Satu hari tepat setelah merayakan pergantian tahun baru, dari 2004 ke 2005, saya bertolak ke Jayapura dari Cengkareng. Beberapa ransel saya masukkan ke bagasi pesawat. Hanya satu yang saya tenteng, 1 buah Lowepro Nature Trekker AW II yang berisi laptop, Nikon Collpic 5700, Nikon F 801, FM2 dan beberapa lensa wide & tele, serta kompas dan 1 buah
Aitor untuk survival. Saya heran juga, alat yang terakhir saya sebut ini, dan cukup berbahaya, bisa lolos masuk kabin pesawat B 737-400 maskapai nomor 1 Indonesia.
Dalam perjalanan kali ini saya menyusuri jayawijaya mulai dari Perkampungan suku Walesi, yang penduduk dan kepala sukunya memeluk agama islam; mengunjungi tempat penyimpanan mummi di desa Kurulu, dan menyusuri belantara dari Wamena, Timeria sampai di Bokondini menggunakan Jeep Hercules bekas pasukan PBB di Timor-timor dan bergantian dengan Toyota FJ-40 Hardtop.
Lebih dari 2 minggu saya menyusuri lereng Jayawijaya, sebelum akhirnya harus kembali ke Jakarta ,untuk menuliskan naskah yang harus segera terbit. berikut ini beberapa foto dari perjalanan saya.

Ini salah satu lereng pegunungan yang menjadi medan perburuan foto buah merah (Pandanus conoideus). Lokasi waktu motret berada pada ketinggian 1600 m dpl (diatas permukaan laut). Suhu
+ 13 derajat celcius.

Kalau di Jakarta dan bandara lainnya ada larangan 'Dilarang Merokok' maka di Papua larangannya makan pinang. Kebiasaan mereka adalah makan pinang, kapur dan sirih hingga ludahnya berwarna merah. Kegiatan ini memang membantu menguatkan gigi, tapi ritual lanjutannya, 'meludah' sembarangan yang membikin tembok orang belepotan.

Seorang penduduk desa Timeria, Kec. Kelila, Kab. Bokondini yang masih berkoteka menungguin dagangannya. Buah merah (
Pandanus conoideus Lamm.) dijual RP 30.000,- per ikat yang berisi 5 buah, sudah dibelah dua dan dibuah empulurnya.

Di pasar Jibama, Wamena (ibukota kab. Jayawijaya), buah merah dijual RP 50.000,- sampai Rp 70.000,- per ikat. Kelila berjarak 4 jam perjalanan dengan jeep four whell drive.

Anak-anak ini ikut meramaikan pasar. Tujuannya tentu saja supaya bisa jajan.

Ini medan yang harus dilalui. Babi di depan mobil ini walaupun ditengah hutan namun ada pemiliknya. Dendanya Rp 12 juta jika menabraknya (jantan). Bila yang ditabrak babi betina biasanya perutnya dibuka dulu jika ada anaknya 10 buah maka tinggal dikalikan Rp 12 juta. Makanya sopir disini lebih takut sama babi daripada sama polisi.

JEmbatan disebelah sudah ambruk diterjang banjir. Untung pakai Landcruiser FJ-40 yang dobel gardan. Kalau nggak bisa nginep di tengah hutan.kebetulan air juga agak susut. Disini kita berhenti untuk makan. Sekalian hunting
The Bird of Paradise.

Tahapan upacara bakar batu. Alang-alang ini kemudian dilipat ke atas, diikat, kemudian pada menghabiskan tembakau saya sambil menunggu masakan matang. Di dalamnya ada beberapa paha babi.

Saya (berkaos putih) baru sadar ternyata disini saya menjadi orang paling ganteng dan paling putih (he,he,he,he bercanda). Waktu itu kita makan hipere (ubi kayu) yang rasanya manis sambil dijaga sama prajurit yang membawa panah (seperti presiden aja ya makan dijagain). Di latar depan membelakangi kamera adalah Taulog Aso-kepala suku perang suku Walesi sedang menikmati hasil lintingan tembakau saya. Orang-orang disekeliling saya ini semuanya memeluk agama Islam, namun karena babi adalah makanan mereka selama ribuan tahun, kebiasaan ini belum ilang.

Pembunuhan babi sebelum upacara bakar batu. Disinilah saya berpelukan dengan banyak orang untuk menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga yang sedang berduka.

Momen yang kebetulan saya dapatkan. Dua penduduk pribumi sedang memanen buah merah.

Dua pemuda tadi membawa buah merah ke honai mereka. Honai adalah rumah tinggal asli penduduk Papua. Penduduk laki-laki dan perempuan hidup terpisah.

Timotius, setelah selesai panen buah merah penasaran pada alat elektronik yang saya bawa. Handphone Acces R-190 Satelite. Akhirnya saya pinjami, setelah sebelumnya saya pencet nomer teman di Jakarta. Hallo, he, he, he, ada suara orang didalamnya. Nayak (terimakasih) katanya.

Salah satu mumi kepala suku di Lembah Baliem. Mayat ini katanya sudah berusia 300 tahun. Selain diawetkan dengan ramuan tanaman, menurut saya mayat ini awet karena berada diatas pendiangan yang tiap hari dibakar rumput untuk mengusir nyamuk. Tanpa mereka sadari asap pembakaran tersebut mengandung etilen dan senyawa lain seperti minyak asiri yang bisa menjadi pengawet.

Salah satu kegiatan petani Papua di ladang. Disini saya sempat mengajari mereka bercocok tanam semi intensif. Kandungan unsur hara di ladang mereka sangat tinggi dan tanahnya gembur. Agroklimat di sini sangat cocok untuk apel ternyata (iklimnya kering, kelembaban/rHnya sekitar 60). Namun Pemda Jayawijaya belum tahu akan potensi ini. Beberapa apel yang ditanam padahal tumbuh bagus.

Salah satu anggrek tanah liar yang saya temui di Sentani.

Yang di sini mandi sudah tiap hari, dan sudah pake sabun.
Bookmarks