Jakarta - Engkong Rimat usianya kini sudah 90 tahun. Bahkan 6 dari 12 anaknya sudah meninggal dunia, namun kakek Rimat tidak pernah merasa tua terus bekerja. Dengan sisa - sisa tenaganya ia masih berdagang mengharap rejeki datang.

Aku asli anak Betawi kalau tak salah usiaku sudah mendekati 90 tahun. Ya, Aku memang sudah tak teringat lagi kapan Aku dilahirkan. Aku hanya ingat ketika Sumpah Pemuda diikrarkan Aku masih duduk di sekolah setingkat Sekolah Dasar.

Diusiaku yang renta ini Aku tidak bisa berdiam diri di rumah. Aku merasa badanku menjadi pegal jika harus duduk dirumah tanpa aktivitas. Aku dan istriku Sarti, dikaruniai 12 anak. Enam diantaranya sudah mendahului kami menghadap sang Pencipta. Aku bersyukur dikaruniai umur panjang sehingga bisa menikmati kebahagiaan dengan cucu - cucuku.

Anakku tertua Iis, kini telah berusia 70 tahun. Sementara yang terkecil Dedi sudah menginjak 38 tahun.

Hiburan yang tak ternilai harganya bagiku adalah jika mereka cucu - cucuku datang ke rumah menengokku. Mereka tentu bisa mengisi hari - hari kami yang sepi.

Kini giliranku bekerja mencari uang. Setiap pukul 10.00 pagi Aku berangkat membawa buah - buahan. Dahulu waktu tubuh masih kuat Aku berdagang keliling keseluruh pelosok kawasan Bintaro.

Tapi kini setelah usia kian menua Aku lebih memilih mangkal tak jauh dari Polsek Pesangrahan. Ya kehidupanku seperti inilah yang telah aku lakoni berpuluh-puluh tahun bersama Sarti istriku.


Cermin untuk yang merasa masih muda....