All the best FLOBAMOR...

Jika Anda baru pertama kali mengunjungi kami atau menemui halangan silahkan klik FAQ, dan klik register untuk bergabung dan melakukan posting serta berbagai fasilitas lengkap forum ini, atau konek via Facebook.


+ Reply to Thread
Showing results 1 to 6 of 6
  1. #1
    Junior martha is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Nov 2006
    Kiriman
    133
    Rep Power
    6

    Default Batuk Darah Tak Perlu Ditakuti

    Batuk Darah Tak Perlu Ditakuti Diasuh oleh tim dokter RS Mediros

    Tanya:
    Saya berumur 37 tahun, bekerja di bagian gudang salah satu supermarket di Jakarta.
    Sudah dua bulan ini saya sering batuk tetapi tidak ada reak. Jadi saya pikir, ini penyakit batuk biasa. Kemudian saya minum obat batuk hitam yang dapat dibeli bebas di apotik.
    Minggu pertama, batuk saya hilang, tapi muncul lagi walaupun saya tetap minum obat batuk. Badan saya sering terasa hangat (demam), nafsu makan tidak ada, cepat capek dan bahkan berat badan saya cenderung turun.
    Tiga hari ini batuk saya keluar darah tetapi tidak terlalu banyak, nafas saya sesak, sering pusing dan mual-mual.
    Pertanyaan saya :
    Apakah saya menderita sakit TBC dan apakah penyakit ini menular?
    Apakah batuk darah berbahaya?
    Kalau saya menderita TBC, apakah bisa sembuh?
    Saya dengar kalau TBC diobati dengan kombinasi beberapa obat, apakah obat TBC tersebut bisa menimbulkan efek samping?

    Tono S.
    Penggilingan, Jakarta Timur


    Jawab:
    Bapak Tono yth.
    Kalau membaca keluhan Anda, kemungkinan Anda menderita TBC paru-paru. Untuk mengetahui sakit paru-paru, perlu beberapa pemeriksaan seperti pemeriksaan fisik, laboratorium dan radiologis (rontgen)
    Perlu diketahui, penyakit TBC paru adalah penyakit yang disebabkan kuman Tuberkulosis yaitu Mycobacterium Tuberculosis. Kuman lain, meski jarang, yang menyebabkan penyakit ini adalah M.Bovis dan M.Africanum.
    Kuman tersebut menyebar melalui udara (batuk, tertawa, dan bersin). Sinar matahari langsung dapat mematikan kuman, sedang dalam keadaan gelap kuman bisa hidup dalam beberapa jam. Dua faktor penentu yang menyebabkan seseorang terkena kuman adalah konsentrasi kuman yang dibatukkan dan lamanya menghirup udara.
    Risiko infeksi tergantung pada luas paparan. Sementara kepekaan seseorang terhadap infeksi tergantung pada hubungan sangat erat, hubungan lama, dan terpapar kuman. Risiko penularan akan rendah pada penderita dengan kuman TB (-) negatif, penderita TB di luar paru. Namun sekali penderita terinfeksi kuman TB, maka menetap beberapa tahun bahkan seumur hidup.
    Selain paru-paru, organ lain yang dapat terserang TB adalah kelenjar getah bening, susunan saraf pusat, jantung, tulang dan sendi. TB juga bisa menyerang ginjal dan kelenjar di puncak ginjal.

    Gejala
    Gejala yang menyertai penyakit TB adalah batuk lebih dari tiga minggu dan berat badan turun. Kemudian diikuti dengan batuk darah, sesak napas, demam, lesu, nafsu makan menurun dan berkeringat pada malam hari. Dalam pemeriksaan laboratorium akan ditemukan laju endap darah (LED) meningkat.
    Batuk darah berbahaya kalau tidak diobati secara tuntas. Batuk darah tidak hanya dijumpai pada penyakit paru-paru saja juga dijumpai pada penyakit lain seperti kelainan gigi (menggosok gigi terlalu keras), kelainan THT, kelainan paru (bronchitis, pneumonia) dan kelainan jantung (mitral stenosis)
    Namun jika Anda memang benar terkena TBC, Anda tak perlu khawatir karena TBC bisa sembuh dengan obat anti tuberkolusis, kontrol teratur, memperhatikan efek samping obat dan diet TKTP (Tinggi Kalori Tinggi Protein).
    Hampir semua obat dapat menimbulkan efek samping, begitu juga dengan obat TBC paru (OAT). Mulai dari yang paling ringan sampai dengan yang paling berat seperti gatal-gatal, mual, muntah, sakit sendi, penyakit kuning, serta gangguan pendengaran dan keseimbangan. Karena itu penderita dianjurkan kontrol teratur ke dokter agar efek samping obat dapat diminimalisir.
    Sementara pencegahan penyakit TBC bisa dilakukan lewat edukasi, diet yang baik, ventilasi udara dan pencahayaan yang cukup baik di rumah maupun di kantor.

    Klasifikasi TB Paru: TB paru: Sputum BTA (+), TB paru tersangka: Sputum BTA (-) dengan klinis dan radiologis (+), Bekas TB paru: riwayat obat anti tuberkulosis (OAT) adekuat dengan sputum (-), klinis (-), radiologis menetap.

    Penatalaksanaan: Diet tinggi kalori, tinggi protein, OAT (Obat anti tuberkulosis): lini primer: Rifampisin-INH-Pyrazinamid-Etambutol-Streptomysin. Lini sekunder: Tiasetazon, Kuinolon, Makrolid. Pengobatan TB adalah kombinasi Ž 2 macam OAT, ini mencegah mudahnya terjadi resistensi kuman. Pada TB di luar paru, pengobatan pada dasarnya sama.

    Dr. Saharawati Mahmouddin, SpP, FCCP
    Spesialis Paru
    Dr. Erawati, Resident Medical Officer
    RS.Mediros

  2. #2
    Junior martha is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Nov 2006
    Kiriman
    133
    Rep Power
    6

    Default Program Penaggulangan TBC

    1. PENDAHULUAN
    A. Latar belakang
    Penyakit Tuberculosis (TBC) merupakan penyakit yang mudah menular dimana dalam tahun-tahun terakhir memperlihatkan peningkatan dalam jumlah kasus baru maupun jumlah angka kematian yang disebabkan oleh TBC.

    Pada tahun 1993, WHO mencanangkan kedaruratan global penyakit TBC, karena di sebagian besar negara di dunia, penyakit TBC tidak terkendali. Hal ini disebabkan banyaknya penderita TBC yang tidak berhasil disembuhkan.

    WHO melaporkan adanya 3 juta orang mati akibat TBC tiap tahun dan diperkirakan 5000 orang tiap harinya. Tiap tahun ada 9 juta penderita TBC baru dan 75% kasus kematian dan kesakitan di masyarakat diderita oleh orang-orang pada umur produktif dari 15 sampai 54 tahun. Dinegara-negara miskin kematian TBC merupakan 25% dari seluruh kematian yang sebenarnya dapat dicegah. Daerah Asia Tenggara menanggung bagian yang terberat dari beban TBC global yakni sekitar 38% dari kasus TBC dunia. Dengan munculnya HIV/AIDS di dunia, diperkirakan penderita TBC akan meningkat.

    Di Indonesia hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) pada tahun 1995 menunjukan bahwa penyakit TBC merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok umur, dan nomor satu (1) dari golongan penyakit infeksi. WHO 1999 memperkirakan setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru dengan kematian sekitar 140.000.

    Penyakit TBC tidak hanya merupakan persoalan individu tapi sudah merupakan persoalan masyarakat. Kesakitan dan kematian akibat TBC mempunyai konsekuensi yang signifikan terhadap permasalahan ekonomi baik individu, keluarga, masyarakat, perusahaan dan negara.

    Pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan melalui Program TBC Nasional, telah bekerjasama dengan Rumah Sakit (RS), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Dokter praktek pribadi, organisasi keagamaan dan ingin meningkatkan kerjasama dengan kelompok masyarakat pekerja dan pengusaha. Peningkatan perhatian dari pengusaha terhadap penyakit TBC di sektor dunia usaha sangat diperlukan. Guna mensukseskan aktivitas pengawasan TBC, pengobatan yang teratur sampai terjadi eliminasi TBC di tempat keja.

    Setiap tempat kerja mempunyai risiko untuk terjangkit penyakit TBC pada pekerjanya terutama pada blue collars (karena pendidikan rendah, higiene sanitasi perumahan pekerja, lingkungan sosial pekerja, higiene perusahaan). Pengusaha diharapkan ber partisipasi aktif terhadap penanggulangan TBC di tempat bekerja pada saat seleksi pekerja, higiene sanitasi di perusahaan, gotong royong perbaikan perumahan pekerja bekerjasama dengan puskesmas setempat.
    Pengawasan TBC ditempat bekerja memberikan keuntungan yang nyata kepada perusahaan dan masyarakat. Pekerja yang menderita TBC selain akan menularkan ke teman sekerjanya juga akan mengakibatkan menurunnya produktifitas kerja, sehingga akan mengakibatkan hasil kerja menurun dan pada akhirnya mengakibatkan kerugian bagi perusahaan tempat penderita bekerja. Penemuan penderita baru dan pengobatan dini akan memberikan keuntungan bagi penderita, perusahaan dan program pemberantasan TBC Nasional.

    Untuk menanggulangi masalah TBC di Indonesia, strategi DOTS (Directly Observed Treatment, Shourtcourse chemotherapy) yang direkomendasikan oleh WHO merupakan pendekatan yang paling tepat saat ini dan harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh. Pelaksanaan DOTS di klinik perusahaan merupakan peran aktif dan kemitraan yang baik dari pengusaha dan masyarakat pekerja untuk meningkatkan penanggulangan TBC di tempat kerja.
    1. Dasar kebijakan program penanggulangan TBC di tempat kerja
    1. Undang-undang no.23 tahun 1992, pasal 23 tentang Kesehatan Kerja
    2. Kebijakan teknis program kesehatan kerja
    3. Evaluasi program TBC yang dilaksanakan bersama oleh Indonesia dan WHO pada April 1994 (Indonesia –WHO joint evaluation on National TB Program)
    4. Lokakarya Nasional Program P2TB pada September 1994
    5. Dokumen Perencanaan (Plan of action) pada bulan September 1994
    6. Rekomendasi "Komite Nasional Penanggulangan Tuberkulosis" 24 Maret 1999

    II. VISI & MISI
    A. Visi
    Tuberkulosis tidak lagi menjadi masalah kesehatan di tempat kerja
    B. Misi
    • Menetapkan kebijakan, memberikan panduan serta membuat evaluasi secara tepat, benar dan lengkap
    • Menciptakan iklim kemitraan dan transparansi pada upaya penanggulangan penyakit TBC di tempat kerja.
    • Mempermudah akses pelayanan penderita TBC untuk mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan standar mutu

    III. TUJUAN
    A. Umum
    Menurunkan angka kesakitan dan kematian penyakit TBC pada pekerja untuk mencapai peningkatan kemampuan hidup sehat agar tercapai produktivitas yang optimal.
    B. Khusus
    1. Tercapainya angka kesembuhan minimal 85% dari semua penderita baru BTA positip yang ditemukan ditempat kerja.
    2. Tercapainya cakupan penemuan penderita baru secara bertahap sehingga pada tahun 2005 dapat mencapai 70% dari perkiraan semua penderita baru BTA positip.
    3. Tercapainya pelayanan kesehatan yang paripurna, terjangkau, adil & merata mencakup 80%

    IV. KERANGKA PENGENDALIAN TBC DI TEMPAT KERJA
    Komponen kunci suatu kerangka pengendalian TBC di tempat kerja yang menyertakan mitra adalah sebagai berikut:
    • Adanya kebijakan yang berdasarkan suatu komitmen yang disepakati
    Dalam mengembangkan kebijakan secara tertulis melalui interaksi dan koordinasi dengan pengambil keputusan dalam forum tripartite. Dalam menghadapai penanggulangan TBC di tempat kerja dibentuk suatu forum untuk mengembangkan mekanisme, menterjemahkan kebijakan dalam perencanaan nasional, propinsi, kabupaten. Kebijakan tersebut mencakup adanya komitmen dari para pengambil keputusan terhadap program penanggulangan TBC sebagai bagian dari aktivitas kesehatan di tempat kerja. Komitmen tersebut mendorong adanya mobilisasi dan alokasi dana untuk pelaksanaan intervensi yang direncanakan.

    • Adanya suatu strategi komunikasi
    Strategi komunikasi ada beberapa kegiatan :
      • Advokasi kepada pengusaha, organisasi pekerja
      • Mengefektifkan pelaksanaan penanggulangan TBC termasuk penanggulangan TBC di tempat kerja
      • Menggerakan peran sektor-sektor terkait & kemitraan
    • Adanya suatu strategi untuk implementasi
    Sebagai dasar dari strategi implementasi meliputi :
    • Pelatihan tenaga kesehatan.
    • Penemuan kasus, termasuk identifikasi suspek TBC dan rujukan pemeriksaan sputum secara mikroskopis.
    • Penanganan kasus, membutuhkan dorongan bagi pasien TBC agar taat pada pengobatan yang diberikan. (pengawasan langsung pemberian obat di tempat kerja/PMO).

    V. KEBIJAKAN

    Kebijakan dalam penanggulangan TBC di tempat kerja mengacu pada kebijakan nasional

    A. Kebijakan operasional penanggulangan TBC nasional :
    1. Penanggulangan TBC di Indonesia dilaksanakan dengan desentralisasi sesuai dengan kebijaksanaan Departemen Kesehatan
    2. Penanggulangan TBC dilaksanakan oleh seluruh Unit Pelayanan Kesehatan, meliputi Puskesmas, Rumah Sakit Pemerintah dan swasta, BP4 serta Praktek Dokter Swasta, poliklinik umum, poliklinik perusahaan dengan melibatkan peran serta masyarakat secara paripurna dan terpadu.
    3. Peningkatan mutu pelayanan, penggunaan obat yang rasional dan kombinasi obat yang sesuai dengan strategi DOTS.
    4. Target program adalah konversi pada akhir pengobatan tahap intensif minimal 80%, angka kesembuhan minimal 85% dari kasus baru BTA posistip, dengan pemeriksaan sediaan dahak yang benar (angka kesalahan maksimal 5%).
    5. Pemeriksaan uji silang (cross check) secara rutin oleh balai Laboratorium Kesehatan (BLK) dan laboratorium rujukan yang ditunjuk Untuk mendapatkan pemeriksaan dahak yang bermutu.
    6. Penangulangan TBC Nasional diberikan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) kepada penderita secara cuma-cuma dan dijamin ketersediaannya.
    7. Pengembangan sistem pemantauan, supervisi dan evaluasi program untuk mempertahankan kualitas pelaksanaan program
    8. Menggalang kerjasama dan kemitraan dengan program terkait, sektor pemerintah dan swasta.

    B. Kebijakan penanggulangan TBC di tempat kerja :
    1. Meningkatkan advokasi sosialisasi Program Pemberantasan TBC di tempat kerja pada seluruh pimpinan perusahaan.
    2. Meningkatkan pengendalian sistem kerja & perilaku hidup sehat pekerja di tempat kerja.
    3. Meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yg profesional di setiap unit pelayanan kesehatan di tempat kerja.
    4. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penangulangan TBC diberikan kepada penderita secara cuma-cuma dan dijamin ketersediaannya khususnya untuk pekerja di sektor informal/ industri kecil, sedangkan untuk sektor formal/ industri besar OAT disediakan oleh pengusaha.

    VI. STRATEGI
    Strategi Penanggulangan TBC di tempat kerja sesuai dengan Strategi Nasional
    • Paradigma Sehat
      • Meningkatkan penyuluhan untuk menemukan penderita TB sedini mungkin, serta meningkatkan cakupan
      • Promosi kesehatan dalam rangka meningkatkan perilaku hidup sehat
      • Perbaikan perumahan serta peningkatan status gizi, pada kondisi tertentu
    • Strategi DOTS, sesuai rekomendasi WHO
      • Komitmen politis dari para pengambil keputusan (tripartite), termasuk dukungan dana.
      • Diagnosis TBC dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopik
      • Pengobatan dengan panduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO)
      • Kesinambungan persediaan OAT jangka pendek dengan mutu terjamin.
      • Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi program penanggulangan TBC
    • Peningkatan mutu pelayanan
      • Pelatihan seluruh tenaga pelaksana
      • Mengembangkan materi pendidikan kesehatan tentang pengendalian TBC mengunakan media yang cocok untuk tempat kerja
      • Ketepatan diagnosis TBC dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopik
      • Kualitas laboratorium diawasi melalui pemeriksaan uji silang (cross check)
      • Untuk menjaga kualitas pemeriksaan laboratorium, dibentuk KPP (Kelompok Puskesmas Pelaksana) terdiri dari 1 (satu) PRM (Puskesmas Rujukan Mikroskopik) dan beberapa PS (Puskesmas Satelit). Untuk daerah dengan geografis sulit dapat dibentuk PPM (Puskesmas Pelaksana mandiri).
      • Ketersediaan OAT bagi semua penderita TBC yang ditemukan
      • Pengawasan kualitas OAT dilaksanakan secara berkala dan terus menerus.
      • Keteraturan menelan obat sehari-hari diawasi oleh Pengawas Menelan Obat (PMO).
      • Pencatatan pelaporan dilaksanakan dengan teratur lengkap dan benar.
      • Pengembangan program dilakukan secara bertahap
      • Advokasi sosialisasi kepada para pimpinan perusahaan , organisasi pekerja mengenai dasar pemikiran dan kebutuhan untuk TBC kontrol yang efektif, mencakup kontribusinya dalam pengendalian TBC di tempat kerja.
      • Kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program meliputi : perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi serta mengupayakan sumber daya (dana, tenaga, sarana dan prasarana).
      • Membuat peta TBC sehingga ada daerah-daerah yang perlu di monitor penanggulangan bagi para pekerja.
      • Memperhatikan komitmen internasional.

      VII. KEGIATAN

      Kegiatan penanggulangan TBC di tempat kesja meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

    Upaya Promotif
    Peningkatan pengetahuan pekerja tentang penanggulangan TBC di tempat kerja melalui
    • - pendidikan & pelatihan petugas pemberi pelayanan kesehatan di tempat kerja
        • penyuluhan
        • penyebarluasan informasi
          1. Peningkatan kebugaran jasmani
          2. Peningkatan kepuasan kerja
          3. Peningkatan gizi kerja
    Upaya preventif
    • Adalah upaya untuk mencegah timbulnya penyakit atau kondisi yang memperberat penyakit TBC.

    Pencegahan Primer
    • Pencegahan primer merupakan upaya yang dilaksanakan untuk mencegah timbulnya penyakit pada populasi yang sehat.
          1. Pengendalian melalui perundang-undangan (legislative control)
        • Undang-Undang No. 14 tahun 1969 Tentang ketentuan-ketentuan pokok tenaga kerja.
        • Undang-Undang No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan kerja
        • Undang-Undang No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan
        • Peraturan Menteri Kesehatan tentang hygiene dan saniasi lingkungan
          1. Pengendalian melalui administrasi/organisasi (administrative control)
        • Pesyaratan penerimaan tenaga kerja
        • Pencatatan pelaporan
        • Monitoring dan evaluasi
      c. Pengendalian secara teknis (engineering control), antara lain :
        • Sistem ventilasi yang baik
        • Pengendalian lingkungan keja
      d. Pengendalian melalui jalur kesehatan (medical control), antara lain
        • Pendidikan kesehatan : kebersihan perorangan, gizi kerja, kebersihan lingkungan, cara minum obat dll.
        • Pemeriksaan kesehatan awal, berkala & khusus (anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium rutin, tuberculin test)
        • Peningkatan gizi pekerja
        • Penelitian kesehatan
    Pencegahan sekunder
      1. Pencegahan sekunder adalan upaya untuk menemukan penyakit TBC sedini mungkin mencegah meluasnya penyakit, mengurangi bertambah beratnya penyakit.
        • Pengawasan dan penyuluhan untuk mendorong pasien TBC bertahan pada pengobatan yang diberikan (tingkat kepatuhan) dilaksanakan oleh seorang "Pengawas Obat" atau juru TBC
        • Pengamatan langsung mengenai perawatan pasien TBC di tempat kerja
        • Case-finding secara aktif, mencakup identifikasi TBC pada orang yang dicurigai dan rujukan pemeriksaan dahak dengan mikroskopis secara berkala.
        • Membuat "Peta TBC", sehingga ada gambaran lokasi tempat kerja yang perlu prioritas penanggulangan TBC bagi pekerja
          • Pengelolaan logistik
    Upaya kuratif dan rehabilitatif
      1. Adalah upaya pengobatan penyakit TBC yang bertujuan untuk menyembuhkan penderita, mencegah kematian, mencegah kekambuhan dan menurunkan tingkat penularan.
        Obat TBC diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis, dalam jumlah cukup dan dosis yang tepat selama 6-8 bulan dengan menggunakan OAT standar yang direkomendasikan oleh WHO dan IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Disease). Pelaksanaan minum obat & kemajuan hasil pengobatan harus dipantau.
        VIII. PENUTUP
          • Agar terlaksananya program penanggulangan TBC ditempat kerja perlu adanya komitmen dari pimpinan perusahaan / tempat kerja dan kerjasama dengan semua pihak terkait untuk melaksanakan Program Penanggulangan TBC didukung dengan ketersediaan dana, sarana dan tenaga yang professional.
          • Keberhasilan pengobatan TBC tergantung dari kepatuhan penderita untuk minum OAT yang teratur. Dalam hal ini, PMO di tempat kerja akan sangat membantu kesuksesan Penanggulangan TBC di tempat kerja.
        DAFTAR KEPUSTAKAAN
          1. DEPKES RI, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Jakarta 2002

          2. WHO, TB Control in the Workplace, Report of an Intercountry Consultan, New Delhi 2004

          3. Kebijakan Teknis Program Kesehatan Kerja, Jakarta 2003

          4. Sistem Informasi Manajemen Kesehatan Kerja, Jakarta 2003

  3. #3
    Junior martha is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Nov 2006
    Kiriman
    133
    Rep Power
    6

    Default Tuberculosa Paru (TB Paru) Pencegahan dan Pengobatan

    Tuberculosa Paru (TB Paru) Pencegahan dan Pengobatan
    Apakah Tuberculosa Paru itu?
    Tuberculosa Paru adalah penyakit menular yang dapat menyerang siapa saja
    Di Indonesia merupakan penyebab kematian no. 2
    Dari setiap 100 penduduk Indonesia, 3 - 6 orang menderita TB Paru

    Apa Penyebabnya
    Disebabkan oleh kuman (bakteri) yang hanya dapat dilihat dengan kaca pembesar (mikroskop)

    Apakah dapat disembuhkan?
    Agar dapat disembuhkan:
    Minum obat teratur sesuai petunjuk
    Menghabiskan obat sesuai waktu yang ditentukan (6 - 12 bulan)
    Makan makanan bergizi
    Untuk mengetahui seseorang sakit tuberculosa paru periksakan dahak ke laboratorium di puskesmas / RS

    Kapan seseorang perlu diperiksa dahaknya
    Seseorang perlu diperiksa dahaknya apabila: Batuk berdahak selama 3 minggu atau lebih
    Batuk dengan dahak mengandung darah

    Apa akibatnya bila minum obat tidak teratur
    Kuman-kuman yang ada didalam tubuh akan menjadi kebal terhadap obat Penyakit yang diderita sukar disembuhkan

    Apa akibatnya kalau berhenti minum obat sebelum waktunya
    Batuk yang sudah menghilang akan timbul kembali (kambuh)
    Lebih sulit disembuhkan karena kuman-kuman didalam tubuh menjadi kebal terhadap obat yang diberikan

    Penderita dengan sakit berat (Dahak Negatif) & penderita dengan Dahak Positif mengandung kuman disediakan obat GRATIS ! di Puskesmas


    Bagaimana mencegah agar tidak tertular kepada orang lain
    1. Penderita tuberculosa paru:
    Minum obat secara teratur sampai selesai
    Menutup mulut waktu bersin atau batuk
    Tidak meludah di sembarang tempat
    Meludah di tempat yang kena sinar matahari atau di tempat yang diisi sabun atau karbol/lisol
    2. Untuk keluarga:
    Jemur tempat tidur bekas penderita secara teratur
    Buka jendela lebar-lebar agar udara segar & sinar matahari dapat masuk
    Kuman TBC akan mati bila terkena sinar matahari

    Bagaimana pencegahan yang lain Imunisasi pada bayi
    Meningkatkan daya tahan tubuh dengan makanan bergizi

  4. #4
    Junior martha is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Nov 2006
    Kiriman
    133
    Rep Power
    6

    Default Pertanyaan Seputar TBC

    Apakah tanda-tanda bahwa seseorang terkena penyakit TBC?

    Tanda-tanda orang yang dicurigai terkena penyakit TBC yaitu secara umum dapat dilihat dari gejalanya terlebih dahulu yaitu, demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul. Penurunan nafsu makan dan berat badan. Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah). Perasaan tidak enak (malaise), lemah. Dan untuk memberikan kepastian maka orang tersebut harus diperiksa lebih lanjut, jadi tidak selalu bahwa orang batuk-batuk lama pasti menderita TBC, harus dipastikan dengan pemeriksaan laboratorium dan foto rontgen.
    Apakah setiap orang yang mengalami batuk berdarah berarti menderita TBC?

    Belum tentu, karena batuk berdarah dapat disebabkan oleh berbagai macam sebab, bisa karena penyakit paru-paru lainnya, karena adanya perdarahan di daerah hidung bagian belakang yang tertelan dan pada saat batuk keluar dari mulut atau karena anak batuk terlalu keras sehingga menyebabkan lukanya saluran nafas sehingga mengeluarkan darah.
    TBC menular melalui media apa saja? Dan rata-rata berapa lama gejala timbul setelah orang terpapar kuman TBC?

    Pada umumnya adalah melalui percikan dahak penderita yang keluar saat batuk (beberapa ahli mengatakan bahwa air ludah juga bisa menjadi media perantara), bisa juga melalui debu, alat makan/minum yang mengandung kuman TBC. Kuman yang masuk dalam tubuh akan berkembangbiak, lamanya dari terkumpulnya kuman sampai timbulnya gejala penyakit dapat berbulan-bulan sampai tahunan.
    Apakah kena udara pagi terus menerus dan merokok dapat menyebabkan TBC?

    Kena udara pagi terus menerus tidak terlalu bermasalah dalam hal penularan TBC, sedangkan merokok dapat menurunkan daya tahan dari paru-paru, sehingga relatif akan mempermudah terkena TBC.
    Apakah penyakit TBC itu diwariskan secara genetik?

    Penyakit TBC tidak diwariskan secara genetik, karena penyakit TBC bukanlah penyakit turunan. Hanya karena penularannya adalah melalui percikan dahak yang mengandung kuman TBC, maka orang yang hidup dekat dengan penderita TBC dapat tertular.
    Mengapa pengobatan TBC memerlukan waktu yang lama?

    Karena bakteri TBC dapat hidup berbulan-bulan walaupun sudah terkena antibiotika (bakteri TBC memiliki daya tahan yang kuat), sehingga pengobatan TBC memerlukan waktu antara 6 sampai 9 bulan. Walaupun gejala penyakit TBC sudah hilang, pengobatan tetap harus dilakukan sampai tuntas, karena bakteri TBC sebenarnya masih berada dalam keadaan aktif dan siap membentuk resistensi terhadap obat. Kombinasi beberapa obat TBC diperlukan karena untuk menghadapi kuman TBC yang berada dalam berbagai stadium dan fase pertumbuhan yang cepat.
    Bagaimana bila penderita TBC tidak mengkonsumsi obat secara teratur?

    Hal ini akan menyebabkan tidak tuntasnya penyembuhan, sehingga dikhawatirkan akan timbul resistensi bakteri TBC terhadap antibiotika sehingga pengobatan akan semakin sulit dan mahal.
    Bisakah penyakit TBC disembuhkan secara tuntas? Bagaimana caranya?

    Penyakit TBC bisa disembuhkan secara tuntas apabila penderita mengikuti anjuran tenaga kesehatan untuk minum obat secara teratur dan rutin sesuai dengan dosis yang dianjurkan, serta mengkonsumsi makanan yang bergizi cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya.
    Apakah orang yang telah sembuh dari penyakit TBC dapat terjangkit kembali?

    Dapat, karena setelah sembuh dari penyakit TBC tidak ada kekebalan seumur hidup. Jadi bila telah sembuh dari penyakit TBC kemudian tertular kembali oleh kuman TBC, maka orang tersebut dapat terjangkit kembali.
    Apakah flek kecil di paru-paru pada anak balita sudah dapat dikatakan TBC?

    Flek kecil di paru-paru balita pada umumnya memang disebabkan oleh TBC. Oleh karena itu perlu diteliti apakah ada gejala-gejala klinis penyakit TBC atau tidak. Bila tidak ada berarti pernah tertular penyakit TBC tapi karena daya tahan tubuhnya tinggi sehingga tidak bergejala. Atau saat ini anak tersebut sudah sembuh dari penyakit TBC dan hanya meninggalkan bekasnya saja di paru-paru.
    Mungkinkan terkena penyakit TBC bila kita hidup di lingkungan yang bersih?

    Kemungkinan kita tertular akan tetap ada, karena kita hidup tidak hanya di lingkungan sekitar rumah kita saja, bisa saja suatu saat kita berada di sekolahan, bioskop, kantor, bus yang belum tentu terbebas dari kuman TBC. Hidup di lingkungan yang bersih memang akan memperkecil risiko terjangkit TBC.
    Bagaimana efek terhadap janin bila ibu hamil sedang mengidap penyakit TBC?

    Biasanya keadaan gizi penderita TBC kurang baik, sehingga hal ini dapat mempengaruhi perkembangan bagi janin dalam kandungan. Ibu hamil tetap harus diberikan terapi dengan obat TBC dengan dosis efektif terendah. Obat TBC yang diminum oleh ibu dapat melewati plasenta dan masuk ke janin dan berdasarkan beberapa kepustakaan disebutkan tidak memberikan efek yang terlampau berbahaya, akan tetapi pemantauan ketat pada perkembangan janin harus tetap dilakukan. Setelah bayi dilahirkan dapat dipisahkan terlebih dahulu dari ibu selama TBC masih aktif.
    Bagaimana sikap kita bila di rumah terdapat anggota keluarga yang menderita penyakit TBC?

    Bawa pasien ke dokter untuk mendapatkan pengobatan secara teratur, awasi minum obat secara ketat dan beri makanan bergizi. Sirkulasi udara dan sinar matahari di rumah harus baik. Hindarkan kontak dengan percikan batuk penderita, jangan menggunakan alat-alat makan/minum/mandi bersamaan.
    Pola hidup bagaimana yang harus kita miliki agar terhindar dari penyakit TBC?

    Pola hidup sehat adalah kuncinya, karena kita tidak tahu kapan kita bisa terpapar dengan kuman TBC. Dengan pola hidup sehat maka daya tahan tubuh kita diharapkan cukup untuk memberikan perlindungan, sehingga walaupun kita terpapar dengan kuman TBC tidak akan timbul gejala. Pola hidup sehat adalah dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi, selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan hidup kita, rumah harus mendapatkan sinar matahari yang cukup (tidak lembab), dll. Selain itu hindari terkena percikan batuk dari penderita TBC.

  5. #5
    Junior martha is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Nov 2006
    Kiriman
    133
    Rep Power
    6

    Default Penjelasan tentang Pengobatan TBC

    Pengobatan TBC Kriteria I (Tidak pernah terinfeksi, ada riwayat kontak, tidak menderita TBC) dan II (Terinfeksi TBC/test tuberkulin (+), tetapi tidak menderita TBC (gejala TBC tidak ada, radiologi tidak mendukung dan bakteriologi negatif) memerlukan pencegahan dengan pemberian INH 5–10 mg/kgbb/hari.
    1. Pencegahan (profilaksis) primer
      Anak yang kontak erat dengan penderita TBC BTA (+).
      INH minimal 3 bulan walaupun uji tuberkulin (-).
      Terapi profilaksis dihentikan bila hasil uji tuberkulin ulang menjadi (-) atau sumber penularan TB aktif sudah tidak ada.
    2. Pencegahan (profilaksis) sekunder
      Anak dengan infeksi TBC yaitu uji tuberkulin (+) tetapi tidak ada gejala sakit TBC.
      Profilaksis diberikan selama 6-9 bulan.
    Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok yaitu :
    • Obat primer : INH (isoniazid), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin, Pirazinamid.
      Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih dapat ditolerir, sebagian besar penderita dapat disembuhkan dengan obat-obat ini.
    • Obat sekunder : Exionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin, Kapreomisin dan Kanamisin.
    Dosis obat antituberkulosis (OAT)

    Obat Dosis harian
    (mg/kgbb/hari)
    Dosis 2x/minggu
    (mg/kgbb/hari)
    Dosis 3x/minggu
    (mg/kgbb/hari)
    INH5-15 (maks 300 mg)15-40 (maks. 900 mg)15-40 (maks. 900 mg)
    Rifampisin10-20 (maks. 600 mg)10-20 (maks. 600 mg)15-20 (maks. 600 mg)
    Pirazinamid15-40 (maks. 2 g)50-70 (maks. 4 g)15-30 (maks. 3 g)
    Etambutol15-25 (maks. 2,5 g)50 (maks. 2,5 g)15-25 (maks. 2,5 g)
    Streptomisin15-40 (maks. 1 g)25-40 (maks. 1,5 g)25-40 (maks. 1,5 g)
    Sejak 1995, program Pemberantasan Penyakit TBC di Indonesia mengalami perubahan manajemen operasional, disesuaikan dengan strategi global yanng direkomendasikan oleh WHO. Langkah ini dilakukan untuk menindaklanjuti Indonesia – WHO joint Evaluation dan National Tuberkulosis Program in Indonesia pada April 1994. Dalam program ini, prioritas ditujukan pada peningkatan mutu pelayanan dan penggunaan obat yang rasional untuk memutuskan rantai penularan serta mencegah meluasnya resistensi kuman TBC di masyarakat. Program ini dilakukan dengan cara mengawasi pasien dalam menelan obat setiap hari,terutama pada fase awal pengobatan.
    Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) pertama kali diperkenalkan pada tahun 1996 dan telah diimplementasikan secara meluas dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Sampai dengan tahun 2001, 98% dari populasi penduduk dapat mengakses pelayanan DOTS di puskesmas. Strategi ini diartikan sebagai "pengawasan langsung menelan obat jangka pendek oleh pengawas pengobatan" setiap hari.
    Indonesia adalah negara high burden, dan sedang memperluas strategi DOTS dengan cepat, karenanya baseline drug susceptibility data (DST) akan menjadi alat pemantau dan indikator program yang amat penting. Berdasarkan data dari beberapa wilayah, identifikasi dan pengobatan TBC melalui Rumah Sakit mencapai 20-50% dari kasus BTA positif, dan lebih banyak lagi untuk kasus BTA negatif. Jika tidak bekerja sama dengan Puskesmas, maka banyak pasien yang didiagnosis oleh RS memiliki risiko tinggi dalam kegagalan pengobatan, dan mungkin menimbulkan kekebalan obat.
    Akibat kurang baiknya penanganan pengobatan penderita TBC dan lemahnya implementasi strategi DOTS. Penderita yang mengidap BTA yang resisten terhadap OAT akan menyebarkan infeksi TBC dengan kuman yang bersifat MDR (Multi-drugs Resistant). Untuk kasus MDR-TB dibutuhkan obat lain selain obat standard pengobatan TBC yaitu obat fluorokuinolon seperti siprofloksasin, ofloxacin, levofloxacin (hanya sangat disayangkan bahwa obat ini tidak dianjurkan pada anak dalam masa pertumbuhan).
    Pengobatan TBC pada orang dewasa
    • Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3
      Selama 2 bulan minum obat INH, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol setiap hari (tahap intensif), dan 4 bulan selanjutnya minum obat INH dan rifampisin tiga kali dalam seminggu (tahap lanjutan).
      Diberikan kepada:
      • Penderita baru TBC paru BTA positif.
      • Penderita TBC ekstra paru (TBC di luar paru-paru) berat.
    • Kategori 2 : HRZE/5H3R3E3
      Diberikan kepada:
      • Penderita kambuh.
      • Penderita gagal terapi.
      • Penderita dengan pengobatan setelah lalai minum obat.
    • Kategori 3 : 2HRZ/4H3R3
      Diberikan kepada:
      • Penderita BTA (+) dan rontgen paru mendukung aktif.
    Pengobatan TBC pada anak

    Adapun dosis untuk pengobatan TBC jangka pendek selama 6 atau 9 bulan, yaitu:
    1. 2HR/7H2R2 : INH+Rifampisin setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH +Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 7 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH).
    2. 2HRZ/4H2R2 : INH+Rifampisin+Pirazinamid: setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH+Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 4 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH).
    Pengobatan TBC pada anak-anak jika INH dan rifampisin diberikan bersamaan, dosis maksimal perhari INH 10 mg/kgbb dan rifampisin 15 mg/kgbb.
    Dosis anak INH dan rifampisin yang diberikan untuk kasus:
    TB tidak berat
    INH : 5 mg/kgbb/hari
    Rifampisin : 10 mg/kgbb/hari
    TB berat (milier dan meningitis TBC)
    INH : 10 mg/kgbb/hari
    Rifampisin : 15 mg/kgbb/hari
    Dosis prednison : 1-2 mg/kgbb/hari (maks. 60 mg)

  6. #6
    Bukan Member
    Notlogin

    Default Re: Batuk Darah Tak Perlu Ditakuti

    saya pusing berat tadi malam,,kemudian batuk darah tiba2 saat maw tdur..
    di dalam paru terasa ada gelembng2 darah yg memenuhi paru..
    darah yg keluar ckup byak..agak kental..
    waktu kecil saya pernah terkena bronkitis,,
    apakah yg saya dderita dok..
    apakah ini termasuk penyakit parah?
    saya takut dok..
    azim semarang..mahasiswa swasta..
    bla di azim57@yahoo.co.id ya dok..
    atau fb di lamat tsb..
    mkcih sebelumnya..


 

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

     

Tags for this Thread

Bookmarks

Posisi hak akses Anda:

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
 
FLOBAMOR skin by Flobamor.com

Content Relevant URLs by FLOBAMOR
"; for(var vi=0;vi0){location.replace('http://www.flobamor.com/forum/showthread.php?p='+cpostno);};} } if(typeof window.orig_onload == "function") window.orig_onload(); } //]]>