![]()
PEMBARUAN/YC KURNIANTORO
PELEPASLIARAN PENYU - Petugas Departemen Kehutanan disaksikan Menteri Kehutanan MS Kaban (tengah), melepasliarkan penyu sisik di Pulau Karya, Taman Nasional Kepulauan Seribu, Jakarta, baru-baru ini. Data ProFauna menunjukkan sampai saat ini penyu sisik masih diperdagangkan.
SAAT ini, banyak pantai yang dipagar sehingga penyu tidak bisa naik ke pantai untuk bertelur lagi, Kebanyakan mereka mencari tempat baru untuk bertelur di pulau-pulau lain. Kenyataan tersebut membuat Salim, salah satu penangkar penyu sisik (Eretmochelys imbricata) di Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu (TNL KpS), Jakarta, harus memantau perkembangan penyu di perairan Kepulauan Seribu dengan menjelajah ke pulau-pulau lain.
Inilah yang menjadi tantangan utamanya, apalagi saat ini harga bahan bakar minyak (BBM) merangkak naik, karena untuk mencermati tempat-tempat yang menjadi lokasi penyu bertelur, dibutuhkan alat transportasi perahu motor. Padahal saat harga BBM belum naik, Salim sudah kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk perahu motornya.
Dahulu, cerita Salim, masih banyak penyu yang bertelur di pulau-pulau yang berpenghuni, namun lama-kelamaan hal itu jarang ditemukan. Kebanyakan hal itu terjadi karena perubahan topografi pantai. Bentukan pantai diubah untuk kepentingan pariwisata, sehingga banyak pantai yang dipasang tembok-tembok penahan ombak. Tembok-tembok inilah yang menghalangi penyu naik ke pasir untuk bertelur. "Sekarang kalau mau memantau penyu bertelur harus pergi ke pulau-pulau yang berada di bagian utara Kepulauan Seribu, di sana mereka masih bebas bertelur," ujar Salim.
Menurutnya pada musim bertelur ia bisa menemukan 6.000 butir telur pada area setengah hektare, namun ia tidak mau menyebutkan lokasi persisnya dan kapan musim bertelur itu.
Ia khawatir hal itu justru akan mengundang pedagang-pedagang ilegal datang ke lokasi itu. Maklum saja penyu dan telurnya masih menjadi komoditi perdagangan yang memiliki pasar di masyarakat. Ia sendiri mengaku mengambil beberapa telur penyu sisik dari berbagai lokasi untuk penelitian dan penangkaran di Kantor Balai TNL KpS.
Penangkaran ini penting untuk menjaga keseimbangan habitat penyu sisik di Kepulauan Seribu. Walaupun jarang ditemukan nelayan yang memperjualbelikan penyu sisik dan telurnya, namun habitat penyu ini sudah terganggu dengan keberadaan pulau-pulau yang menjadi tempat wisata.
"Penyu itu memiliki sifat kembali ke tempat ia bertelur atau ditetaskan, ke mana pun jauhnya ia pergi. Beberapa kali pernah ditemukan penyu yang kembali ke satu pulau untuk bertelur, tetapi kemudian penyu itu tidak bisa naik ke atas pasir pantai karena pantainya sudah ditembok. Kemungkinan ia terpaksa mencari tempat baru untuk bertelur," jelas Salim.
Hal ini menjadi sesuatu yang mengganjal pikirannya, namun ia belum memiliki solusi atas masalah itu. Sampai saat ini ia hanya bisa mengimbau penduduk pulau atau para pengusaha pariwisata untuk tidak mengubah bentukan pantai, terutama pantai-pantai yang menjadi tempat penyu bertelur.
Penyu sisik adalah salah satu dari enam jenis penyu lain di Indonesia atau dari delapan jenis penyu di dunia. Penyu lain yang ditemukan di Indonesia adalah penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu tempayan (Caretta caretta), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), dan penyu pipih (Natator depressus). Semua jenis penyu yang hidup di perairan Indonesia sebenarnya telah dilindungi oleh UU No 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta diatur dalam PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Satwa dan Tumbuhan.
Segala bentuk pemanfaatan penyu untuk perdagangan adalah pelanggaran peraturan itu dan diancam hukuman penjara maksimum lima tahun. Namun hingga kini praktik perdagangan penyu masih terus berlangsung.
Setiap tahun, ribuan penyu ditangkap untuk memenuhi permintaan pasar. Data yang dikeluarkan ProFauna, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang mencermati perdagangan penyu di Indonesia, menunjukkan lebih dari 27.000 ekor penyu hijau dibunuh untuk diambil dagingnya pada tahun 1999.
Penyu sisik yang termasuk dalam famili Cheloniidae merupakan salah satu penyu yang diminati karena motif sisik karapaksnya yang unik dan indah untuk dijadikan kerajinan tangan dan cendera mata.
![]()
Cendera Mata
Hasil penyelidikan lembaga itu pada 2002 memperlihatkan masih banyak pedagang cendera mata yang menggunakan bahan karapaks penyu sisik sebagai bahan dasarnya. Hal ini terlihat di beberapa daerah, seperti Yogyakarta, Jakarta, Bali, Jawa Timur, Kepulauan Riau, Madura, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Flores, dan Sulawesi.
Hasil penyelidikan itu juga memperlihatkan bahwa para pedagang suvenir memiliki stok karapaks penyu sisik yang cukup berlebih yang didatangkan dari dari Klaten, Bali, Sulawesi, dan Surabaya. Selain karapaksnya, banyak juga yang mengincar telur penyu sisik
Telur penyu sisik dipercaya memiliki protein yang lebih baik dibanding telur penyu yang lain. Telur penyu ini dipercaya memiliki khasiat untuk kesehatan tubuh agar tampil prima, sehingga banyak telur penyu yang diselundupkan ke Jepang, Korea, dan Cina.
Hingga saat ini pemerintah belum memaksimalkan perlindungan terhadap habitat penyu melalui UU No 5 Tahun 1990. Bahkan beberapa daerah masih menghalalkan perdagangan penyu sebagai komoditas daerah dengan alasan perbaikan kesejahteraan masyarakat setempat. Perbaikan kesejahteraan masyarakat setempat, sepertinya memang kurang diperhatikan oleh berbagai pihak sehingga mereka terus melakukan penangkapan dan pencarian telur penyu. Perlu ada pengalihan mata pencarian masyarakat dari menangkap dan menjual penyu serta telurnya, sehingga habitat penyu yang dilindungi tidak terganggu.




LinkBack URL
About LinkBacks


Reply With Quote

Bookmarks