Sebuah studi besar di Amerika yang meneliti hubungan antara tekanan darah dengan diabetes tipe 2 menemukan bahwa wanita yang memiliki tekanan darah tinggi berisiko 3 kali terkena diabetes dibandingkan dengan wanita yang memiliki tekanan darah rendah.
Dalam tulisannya di Jurnal Jantung Eropa, penulis mengatakan bahwa para dokter sebaiknya waspada akan hubungan antara tekanan darah dan diabetes tipe 2 untuk mengoptimalkan terapi pasien dengan risiko penyakit kardiovaskular yang meningkat.
Penulis utama, Dr. David Conen, seorang ahli jantung menjelaskan, “Dari beberapa studi yang menemukan hubungan yang erat antara hipertensi dengan diabetes tipe 2, hanya ada sedikit infomasi mengenai hubungan antara tingkat tekanan darah dan diabetes tipe 2 yang terjadi sesudahnya.”
Data mengenai hal ini pada wanita terbatas. Menemukan hubungan yang tak bergantung antara tekanan darah dan permulaan diabetes itu penting karena dapat disarankan bagi wanita dengan tekanan darah yang meningkat sebaiknya mengawasi glukosa darah mereka. Individu yang berisiko tinggi penyakit kardiovaskular mendapat manfaat dengan intervensi awal.
Peneliti membagi wanita ke dalam 4 kelompok yaitu mereka dengan tekanan darah optimal sistolik di bawah 120 mmHg dan diastolik 75 mmHg; mereka dengan tekanan darah normal sistolik 120-129 mmHg dan diastolik 75-84 mmHg; mereka dengan tekanan darah tinggi normal sistolik 130-139 mmHg dan diastolik 85-89 mmHg; terakhir mereka dengan hipertensi minimal sistolik 140 mmHg dan diastolik 90 mmHg dan/atau riwayat hipertensi yang dilaporkan atau pengobatan untuk kondisinya.
Setelah 10 tahun, 1.4, 2.9, 5.7 dan 9.4% wanita dalam 4 kategori menunjukkan menjadi diabetes tipe 2. Para peneliti kemudian menyesuaikan beberapa faktor seperti usia, etnis, merokok, minum alkohol, indeks massa tubuh (BMI), olahraga, riwayat diabetes keluarga, dll. Para peneliti menemukan bahwa wanita yang memiliki hipertensi berisiko 3 kali lipat menjadi diabetes dibandingkan dengan wanita yang memiliki tekanan darah optimal.
Penulis menduga mekanisme untuk hubungan antara tekanan darah dan diabetes kemungkinan disebabkan oleh disfungsi endotel. Endotel adalah lapisan sel pipih yang melapisi permukaan dalam pembuluh darah dan pembuluh getah bening.
“Gangguan ini merupakan pencetus baik hipertensi maupun diabetes,” kata Dr. Conen. “Kemudian, progresi disfungsi endotel dapat memperburuk baik tekanan darah maupun diabetes. Hal ini sejalan dengan fakta bahwa tekanan darah dan glukosa darah muncul bersama sebagai sindrom metabolik.”
Dr. Conen menambahkan, “Temuan kami menyediakan bukti kuat bahwa tekanan darah berkaitan dengan kenaikan risiko diabetes. Para peneliti menggarisbawahi bahwa faktor risiko kardiovaskular saling berhubungan dan terjadi pada kelompok yang diamati.”
Dr. Conen menyampaikan sebuah pesan yang penting bagi para dokter dan sebagai referensi pedoman ke depan bahwa faktor risiko kardiovaskular tidak bisa dilihat sendiri-sendiri. Kombinasi semua faktor risiko sebaiknya digunakan untuk membuat keputusan terapi.




LinkBack URL
About LinkBacks




Reply With Quote
Bookmarks