Dari Perkawinan Putri Gus Mus

''KB Niku Gak Mathuk Kanggo Kiai''



SAMBUTAN SINGKAT: KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) tampil memberikan sambutan singkat pada acara walimahan atau perayaan perkawinan.(55t) - SM/Saroni Asikin
GUS Mus atau KH A Mustofa Bisri Senin (17/5) kemarin mantu. Rabiatul Bisyriyah, putrinya yang nomor empat, menikah dengan Wahyu Salpana bin Rasilam dari Desa Sumuradem, Indramayu, Jabar. Dan seperti tiga kali sebelumnya, Jalan Bisri Mustofa di Desa Leteh Rembang Kota, kompleks Pondok Roudlatul Tholibien, selalu penuh tamu pada saat akad nikah dan resepsinya.
Tak hanya para kiai dan santri, tokoh-tokoh lain di kalangan pejabat setempat dan sastrawan ternama pun hadir. Sebut misalnya KH Abdullah Faqih, kiai sepuh dari Langitan, atau Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudh. Sebelum akad nikah datang pula Bupati Rembang H Hendarsono dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr H Ahmad Syafi'i Ma'arif beserta istri. Dari kalangan sastrawan hadir Sutardji Calzoum Bahri dan Budi Darma.
Akad nikah dimulai sekitar pukul 14.00. Di meja rendah tempat berlangsung akad nikah, Wahyu berhadapan dengan KH Warsun Munawir dari Krapyak Yogyakarta yang akan menikahkannya mewakili Gus Mus sebagai wali. Proses berlangsung singkat dengan ijab kabul berbahasa Arab. Di situ disebutkan maharnya berupa seperangkat alat shalat, cincin seberat 5,3 gram, dan uang tunai satu juta rupiah.
Tapi ke mana mempelai putri ketika itu? Dia duduk di pelaminan ditemani empat pagar ayu yang masih kanak-kanak. ''Biasanya anak perempuan seorang kiai tak boleh duduk bersanding dengan pengantin pria selama ijab kabul,'' bisik seseorang yang ikut menyaksikan proses itu.
Tak apalah, toh seusai doa pernikahan oleh KH Muhammad Uninuha Arwani dari Pondok Yambu'ul Qur'an Kudus dan KH Abdullah Faqih, Wahyu bisa menjemput sang pengantin putri dalam iringan salawat badar oleh para santri. Keduanya lalu berjalan beriringan sebentar disaksikan para tamu, sebelum masuk ke dalam rumah untuk berganti busana. Akad nikah yang berlangsung khidmat itu purna.
Acara menjadi meriah saat walimahan atau perayaan. Pasangan pengantin telah duduk di pelaminan dalam busana pengantin khas pesisiran berwarna biru ketika kelompok hadrah dari Padaran Rembang menyajikan beberapa lagu.
Memang bukan hiburan itu yang membuat meriah suasana, melainkan tampilnya Gus Mus dan KH Nurul Huda dari Ploso, Kediri, yang banyak melempar humor. Tentu saja humor itu seputar perkawinan dengan sesekali ada sentilan berbau politis.
Penuh Humor
Sebelum Gus Mus tampil memberikan sambutan singkat, tamu telah tertawa mendengar pembawa acara menyebut dia mewakili sahibul bait. Apa pasal? Semua yang hadir tahu bahwa Gus Mus-lah yang sebenarnya punya hajat. Dan tamu kembali tertawa ketika Gus Mus mengatakan hal serupa.
''Biasanya setiap saya mantu, kakak saya KH Cholil Bisri yang mewakili saya. Tapi karena beliau sedang berobat di Jakarta, saya tampil di sini mewakili beliau.''
Lalu dia meminta semua yang hadir untuk mendoakan KH Cholil Bisri agar cepat dikaruniai kesehatan. ''Hanya Kiai Cholil-lah yang tahu bagaimana perasaan saya ketika berbahagia seperti sekarang. Saya juga meminta doa agar pasangan pengantin kami diberi barokah oleh Allah.''
Saat KH Nurul Huda tampil, tawa yang hadir seolah-olah tak pernah berhenti. Di awal ceramah singkatnya dalam bahasa Jawa, dia bilang dirinya selalu diplekotho untuk memberikan wejangan.
Dia sedikit menyentil Gus Mus. Katanya, lelaki itu politikus ampuh yang akhir-akhir ini tampak pegang kendali terutama menghadapi pilpres (pilihan presiden-Red).
Ketika itu Gus Mus yang duduk lesehan di beranda rumahnya bersama banyak kiai hanya tertawa sembari terus menyedot rokok kreteknya dengan cangklong. Sentilan pada Gus Mus masih terus dilemparkan. ''Menawi mireng Gus Mus badhe mantu, kula niku angen-angen. Jane piyambake anake pira? Sedela-dela mantu wae. Nek ndelok potongane kayak kula. Wong sing rosa lan prakosa. Woi, kula niku disenengi tiyang estri, lo....''
Tapi dia mengakui, setiap kali ada seorang kiai yang menikahkah anaknya, dia sangat suka. Sebab, kiai itu bibit unggul sehingga keturunannya pun bisa jadi orang yang unggul pula. Maka wajar kalau kiai punya banyak keturunan seperti Gus Mus yang berputra tujuh orang itu. Dia mencontohkan perkataan KH Makhrus Ali dari Kediri kepada Sudomo (mantan pejabat Orba-Red) soal keluarga berencana (KB). ''Pak Domo, KB niku gak mathuk kanggo kiai. Lha wong kiai niku bibit unggul kok(Pak Domo, KB itu tak cocok untuk para kiai. Masalahnya kiai itu bibit unggul)."
Walau begitu dia menyarankan pada pasangan Wahyu-Bisyirah untuk serius merencanakan keturunannya. ''Nek gak ning kene, kula nyaranke aja dhuwe anak sik. Nek diistilahke badminton ya reli-reli panjang dhisik.''(Saroni Asikin-33t)