Masyarakat Indonesia mengenal pohon nimba (azadirachta indica A Juss), tidak lebih, hanya sebagai pohon peneduh dipinggir jalan. Namun bagi ahli farmakologi, pohon nimba bukan sekadar peneduh jalan.
Di balik kerimbunan dedaunan dan lebatnya buah nimba terkandung aneka khasiat yang amat bermanfaat bagi umat manusia. Pohon nimba yang diduga berasal dari Birma dan India ini memiliki khasiat sebagai body lotion mosquito repealent, obat penurun asam urat, obat nyamuk bakar, pembersih gigi, alat kontrasepsi, bahan pelapis kondom, dll.
Menurut Dr. Sukrasno, peneliti di PPAU Ilmu Hayati dalam makalahnya "Nimba Azadirachta Indica A Juss, Tanaman Multiguna yang Terabaikan" pohon nimba tersebar di Fiji, Mauritius, Karibia dan negara-negara Amerika Tengah dan Selatan. Pohon ini banyak disebarkan oleh pekerja imigran India atau penjelajah hutan.
Di dekat Makah, telah ditanam sekira 50.000 pohon nimba sebagai peneduh kemah-kemah jemaah haji di Padang Arafah. Sementara di Indonesia, nimba banyak tumbuh di Bali, Lombok, daerah pantai utara Jatim, dan Subang. Di Bali, tanaman yang disebut intaran ini populasinya mencapai 2 juta pohon, sedangkan di Lombok sekira 250-300 ribu pohon.
Di India, populasi pohon nimba diperkirakan tidak kurang dari 14 hingga 16 juta. Dengan produksi biji nimba sekira 3,5 juta ton dan 700.000 ton minyak nimba yang dihasilkan. Tahun 1980-an, India menghasilkan 150.000 ton minyak nimba, sekira 34 ton di antaranya diekspor. Indonesia termasuk salah satu negara pengimpor minyak nimba dari India
Komponen aktif yang terdapat pada biji nimba adalah azadirahktin yang bisa digunakan sebagai insektisida. Sasarannya adalah serangga dari Ordo Acari, Coleoptera, Diptera, Homoptera, Isoptera, Lepidoptera, dan Othopthera. Menurut Dr. Sukrasno, salah satu keuntungan insektisida dari nimba adalah tidak toksis pada hewan nontarget, aman bagi pengguna, dan tidak bersifat akumulatif karena mudah didegradasi secara alami. Namun kelemahannya, insektisida alami ini tidak langsung membunuh serangga sasaran.
Pestisida nimba terbukti cocok untuk mengendalikan hama ulat yang menyerang tanaman sayuran dan perkebunan. Di perkebunan teh, biasanya digunakan untuk mengendalikan hama ulat jengkal (heliopeltis antonii). Di AS, pestisida nimba sudah dikomersialkan dengan nama Margosan. Begitu pula Jerman yang sudah memasarkan Nemasal hingga ke Indonesia. PPAU Ilmu Hayati ITB sejak tahun 1990-an sudah memperkenalkan biji nimba sebagai pestisida dan produknya bernama Pesnim.
Selain sebagai pestisida, minyak nimba juga berfungsi sebagai spermisida yang kuat. Menurut Sukrasno dalam makalahnya, spermatozoa kera dan manusia menjadi tidak aktif bergerak setelah 30 detik kontak dengan minyak nimba. Studi pada 20 tikus, 8 kelinci, 14 kera, dan 10 relawan menunjukkan, minyak yang digunakan secara intravaginal sebelum melakukan hubungan seks, bisa mencegah kehamilan.
Dr. Sukrasno menuliskan, studi hispatologi menunjukkan tidak adanya tanda-tanda gangguan pada jaringan vagina, cervix, dan uterus, sedangkan spermisida sintesis berupa krim yang mengandung nonil-fenoksi ploetoksi etanol menyebabkan iritasi.
Studi dengan radioisotop, lanjut Sukrasno, menunjukkan minyak nimba tidak diserap dari vagina. Namun, masalah utama penggunaan krim minyak nimba adalah baunya yang kurang enak meskipun hal itu juga dapat ditutupi dengan pengharum tanpa mengganggu aktivitas.
"Minyak nimba merupakan alternatif metode untuk keluarga berencana yang murah dan sangat bermanfaat bagi masyarakat pedesaan," tambahnya.
India dan Jerman, kata peneliti PPAU Ilmu Hayati ITB, Suswini, mulai mengembangkan minyak nimba sebagai alat kontrasepsi. Bahkan, di India minyak nimba digunakan sebagai pelapis pada kondom yang berfungsi untuk membunuh sperma. "Di India, kondom dengan pelapis minyak nimba sudah banyak dijual. Tujuannya sebagai birth control dan pencegahan HIV," tambahnya.
Para peneliti di PPAU Ilmu Hayati ITB pun sudah memikirkan pengembangan minyak nimba sebagai alat KB. Hanya saja, lanjut Suswini, mereka masih mencari cara bagaimana pemakaian kontrasepsi yang menggunakan bahan dari nimba ini agar tidak mengganggu alat reproduksi. Para peneliti juga sedang mencari cara agar alat KB itu bisa bersifat reversibel. Artinya, manakala pasangan tersebut menginginkan kembali kesuburannya, mereka bisa punya anak lagi.
"Yang lebih khusus lagi, alat kontrasepsi ini nantinya akan ditujukan pada kaum pria sebab selama ini kelihatannya kurang adil bahwa alat kontrasepsi selalu ditujukan pada kaum wanita," ujarnya.
Kegunaan lain dari pohon nimba adalah sebagai penurun kadar asam urat dalam darah. Kelompok Apoteker PPAU Ilmu Hayati ITB telah mengembangkan kapsul nimba untuk penurun kadar asam urat ini. Sediaan kapsul ini banyak diminati masyarakat yang sengaja membelinya di PPAU Ilmu Hayati ITB. Dalam setahunnya, lanjut Suswini, tidak kurang dari 1.000 hingga 1.500 botol yang terjual. Bahkan, ada dokter yang sudah meresepkan kapsul nimba kepada pasiennya. Berbeda dengan shampo nimba yang bahan dasarnya biji dan daun nimba, kapsul nimba ini berisi sekira 300 miligram ekstrak kering daun nimba.
PPAU Ilmu Hayati ITB tampaknya tak akan berhenti meneliti nimba yang bagaikan "pohon dewa" karena memiliki banyak khasiat itu. Para peneliti akan mencoba mengembangkan hair tonic dari minyak nimba karena adanya potensi menguatkan akar rambut dan mempercepat pertumbuhan rambut yang rontok.




LinkBack URL
About LinkBacks



Reply With Quote

Bookmarks