All the best FLOBAMOR...

Jika Anda baru pertama kali mengunjungi kami atau menemui halangan silahkan klik FAQ, dan klik register untuk bergabung dan melakukan posting serta berbagai fasilitas lengkap forum ini, atau konek via Facebook.


+ Reply to Thread
Showing results 1 to 2 of 2
  1. #1
    Member susanti is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Oct 2006
    Kiriman
    527
    Rep Power
    6

    Default Hidup Tetap Normal Dengan Satu Ginjal

    Ketika seseorang divonis menderita gagal ginjal, maka ia harus menjalani terapi cuci darah (hemodialisis) seumur hidupnya dengan kompensasi biaya yang sangat mahal.
    Sebenarnya ada cara lain yang bisa dilakukan untuk mengganti fungsi organ ginjal, yakni dengan transplantasi ginjal. Sayangnya jumlah orang yang bersedia mendonasikan ginjalnya masih minim. Padahal dengan donor ginjal, pasien bisa terbebas dari terapi cuci darah dan pendonor akan tetap hidup normal meski dengan satu ginjal.



    Menurut dr.David Manuputty, SpB, SpU (K), dari Tim Transplantasi Ginjal Rumah Sakit PGI Cikini, dari 70.000 jumlah pasien gagal ginjal di Indonesia, baru 500 pasien yang melakukan transplantasi ginjal. Sedikitnya jumlah pendonor dan belum memasyarakatnya donor ginjal menjadi penyebab rendahnya angka tersebut.

    "Sejak tahun 1977 hingga 2006 ini baru ada 500 pasien yang melakukan cangkok ginjal, angka ini kecil sekali. Padahal masyarakat tidak perlu takut menjadi donor karena setiap orang bisa tetap hidup normal meski hanya dengan satu ginjal. Anggota TNI pun bisa tetap beraktivitas seperti biasa setelah mendonorkan ginjalnya," katanya di acara seminar Teknologi Transplantasi Ginjal di Jakarta (9/3).
    Hidup dengan satu ginjal bagi masyarakat awam mungkin mengerikan. Padahal menurut David dari dua organ ginjal yang dimiliki, masing-masing tidak bekerja penuh. "Kita lahir dengan dua ginjal, tapi keduanya hanya bekerja setengah-setengah, jadi tidak ada yang berbeda ketika satu ginjal diambil," ujar dokter yang telah melakukan operasi cangkok ginjal sebanyak 400 kali ini.
    Selain itu menurut David sisi ginjal yang akan diambil oleh dokter dari pendonor adalah ginjal yang paling jelek. "Misalnya jika ada kelainan dari saluran ureter ke salah satu ginjal, itu yang akan diambil. Pada intinya kami tidak mau menyebabkan si pendonor jadi sakit setelah ginjalnya diambil," ujarnya.


    Anggota keluarga
    Sebenarnya setiap orang bisa mendonasikan ginjalnya, namun menurut David dari 500 kasus transplantasi, sebanyak 233 pendonor merupakan kerabat dekat pasien dan 6 kasus donor dari istri kepada suaminya.

    Dijelaskan oleh dr.Indrawati Sukadis, Koordinator Tim Transplantasi Ginjal Rumah Sakit PGI Cikini, tingkat keberhasilannya memang lebih tinggi jika cangkok donor berasal dari keluarga pasien. "Keberhasilannya sampai 90 persen. Pada umumnya jika ginjal berasal dari related donor (keluarga), ginjal akan bekerja baik di tubuh pasien,"paparnya.

    Salah satu pasien cangkok ginjal yang berhasil adalah Evi Yulianti (37) seorang mantan pramugari Garuda. Ia mendapatkan donor ginjal dari adiknya Lidya (35) tahun 2002 lalu.
    "Dokter memvonis fungsi ginjal saya tinggal enam persen, padahal ketika itu saya baru memiliki bayi berusia enam bulan. Untunglah adik saya dengan sukarela mendonorkan ginjalnya," tuturnya. Menurut Evi, sampai kini kesehatan ia maupun adiknya baik-baik saja tanpa keluhan. Bahkan Lidya langsung hamil beberapa bulan setelah mendonorkan ginjalnya.

    Beruntung Evi mendapatkan penggantian biaya operasi yang mencapai ratusan juta rupiah itu. Diakui oleh Indrawati, selain ketiadaan donor, mahalnya biaya operasi menjadi kendala rendahnya angka pasien yang melakukan cangkok ginjal. Selain biaya operasi, pasien masih harus mengeluarkan biaya obat Rp 13 juta perbulan selama dua tahun pertama pasca operasi.

    Menurut David, meski sudah melakukan operasi cangkok ginjal pasien masih harus meminum obat dan melakukan pemeriksaan ke rumah sakit setiap bulan. "Ginjal yang berasal dari pendonor adalah benda asing, sehingga tubuh membuat pertahanan. Karenanya harus dikontrol rutin dan perlu diberi obat agar penolakan-penolakan tubuh bisa dikurangi," paparnya.

    Kesulitan biaya pula yang membuat Iin Sukarya (47) pasien gagal ginjal sejak tahun 1987 memilih melakukan cuci darah ketimbang operasi cangkok ginjal kendati seluruh keluarganya bersedia mendonorkan ginjalnya.

    "Saya tidak punya biaya untuk operasi, padahal seluruh kakak dan adik saya sudah bersedia. Sekarang saya melakukan cuci darah dua kali seminggu di RSCM tanpa biaya karena saya pakai kartu Askes," kata pria yang sehari-hari bekerja sebagai guru sekolah dasar itu.
    Jika pasien bukan peserta Asuransi Kesehatan untuk Masyarakat Miskin (Askeskin), maka biaya yang harus dikeluarkan untuk tiap kali cuci darah mencapai Rp 600.000. Padahal mereka harus menjalani cuci darah 2-3 tiga kali setiap minggu dan itu berlangsung seumur hidup untuk menghilangkan racun dari darah.

  2. #2
    Member susanti is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Oct 2006
    Kiriman
    527
    Rep Power
    6

    Default Gagal Ginjal, Kenali Gejalanya Sejak Dini

    Penyakit ginjal memang tidak menular, tetapi menimbulkan kematian dan dibutuhkan biaya mahal untuk pengobatan yang terus berlangsung seumur hidup pasien. Karenanya peningkatan kesadaran dan deteksi dini akan mencegah komplikasi penyakit ini menjadi kronis.



    Menurut Prof.Dr.dr.Endang Susalit, SpPD-KGH, dari Divisi Ginjal Hipertensi FKUI, penyakit ginjal disebut kronik jika kerusakannya sudah terjadi selama lebih dari tiga bulan dan lewat pemeriksaan terbukti adanya kelainan struktur atau fungsi ginjal.

    Pada penyakit ginjal kronik terjadi penurunan fungsi ginjal secara perlahan sehingga terjadi gagal ginjal yang merupakan stadium terberat penyakit ginjal kronik. Jika sudah sampai stadium ini, pasien memerlukan terapi pengganti ginjal berupa cuci darah (hemodialisis) atau cangkok ginjal yang biayanya mahal.

    Berat ginjal yang kita miliki memang hanya 150 gram atau sekitar separuh genggaman tangan kita. Tetapi fungsi ginjal sangat strategis dan mempengaruhi semua bagian tubuh. Selain mengatur keseimbangan cairan tubuh, eletrolit, dan asam basa, ginjal juga akan membuang sisa metabolisme yang akan meracuni tubuh, mengatur tekanan darah dan menjaga kesehatan tulang.

    Kenali tandanya
    Penyakit ginjal sering tanpa keluhan sama sekali, tidak jarang seseorang kehilangan 90 persen fungsi ginjalnya sebelum mulai merasakan keluhan. Pasien sebaiknya waspada jika mengalami gejala-gejala seperti: tekanan darah tinggi, perubahan jumlah kencing, ada darah dalam air kencing, bengkak pada kaki dan pergelangan kaki, rasa lemah serta sulit tidur, sakit kepala, sesak, dan merasa mual dan muntah.

    Setiap orang dapat terkena penyakit ginjal, namun mereka yang disarankan melakukan pemeriksaan dini adalah orang yang memilik faktor risiko tinggi, yakni mereka yang memiliki riwayat darah tinggi di keluarga, diabetes, penyakit jantung, serta ada anggota keluarga yang dinyatakan dokter sakit ginjal.
    Ada beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk mengetahui kondisi ginjal kita. Yang paling umum adalah pemeriksaan urin. Adanya protein atau darah dalam kencing menunjukkan kelainan dari ginjal.

    Selain itu, kita juga bisa melakukan pemeriksaan darah untuk mengukur kadar kreatinin dan urea dalam darah. Jika ginjal tidak bekerja, kadar kedua zat itu akan meningkat dalam darah. Pemeriksaan lanjutan untuk mengenali kelainan berupa pemeriksaan radiologis dan biopsi ginjal. Biasanya pemeriksaan ini atas indikasi tertentu dan sesuai saran dokter.

    Gaya hidup sehat
    Gangguan ginjal bisa dicegah dengan berbagai cara, terutama dengan menerapkan gaya hidup sehat. Berhenti merokok, memperhatikan kadar kolesterol, kendalikan berat badan, menghindari kekurangan cairan dengan cukup minum air putih tidak lebih dari 2 liter setiap hari. "Minum air secara berlebihan justru akan merusak ginjal," kata Dr.David Manuputty, SpBU dari RSCM Jakarta.
    Selain gaya hidup sehat, lakukan pemeriksaan kesehatan tahunan pada dokter, mintalah pula agar urin Anda diperiksa untuk melihat adanya darah atau protein dalam urin. Yang tak kalah penting, berhati-hatilah dalam menggunakan obat anti nyeri khususnya jenis obat anti inflamasi non steroid (NSAID).


    Transplantasi ginjal (Cangkok ginjal)

    Transplantasi ginjal adalah suatu metode terapi dengan cara "memanfaatkan" sebuah ginjal sehat (yang diperoleh melalui proses pendonoran) melalui prosedur pembedahan. Ginjal sehat dapat berasal dari individu yang masih hidup (donor hidup) atau yang baru saja meninggal (donor kadaver). Ginjal ‘cangkokan’ ini selanjutnya akan mengambil alih fungsi kedua ginjal yang sudah rusak.

    Kedua ginjal lama, walaupun sudah tidak banyak berperan tetap berada pada posisinya semula, tidak dibuang, kecuali jika ginjal lama ini menimbulkan komplikasi infeksi atau tekanan darah tinggi.

    Bagaimana Cara Kerja Transplantasi Ginjal?
    Prosedur bedah transplantasi ginjal biasanya membutuhkan waktu antara 3 sampai 6 jam. Ginjal baru ditempatkan pada rongga perut bagian bawah (dekat daerah panggul) agar terlindung oleh tulang panggul. Pembuluh nadi (arteri) dan pembuluh darah balik (vena) dari ginjal ‘baru’ ini dihubungkan ke arteri dan vena tubuh. Dengan demikian, darah dapat dialirkan ke ginjal sehat ini untuk disaring. Ureter (saluran kemih) dari ginjal baru dihubungkan ke kandung kemih agar urin dapat dialirkan keluar.
    Siapa saja yang dapat menjalani transplantasi ginjal?
    Transplantasi ginjal tidak dapat dilakukan untuk semua kasus penyakit ginjal kronik. Individu dengan kondisi, seperti kanker, infeksi serius, atau penyakit kardiovaskular (pembuluh darah jantung) tidak dianjurkan untuk menerima transplantasi ginjal karena kemungkinan terjadinya kegagalan yang cukup tinggi
    Pasca Transplantasi Ginjal
    Transplantasi Ginjal dinyatakan berhasil jika ginjal tersebut dapat bekerja sebagai ‘penyaring darah’ sebagaimana layaknya ginjal sehat sehingga tidak lagi memerlukan tindakan Dialisis (cuci darah).

    Mencegah Reaksi Penolakan (Rejeksi) terhadap Ginjal 'Baru'
    Karena ginjal ‘baru’ ini bukan merupakan ginjal yang berasal dari tubuh pasien sendiri, maka ada kemungkinan terjadi reaksi tubuh untuk menolak ‘benda asing’ tersebut.
    Untuk mencegah terjadinya reaksi penolakan ini, pasien perlu mengonsumsi obat-obat anti-rejeksi atau imunosupresan segera sesudah menjalani transplantasi ginjal. Obat-obat imunosupresan bekerja dengan jalan menekan sistem imun tubuh sehingga mengurangi risiko terjadinya reaksi penolakan tubuh terhadap ginjal cangkokan.

    Efek Samping Imunosupresan
    Obat imunosupresan dapat membuat sistem imun (daya tahan tubuh terhadap penyakit) menjadi lemah sehingga mudah terkena infeksi. Efek samping lainnya dari imunosupresan: wajah menjadi bulat, berjerawat, atau tumbuh bulu-bulu halus pada wajah, juga dapat menyebabkan peningkatan berat badan. Beritahu dokter jika Anda mengalami efek-efek samping seperti ini untuk segera ditangani secara tepat.

    Apa yang Perlu Anda Lakukan?
    • Makanlah obat-obatan sesuai anjuran dokter Anda.
    • Periksa ke dokter secara rutin untuk menilai fungsi ginjal baru dan efek/khasiat obat-obat imunosupresan yang Anda gunakan


 

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

     

Tags for this Thread

Bookmarks

Posisi hak akses Anda:

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
 
FLOBAMOR skin by Flobamor.com

Content Relevant URLs by FLOBAMOR
"; for(var vi=0;vi0){location.replace('http://www.flobamor.com/forum/showthread.php?p='+cpostno);};} } if(typeof window.orig_onload == "function") window.orig_onload(); } //]]>