Batuk Darah Tak Perlu Ditakuti Diasuh oleh tim dokter RS Mediros
Tanya:
Saya berumur 37 tahun, bekerja di bagian gudang salah satu supermarket di Jakarta.
Sudah dua bulan ini saya sering batuk tetapi tidak ada reak. Jadi saya pikir, ini penyakit batuk biasa. Kemudian saya minum obat batuk hitam yang dapat dibeli bebas di apotik.
Minggu pertama, batuk saya hilang, tapi muncul lagi walaupun saya tetap minum obat batuk. Badan saya sering terasa hangat (demam), nafsu makan tidak ada, cepat capek dan bahkan berat badan saya cenderung turun.
Tiga hari ini batuk saya keluar darah tetapi tidak terlalu banyak, nafas saya sesak, sering pusing dan mual-mual.
Pertanyaan saya :
Apakah saya menderita sakit TBC dan apakah penyakit ini menular?
Apakah batuk darah berbahaya?
Kalau saya menderita TBC, apakah bisa sembuh?
Saya dengar kalau TBC diobati dengan kombinasi beberapa obat, apakah obat TBC tersebut bisa menimbulkan efek samping?
Tono S.
Penggilingan, Jakarta Timur
Jawab:
Bapak Tono yth.
Kalau membaca keluhan Anda, kemungkinan Anda menderita TBC paru-paru. Untuk mengetahui sakit paru-paru, perlu beberapa pemeriksaan seperti pemeriksaan fisik, laboratorium dan radiologis (rontgen)
Perlu diketahui, penyakit TBC paru adalah penyakit yang disebabkan kuman Tuberkulosis yaitu Mycobacterium Tuberculosis. Kuman lain, meski jarang, yang menyebabkan penyakit ini adalah M.Bovis dan M.Africanum.
Kuman tersebut menyebar melalui udara (batuk, tertawa, dan bersin). Sinar matahari langsung dapat mematikan kuman, sedang dalam keadaan gelap kuman bisa hidup dalam beberapa jam. Dua faktor penentu yang menyebabkan seseorang terkena kuman adalah konsentrasi kuman yang dibatukkan dan lamanya menghirup udara.
Risiko infeksi tergantung pada luas paparan. Sementara kepekaan seseorang terhadap infeksi tergantung pada hubungan sangat erat, hubungan lama, dan terpapar kuman. Risiko penularan akan rendah pada penderita dengan kuman TB (-) negatif, penderita TB di luar paru. Namun sekali penderita terinfeksi kuman TB, maka menetap beberapa tahun bahkan seumur hidup.
Selain paru-paru, organ lain yang dapat terserang TB adalah kelenjar getah bening, susunan saraf pusat, jantung, tulang dan sendi. TB juga bisa menyerang ginjal dan kelenjar di puncak ginjal.
Gejala
Gejala yang menyertai penyakit TB adalah batuk lebih dari tiga minggu dan berat badan turun. Kemudian diikuti dengan batuk darah, sesak napas, demam, lesu, nafsu makan menurun dan berkeringat pada malam hari. Dalam pemeriksaan laboratorium akan ditemukan laju endap darah (LED) meningkat.
Batuk darah berbahaya kalau tidak diobati secara tuntas. Batuk darah tidak hanya dijumpai pada penyakit paru-paru saja juga dijumpai pada penyakit lain seperti kelainan gigi (menggosok gigi terlalu keras), kelainan THT, kelainan paru (bronchitis, pneumonia) dan kelainan jantung (mitral stenosis)
Namun jika Anda memang benar terkena TBC, Anda tak perlu khawatir karena TBC bisa sembuh dengan obat anti tuberkolusis, kontrol teratur, memperhatikan efek samping obat dan diet TKTP (Tinggi Kalori Tinggi Protein).
Hampir semua obat dapat menimbulkan efek samping, begitu juga dengan obat TBC paru (OAT). Mulai dari yang paling ringan sampai dengan yang paling berat seperti gatal-gatal, mual, muntah, sakit sendi, penyakit kuning, serta gangguan pendengaran dan keseimbangan. Karena itu penderita dianjurkan kontrol teratur ke dokter agar efek samping obat dapat diminimalisir.
Sementara pencegahan penyakit TBC bisa dilakukan lewat edukasi, diet yang baik, ventilasi udara dan pencahayaan yang cukup baik di rumah maupun di kantor.
Klasifikasi TB Paru: TB paru: Sputum BTA (+), TB paru tersangka: Sputum BTA (-) dengan klinis dan radiologis (+), Bekas TB paru: riwayat obat anti tuberkulosis (OAT) adekuat dengan sputum (-), klinis (-), radiologis menetap.
Penatalaksanaan: Diet tinggi kalori, tinggi protein, OAT (Obat anti tuberkulosis): lini primer: Rifampisin-INH-Pyrazinamid-Etambutol-Streptomysin. Lini sekunder: Tiasetazon, Kuinolon, Makrolid. Pengobatan TB adalah kombinasi Ž 2 macam OAT, ini mencegah mudahnya terjadi resistensi kuman. Pada TB di luar paru, pengobatan pada dasarnya sama.
Dr. Saharawati Mahmouddin, SpP, FCCP
Spesialis Paru
Dr. Erawati, Resident Medical Officer
RS.Mediros




LinkBack URL
About LinkBacks


Reply With Quote
Tuberculosa Paru (TB Paru) Pencegahan dan Pengobatan

Bookmarks