Lebih satu tahun penulis mengikuti dan memperhatikan berbagai berita tentang perkembangan lahan wisata terbesar di kawasan Asia Tenggara ini, tepatnya di wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Peninggalan purbakala yang maha luas dan amat megah itu tampaknya nyaris tak dikenali tentang jatidirinya sehingga menjadi teka-teki misteri sejak di era penjajahan kerajaan Nederland/ Belanda sampai memasuki masa kemerdekaan di bawah pemerintahan Presiden Sukarno dan Presiden Megawati Sukarno Putri sekarang ini, tetap terkunci dengan rapi.

Karena itulah sejarah serta peninggalan-peninggalan Majapahit masih terus dilacak dan digali oleh para pakar-pakar sejarah maupun para arkeologi baik dari dalam maupun luar negeri. Sehingga pada tahun 2002 yang baru lalu bahkan sampai tahun 2003 ini masih lahir berbagai pertanyaan-pertanyaan yang belum pernah terjawab oleh pihak-pihak yang berwenang, seperti pertanyaan dari para peserta Rally Wisata Bhayangkara Mojokerto yang heran mengapa di Taman Wisata Purbakala Majapahit yang amat indah ini sepi pengunjung, apa kurang diinformasikan … ? (Radar Mojo Edisi 24 Juni 2002); dalam masalah ini juga ada kritik dan saran dari Bpk. Bupati Mojokerto Drs. Achmady Msi, MM. untuk meningkatkan sektor wisata Majapahit, beliau mengharapkan agar semua pihak selalu memperhatikan beberapa fasilitas supaya tatap tampak terawat, terpelihara dan selalu diperbaharui. (Radar Mojo edisi 29 Juli 2002).

Mungkin juga banyak para wisatawan yang beranggapan sama seperti anggapan Bpk. Ir. Sriyono Kasubdin Humas Kab. Mojokerto yang menurut beliau peninggalan-peninggalan serta sejarah Majapahit itu masih penuh dengan berbagai misteri bahkan menakutkan…? (Radar Mojo edisi 4 September 2003); itulah sebabnya penting sekali pelurusan kembali sejarah Majapahit seperti gagasan Bpk. Drs. Bambang Sutiyono Waka Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto dalam program Mulok atau muatan lokal. (Radar Mojo edisi 16 September 2002); Sebab kenyataannya situs-situs peninggalan Majapahit sampai saat ini sebenarnya masih terus diburu bukan saja oleh para pencari wahyu, tetapi juga diserbu anak-anak ya adik-adik kita para siswa-siswi dari berbagai penjuru daerah bahkan dari segala ragam etnis membaur jadi satu dengan tujuan yang sama yaitu ingin tahu apa sebenarnya makna semua peninggalan-peninggalan Majapahit itu, seperti pada saat rombongan mereka secara berduyun-duyun mengunjungi petilasan yang disebut sebagai Sitiinggil baru-baru ini. (Radar Mojo edisi 17 Januari 2003); Demikian pula kita sangat memperhatikan dan mengaminkan himbauan bung Cholliq Baya kepada Pemerintah Kabupaten Mojokerto tentang penanganan situs-situs peninggalan Majapahit supaya dapat terealita secara transparan sehingga dapat disiarkan dan dipasarkan ke seluruh pelosok tanah air sampai ke segenap penjuru dunia.
Untuk masalah itu bung Cholliq bersemboyan bahawa “BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG DAPAT MENGHARGAI SEJARAH BANGSANYA”. (Radar Mojo edisi 18 Mei 2003); Lebih unik lagi hal wisata ini sampai dibawa ke alam mimpi oleh Bpk. H. M. Arief Syaifudin, Beliau membayangkan betapa indah serta semaraknya kota Mojokerto kelak seandainya semua lahan wisata terutama situs-situs Majapahit menjadi benar-benar kembali bangkit, pasti akan lebih menarik bagi para turis-turis baik yang domistik terlebih lagi turis-turis asing, mungkin meriahnya tak mau lagi kalah dengan wisata pulau Bali. (Radar Mojo edisi 21 Juli 2003); Namun sayang seribu sayang, mimpi indah tersebut tampaknya kembali pupus setelah selang baru sembilan hari muncul lagi berita sedih tentang nasib dari lahan pariwisata wilayah Kabupaten Mojokerto yang diprediksi semakin pemprihatinkan di masa depannya, mungkin termasuk lahan pariwisata purbakala Majapahit yang semakin terpuruk; demikian penilaian Bpk. Drs. Risdy Hariantoko Kabag, Perekonomian Kabupaten Mojokerto. (Radar Mojo edisi 30 Juli 2003).

Nah begitulah sekilas gambaran satu tahun didalam pasang surutnya harapan kita tentang teka teki misteri ……. harta karun Majapahit yang tetap tak terungkit, dan tak terjawab. Padahal (maaf) menurut hemat penulis, di era reformasi dan globalisasi seperti sekarang ini, baik peninggalan yang berupa bangunan-bangunan sakral maupun yang berwujud sejarah-sejarah ya kisah-kisah akbar dari Kerajaan Majapahit itu sudah kian berubah dan tidak selalu menjadi teka-teki misteri seperti selama ini.
Mengapa demikian…, sebab bukankah almarhum Bpk. Prof. Mr. Moh. Yamin, SH. yang pakar sejarah nasional kita sudah pernah menulis bahwa nama Majapahit mengandung arti kiasan, yaitu melambangkan pait getirnya suatu perjuangan. Tetapi sayang sekali tidak dijelaskan oleh almarhum tentang siapa yang berjuang dan untuk siapa perjuangan tersebut dipersembahkan.
Namun begitu, pesan tersebut sudah dapat kita pakai sebagai landasan berpijak untuk menebak teka-teki misteri Majapahit menjadi transparan, menjadi terang seterang lambang-lambang atau kiasan-kiasan ya sandi-sandi nama dari rajanya yaitu Jejaka “Damar Wulan”.

Arti Damar menurut leluhur masyarakat Mojokerto tempo dulu adalah alat penerang, suatu contoh ada yang disebut sebagai damar ublik, yang artinya ialah alat untuk menerangi kamar-kamar kecil atau bilik-bilik, ada lagi damar gantung, artinya alat untuk menerangi ruang-ruang besar seperti ruang tamu atau balairung dan seterusnya. Adapun arti Wulan sama dengan Rembulan, yang selalu diterangi memakai sinar bulan pada umumnya adalah jagad-raya atau dunia yang lagi mengalami kegelapan; jadi arti sebenarnya nama sandi Damar Wulan itu adalah sang Terang Dunia.

Di kalangan masyarakat kita yang majemuk alias campursari seperti sekarang ini sudah tidak asing lagi dengan sebutan nama Sang Terang Dunia itu, Dia adalah “Masihu Isabnu Maryama” ya Isa Almasih putra Maryam atau Yesus Kristus putra Bunda Maria. Sekarang yang menjadi teka-teki misteri dan harus dapat ditebak ialah mengapa kisah akbar Yesus Kristus sang Damar Wulan tersebut dapat tersebar luas dan berkembang subur di tengah-tengah masyarakat Mojokerto sejak jaman purbakala sampai saat ini? Soal inipun tidak sulit untuk menebaknya, sebab penulis pernah mendengar langsung dari almarhum buyut Supiati Sunandar Sastro Saputro seorang sesepuh dukuh Banong, desa Gerbangsari, kecamatan Jatirejo Mojokerto, beliau menerangkan bahwa peninggalan Majapahit itu sebenarnya yang menyolok hanyalah berupa pintu-pintu gapura mini yang tak terhitung banyaknya, sebab selalu dibangun pada tiap-tiap jalan masuk ke halaman-halaman milik warga Mojokerto secara umum, juga dibangun pada setiap jalan masuk ke halaman gedung-gedung pemerintahan, bahkan selalu dipajang pada tiap-tiap ujung jalan masuk ke perkotaan, ke kampung-kampung sampai ke pelosok-pelosok pedesaan secara turun temurun.

Gapura-gapura mini tersebut dibuat dari susunan batu-batu bata dengan bentuk yang sama, yaitu sebagian dibuat ala Adipura Majapahit bagian barat yang bernama “Ringin Lawang” yang wujudnya memang dibuat seperti tonggak pohon beringin dibelah menjadi dua sama besar, direnggangkan sebagai ambang pintunya. Dan yang sebagian lagi dibuat seperti Adipura Majapahit bagian timur yang disebut sebagai ‘Jawi-jawi” atau “Jati”, bentuknya juga menyerupai Tonggak Jati yang pada setiap sudut-sudutnya sudah tampak keluar tunas-tunas atau Terik-Teriknya.

Kedua adipura Majapahit tersebut terletak di wilayah kecamatan Trowulan, desa Jatipasar dan di wilayah kecamatan Prigen Pasuruan Jawa Timur. Dan satu lagi yang amat penting untuk diketahui yakni menurut almarhum Buyut Supiati pula, masyarakat Mojokerto dan sekitarnya sejak tempo dulu memberi nama pada semua pintu-pintu tersebut sebagai pintu “GEREJA”. Nah dengan demikian terjawablah sudah mengapa sejarah Yesus Kristus dapat tersiar di wilayah Mojokerto dan sekitarnya sejak dulu sampai sekarang.

Lalu mengapa Gereja Purbakala Majapahit memakai nama kiasan atau ama sandi berbentuk Tonggak Beringin dan Tonggak Jawi-jawi (Jati)? Tampaknya memang dari kedua tonggak itulah yang merupakan tonggak sejarah tentang perikehidupan Yesus Kristus sang Damar Wulan disebar luaskan bahkan diperagakan sebagai sandi-sandi Sastra Wulan yang biasa disingkat menjadi sandi-sandi “Trowulan”.
Kumpulan sandi-sandi Trowulan merupakan ciplikan-cuplikan dari Kitab Suci Gereja Purbakala, betapa tidak, bukankah kedua Gereja Agung Majapahit yang berbentuk Tonggak Beringin dan Tonggak Jawi-jawi itu menyimpan nubuat nabi Yesaya yang menyatakan bahawa dari tonggak beringin dan tonggak pohon jawi-jawi akan terbit tunas (TERIK) yang suci, yang memiliki berbagai sebutan seperti : Penasehat ajaib, Gembala yang baik, Raja Damai, Raja di atas segala raja-raja, Sang Hidup ya sang Wijaya dan lain-lainnya. Itulah sebabnya jika leluhur kita masyarakat Mojokerto tempo dulu ada yang mengatakan bahwa sang Wijaya berasal dari TERIK sangatlah benar, yaitu dari Terik/ Tunas Tonggak Jawi-jawi tersebut.

Yang paling akhir masih ada satu teka-teki misteri, yaitu sebutan bagi Yesus Kristus ya sang Hidup (Wijaya) sebagai Raja Majapahit, apakah artinya Majapahit sebenarnya? Gelar sebagai sang Majapahit bagi Yesus Kristus adalah sangat tepat dan pas sekali, sebeb bukankah di kalangan umat gereja selalu menyebut Yesus Kristus adalah sang Putra Kesengsaraan (Putra Allah yang sengsara sebab dosa-dosa seisi dunia). Sebutan yang terakhir inilah jika kita pinjam bahasa pewayangan purbakala ya Wayang Purwo yang asli dari Mojokerto yaitu wayang cék dong Jawa Timuran, maka nama tersebut akan berubah menjadi sang AtMajapahit; Atmojo adalah buah keturunan, atau buah hati ya buah kasih, yaitu Anak atau sang Putra panggilan bagi keluarga raja-raja; adapun Pait adalah kiasan ya lambang kesengsaraan, jadi arti komplit AtMajapahit adalah Putra Kesengsaraan yaitu Yesus Kristus san Terang dunia atau Damar Wulan.

Sebutan AtMajapahit juga sering disingkat menjadi Majapahit sama seperti sebutan atmojo putri disingkat menjadi mojoputri, dan seterusnya.

Nah sampai disini dulu jawaban kita tentang teka-teki misteri Majapahit yang selama ini belum pernah muncul di atas permukaan media cetak. Semoga dengan munculnya Gereja Purbakala ini genaplah sudah wisata Rohani di Nusantara ini, yaitu Candi Borobudur (Budha) Candi Prambanan (Hindu), Masjid Demak (Islam) dan Gereja Majapahit (Kristen).
Jatirejo-Mojokerto, 1 Desember 2003
S.H. Putra Timur


Catatan Redaksi :
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca, dan cukup menarik. Namun demikian Redaksi membutuhkan masukan-masukan yang lebih dalam untuk menguji teori tersebut diatas.
URL: http://ob.or.id/modules.php?name=New...rticle&sid=381

Dari Obor Indonesia