Oleh: Dr. Handrawan Nadesul, Dokter Umum

Ratusan juta jam, mungkin juga lebih, total waktu di dunia yang dibuang orang-orang buat berciuman merayakan Valentine Day beberapa pekan silam.

Di beberapa negara, pada Hari Kasih Sayang itu berciuman malah dilombakan. Namun, siapa nyana di balik berciuman nimbrung sejumlah penyakit.

Benar. Jurnal kesehatan Inggris pekan silam menurunkan hasil sebuah riset ihwal akibat buruk berciuman. Memang bukan hal baru kalau berciuman bisa menularkan bibit penyakit. Namun, ada jenis penularan yang bisa berkomplikasi ke selaput otak lewat berciuman. Gara-gara berciuman, selaput otak berisiko jadi meradang (meningitis).

Dari dulu sudah disadari kalau ribuan, bahkan jutaan, kuman yang bersarang di rongga mulut bisa berpindah ke pasangan saat berciuman. Kuman tersebut bertukar tempat kendati sekadar lewat ciuman biasa. Ciuman bibir saja pun sudah bisa memindahkan sekian banyak kuman, apalagi yang lebih dari itu. Berciuman gaya Prancis, misalnya.

Namun, tidak semua kuman yang berasal dari mulut selalu bertabiat binal. Sebagian besar tergolong jenis yang jinak dan bersahabat. Tertular kuman begini mungkin tidak kelewat bermasalah. Kalaupun sampai sakit, biasanya hanya ringan, dan sering-sering berlalu begitu saja nyaris tak memerlukan obat apa pun.

Ihwal berciuman yang tidak biasa itulah yang disebut-sebut dalam jurnal yang dinilai penuh risiko. Mengapa? Karena benar terbukti ciuman mati-matian itu berpotensi lebih membahayakan ketimbang ciuman enteng, tanpa harus membuat masing-masing pasangan kelabakan.

Ciuman ala Prancis berisiko baku tular. Bibit penyakit yang ada di masing-masing mulut pasangan saling bertukar tempat. Semua orang perlu berpikir ulang sebelum melakukan kegiatan itu. Terlebih dengan yang baru dikenal.

Berciuman Prancis tergolong model berciuman yang diawali dengan mulut masing-masing terbuka selebar mulut kuda nil, lalu melumat lidah, dan lidah menjelajah sampai ke dalam mulut pasangan berciuman (deep throat).

Jenis ini yang diperingatkan oleh temuan riset di atas. Tak peduli berciuman dilakukan di tempat gelap, di kolong meja, atau di rumah tetangga, akibatnya akan sama saja: berisiko tertular kuman, virus, atau jamur juga.

Kissing Disease
Sesungguhnya dari dulu sudah ada penyakit yang dijuluki kissing disease. Julukan itu diberikan lantaran penularannya terutama lewat berciuman.

Tak perlu sampai harus berciuman Prancis karena sekadar ciuman bibir saja pun virusnya sudah mudah berpindah dan mulut ke mulut lewat air liur (saliva).

Perpindahan air liur dari mulut sehat ke mulut sakit itulah yang ikut memindahkan virus penyebabnya. Selang beberapa hari sang pasangan tertular, dan penyakitnya pun berjangkit. Jenis virus Epstein-Barr yang menjadi penyebab kissing disease. Virus ini tergolong pemain lama dan sejak dulu sudah dikenal di dunia medis.

Dia juga yang kemudian disebut-sebut sebagai penyebab beberapa jenis penyakit lain bila masih beredar dalam darah penderita. Boleh disebut antara lain sebagai salah satu faktor penyebab serangan jantung koroner, selain sebagai pencetus kanker leher rahim.

Nama resmi kissing disease sebetulnya Infectious Mononucleiosis, yang hampir selalu mengintai pasangan yang doyan sekali berciuman, entah dengan siapa saja, yang penting ada bibirnya. Berita pekan yang baru lewat menyebutkan kalau Pangeran Harry dari Inggris pun konon tengah terserang penyakit yang mengenal kelenjar ludah di mulut ini (glandular fever), meski tetap diajak ayahandanya, Pangeran Charles, pergi bermain ski.

Seperti awal penyakit flu, awal kissing disease memang hanya demam biasa yang tidak spesifik. Demam biasanya disertai rasa tidak enak di tenggorokan, badan sangat lemah, bahkan letih berkepanjangan, mengantuk berat, dan pusing terus-menerus, selain keluhan tidak enak di perut. Keluhan dan gejala begini berlangsung bisa sampai berminggu-minggu, bahkan sampai enam mingguan.

Tahu kemungkinan kissing disease bila dokter melihat gejala dan riwayat mutakhir pasien. Lebih-lebih saat baru Valentinan. Contohnya, pada hari-hari sehabis Valentine Day tiba-tiba muncul keluhan dan gejala seperti itu, tentu perlu lebih diwaspadai kemungkinan virus Epstein-Barr penyebab-nya.

Periksa Darah
Untuk memastikan benar virus genit itu penyebabnya, perlu dilakukan pemeriksaan darah khusus untuk Epstein- Barr, lalu dibuat kultur. Dari sana akan kedapatan virus penyebab jika benar memang itu penyakitnya.

Lalu mau apa? Benar. Tahu pasti bahwa itu kissing disease lalu mau apa? Antivirus tidak ada, selain membiarkan pasien lebih banyak beristirahat memulihkan sistem kekebalan tubuh agar mampu melawan virusnya secara bersendiri.

Tentu perlu dibarengi asupan menu berprotein tinggi, selain puasa berciuman dulu, dengan siapa pun, termasuk tidak mencium atau mengecup anak, dan anak kecil. Tidak juga mengecup pacar atau istri, apalagi bukan muhrim-nya.

Anggapan sekadar kissing disease yang umumnya bisa menyembuh sendiri tanpa menyisakan apa-apa bila daya tahan tubuh kuat, bukan tanpa masalah. Dari beberapa temuan terungkap kalau riwayat pernah terkena penyakit akibat berciuman ini berkorelasi dengan risiko terkena kanker kelenjar getah bening (Hodgkin) yang mematikan itu, suatu hari kelak.

Menyisakan Kecacatan
Meningitis, apa pun penyebab-nya, berakibat buruk yang sama, yakni menyisakan kecacatan tubuh, itu pun kalau sampai tertolong dari ancaman kematian.

Karena proses penyakitnya terjadi di selaput otak (meningen), ada bagian otak yang menjadi rusak. Yang sering terjadi berupa kehilangan pendengaran, gangguan belajar, kebutaan, bahkan sampai kelumpuhan.

Kelumpuhan mungkin tidak langsung terjadi begitu penyakit mereda. Dalam proses perjalanan penyakitnya, kelumpuhan biasanya berlangsung perlahan-lahan.

Jaringan otak ada yang menjadi layu, kemudian rusak, dan sel-sel nya mengalami kematian akibat terinfeksi. Bagian otak yang menjadi mati itulah yang bila menimpa bagian motorik otak, yang bisa berakhir dengan kelumpuhan, selain kemungkinan bisa teijadi gangguan otak lainnya.

Seperti terungkap dalam riset di atas, dari sejumlah remaja yang kedapatan terserang meningitis, mengaku berciuman tidak hanya dengan satu pasangan. Berciuman gaya Prancis, untuk durasi yang cukup lama, dan berganti-ganti pasangan itulah yang lebih berisiko. Semakin banyak berganti pasangan berciuman model Prancis, semakin besar lagi risiko tertular kuman Meningococcus, jenis kuman yang bisa berkomplikasi meningitis.

Bahkan, kedapatan pula kalau virus HIV bisa ditularkan lewat berciuman Prancis. Virus HIV dulu disangsikan dapat menular lewat berciuman, tetapi kini terungkap sudah. Kasus penularari AIDS lewat berciuman sudah terbukti ada. The Center for Disease Control & Prevention (CDC), AS, mela porkan kasus penularan HIV lewat deep kissing (1994) menimpa seorang wanita akibat pacarnya pengidap HIV.

Kendati selama berpacaran tidak berganti pasangan, melakukan hubungan seks tetap berkondom, tertular HIV juga. Akhirnya disimpulkan, penularan memang terjadi bukan lewat hubungan seks, melainkan lewat berciuman mesra penuh semangat.

Hal lain yang perlu diingat, bahwa berciuman juga berpotensi memindahkan virus herpes mulut (HVS1). Mereka yang sering seriawan lantaran virus herpes mulut, berpotensi menularkan virusnya juga bila berciuman dengan pasangannya yang sehat. Sekadar dengan ciuman bibir saja, penularan herpes bisa terjadi. Kejadian ini sering dari orangtua kepada bayi dan anak-anak.

Virus Cytomegalo juga ditularkan lewat berciuman, nyaris tanpa gejala. Orang baru tahu kalau mengidap virus ini jika diperiksa darahnya. Bila virus ini diidap wanita hamil, berisiko anak di kandungannya bakal mengalami kecacatan. Karena itu, penting memeriksa adanya penyakit ini sebagai bagian dan pemeriksaan pranikah (TORCH test).

Jangan lupa, lelaki hidung belang yang merasa aman main dengan PSK, kendati tidak melakukan hubungan seks atau kegiatan seksnya berkondom, masih ada kemungkinan tertular kuman kencing nanah (gonorrhoea) lewat berciuman juga. Itu terjadi bila PSK (yang sudah biasa melakukan seks oral dengan pria pengidap kencing nanah) punya penyakit kencing nanah yang bersarang di tenggorokannya dan tidak diobati. PSK inilah yang lalu menjadi sumber penularan kepada semua pasangan seksnya.

Kuman kencing nanah tenggorokan ini berpotensi menular lewat berciuman dengan langganan pria lain. Dengan cara itu infeksi kencing nanah tenggorokan di kalangan PSK terus berpindah pindah dari mulut lelaki langganan yang satu ke lelaki langganan yang lain.

Lelaki langganan selanjutnya akan menularkannya lagi ke PSK lain juga lewat berciuman. Lebih dari itu, belum kalau lelaki hidung belang juga melakukan cunilllingus (oral seks pada kelamin wanita), dan PSK-nya positif kencing nanah atau penyakit menular seksual lain. Herpes kelamin, misalnya. Baku tular pun berlangsung oral-oral, selain oral-genital. Siapa takut!

Sumber: Tabloid Senior