All the best FLOBAMOR...

Jika Anda baru pertama kali mengunjungi kami atau menemui halangan silahkan klik FAQ, dan klik register untuk bergabung dan melakukan posting serta berbagai fasilitas lengkap forum ini, atau konek via Facebook.


+ Reply to Thread
Showing results 1 to 2 of 2
  1. #1
    Junior yustina is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Oct 2006
    Kiriman
    177
    Rep Power
    6

    Default Deteksi Dini Terhadap Anak-anak Berbakat

    Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan antara lain bahwa "warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus" (Pasal 5, ayat 4). Di samping itu juga dikatakan bahwa "setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya" (pasal 12, ayat 1b). Hal ini pasti merupakan berita yan gmenggembirakan bagi warga negara yang memiliki bakat khusus dan tingkat kecerdasan yang istimewa untuk mendapat pelayanan pendidikan sebaik-baiknya.

    Banyak referensi menyebutkan bahwa di dunia ini sekitar 10 – 15% anak berbakat dalam pengertian memiliki kecerdasan atau kelebihan yang luar biasa jika dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Kelebihan-kelebihan mereka bisa nampak dalam salah satu atau lebih tanda-tanda berikut:
    • Kemampuan inteligensi umum yang sangat tinggi, biasanya ditunjukkan dengan perolehan tes inteligensi yang sangat tinggi, misal IQ diatas 120.
    • Bakat istimewa dalam bidang tertentu, misalnya bidan gbahasa, matematika, seni, dan lain-lain. Hal ini biasanya ditunjukkan dengan prestasi istimewa dalam bidang-bidang tersebut.
    • Kreativitas yang tinggi dalam berpikir, yaitu kemampuan untuk menemukan ide-ide baru.
    • Kemampuan memimpin yan gmenonjol, yaitu kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi orang lain untuk bertindak sesuai dengan harapan kelompok.
    • Prestasi-prestasi istimewa dalam bidang seni atau bidang lain, misalnya seni musik, drama, tari, lukis, dan lain-lain.
    Pada zaman modern ini orang tua semakin sadar bahwa pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang tidak bisa ditawar-tawar. Oleh sebab itu tidak mengherankan pula bahwa semakin banyak orang tua yang merasa perlu cepat-cepat memasukkan anaknya ke sekolah sejak usia dini. Mereka sangat berharap agar anak-anak mereka "cepat menjadi pandai." Sementara itu banyak orang tua yang menjadi panik dan was-was jika melihat adanya gejala-gejala atau perilaku-perilaku anaknya yang berbeda dari anak seusianya. Misalnya saja ada anak berumur tiga tahun sudah dapat membaca lancar seperti layaknya anak usia tujuh tahun; atau ada anak yang baru berumur lima tahun tetapi cara berpikirnya seperti orang dewasa, dan lain-lain. Dapat terjadi bahwa gejala-gejala dan "perilaku aneh" dari anak itu merupakan tanda bahwa anak memiliki kemampuan istimewa. Maka dari itu kiranya perlu para guru dan orang tua bisa mendeteksi sejak dini tanda-tanda adanya kemampuan istimewa pada anak agar anak-anak yang memiliki bakat dan kemampuan isitimewa seperti itu dapat diberi pelayanan pendidikan yang memadai.


    Tanda-tanda Umum Anak Berbakat
    Sejak usia dini sudah dapat dilihat adanya kemungkinan anak memiliki bakat yang istimewa. Sebagai contoh ada anak yang baru berumur dua tahun tetapi lebih suka memilih alat-alat mainan untuk anak berumur 6-7 tahun; atau anak usia tiga tahun tetapi sudah mampu membaca buku-buku yang diperuntukkan bagi anak usia 7-8 tahun. Mereka akan sangat senang jika mendapat pelayanan seperti yang mereka harapkan.

    Anak yang memiliki bakat istimewa sering kali memiliki tahap perkembangan yang tidak serentak. Ia dapat hidup dalam berbagai usia perkembangan, misalnya: anak berusia tiga tahun, kalau sedang bermain seperti anak seusianya, tetapi kalau membaca seperti anak berusia 10 tahun, kalau mengerjakan matematika seperti anak usia 12 tahun, dan kalau berbicara seperti anak berusia lima tahun. Yang perlu dipahami adalah bahwa anak berbakat umumnya tidak hanya belajar lebih cepat, tetapi juga sering menggunakan cara yang berbeda dari teman-teman seusianya. Hal ini tidak jarang membuat guru di sekolah mengalamai kesulitan, bahkan sering merasa terganggu dengan anak-anak seperti itu. Di samping itu anak berbakat istimewa biasanya memiliki kemampuan menerima informasi dalam jumlah yang besar sekaligus. Jika ia hanya mendapat sedikit informasi maka ia akan cepat menjadi "kehausan" akan informasi.

    Di kelas-kelas Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Dasar anak-anak berbakat sering tidak menunjukkan prestasi yang menonjol. Sebaliknya justru menunjukkan perilaku yang kurang menyenangkan, misalnya: tulsiannya tidak teratur, mudah bosan dengan cara guru mengajar, terlalu cepat menyelesaikan tugas tetapi kurang teliti, dan sebagainya. Yang menjadi minat dan perhatiannya kadang-kadang justru hal-hal yan gtidak diajarkan di kelas. Tulisan anak berbakat sering kurang teratur karena ada perbedaan perkembangan antara perkembangan kognitif (pemahaman, pikiran) dan perkembangan motorik, dalam hal ini gerakan tangan dan jari untuk menulis. Perkembangan pikirannya jauh ebih cepat daripada perkembangan motoriknya. Demikian juga seringkali ada perbedaan antara perkembangan kognitif dan perkembangan bahasanya, sehingga dia menjadi berbicara agak gagap karena pikirannya lebih cepat daripada alat-alat bicara di mulutnya.

    Pelayanan bagi Anak Berbakat
    Mengingat bahwa anak berbakat memiliki kemampuan dan minat yang amat berbeda dari anak-anak sebayanya, maka agak sulit jika anak berbakat dimasukkan pada sekolah tradisional, bercampur dengan anak-anak lainnya. Di kelas-kelas seperti itu akan terjadi dua kerugian, yaitu: (1) anak berbakat akan frustrasi karena tidak mendapat pelayanan yang dibutuhkan, dan (2) guru dan teman-teman kelasnya akan bisa sangat terganggu oleh perilaku anak berbakat tadi.

    Beberapa kemungkinan pelayanan anak berbakat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
    1) Menyelenggarakan program akselerasi khusus untuk anak-anak berbakat. Program akselerasi dapat dilakukan dengan cara "lompat kelas", artinya anak dari Taman Kanak-Kanak misalnya tidak harus melalui kelas I Sekolah Dasar, tetapi misalnya langsung ke kelas II, atau bahkan ke kelas III Sekolah Dasar. Demikian juga dari kelas III Sekolah Dasar bisa saja langsung ke kelas V jika memang anaknya sudah matang untuk menempuhnya. Jadi program akselerasi dapat dilakukan untuk: (1) seluruh mata pelajaran, atau disebut akselerasi kelas, ataupun (2) akselerasi untuk beberapa mata pelajaran saja. Dalam program akselerasi untuk seluruh mata pelajaran berarti anak tidak perlu menempuh kelas secara berturutan, tetapi dapat melompati kelas tertentu, misalnya anak kelas I Sekolah Dasar langsung naik ke kelas III. Dapat juga program akselerasi hanya diberlakukan untuk mata pelajaran yang luar biasa saja. Misalnya saja anak kelas I Sekolah Dasar yang berbakat istimewa dalam bidang matematika, maka ia diperkenankan menempuh pelajaran matematika di kelas III, tetapi pelajaran lain tetap di kelas I. Demikian juga kalau ada anak kelas II Sekolah Dasar yang sangat maju dalam bidang bahasa Inggris, ia boleh mengikuti pelajaran bahasa Inggris di kelas V atau VI.

    2) Home-schooling (pendidikan non formal di luar sekolah). Jika sekolah keberatan dengan pelayanan anak berbakat menggunakan model akselerasi kelas atau akselerasi mata pelajaran, maka cara lain yang dapat ditempuh adalah memberikan pendidikan tambahan di rumah/di luar sekolah, yang sering disebut home-schooling. Dalam home-schooling orang tua atau tenaga ahli yang ditunjuk bisa membuat program khusus yang sesuai dengan bakat istimewa anak yang bersangkutan. Pada suatu ketika jika anak sudah siap kembali ke sekolah, maka ia bisa saja dikembalikan ke sekolah pada kelas tertentu yang cocok dengan tingkat perkembangannya.

    3) Menyelenggarakan kelas-kelas tradisional dengan pendekatan individual. Dalam model ini biasanya jumlah anak per kelas harus sangat terbatas sehingga perhatian guru terhadap perbedaan individual masih bisa cukup memadai, misalnya maksimum 20 anak. Masing-masing anak didorong untuk belajar menurut ritmenya masing-masing. Anak yang sudah sangat maju diberi tugas dan materi yang lebih banyak dan lebih mendalam daripada anak lainnya; sebaliknya anak yang agak lamban diberi materi dan tugas yang sesuai dengan tingkat perkembangannya. Demikian pula guru harus siap dengan berbagai bahan yang mungkin akan dipilih oleh anak untuk dipelajari. Guru dalam hal ini menjadi sangat sibuk dengan memberikan perhatian individual kepada anak yang berbeda-beda tingkat perkembangan dan ritme belajarnya.

    4) Membangun kelas khusus untuk anak berbakat. Dalam hal ini anak-anak yang memiliki bakat/kemampuan yang kurang lebih sama dikumpulkan dan diberi pendidikan khusus yang berbeda dari kelas-kelas tradisional bagi anak-anak seusianya. Kelas seperti ini pun harus merupakan kelas kecil di mana pendekatan individual lebih diutamakan daripada pendekatan klasikal. Kelas khusus anak berbakat harus memiliki kurikulum khusus yang dirancang tersendiri sesuai dengan kebutuhan anak-anak berbakat. Sistem evaluasi dan pembelajarannyapun harus dibuat yang sesuai dengan kebutuhan mereka.


    Pergaulan Anak Berbakat
    Anak berbakat seringkali lebih suka bergaul dengan anak-anak yang lebih tua dari segi usia, khususnya mereka yang memiliki keunggulan dalam bidang yang diminati. Misalnya saja ada anak kelas II Sekolah Dasar yang sangat suka bermain catur dengan orang-orang dewasa, karena jika ia bermain dengan teman sebayanya rasanya kurang berimbang. Dalam hal ini para orang tua dan guru harus memakluminya dan membiarkannya sejauh itu tidak merugikan perkembangan yang lain.

    Di dalam keluarga pun oran gtua hendaknya mencarikan teman yang cocok bagi anak-anak berbakat sehingga ia tidak merasa kesepian dalam hidupnya. Jika ia tidak mendapat teman yang cocok, maka tidak jarang orang tua dan keluarga, menjadi teman pergaulan mereka. Umumnya anak berbakat lebih suka bertanya jawab hal-hal yang mendalam daripada hal-hal yang kecil dan remeh. Kesanggupan orang tua dan keluarga untuk bergaul dengan anak berbakat akan sangat membantu perkembangan dirinya.

  2. #2
    Member johan is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Jul 2007
    Kiriman
    551
    Rep Power
    5

    Default Re: Deteksi Dini Terhadap Anak-anak Berbakat

    Berikut tulisan Mang Iyus (Juswan Setyawan) di Forum Pembaca Kompas, tentang Indigo.
    Dalam hal ini, Mang Iyus berusaha meletakkan Indigo sebagai sebuah fenomena alam yang meski istimewa tetapi sebenarnya bisa diteliti lebih lanjut. Dari sini, kalo saya ngga salah baca, maka Mang Iyus menolak mengaitkan indigo dengan klenik dan atau bahkan kepercayaan/agama,. meski di sisi lain Mang Iyus ada juga mengingatkan tentang bahaya kesurupan.

    Saya sendiri termasuk yang penasaran dengan ini. Maksud saya, saya ngga puas dengan penjelasan bahwa "ini kerjaan jin" atau "ini mental disorder", soalnya itu menutup akses terhadap keingintahuan saya tentang "mengapa hal itu terjadi" dan atau "bagaimana menyikapinya atau mengarahkan anak Indigo, dalam arti tanpa membentuk-nya sesuai keinginan kita"

    Demikian. Johan


    Mari Kita Redefinisikan Istilah Anak Indigo

    Dunia ini memang aneh. Di satu pihak ada "anak biasa" dengan sedikit bakat paranormal - yang justru biasa terdapat pada anak balita atau basata (bawah dasa tahun) langsung dianggap "anak indigo". Di pihak lainnya terdapat "anak indigo" yang menolak dianggap "anak indigo" karena hal itu 'ipso facto' memasung dinamika dan hari depannya dengan 'beban kenabian' (messianic burden) yang tidak pada tempatnya. Penolakan tersebut menjadi heboh karena disarati dengan praduga adanya komersialisasi di balik semua pelabelan indigo kepada anak-anak tersebut tadi.

    Bahwa anak kecil yang fungsi pinealnya masih normal sehingga dapat memperlihatkan "kemampuan aneh" tidak serta merta memasukkan dia ke kelompok "anak indigo". Anak kecil pada umumnya dapat "melihat kunti" karena fungsi optik pada pucuk kelenjar pinealnya masih berfungsi normal. Persoalannya, orang tua atau orang dewasa pada umumnya suka meremehkan anak kecil dan dunianya. Mereka menganggap anak-anak itu suka mengkhayal dan mengada-ada. Kalau anak seperti itu berkomunikasi dengan "makhluk halus" maka mereka langsung dianggap "ngomong sendiri" atau parahnya bahkan diberi label sadis sebagai "anak autis" . Seperti penjelasan psikiater Dr. Tubagus Erwin Kesuma sendiri bahwa "anak autis" itu omongannya ngaco sedangkan "anak indigo" itu justru omongannya berisi dan tidak jarang malah filosofis dan dapat membuat orang tua mereka kelabakan. Istilah yang pernah saya dengar ialah "the little professor" untuk peran anak seperti itu. Dan merupakan hal yang sangat lumrah bahwa anak balita kadang-kadang mengajukan pertanyaan yang sangat filosofis atau fundamental kepada orang tua mereka. Untuk hal semacam ini tentunya (sangat) banyak orang tua yang dapat mensharingkan pengalamannya.

    Anak saya sendiri sewaktu kecil pernah menanyakan kepada tantenya: "Tante, mengapa ayam makannya jagung dan bukan nasi?" Tantenya tidak menanggapi tetapi balik bertanya: "Apa Tony mau makan jagung?" "Ya, mau", jawabnya. Tantenya cuma berpikir bahwa Tony kepingin makan jagung maka ia bertanya soal mengapa ayam makan jagung. Tantenya kemudian cerita-cerita tentang kecerdikan anak yang ingin makan jagung dengan cara bertanya mengapa ayam makan jagung. Case closed ! Benarkah Tony hanya mau makan jagung atau apakah ia sebenarnya mempunyai "genuine curiosity" untuk mengetahui mengapa ayam-ayam puas hanya makan jagung saja dan bukan nasi lengkap dengan lauk-pauknya?

    Mama Laurent sendiri menceritakan peristiwa "suara-suara" yang ia dengar di sekolah yang menyuruhnya cepat-cepat keluar dari kelas. Ia heran kenapa suara yang begitu keras tidak terdengar oleh guru dan kawan-kawan sekelasnya. Akibatnya ia ditegur oleh 'juffrouw' dan kena 'straf' 2 hari tidak boleh masuk sekolah. Dua jam setelah itu 300 anak termasuk para gurunya mati semua terkena bom yang dijatuhkan oleh pihak Jerman. Jelas Mama Laurent yang berusia 7 tahun memiliki apa yang disebut "fine hearing" yaitu salah satu kemampuan paranormal. Tetapi apakah ia seorang "anak indigo" juga, siapalah yang tahu? Mungkin omanya hanya tahu bahwa ia mempunyai "bakat khusus" saja. Saat itu belum populer parameter tentang "anak indigo" walaupun pada zaman itu dikenal istilah "magenta kids". Istilah "magenta kids" itupun tentunya populer bukan pada saat Mama Laurent berusia 7 tahun itu melainkan beberapa dekade kemudian.

    Perbedaan "anak indigo" dan "magenta kids" sangat nyata. Aura yang dominan berwarna nila (ungu muda) pada "anak indigo" memancar dari "Cakra Ajña" atau cakra mata ketiga yang terdapat di antara kedua alis di kening. Sedangkan "magenta kids" memancarkan sinar ungu yang keluar dari "Cakra Sahasrara" atau Cakra Mahkota yang terletak di ubun-ubun.

    Waktu itu fotografi aura belum ada teknologinya dan warna aura hanya mampu dilihat oleh paranormal lain yang memiliki "fine sighting" atau yang telah terbuka "mata ketiga"nya. Jadi sifatnya masih terlalu subyektif dan spekulatif sehingga belum dapat dijadikan acuan positif bagi science. Foto aura sekalipun masih dapat dimanipulasi secara teknis, namun secara obyektif mampu menghasilkan foto secara fisikal dan sekaligus memberikan analisis maknanya menurut literatur yang ada.
    Kalau ingin meredefinisikan "anak indigo" maka parameter yang jelas umpamanya selain memiliki satu atau beberapa kemampuan kecerdasan intuitif juga secara aura-fotografi harus tampak dominansi warna nila pada posisi Cakra Ajña anak tersebut.

    Selain itu kecenderungan Psikologi atau Psikiatri memberi label "anak indigo" sebagai manusia dengan gejala ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder) jelas-jelas memberi kategori Mental Disorder seperti judul D kedua pada sindrom ADHD tsb. Karena sakit jiwa tentunya harus ditangani oleh seorang Psikiater dan bukan oleh seorang Psikolog. Ironisnya justru seorang Psikiater tidak mampu menyembuhkan penyakit ADHD tersebut sampai sekarang ini. Bahwa dalam kurun penanganan oleh seorang Psikiater kemudian gejala ADHD tersebut mulai tampak berkurang belum tentu menunjukkan efektivitas daripada terapinya. Mungkin juga terjadi secara alamiah justru karena atrofi daripada kelenjar pineal itu sendiri yang menjadi "biang keladi" semua fenomen yang tampaknya abnormal tersebut. Ibaratnya para Psikiater tersebut beruntung lebih karena "saved by the bell" saja ! dibandingkan kehebatan terapinya.

    Yang aneh menurut saya adalah fenomen berikut ini. Psikiatri yang termasuk disiplin ilmiah justru memakai praktek-praktek "lebih klenik dari pada klinik" seperti teknik "dowsing" (pendulum) dan "automatic writing".

    Kick Andy Show pun terperangkap pada silogisme yang sama. Seakan-akan kalau bicara soal anak indigo maka -- mau tidak mau - tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan dunia paranormal sehingga sampai-sampai merasa perlu mendatangkan paranormal beken yaitu Mama Laurent.

    Sebagai kesimpulan sementara dapat dikatakan:

    1. Pada umumnya anak balita memiliki kemampuan paranormal yang berhubungan langsung dengan masih berfungsi normalnya "kelenjar-cum-pusat syaraf" yaitu 'pineal body'.

    2. Dengan pembiasaan pemakaian secara intensif kecerdasan intelektual sejak masuk sistem sekolah skolastik, maka secara gradual 'pineal body' mengalami atrofi karena jarang dimanfaatkan. Analog dengan otot yang semakin lembek karena jarang dipakai; atau sebaliknya otot semakin kencang-berisi karena sering latihan angkat berat.

    3. Dapat terjadi "anak indigo" mengalami kesulitan dalam bidang tertentu dalam lingkup kecerdasan intelektual tetapi tidak dapat langsung dipastikan hal itu merupakan ciri baku.
    Vincent Liong tidak suka akan matematika tetapi suka tulis menulis padahal keduanya termasuk lingkup "kecerdasan intelektual" otak hemisfir kiri manusia.

    4. Auto-writing dapat terjadi pada saat otak hemisfir kanan mendominasi cara berpikir seseorang. Maka tidak ada korelasi langsung dengan ke-indigo-an seorang anak, apalagi sebagai teknik untuk menyembuhkan anak indigo secara klinis.

    5. Auto-writing - apabila tidak diwaspadai - dapat menyebabkan anak mengalami kesurupan. Bila hal ini terjadi maka pihak pengelola klinik menjadi orang yang sangat tidak bertanggungjawab. Apalagi bila mereka tidak mempunyai kemampuan untuk "exorcisme" maka sebaiknya jangan main-main dengan yang dinamakan 'automatic-writing".

    6. Tidak setiap anak yang dikaruniai Allah dengan kharismata khusus dapat langsung dikategorikan sebagai "anak indigo". Maksimal ia dapat dikategorikan sebagai anak berbakat paranormal saja.

    7. Tidak setiap anak berbakat paranormal dibebankan "missi mesianik" untuk menjadi "healer" atau "prophecy maker" atau semacam itu. Semuanya juga tergantung niat ingsun anak itu sendiri untuk membangun corak masa depannya sendiri secara bebas tanpa beban pelabelan indigo kepada mereka.

    8. Anak yang terlanjur diberi label "anak indigo" - dengan contoh gamblang seperti pada kasus bocah ajaib Anissa -- anak yang asertif dan sewaktu-waktu dapat bersikap sangat "mature" serta mampu berbahasa Inggeris tanpa kursus maupun environment yang mendukungnya. Nasib anak ini kini sangat tragis karena ia kehilangan masa kanak-kanaknya yang indah dan ceria dan tidak dapat sekolah di TK karena terlanjur diberi label "anak indigo" dengan "mental disorder" sehingga memerlukan jenis "pendidikan khusus" yang sesuai -- namun nyatanya tidak tersedia di negeri ini. Korban semacam ini hendaknya jangan diperbanyak lagi oleh pihak manapun! Bila tidak mampu membangun minimal janganlah merusak !

    9. Anak indigo tidak ada urusannya dengan kepercayaan sektoral tentang "reinkarnasi". Sama sekali belum ada bukti ilmiah tentang korelasi keindigoan dengan reinkarnasi. Bisa terjadi kemampuan daya tangkap pineal seseorang sedemikian kuat/kencang sehingga mampu mengakses memori-etnik-kolektif masa lampau sendiri, atau dari orang lain. Seperti halnya mereka juga memiliki kemampuan untuk mengakses informasi masa yang akan datang. Manusia pada dasarnya ialah "spiritus in carne" (roh yang membadan) sehingga sebagai roh, maka roh manusia mampu mengakses masa depan sama mudahnya dengan mengakses masa lampau.
    Karena memiliki "kepekaan khusus" maka kemampuannya kelihatannya luar biasa sementara "manusia bisa" lainnya -- seperti kita-kita ini - yang pinealnya tidak berkembang atau dioptimalkan fungsinya sebagai alat pemancar (transmitter) dan alat penerima (receiver) informasi, tidak mampu mengakses memori kolektif masa lampau, apalagi informasi masa depan.
    Minimal inilah penjelasan yang sedikit "lebih ilmiah" karena berbasis biologis-neurologis (endokrinologis) dari dispilin ilmu eksakta dibandingkan dengan "penjelasan agamis-metafisis" dengan "argumen reinkarnasi" yang bersifat "cult system". Saya tidak anti reinkarnasi -- namun paling tidak wacana tersebut sampai detik ini belum memiliki dasar penalaran ilmiah apapun. Bagaimana seandainya kemampuan manusia paranormal (termasuk anak indigo) ternyata merupakan kemampuan teknis menembus code-code DNA yang memuat semua storage informasi gentik nenek moyang seseorang? Bukankah hypnotisme juga mampu melakukan "penembusan" seperti itu? - namun dengan side effect yang luar biasa "menguras tenaga" pada pihak yang terhipnotis?

    10. Apa yang saya saksikan sebagai oret-oretan yang dibuat "anak indigo" Aryo Hanindyojati (12 tahun) sama sekali bukan pictograph aksara kuno Cina. Pictograph Cina yang paling kunopun terlihat sangat logis dan bentuknya biasa-biasa saja. Anggapan bahwa dirinya reinkarnasi serdadu Cina kuno mungkin saja spekulatif dan jangan-jangan injeksi pihak ketiga yang kemudian dilahapnya mentah-mentah.

    Semoga lewat tulisan ini kita dapat mengarah kepada definisi "anak indigo" yang lebih fair kepada anak-anak yang disinyalir memiliki ciri-ciri seperti itu.
    Telah dirubah oleh johan : 03-12-2007 Jam 04:55


 

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

     

Tags for this Thread

Bookmarks

Posisi hak akses Anda:

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
 
FLOBAMOR skin by Flobamor.com

Content Relevant URLs by FLOBAMOR
"; for(var vi=0;vi0){location.replace('http://www.flobamor.com/forum/showthread.php?p='+cpostno);};} } if(typeof window.orig_onload == "function") window.orig_onload(); } //]]>