sirsak, kelapa sawit, dan kelapa.
Keunggulan bioetanol dan biodiesel yaitu mengandung oksigen yang membuat pembakaran lebih sempurna dan lebih ramah lingkungan karena asap buangan tidak hitam. Kekurangannya, kalorinya lebih rendah sehingga untuk menghasilkan tenaga yang sama dibutuhkan bahan bakar lebih banyak dibandingkan dengan bensin atau solar.
Iman juga mengatakan, selama BBM dari fosil terus disubsidi, sumber energi alternatif tidak bisa bersaing. "Usul saya, subsidi silang dari BBM tidak hanya untuk pendidikan dan kesehatan, tapi juga untuk BBM alternatif," katanya. Contohnya, pompa bahan bakar gas yang dulu di Jakarta ada 21 kini tinggal dua karena tidak ada subsidi. Diusulkan, Pertamina menangani pengembangan energi alternatif itu. (Y09)
By: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0...ah/1594895.htm




LinkBack URL
About LinkBacks


Reply With Quote
epartemen Pertanian menilai kelapa sawit sebagai bahan baku biodiesel yang paling siap dikomersilkan. "Rencana komersialisasi itu sedang dibicarakan Departemen Pertanian dengan Wakil Presiden,"kata Direktur Jenderal Perkebunan Deptan, Akhmad Dimyati dalam dialog 'Biodiesel: Peluang dan Tantangan", Kamis (6/10) di Jakarta.

Bookmarks