Ketika Anak SD pun Mulai Doyan Situs Porno di Internet
PENGANTAR:
Siang tadi saya mendatangi sebuah warnet di Jakarta sini. Pertama masuk saya kaget juga disana sudah ada 3-4 anak SD sedang asyik main internet. Pikir saya, ini sebuah kemajuan untuk kita, anak SD saja sudah akrab main net. Lalu saya iseng ingin tahu, situs apa yang mereka akses. Ternyata ...waw, itu situs triple X. Saya hampir saja semaput, terbayang kalau anak yang akil-balig pun belum itu kok bisa menikmatinya?
Penelusuran saya ke berbagai arsip, menemukan beberapa riset tahun lalu. Ternyata? Ada sebuah Survei (2006 lalu) yang dipublikasikan ASA (Aliansi Selamatkan Anak) Indonesia bekerja sama dengan Yayasan Kita dan Buah Hati itu menunjukkan 80 persen dari 1.705 anak usia Sekolah Dasar (9-12 tahun) di Jadebotabek (Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi) pernah mengakses sekitar 30 lebih situs porno.Selain situs porno, menurut survei itu, materi pornografi yang juga pernah diakses oleh anak-anak tersebut adalah VCD, DVD, sinetron televisi, dan komik.Berikut tulisan lengkapnya:
Coba tebak, gambar apa yang sedang mereka
perhatikan dari situs internet di hadapannya itu?
20 Persen Anak SD Jabotabek Kenal Porno dari Internet
Akses Pornografi
Jakarta - Benar-benar edan! Anak-anak SD sekarang ternyata sudah banyak yang mengenal pornografi. Banyak media yang bisa mereka akses untuk menikmati gambar atau adegan syur itu, salah satunya handphone. Jadi bagi orangtua, waspadalah!
Survei yang dilakukan Yayasan Kita dan Buah Hati selama tahun 2005 ada 1.705 anak kelas 4-6 SD di Jabodetabek yang mengaku sudah kenal pornografi.
Hal itu diungkap Ketua Yayasan Kita dan Buah Hati Elly Ridwan dalam diskusi 'Selamatkan Anak Indonesia' di Gedung RRI, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (11/5/2006), survei dilakukan terhadap anak-anak di 134 SD.
Salah siapa?
Mereka disodorkan lembar pertanyaan yang sangat vulgar, namun dengan bahasa yang diperhalus. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sebagian besar seputar reproduksi.
Dari survei tersebut diketahui, sebanyak 20 persen mengenal pornografi dari situs internet, 25 persen dari handphone, 2 persen dari film dan TV, 12 persen dari film VCD/DVD, 17 persen dari novel atau cerita, 12 persen dari majalah, koran atau tabloid sebanyak 3 persen, dan lain-lain 9 persen.
Sementara untuk tempat-tempat mereka mengakses materi pornografi sebagian besar, yakni 35 persen di rental VCD/internet, rumah sendiri 25 persen, rumah teman 22 persen, dan lain-lain 18 persen.
"Karena itu saya sangat mendukung disahkannya RUU APP untuk meminimalisir masalah ini," tegas Elly.
Lembaga Sensor Internet
Bagaimana pun, memang harus ada pembatasan untuk anak-anak balita ini.
Apakah Komnas HAM Anak sampai sejauh itu melindungi anak-anak kita?
Inilah salah satu contoh Draft Perlindungan Anak dari Pornografi Internet itu
Sementara itu ahli telematika dari Masyarakat Telematika, Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, mengusulkan agar pemerintah menerbitkan regulasi mengenai internet untuk membatasi akses pengguna internet terhadap situs-situs porno.
Di Indonesia saat ini terdapat 2.500 host server. Setiap host server dapat menyimpan ribuan situs-situs porno.
"Sekarang juga situs porno yang dulunya hanya bisa diakses oleh orang-orang pengguna kartu kredit, tapi sekarang banyak yang gratis atau bebas," katanya usai diskusi.
Ia mengusulkan agar pemerintah membentuk badan yang mengawasi konten internet atau lembaga sensor khusus internet. "Seharusnya ini dimuat dalam PP," katanya.
Selain itu pemerintah harusnya mewajibkan internet provider memasang software khusus yang bisa memfilter situs-situs porno tersebut.
Akan tetapi, karena ini baru sebatas usulan, dia juga menganjurkan beberapa usulan konkret yang bisa dilakukan masyarakat, antara lain internet dipasang di ruang terbuka, membuat kesepakatan dengan anak mengenai situs yang boleh dibuka atau tidak, dan orangtua harus menemani selama anak mengakses internet.(Detiknet)
Pengaruh Internet dan Televisi Bagi Anak-Anak
Bermain dokter-dokteran bukan hal baru bagi anak-anak. Tapi yang baru adalah semakin banyaknya dan semakin mudanya anak-anak dihadapkan dengan gambar-gambar bernuansa porno. Kekhawatiran terhadap dampaknya, meningkat pula. Baru-baru ini seorang anak laki-laki berusia 12 tahun di kota Amersfoort, Belanda Tengah, melakukan pelecehan seksual terhadap teman sekolahnya. Selain itu ada dua sekolah dasar lagi yang muridnya berbuat tidak senonoh. Apakah ini disebabkan oleh gambar-gambar porno di televisi atau internet? Atau apakah karena peranan para pendidik? Guru besar pedagogi di Universitas Utrecht Micha de Winter mengusulkan agar peranan orang tua murid di sekolah, ditingkatkan.
Buku Het is niet leuk
Ketika jam istirahat seorang anak laki-laki di SD de Vlindervallei di Amersfoort, Belanda Tengah itu, menarik seorang anak yang sebaya dengan dia ke pangkuannya. Kemudian ia mengeluarkan kata-kata yang bernuansa seksual. Apa yang dilakukan anak-anak ini tampaknya baru dan juga sering terjadi.
Martine Delfos adalah psikolog dan penulis buku anak-anak 'Het is niet leuk' (Ini tidak menyenangkan). Buku ini mengenai anak-anak yang melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak lain. Delfos heran kok banyak anak-anak yang memperlihatkan prilaku seksual secara terbuka.
Martine Delfos:"Apa yang persis mereka lakukan memang hal yang baru, terutama volumenya. Tapi gejala yang paling baru adalah coraknya yang sangat berbeda dan keterbukaanya. Dulu tidak seperti itu. Dulu biasanya tersembunyi. Kan main dokter-dokteran itu menyenangkan dan agak menegangkan. Dan orang dewasa tidak boleh tahu. Nah, sekarang apa yang dilakukan anak-anak itu sangat terbuka."
Gambar-gambar porno
Dewasa ini anak-anak lebih banyak dihadapkan dengan gambar-gambar seksual dibandingkan sekitar sepuluh tahun lalu. Mereka melihat tayangan pria-pria perkasa memukul pantat perempuan. Di internet anak-anak juga dikonfrontasi dengan gambar-gambar seks. Kalau kata-kata seperti 'kemaluan cewek' dan 'Britney Spears' diketik di google maka keluarlah gambar gambar-gambar telanjang.
Menurut guru besar pedagogi Micha de Winter gambar-gambar itu bermakna lain bagi anak-anak.
"Anak-anak yang menonton channel musik atau internet, mereka mendapat kesan bahwa perempuan-perempuan atau gadis-gadis yang mereka lihat itu memang untuk digoda dan suka digoda. Jadi, gambar-gambar yang dilihat anak-anak itu tidak objektif."
Antipasi dari sekolah
Tidak semua orang menganggap prilaku anak-anak itu sebagai hal yang salah. Bermain dokter-dokteran memang ada dari dulu. Kadang-kadang memang menyimpang.
Ketua Organisasi Pemimpin Sekolah di Belanda, Ton Duif, bertanya-tanya apakah ini semua memang bermasalah. Menurut Duif anak-anak sekarang memang cepat dewasa dan suka mencoba-coba.
Ton Duif: "Masalahnya semuanya dibesar-besarkan sehingga dianggap sebagai prilaku tidak normal. Itu sebenarnya prilaku alami. Tapi sekolah memang harus mengantisipasi. Sekolah memang harus berbuat."
Ini bukan hanya kesalahan media baru. Menurut De Winter, orang tua dan sekolah harus lebih banyak campur tangan. De Winter menyadari sekarang banyak orang tua berpendapat bahwa mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadap pengaruh televisi dan internet. Tapi itu tidak benar. Karenanya, De Winter mengimbau agar orang dewasa menjadi tauladan. Harus memperlihatkan bahwa orang dewasa dalam kehidupan sehari-hari bergaul dengan cara berbeda dari apa yang mereka lihat di internet dan videoklip.
http://www.ranesi.nl/tema/pengetahua...rnetanak070420
Program Internet Masuk SD Tambah Wawasan Siswa, Perlu Pengawasan Guru
KOMPUTER merambah lembaga pendidikan bukan hal mengejutkan. Tapi, program internet memasuki lingkungan SD mengundang kecemasan. Padahal, pengenalan internet sejak dini amat membantu anak-anak mengembangkan wawasannya.
Belajar melalui internet merupakan belajar secara online. Sistem belajar ini lebih mudah, cepat, dan murah. Selain itu informasi yang didapat pun lebih variatif. PBB pun telah merancang konsep pendidikan “Education for Next Generation” yang lebih banyak berbasis informasi, teknologi dan komunikasi (ITC). Melihat sekilas tanyangan iklan pendidikan internet masuk SD, ada kekhawatiran mengenai penggunaan internet. Bagi kritisi pendidikan IKIPN Singaraja, Wayan Artika, wajar saja bila ada kekhawatiran. Tapi, teknologi bukan sesuatu yang harus ditolak karena alasan orangtua mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya. “Semua teknologi itu mengkhawatirkan. Tapi jangan sampai karena kekhawatiran, teknologi itu ditolak. Kita harus optimis kalau hal itu akan memberi manfaat yang besar bagi pendidikan,” tegas Artika. Internet masuk SD dinilainya positif.
Adanya kekhawatiran tersebut dapat diatasi dengan setting room yang tepat. Artika menambahkan dengan konsep setting tempat yang terbuka, tak akan ada akses untuk membuka situs porno. Yang lebih penting, sebelum internet dikenalkan pada siswa, guru harus memahami secara mendalam sehingga tak salah langkah. “Murid akan belajar banyak dari guru. Apalagi dalam usia di bangku sekolah dasar. Mereka tak akan tahu situs porno kalau tak ada yang memberitahu,” ungkapnya.
Internet masuk SD dapat mengubah paragdigma belajar yaitu belajar dari segala arah. Selama ini proses belajar di SD lebih banyak terpaku pada buku dan guru, namun dengan internet, siswa akan belajar dengan orang yang asing bagi mereka. Dengan mendapatkan informasi yang banyak, cepat dan murah, mereka berdiskusi dengan teman dan guru tentang informasi yang ia dapat dari teman di dunia ‘maya’.
Selain peran serta guru, orang tua juga perlu mengawasi anaknya dalam belajar. Dengan internet anak dapat mengakses dunia tanpa harus mengelilingi dunia. Pelatihan ICT yang diadakan oleh UNESCO Bangkok bekerja sama dengan SEAMOLEC (organisasi menteri-menteri pendidikan se-Asia Tenggara) di Jakarta bulan April lalu juga dibahas masalah pembelajaran secara online melalui internet.
Artika yang ikut serta didalamnya menuturkan, dalam pertemuan itu, jaringan pembelajaran online harus dapat dimanfaatkan dalam pendidikan global. “Teknologi yang sudah tersedia, harus dapat dimanfaatkan dengan baik. Diharapkan ITC dapat mendukung dunia pendidikan,” tambah Artika.
Untuk meminimalkan dampak negatifnya diperlukan bimbingan yang tepat bagi siswa mengenai sisi positif dan sisi negatif dari penggunaan internet. “Kita harus bangun kemampuan memfilter dari anak. Jangan sampai internet menimbulkan kekhawatiran yang konyol,” ungkap Artika.
http://www.cybertokoh.com/mod.php?mo...cle&artid=1028




LinkBack URL
About LinkBacks





Reply With Quote

Bookmarks