Memprihatinkan ..


Mereka Memilih Melahirkan di dalam Hutan

Tak mudah membayangkan apa yang akan dilakukan Mama Iyai jika nanti ia melahirkan. Rumahnya ada di Kampung Woge di Desa Ugaikagopa, sekitar empat jam jalan kaki dari Bomomani, di Distrik Mapia, Kabupaten Nabire. Hanya ada jalan setapak yang menghubungkan Woge dengan Bomomani, naik-turun gunung masuk-keluar hutan. Mama Wake yang tinggal di Bomomani mengatakan, umumnya perempuan di pedalaman masuk ke hutan jika waktu melahirkan tiba.
Dengan dibantu tua-tua perempuan, mereka melahirkan di dalam kegelapan hutan.


Cara melahirkan semacam ini memang berkaitan pula dengan keyakinan mereka soal dilarangnya laki-laki (khususnya suami) melihat darah istri yang mengalir dari tubuh ketika melahirkan. Namun, kini masyarakat pedalaman Papua umumnya sudah mengenal pelayanan kesehatan di puskesmas. Kalaupun
pilihan melahirkan di dalam hutan itu diambil, tentu lebih didasarkan pertimbangan waktu dan biaya yang tidak sedikit.
Seperti diungkapkan Ny Agustina Manggori, warga Bomomani, dia selalu ketakutan kalau anak-anaknya sakit. "Bagaimana tidak, alat di puskesmas minim, begitu pula obat-obatan. Jika anak saya sakit, untuk pertolongan pertama memang saya ke puskesmas atau ke mantri kesehatan. Biasanya saya
lihat perkembangan, kalau dalam dua hari ke depan tak ada tanda-tanda kesembuhan, saya langsung membawa ke kota. Namun, ke kota kan biaya transportasinya sangat besar," katanya setengah mengeluh.


Selain itu, memaksakan diri pergi ke puskesmas di Bomomani belum tentu akan memperoleh perawatan yang lebih baik. Ruang inap yang digunakan khusus untuk ibu setelah melahirkan tidak dilengkapi kasur, yang ada hanya dipan kayu. Bahkan, alat bantu melahirkan, partus set, seperti gunting dan jarum jahit, tidak tersedia.


Padahal, puskesmas di Bomomani merupakan puskesmas induk yang membawahi dua puskesmas, yaitu di Timepa dan Modio. Jarak kedua tempat pelayanan kesehatan masyarakat itu sekitar tujuh hingga delapan jam jalan kaki dari Bomomani.


Selain itu, warga yang akan memeriksakan kesehatan di puskesmas tersebut juga harus tabah sebab fasilitas yang dimiliki masih memprihatinkan. Dari pedalaman mereka harus berangkat pagi-pagi sekali agar dapat tiba di puskesmas yang berada di ibu kota distrik tersebut pukul 08.00 atau 09.00 WIT.
Sudah seperti itu pun, tak jarang harapan mereka berujung kekecewaan.
Setelah jauh-jauh datang untuk berobat, mereka mengaku sering mendapat diagnosis yang kurang akurat sebab hanya dilakukan secara visual.


Minim fasilitas Di puskesmas yang berjarak sekitar 185 kilometer dari Nabire itu, stetoskop tidak ada. Puskesmas itu juga tidak memiliki laboratorium untuk memeriksa dahak ataupun hemoglobin. Alat pengukur tekanan darah yang ada sudah rusak, sedangkan termometer tidak ada sama sekali.
"Kami hanya memeriksa kondisi pasien secara visual, lalu kami memberikan obat sesuai dengan keluhan pasien," ujar perawat Puskesmas Bomamani, Salmon Holombo.


Tidak mengherankan jika imunisasi di kawasan pedalaman, seperti Distrik Mapia dan Kamu di Kabupaten Nabire, Papua, sampai saat ini amat jarang dilakukan. Imunisasi tak bisa rutin digelar. Selain vaksin begitu lama dikirim dari ibu kota kabupaten, di puskesmas setempat listrik pun belum masuk.
"Obat dari kota dikirim biasanya dua atau tiga bulan sekali. Begitu juga dengan vaksin untuk imunisasi," kata bidan Puskesmas Bomamani, Fransiska Deba. Praktis imunisasi dilakukan jika kiriman vaksin tiba. Sebenarnya, imunisasi itu bisa rutin dilakukan apabila puskesmas memiliki ruangan atau tempat penyimpanan khusus untuk vaksin sehingga dapat disiapkan stok.
Namun, itu pun tentunya memerlukan listrik.


Masalah lain yang dihadapi masyarakat pedalaman Papua adalah terbatasnya obat-obatan yang tersedia. Di puskesmas, umumnya hanya tersedia obat untuk penyakit malaria, diare, gangguan pernapasan, penurun panas, antibiotik, dan vitamin.
Menurut Holombo, kasus penyakit yang banyak ditangani Puskesmas Bomomani selain malaria adalah infeksi saluran pernapasan akut dan diare. Yang memprihatinkan, persediaan obat untuk itu terbatas. Bahkan, alkohol kadar 70 persen sering dicuri anak-anak muda untuk mabuk-mabukan.


Problem lain, dokter belum ada. Di Puskesmas Bomomani, saat ini hanya ada enam perawat, satu bidan, dan kepala puskesmas. Kepala Puskesmas Bomomani Leo Tebai pun lebih banyak berada di Nabire. Saat tim Ekspedisi Tanah Papua Kompas 2007 bertandang ke puskesmas itu pertengahan Agustus lalu,
Leo Tebai sedang di kota.
"Kepala puskesmas sudah mengusulkan dua kali ke dinas kesehatan untuk segera ditempatkan dokter. Namun, sampai sekarang belum ada realisasi," ujar Holombo.
Belum memenuhi standar


Secara terpisah, dokter Puskesmas Moanemani, Distrik Kamu, Saiful Rohman, mengungkapkan, peralatan yang dimiliki puskesmas yang jaraknya sekitar 200 kilometer dari Nabire itu belum memenuhi standar sebagaimana puskesmas di Jawa. "Obat-obatan cukup lengkap. Namun, di sini belum mempunyai alat sterilisasi otoclaf. Untuk kelas puskesmas, paling tidak harus ada alat sterilisasi. Karena itu, untuk mensterilkan peralatan, kami menggunakan kompor atau alkohol. Alat-alat itu kami rebus mendidih atau dicuci terlebih dahulu lalu dibakar dengan alkohol," kata Saiful, dokter pegawai tidak tetap.


Ia juga mengatakan, penyakit yang kerap dialami masyarakat Moanemani selain malaria dan diare adalah tuberkulosis (TBC). "Saya memperkirakan pasien di sini paling banyak penderita TBC. Sebab, faktor pemicunya cukup besar, antara lain kurang gizi dan umumnya di dalam rumah warga terdapat
tungku api untuk menghangatkan badan, sementara ventilasi tidak ada," katanya.


Penulis: Kompas/Samuel Oktora dan B Josie Susilo Hardianto