Nasib Keturunan Chinese di Indonesia
Melati / Mei Hwa di USA .
Olla Zaverina, jadi ikutan nimbrung nih. Entah hal ini pernah dimuat/ tidak karena saya baru minggu lalu menemukan kolom ini dan ingin ikutan mencurahkan isi hati. Maafkan kalau hal ini pernah dibahas yah. Mau mulai dari mana yah?
Aku generasi ke lima dari keluarga perantauan Chinese. Salah satu nenek moyangku bahkan orang keling, orang yang kita sebut saja disini sebagai “native”. Aku beri tanda koma dua karena nanti dibawah aku jelaskan yah.
Dari kecil kami dididik oleh papa dan mama untuk menyayangi orang lain terutama orang miskin. Papa suka cerita bagaimana nenek moyangnya membantu para pejuang melawan Belanda dan beliau bersaksi sendiri membantu para pejuang melawan Jepang. Mulai dari membantu menyembunyikan mereka sampai mensuply buah dan makanan.
Aku bergaul dengan siapa saja, tidak sadar sama sekali kalau warna kulitku berbeda.
Singkat cerita, jodoh aku ternyata orang bule America . Suamiku tidak kaya tetapi orang tuanya lumayan berada. Almarhum ayahnya mewarisi suami yang merupakan anak paling tua tanah perkebunan dengan dua rumah mewah kurang lebih 2 juta dollar nilainya waktu tahun 1997-an dimana dollar masih sekitar 2500 rupiah-an di Indonesia.
Suami setuju dengan panggilan hati aku untuk menjual segala harta dan pulang ke Tanah Air untuk membaktikan diri membuka semacam shelter buat membantu wanita dan anak anak. Entah semacam sekolah, yatim piatu, atau apa saja yang dibutuhkan di Tanah Air. Tujuan kami daerah terpencil di Jawa dan Kalimantan atau Sulawesi atau Irian Jaya. Ibunya yang sudah tua sangat menentang karena justru ibunya pindah ke kota kami supaya bisa hidup bersama anaknya yang paling tua ini di usia tuanya. Tetapi tekad kami
sudah bulat. Perjuangan yang tidak mudah meyakinkan suami aku untuk membulatkan tekad sebenarnya. Ibunya sangat kecewa tetapi panggilan hati kami lebih kuat dari segalanya.
Tahun 1997 akhir kami pindah kembali sementara di Jakarta sambil mempersiapkan surat surat. Kami kecewa karena perempuan tidak diperlakukan sederajat dengan laki aku laki-laki, “istri bule”ku otomatis dapat warganegara Indonesia . Tiap dua bulan dia harus ke Singapore untuk mendapat cap di passportnya. Di airport Sukarno Hatta dia digeledah, di kata-katain “lu bule pasti kerja gelap disini yah” dan diambil uang yang ada
dikantongnya semua. Sebagai orang bule, suami aku sangat kaget diperlakukan seperti ini. Kami bertengkar hebat dan dia hampir menyerah. Akhirnya setelah itu dia masuk lewat Batam karena “ada kenalan” disana.
Sekitar 6 bulan kemudian dia pulang ke America untuk menengok ibunya dan merayakan Paskah disana sementara aku tetap tinggal di Indonesia dan tetap berusaha mendapatkan surat2 resmi untuk suamiku tinggal disana. Aku sudah pesan dengan ibunya kalau ada panggilan dari bagian Immigrasi America mengenai status greencard ku di America, aku tidak butuh lagi karena aku mau menetap di Indonesia .
Seperti yang kita ketahui, peristiwa Mei 1998 meletus. Jakarta Barat tempat tinggal kami dibakar duluan. Teman-temanku menelepon, menangis ketakutan. Mereka mempunyai bayi, tidak seperti aku yang tidak punya anak. Kami sekeluarga bersembunyi dalam gelap dan lima hari tidur dengan memakai sepatu olahraga. Aku tidak pernah melepas money belt berisi uang dollar untuk siap siap lari kapan saja. Beberapa ratus meter saja dari rumah kami, banyak sekali pertokoan yang dibakar, rumah yang dirampok, dan kabar mengerikan
tentang perkosaan terhadap wanita bermata sipit seperti aku. Kabar mengerikan ini ternyata benar, aku saksikan sendiri kesaksian mereka di Washington DC di kemudian hari.
Ada yang tidak mau keluar dari bak mandi, terus menerus mencuci dirinya yang telah diperkosa. Banyak juga yang kemudian menjadi hamil. Aku sempat ikut mahasiswa Indonesia demonstrasi di depan kampus.
Hari ketiga setelah peristiwa 1998 itu, suamiku menonton di televisi sana dan segera menelpon aku untuk balik ke America . Aku berketat tidak mau. Papaku histeris dan memohon-mohon sehingga akhirnya kembalilah aku ke America . Waktu itu hanya aku yang memiliki status PR sementara di America . Untung rumah kami di America belum terjual waktu itu.
Jujur saja dua tahun ini aku marah pada " Indonesia ". Rasa marah aku pada Indonesia justru baru tumbuh sekitar tahun 2004 sewaktu lama bergaul dengan orang-orang Indonesia yang “native” di kota kami ini. Aku sebetulnya senang bukan kepalang bertemu dan berteman dengan teman se Tanah Air di perantauan. Tetapi kurang lebih berteman setahun dengan mereka, aku dibawa kembali kepada pengalaman yang tidak enak di tanah air. Sewaktu kecil aku ingat sekali kalau berjalan kaki sepulang dari sekolah kami harus
memasang tas didepan dada karena kalau tidak, abang-abang yang berada dijalan dengan seenaknya meremas buah dada kami. Itupun mereka masih menoel noel bagian tubuh lain. Mereka memanggil kami “amoy”, “cina”, “haiya” dengan nada yang sangat melecehkan.
Guru native kami mencubit dan menghukum kami berjajar di depan kelas sewaktu kami bolos sekolah karena merayakan hari Imlek. Kalau masuk sekolahpun kami diberi ulangan tiap mata pelajaran khusus di hari Imlek. Padahal kami sekolah di sekolah Katolik waktu itu.
Waktu kecil aku tidak mengerti kalau ini adalah pelecehan. Hal ini tidak pernah terjadi pada teman-teman kami yang native. Kami yang bermata sipit mana berani memakai perhiasan sedangkan teman-teman wanita kami yang native berjalan kaki ke pasarpun memakai kalung emas tanpa takut ditodong.
Dalam dua tahun ini ingatan-ingatan tersebut kembali ke benakku. Aku mulai sadar kalau atas perlakuan-perlakuan tidak layak terhadap warga negara Indonesia seperti aku yang bermata sipit dan berkulit lebih putih. WHY? Aku tidak puas dan terus menerus bertanya.
Why, mengapa KTP kami diberi tanda. Sehingga kalau mengisi formulir meminta pekerjaan di instansi pemerintah hampir mustahil. Masuk perguruan tinggi negri juga hampir mustahil. Dan ini terjadi di Jaman modern sekarang ini, bukannya jaman gua lho. Memang sekarang aku dengar pembauran sudah digalakan, Imlek sudah diresmikan sebagai hari libur. Pemerintah yang baru membantu banyak proses pembauran dan lain sebagainya. Masalahnya teman-teman native di America di kotaku masih sisa-sisa produk jaman dulu. Merekalah yang kemudian membuatku sadar kalau aku diperlakukan miring di tanah kelahiranku sendiri ini. Mereka memanggil aku “pemakan babi”. (padahal aku paling tidak suka makan babi lho). Mereka tidak mau makan dirumahku karena jijik padahal aku cuci piring dengan diswasher sampai bersih juga jadi aku yakin tidak ada noda babi di piringku. Lagian seperti kataku, aku jarang sekali memasak makanan dari daging babi dirumahku. Makanan-makanan bernada Chineseku dikatain “berasa seperti tahi upil” di depan mukaku
sendiri. Banyak lagi yang aku rasa tidak perlu aku ceritakan disini. Semakin banyak orang Indonesia Native yang mereka temukan dikotaku, semakin aku dihina. Sudah empat orang berlaku serupa. Mereka baik denganku tetapi tetap menempatkan teman yang native diatas segalanya bahkan diatas persahabatan mereka denganku yang dimulai lebih dulu dan lebih baik dari teman native mereka. Bahkan aku merayakan hari raya mereka dan membantu banyak kebutuhan mereka waktu pertama kali datang ke America tetapi tetap saja pada akhirnya mereka mendahulukan yang native ketibang aku. Tidak peduli betapa baikpun hatiku, kalau mereka harus memilih, mereka memilih mendahulukan yang “native".
Akhirnya sekitar tahun 2004 aku mulai sadar kalau perlakuan semena-mena seperti ini tidak patut aku terima. Aku juga mulai sadar mengenai hal-hal tidak pantas yang aku terima Cuma karena warna kulitku dan mata sipitku.
Zeverina, kamus Webster menulis arti kata NATIVE. Yaitu orang yang dilahirkan ditanah tersebut. Jadi aku dan banyak nenek moyangkupun orang native Indonesia . Entahlah siapa yang benar-benar pertama kali mendiami bumi Indonesia . Kabarnya agama Hindu adalah agama pertama yang masuk di Indonesia . Baru kemudian di ikuti oleh agama-Orang Hindu Bali datangnya pun dari India . Kabarnya nenek moyang orang Aborigin dari Australia dulu pindah ke Indonesia , lalu lari , menyebar kemana-mana, bahkan di Bishop Museum di Honolulupun bisa dibaca kalau orang polynesian itu datangnya dari Indonesia .
My point is, semua orang Indonesia itu dulunya juga pendatang. Gelap atau terang warna kulitnya, sama-sama lahir di tanah yang sama, sama-sama native, mustinya mempunyai hak yang sama.
Mengenai jurang pemisah yang paling susah, yang adalah status ekonomi/ keuangan. Bagi teman-temanku yang “native”, salah orang turunan Chinese sendiri karena mereka lebih makmur. Bagi aku tidak ada yang salah, tidak ada yang benar. Orang keturunan Chinese memang gila dengan uang. Makan dengan garampun mereka rela asalkan bisa mengirim anaknya ke sekolah terbaik. Aku menyaksikan sendiri orang tua temanku makan dengan ikan asin hampir tiap hari, berjualan toko kelontong dan mengirim anaknya ke sekolah terbaik di USA .
Dan aku saksikan sendiri keluarga temanku yang lain, ibu ayahnya membawa pulang shampo untuk di kemas dirumah (pekerjaan sampingan) untuk membiayai anaknya sekolah ke America . Anak-anaknya tidak pernah memakai baju baru, tv nya pun hitam putih, baju renangnya tua dan kusam karena tidak pernah membeli baju baru tetapi sekolahnya waktu itu ke sekolah swasta termahal di Jakarta dan ke perguruan tinggi di America .
Aku saksikan juga temanku yang lain yang sekolah di America , sewaktu tidak menerima uang kiriman tepat waktu sehingga harus makan potato chips dengan air putih. Ini yang aku saksikan dengan mata kepalaku sendiri. Masih banyak cerita lain yang aku dengar tetapi yang aku ceritakan hanya yang aku saksikan sendiri.
Satu keluarga lain yang aku mau ceritakan sebagai contoh disini juga keluarga temanku. Tadinya aku kira mereka orang kaya karena punya piano, sekolah di America sejak SMA di sekolah yang sangat mahal sebetulnya. Waktu mampir kerumah mereka aku kaget sekali. Ranjangpun mereka tidak punya. Cuma piano satu saja dan kasur lipat (sleeping bed) di lantai. Makanpun sangat mengirit sekali, tidak pernah bisa diajak makan di restoran karena harus membayar biaya sekolah. Ibu mereka janda berpenghasilan biasa dan mati
banting tulang menyekolahkan dua anak perempuannya di America bahkan memberi pelajaran piano yang mahal.
Ijinkan satu lagi contoh aku ceritakan. Temanku waktu SMA, enam anak sekeluarga. Ibunya janda juga. Mereka juga keturunan Chinese seperti aku. Mereka sangat miskin. Temanku anak ke-empat bekerja sepulang sekolah supaya bisa menyekolahkan kakak kakaknya empat orang. Karena tidak ada jalan lain, mereka memakai KTP palsu dan mereka sekeluarga di terima di Perguruan Tinggi Negri terkenal di Bandung (ITB, UNPAD, Parahiangan) dan temanku sendiri di UI. Sayang aku tidak tau waktu itu karena baru belakangan hari dia cerita dia memakai KTP palsu)). Memang keluarga temanku itu
berkulit sangat gelap dan bermata besar karena ayahnya dan tidak kelihatan keturunan Chinese. Sekarang mereka semua Insinyur dan dokter yang berpenghasilan besar.
Aku tidak mengatakan kalau cara hidup orang keturunan Chinese kebanyakan yang bekerja gila2an keras ini benar, aku juga tidak mengatakan cara hidup seperti ini salah. Pointku adalah, apapun cara hidup manusia, itu pilihan mereka sendiri dan mereka harus bertanggung jawab akan akibatnya.
Nah jika akhirnya mereka yang berkerja berat tidak kepalang ini kemudian menjadi kaya raya, apakah mereka patut disalahkan? Patut dirampok? Patut dibakar rumahnya? Patut diperkosa anak perempuannya?
Apakah mereka patut disalahkan kalau mereka membeli mobil mewah? Di America malah dipuji karena memasukan pajak bagi negara. Cuma memang sekarang disalahkan lagi jika mobil mewahnya makan bensin. Nah apakah mereka patut disalahkan kalau rumahnya mewah? Dimana hukum yang menyatakan kalau orang yang bekerja keras lalu jadi kaya terus diharuskan menyumbang lebih banyak diluar keinginannya. Toh mereka sudah
dipajaki pemerintah. Beli mobil sudah dipajaki, beli rumah sudah dipajaki. Makan di restoran pun sudah dipajaki. Semakin mewah semakin banyak pajaknya. Bukankan menyumbang itu hak asasi manusia? Kalau mereka mau menyumbang yah silakan, tidak usah “dipaksa nyumbang”.
Aku juga tidak bilang tidak ada orang keturunan Chinese yang jahat. My GOODNESS, orang jahat mah ada dimana-mana. Mereka yang menyiksa pegawainya, mereka yang meliciki pegawainya dimana-mana ada, bangsa apapun ada. Tetapi mengapa yang dibakar dan diperkosa Mei 1998 itu milik orang keturunan Chinese saja?
Akhir ceritaku, suamiku dan aku sudah pindah ke state yang lain. Rumah dan tanah kami sudah dijual dan sekarang kami aktif membantu yayasan yatim piatu di Haiti , America Selatan (Food For The Poor) dan Brazilia. Kami hidup pensiun biasa saja / seadanya karena masih banyak sekali orang miskin di dunia ini. Umur kami masih muda. Kami juga membantu memindahkan semua keluarga kami ke America . Pertama-tama ka mi pindahkan mereka ke Singapore . Setelah mendapat PR Singapore, mereka lebih mudah mendapatkan PR di America. Tiap tahun kami berkunjung ke Indonesia menengok teman-teman dan family disana. Banyak yang ingin keluar dari Indonesia tetapi tidak punya biaya/kemampuan. KTP mereka masih tetap “diberi tanda”, dan rasa tidak memiliki negara masih tetap terasa di benak mereka. Perlakuan minim/ pelecehan masih terjadi di daerah terpencil tetapi tidak masuk koran ataupun berita TV. Kalau bukan karena teman kami yang kebanyakan orang daerah, kamipun tidak akan pernah tau. Bahkan teman bule
yang bekerja di kedutaan Indonesia juga bercerita kalau yang datang minta tolong warga Indonesia bermata sipit, prosesnya akan dipersulit.
Banyak diantara kenalanku warga keturunan Chinese Indonesia yang sedang berencana pindah. Yang mampu menghendaki pindah ke USA , Australia , Canada dan Singapore . Yang kurang mampu ingin pindah ke negara Cina, membawa semua harta milik mereka. Karena katanya di Cina, kalau kita banyak uang, mereka memperlakukan kita dengan layak kabarnya.
Zeverina, terimakasih atas kesempatan menceritakan isi hati.
----------------------------------------------------------------------------------------
Dikutip dari:
http://community.kompas.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=38217§ion= 92




LinkBack URL
About LinkBacks
)). Memang keluarga temanku itu

Reply With Quote

Bookmarks