BUKAN HANYA HUBUNGAN INTIM
[ Kamis, 17 Juli 2005 | 630 pembaca ]
Dalam kultur masyarakat kita, kata seks hampir selalu berkonotasi negatif. Begitu mendengar kata “seks” yang terbayang adalah aktivitas yang terkait dengan hubungan kelamin. Padahal, definisi seks bisa dilihat dari beberapa dimensi. Berikut ini penjelasan dr. Boyke Dian Nugraha, DSOG MARS, seperti yang dituturkan kepada kru DetEksi Jawa Pos, Inne Soviyanti.

Bagi sebagian orang, seks memang masih dianggap tabu. Sehingga, berbicara mengenai seks harus secara pribadi. Kondisi ini amat memprihatinkan, karena pengetahuan seks sangat penting. Bagaimanapun, seks berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Jika konsep mengenai seks yang diterima salah, maka banyak akibat dan risikonya. Serta, penanganan aktivitas seks juga bisa tidak tepat.

Banyak orang yang memandang seks sebagai konsumsi orang dewasa. Remaja apalagi anak-anak, tidak diperbolehkan mengetahui seks. Padahal justru pada masa remaja, pendidikan seks harus dimulai diberikan. Pada masa ini mereka sedang mengalami perubahan organ-organ seks, baik primer maupun sekunder. Jika tidak diberikan pengetahuan yang cukup, ditakutkan malah salah arah.

Oleh karena itu, sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu definisi kata "seks" itu sendiri. Seks memang memiliki definisi yang luas. Namun, jika kita berbicara mengenai seks secara keseluruhan, maka yang dimaksudkan adalah pendidikan mengenai jenis kelamin.

Definisi seks, dapat dikelompokkan menurut beberapa dimensi. Di antaranya:

Dimensi Biologis yang berkaitan dengan alat reproduksi. Di dalamnya termasuk pengetahuan mengenai hormon-hormon, menstruasi, masa subur, gairah seks, bagaimana menjaga kesehatan dan gangguan seperti PMS (penyakit menular seksual), dan bagaimana memfungsikannya secara optimal secara biologis. Dimensi Faal mencakup pengetahuan mengenai proses pembuahan, bagaimana ovum bertemu dengan sperma dan membentuk zigot dan seterusnya.

Dimensi Psikologis Seksualitas berkaitan dengan bagaimana kita menjalankan fungsi kita sebagai mahluk seksual dan identitas peran jenis. Mengapa pria dipandang lebih agresif daripada wanita?

Dimensi Medis adalah pengetahuan mengenai penyakit yang di oleh hubungan seks, terjadinya impotensi, nyeri, keputihan dan lain sebagainya.

Dimensi Sosial Seksualitas berkaitan dengan hubungan interpersonal (hubungan antar sesama manusia). Seringkali, hambatan inleraksi ditimbulkan oleh kesenjangan peran jenis antara laki-laki dan perempuan. Hal ini dipepgaruhi oleb faktor budaya dan idola asuh yang lebih memprioritaskan posisi laki-laki. Anggapan tersebut harus diluruskan. karena jenis kelamin tidak menentukan mana yang lebih baik atau berkualitas.

Yang penting bagaimana membentuk kualitas hubungan yang baik antara laki-laki dan perempuan. Bagaimana menciptakan kesetaraan yang proporsional, dapat membedakan mana peran kodrati dan peran masyarakat? ***

Sumber : Jawa Pos, 5 Agustus 2004