Anosmia, Musuh Bebuyutan Indra Penciuman
Hidung pun Bisa Impoten


APA yang terjadi bila hidung mengalami impotensi? Bagi mereka yang kehilangan kemampuan membaui, hidup tak hanya menjemukan dan serbatak nyaman, tapi juga sering kali berbahaya. Menurut Survei Kesehatan tahun 2006, sekitar 3 juta warga Amerika dewasa menderita gangguan indra penciuman cukup berat, yang disebut anosmia total. Sayang, di Indonesia, data ini belum ada. Bahkan, di tanah air, istilah anosmia sendiri belumlah sepopuler penyakit flu burung. Apa itu anosmia?

Istilah anosmia berasal dari kosa kata Yunani “an” (tidak) dan “osmia” (membau). Dari kosa kata ini diperoleh suatu terminologi, asmonia adalah hilang atau terganggunya kemampuan indra penciuman dalam membaui suatu objek karena beberapa sebab. Penyebab terbanyak adalah usia tua. Separuh penduduk Amerika berusia di atas 65 tahun dan tiga perempat di atas usia 80 tahun menderita anosmia dalam derajat yang berbeda-beda. Anosmia dapat pula terjadi pada usia muda, misalnya karena pukulan keras pada kepala, flu yang tak kunjung sembuh, zat kimia beracun, dan beberapa penyebab lain.

Membahayakan jiwa

Diketahui, bagian dalam hidung terlapisi mukosa atau lapisan lembut yang lembap. Sel-sel di dalam mukosa bersentuhan dengan bagian saraf penciuman yang disebut axons, lalu masuk rongga dalam yang dinamakan foramina. Foramina ini berhubungan dengan tengkorak kepala. Sel-sel dan axons-nya berjumlah sekitar 20-24, tersusun sedemikian rupa dan bekerja sinergis dalam mendeteksi aroma. Ujung-ujung saraf tadi berakhir dalam suatu struktur berbentuk gelembung-gelembung penciuman.

Oleh karena itu, benturan keras di bagian kepala bisa mengakibatkan anosmia. Selain terkena benturan, kerusakan saraf indra penciuman juga dapat terjadi karena tekanan tumor di area hidung atau kepala. Kondisi ini bisa mencetuskan anosmia total atau kacaunya kinerja saraf, hingga terjadi kesalahan persepsi mengenai aroma. Bau sampah misalnya, dikira bau tempe goreng. Halusinasi bau ini pun bisa terjadi karena gangguan pada otak, misalnya akibat epilepsi.

Bahaya anosmia adalah penderita tak dapat mendeteksi bahaya dari makanan. Misalnya, apakah makanan itu sudah rusak atau basi. Ancaman lainnya, mereka tidak dapat mendeteksi bau gas berbahaya. Hidung mereka leluasa saja menghirup racun yang melayang-layang di udara, hingga si racun bebas menyusup ke paru-paru. Selebihnya, gara-gara tak mampu merasakan aroma, mereka juga tak dapat menikmati makanan dan minuman yang mereka konsumsi. Dalam banyak kasus, penderita anosmia sering kali menarik diri, lantaran mereka tidak yakin bahwa tubuh mereka tidak menimbulkan bau yang mengganggu orang lain.

Bila anosmia bukan disebabkan oleh tersumbatnya hidung, dokter pun kesulitan mengobatinya.

Sering pada pria

Memang, belakangan, sudah ada obat tertentu yang mampu meringankan derita anosmia, namun tidak memberikan hasil yang menggembirakan. Beberapa jenis obat cukup efektif, namun berefek samping terlalu berat, yakni menekan sistem kekebalan.

Untunglah, anosmia kadang-kadang hanya bersifat sementara. Tidak seperti sel reseptor indra yang lain, sel-sel indra penciuman mengalami regenerasi. Artinya, seseorang yang tiba-tiba kehilangan kemampuan membaui, biasanya dapat pulih dengan berkali-kali mencoba mengenali bau-bauan tajam yang semula tidak terdeteksi. Selebihnya, karena kondisi tertentu, seseorang bisa kehilangan kemampuan membaui selama beberapa menit, lalu pulih kembali pada menit berikutnya. Misalnya karena hawa sekitar terlalu dingin atau padatnya zat polutan.

Anosmia lebih sering terjadi pada pria. Secara umum, indra penciuman kaum wanita memang jauh lebih sensitif ketimbang pria. Bukti kelebihan ini dapat ditelusuri secara antropologis. Nenek moyang wanita primitif, dulu, bergantung pada hidungnya dalam memilih pasangan hidup “Mereka dapat membaui apakah pria itu sehat, agresif, dan makanan apa yang baru disantapnya,” kata Charles J. Wysocki, Ph.D., psikolog di Monell University, Amerika. Kemampuan itu kini hanya dimiliki hewan dan beberapa suku primitif. Suku di pedalaman Papua Nugini, misalnya, mempersyaratkan seorang istri dapat mengenali anggota keluarga dan tetangga hanya lewat bau badan mereka.

Siklus menstruasi

Para ahli kini sudah mulai menyingkap misteri penciuman. Salah satunya, kaum wanita cenderung mempunyai siklus menstruasi yang bersamaan setelah beberapa waktu. Ini merupakan kerja penciuman yang memengaruhi kerja dalam tubuh. Di pertengahan siklus haid, penciuman wanita bisa lebih tajam. Pemicunya adalah hormon estrogen. Bahkan, untuk aroma tertentu, daya penciuman wanita pada saat itu bisa beribu kali lipat lebih kuat dibandingkan hari-hari lain. Ini adalah bekal alamiah untuk menyiapkan wanita lebih tertarik pada pasangan lewat baunya pada masa subur.

Indra penciuman membuat kita terus berhubungan dengan lingkungan, termasuk dengan lawan jenis. Bau dari satu orang dapat menggeser kadar hormon yang lain. Jadi, kalau orang menyebut suatu pasangan memiliki kadar kimia tertentu, yang dimaksud adalah baunya. Contoh lain adalah keterikatan seseorang dengan bau tubuh orang yang dicintainya. Ada yang mengobati rindu pada pasangannya dengan menciumi pakaian bekas pakai. Keterpautan pada bau dapat diterjemahkan sebagai rasa cinta.

Hal ini berkaitan dengan penemuan sejenis hormon seks bernama feromon, hormon khas seseorang yang dapat menarik lawan jenis. Mula-mula, feromon hanya diketahui sebagai zat berbau khusus yang terdapat pada kebanyakan spesies hewan untuk mengomunikasikan hasrat seksual, hak teritorial, dan status sosial. Pada sebagian besar mamalia, zat ini berperan dalam mengatur perilaku reproduksi. Bagaimana pheromon ini berpengaruh terhadap perilaku seks manusia, masih diteliti.

Namun, para pengusaha parfum sudah memanfaatkan ini. Aroma musk yang diidentifikasi memiliki kemiripan dengan feromon, kini banyak digunakan sebagai campuran parfum. Efektifkah untuk menarik lawan jenis? Sayang, belum ada yang menelitinya. Bau tubuh seseorang juga memberikan ciri yang amat khas. Karena setiap orang memancarkan bau tubuh dengan susunan genetik tertentu, mirip dengan sidik jari. Dalam hal ini, hanya kembar identik yang memiliki “sidik bau” sama persis.

Sensitivitas hidung

Faktor kelembapan juga memengaruhi sensitivitas hidung. Anjing misalnya, dapat mengikuti jalan dengan bau tertentu ketika kelembapan udara cukup tinggi. Kelembapan ini memperlambat penguapan bau yang bersangkutan. Guna meningkatkan kinerja anjing pelacak, polisi kerap membubuhkan parfum berisi bahan kimia fixatives, yang berefek meningkatkan kelembapan.

Pada manusia, kepekaan saraf penciuman bisa sangat tinggi ketika perut sedang lapar. Sebaliknya, karena hidung pun memiliki daya adaptasi, seseorang bisa mendadak kehilangan kemampuan mencium bau tertentu, karena aroma tersebut sudah sangat akrab. Misalnya, saat pertama menyemprotkan parfum merek tertentu pada tubuh, aromanya begitu terasa. Namun, jika parfum yang sama disemprotkan setiap hari, lama-kelamaan hidung jadi beradaptasi, dan kehilangan sensitivitasnya terhadap aroma parfum itu. Maka, tak heran, sering orang merasa, ketika parfum di botol tinggal sedikit, aromanya semakin luntur. Padahal, biang keladinya adalah daya adaptasi hidung. Bagi pabrik parfum, hal ini merupakan hambatan besar. Oleh karenanya, beberapa pabrik parfum di Prancis tidak lagi mengandalkan ketajaman hidung untuk uji coba aroma, melainkan sudah beralih ke jalur teknologis yang serbadigital. Hasilnya jauh lebih akurat.

Kita memang bukan suku primitif yang memilih jodoh menggunakan hidung. Namun, selain sebagai “ornamen” wajah, peran hidung begitu penting. Maka, jangan biarkan anosmia, musuh bebuyutan indra penciuman, datang mengganggu. Langkah pencegahan yang dapat ditempuh di antaranya membebaskan hidung dari udara padat polutan, membersihkan bagian dalamnya dari berbagai kotoran secara rutin, dan melatih kecakapan hidung dengan menambah perbendaharaan aroma baru setiap saat. ***

dr. Prasanthi
Seorang dokter, tinggal di Tanjungsari, Sumedang.