TANPA disadari oleh banyak orang, bahwa sebenarnya saat ini telah terjadi peningkatan suhu udara dunia akibat terjadinya pemanasan global. Gejala alam ini mulai diteliti secara aktif mulai dekade tahun 1980-an dan hasilnya sangat mengejutkan para ahli lingkungan karena kengerian akan dampak yang dikuatirkan muncul kemudian.
Carbon Dioksida (CO2) dan beberapa jenis gas lainnya (CH4, N2O, CFC), sisa pembakaran bahan bakar minyak bumi ternyata telah memenuhi atmosfer bumi dan seolah menciptakan Òdinding kacaÓ yang menjebak panas sinar matahari tertahan di permukaan bumi, fenomena ini dikenal sebagai efek rumah kaca.
Para ahli cuaca internasional memperkirakan bahwa planet bumi bakal mengalami kenaikan suhu rata-rata 3,5 o C memasuki abad mendatang sebagai efek akumulasi penumpukan gas tersebut. Akibat yang muncul cukup mencemaskan antara lain meliputi : kenaikan permukaan laut akibat proses pencairan es di kutub; perubahan pola angin; meningkatnya badai atmosferik; bertambahnya populasi dan jenis organisme penyebab penyakit yang berdampak pada kesehatan; perubahan pola curah hujan dan siklus hidrologi serta perubahan ekosistem hutan, daratan dan ekosistem lainnya.
Para pakar lingkungan dunia selama bertahun-tahun telah mencoba mengumpulkan bukti-bukti ilmiah yang dapat menjelaskan fenomena alam ini, dan hasilnya cukup mengejutkan yaitu berupa : a. Iklim mulai tidak stabil Pada Juni 1998 di Tibet terjadi gelombang udara panas, temperatur berkisar 25o C selama 23 hari, kejadian ini belum pernah terjadi sebelumnya. Kawasan Siberia, Eropa Timur dan Amerika Utara yang dikenal udaranya sangat membekukan tulang kini mulai menghangat.
Sementara Kairo pada Agustus 1998 tercatat suhu udara menembus angka 410 C. Pada Agustus 1998 di Sidney Australia terjadi badai besar disertai hujan dengan curah hujan mencapai tiga kali ukuran normal Sementara di Indonesia, Meksiko dan Spanyol terjadi musim kering berkepanjangan akibat dipicu oleh badai tropis yang berujung pada terbakarnya hutan dengan luasan kumulatif mencapai jutaan hektar. b. Naiknya Permukaan Air Laut Dikawasan kepulauan Bermuda Amerika Tengah dilaporkan bahwa air laut telah meluap melampaui batas air payau dan memusnahkan areal hutan bakau di kawasan tersebut.
Sementara di Fiji terjadi penyusutan garis pantai sepanjang 15 Cm/thn selama 90 tahun terakhir ini. Berdasarkan hasil penelitian IPCC (1990) permukaan air laut telah naik sekitar 10-20 Cm pada masa abad terakhir ini. Bila angka kenaikan permukaan air laut ini sampai menyentuh kisaran angka 20-50 Cm maka habitat didaerah pantai akan mengalami gangguan bahkan musnah.
Sedangkan peningkatan sebesar 1 meter diprediksi akan mampu menggusur puluhan juta orang akibat terendamnya kota dan desa dikawasan pesisir, lahan pertanian produktif akan hancur terendam dan persediaan air tawar akan tercemar. c. Gangguan ekologis
Mempergunakan simulasi komputer, Profesor Chris Thomas dari Universitas Leeds Inggris memperkirakan lebih dari sejuta species akan terancam punah pada tahun 2050, sedangkan species yang masih bertahan tidak akan lagi memiliki habitat yang nyaman, sementara sebagian lainnya harus bermigrasi cukup jauh untuk memperoleh tempat hidup yang sesuai guna mendukung kehidupannya. Simulasi ini diperkirakan cukup akurat mengingat sebuah penelitian di California dilaporkan Kupu-kupu jenis Edith Checkerspot telah mulai menghilang seiring naiknya suhu udara di kawasan tersebut.
Sementara itu populasi penguin jenis Adeline di Antartika berkurang 33 % dalam masa 25 tahun terakhir akibat surutnya permukaan lautan es. Team peneliti dari Kanada melaporkan bahwa jumlah rusa kutub Peary menurun drastis jumlahnya dari 24.000 pada tahun 1961 menjadi hanya sekitar 1.000 pada tahun 1997 akibat perubahan iklim yang cukup ekstrim. d. Penyebaran Berbagai Penyakit Peningkatan suhu udara ternyata juga mulai memicu munculnya beberapa serangan penyakit yang sebelumnya belum pernah ada pada daerah tertentu.
Sebut saja di kawasan pegunungan Andes Kolumbia - Amerika Tengah dengan ketinggian 1.000 - 2.195 m dpl dilaporkan muncul nyamuk penyebab penyakit malaria, demam berdarah dan demam kuning. Pada tahun 1997 di Papua, penyakit malaria terdeteksi untuk pertama kalinya pada pemukiman di ketinggian 2.100 m dpl. Meskipun dampak yang ditimbulkan akibat pemanasan global amatlah ÒmengerikanÓ hal ini bukan berarti kita tidak bisa berbuat sesuatu.
Perlu dilakukan tindakan menyeluruh disertai komitmen yang kuat untuk menghentikan meluasnya wabah bencana ini. Secara sederhana tindakan yang bisa dilakukan adalah : a. Pengembangan etika hemat energi & ramah lingkungan Budaya penghematan energi terutama yang terkait dengan energi yang dihasilkan dari bahan fosil (BBM) harus benar-benar dilaksanakan dengan penuh kesadaran. Dalam bidang transportasi misalnya pemakaian kendaraan bermotor yang boros bahan bakar hendaknya semakin dikurangi yang juga dibarengi dengan upaya perancangan peraturan secara ketat untuk mengurangi pencemaran udara dalam berbagai bentuk.
Upaya penghematan pemakaian listrik konsumsi rumah tangga perlu terus diupayakan terutama bila pembangkit listriknya mempergunakan bahan bakar diesel/batu bara. Sebagai konsumen kita harus kritis melakukan penolakan untuk mepergunakan barang konsumsi dan peralatan yang masih mempergunakan CFC dalam produknya karena saat kita memakainya tak ubahnya kita menyediakan tali untuk menjerat leher kita sendiri dimasa mendatang.
Bahan CFC banyak dijumpai pada peralatan pendingin (Kulkas, AC) serta tabung penyemprot parfum. b. Substitusi Bahan Bakar Penggunaan gas alam dalam aktivitas rumah tangga maupun industri ternyata berperan cukup nyata dalam mengurangi tingkat emisi gas rumah kaca. Gas alam menghasilkan CO2 ternyata 40 % lebih rendah disbanding batu bara dan 25 % lebih rendah daripada minyak bumi sehingga dengan menukar sumber bahan bakar kita bisa mengurangi tingkat emisi gas CO2. c.
Pelestarian Hutan & Reboisasi Keberadaan hutan ternyata berfungsi luar biasa dalam menyerap gas CO2 sehingga dapat memperlambat penimbunan gas-gas rumah kaca. Penelitian menunjukkan bahwa untuk menyerap 10% emisi CO2 yang ada di atmosfer saat ini diperlukan upaya penanaman setidaknya pada areal seluas negara Turki. Seandainya saja setiap jiwa di Papua menaman satu batang pohon maka setidaknya ada sekitar 2.000 Ha hutan baru yang akan mampu menyerap sekitar 200.000 ton Carbon.
Suatu jumlah yang cukup berarti bagi upaya pelestarian bumi Perlu komitmen secara global untuk mengurangi kerusakan hutan akibat eksploitasi hutan maupun kebakaran hutan dan menggiatkan upaya reboisasi pada lahan kosong. Sebenarnya masih banyak langkah-langkah antisipatif yang dapat dilakukan terutama dalam tataran kebijakan nasional (policy) dalam rangka mencegah pemanasan global, namun semuanya berpulang kembali kepada kesadaran kita semua selaku individu.
Kinilah saatnya berpartisipasi secara aktif bagi bumi yang telah memberikan kehiduapan bagi kita Bumi ini hanya satu marilah kita menjaganya dan tidak mengotorinya karena hal itu hanya akan mendatangkan bencana bagi semua penghuninya termasuk anak cucu kita. Mari kita wariskan bumi yang bersih dan sehat bagi generasi mendatang.
Bookmarks