All the best FLOBAMOR...

Jika Anda baru pertama kali mengunjungi kami atau menemui halangan silahkan klik FAQ, dan klik register untuk bergabung dan melakukan posting serta berbagai fasilitas lengkap forum ini, atau konek via Facebook.


+ Reply to Thread
Showing results 1 to 2 of 2
  1. #1
    Member siska is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Oct 2006
    Kiriman
    346
    Rep Power
    6

    Default Gempa Dan Tsunami Dari 1556-2006 (I)

    Gempa Dan Tsunami Dari 1556-2006 (I)


    Tsunami adalah istilah Jepang yang berarti ombak besar di pelabuhan. Ombak itu datang setelah terjadi gempa bumi dalam laut, tanah runtuh, aktivitas gunung berapi atau hantaman meteor. Berikut ini gempa bumi dahsyat dan gelombang Tsunami, intensitas, lokasi, dan jumlah korban tewas yang terjadi tahun 1556 hingga 2006:
    23 Januari 1556
    Gempa setara 8 Skala Richter terjadi di Cina menewaskan 830.000 jiwa.
    28 Februari 1755
    Gempa besar terjadi di Iran, namun tidak diperoleh informasi seberapa besar kekuatannya hanya tercatat jumlah korban tewas sebanyak 200.000 orang.
    Tahun 1775
    Gempa mengguncang Lisabon. Pusat gempa di perairan Atlantik Utara, menyebabkan gelombang tsunami setinggi tujuh meter yang menghantam Portugal, Spanyol dan Afrika Utara, menyebabkan 60.000 korban jiwa.
    10 April 1815
    Gunung Tambora yang berada di Pulau Sumbawa, NTB meletus. Letusannya setara dengan enam juta kali kekuatan bom atom. Selain menelan 100.000-an korban jiwa, semburan asapnya juga mencapai ketinggian 44 kilo meter dan mengakibatkan gelombang tsunami setinggi empat meter. Gelap gulita selama tiga hari akibat pekatnya debu terjadi dalam radius 600 kilo meter dari pusat letusan. Sementara itu, di bumi belahan utara, suhu turun hingga 0,7 derajat Celcius. Penduduk Eropa dan Amerika Utara pun harus merelakan satu musim panas di tahun itu. Perubahan cuaca yang drastis ini menyebabkan penyebaran wabah penyakit dan kelaparan akibat gagal panen di seluruh dunia.
    27 Agustus 1883
    Meletusnya Gunung Krakatau, gunung api bawah laut di Selat Sunda. Aktivitas gunung diawali 20 Mei 1883 berupa semburan abu dan uap setinggi 11 km dan suaranya terdengar sejauh 200 km. Puncaknya pada 27/8/1883 yang dentumannya terdengar hingga Singapura dan Australia. Erupsi menyemburkan batu apung dan abu setinggi 70-80 km, yang endapannya menempati area 827.000 km persegi. Runtuhan gunung api ini menimbulkan tsunami setinggi 20 m. Gelombang pasang itu menyebar hingga 120 km dari pusat letusan, diperkirakan sedikitnya 36.417 jiwa lenyap dan desa-desa di kepulauan sekitarnya musnah binasa.
    31 Januari 1906
    Gempa di Ekuador berkekuatan 8,8 Skala Richter di dekat pantai Ekuador dan Kolombia, memicu gelombang tsunami besar yang menewaskan 1.000 orang. Getaran gempa terasa sampai di seluruh pesisir pantai di Amerika Tengah, San Francisco dan Jepang.
    20 Mei 1919
    Gunung Kelud di Blitar, Jawa Timur, meletus pada tangah malam. Lima ribu orang menjadi korban karena tidak sempat menyelamatkan diri dari timpaan hujan batu dan terjangan lahar. Bencana tersebut memberi pelajaran bagi pemerintah untuk mengurangi volume air yang ada di danau kawah. Empat tahun kemudian dibangun terowongan dari kawah menuju barat untuk mengalirkan air ke Kali Badak. Enam belas tahun lalu, tepatnya 10 Februari 1990, Gunung Kelud kembali meletus. Sebanyak 34 jiwa melayang akibat ambruknya atap tempat pengungsian, buka karena imbas ledakan.


    Ilustrasi terjadinya gelombang tsunami


    3 Februari 1923
    Kamchatka, Rusia dilanda gempa berkekuatan 8,5 SR
    1 September 1923
    Gempa berkekuatan 8,3 Skala Richter terjadi di Tokyo, Jepang, menewaskan sekurangnya 140.000 jiwa.
    1 Februari 1938
    Gempa berkekuatan 8,5 Skala Richter terjadi di Laut Banda, Indonesia, memicu gelombang tsunami yang menyebabkan kerusakan di Banda dan Kai.
    15 Agustus 1950
    Tibet/India dilanda gempa berkekuatan 8,6 SR, dua ribu rumah, candi dan mesjid hancur sekurangnya 1.500 orang tewas.
    4 November 1952
    Gempa 9 Skala Richer terjadi di timur semenanjung Kamchatka, Rusia, memicu gelombang tsunami di Hawai.
    9 Maret 1957
    Gempa berkekuatan 9,1 Skala Richter terjadi di Alaska. Gunung Vsevidof di pulau Umnak, kepulauan Andreinof meletus --setelah tidur 200 tahun-- menimbulkan gelombang tsunami setinggi 15 meter yang sampai ke Hawai.
    22 Mei 1960
    Gempa terbesar yang tercatat dalam sejarah sebesar 9,5 Skala Richter terjadi di Chile. Menghancurkan Santiago dan Cencepcion. Gempa ini memicu gelombang tsunami dan letusan gunung berapi, sekitar 5.000 orang tewas dan dua juta orang kehilangan rumah.
    Tahun 1963
    Gempa di Kepulauan Kuril setara dengan 8,5 Skala Richter
    4 Februari 1964
    Gempa di Alaska berkekuatan 8,7 SR memicu gelombang tsunami setinggi 10,7 meter di pulau Shemya.
    28 Maret 1964
    Gempa berkekuatan 9,2 SR terjadi di Prince Silliam Sound, Alaska, merenggut 125 nyawa dan menimbulkan kerugian 311 juta dolar AS. Gempa dirasakan mulai daerah Alaska, daerah barat Yukon dan British Columbia, Kanada.
    Tahun 1965
    Gempa terjadi di di Alaska dengan kekuatan 8,7 Skala Richter
    28 Juli 1976
    Wilayah Tangshan, Cina diguncang gempa berkekuatan 7,8 hingga 8,2 Skala Richer menewaskan 240.000 jiwa.

  2. #2
    Member siska is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Oct 2006
    Kiriman
    346
    Rep Power
    6

    Default Gempa Dan Tsunami Dari 1556-2006 (II)

    Gempa Dan Tsunami Dari 1556-2006 (II)


    Tsunami adalah istilah Jepang yang berarti ombak besar di pelabuhan. Ombak itu datang setelah terjadi gempa bumi dalam laut, tanah runtuh, aktivitas gunung berapi atau hantaman meteor. Berikut ini gempa bumi dahsyat dan gelombang Tsunami, intensitas, lokasi, dan jumlah korban tewas yang terjadi setelah Tahun 2000:
    4 Mei 2000
    Gempa bumi berkekuatan 6,5 Skala Richter (SR) terjadi di Sulawesi Tengah, Indonesia, mengakibatkan 386 korban tewas.
    26 Januari 2001
    Gempa bumi 7,9 SR di India menelan korban tewas 24.000 orang.
    23 Januari 2001
    Gempa 7,9 SR terjadi di Andes menelan korban 600 orang.
    5 Maret 2002
    Gempa 7,2 SR terjadi di Afghanistan, dengan korban jiwa 2.000 orang
    22 Juni 2002
    Gempa 6 SR mengguncang Iran mengakibatkan 500 orang meninggal dunia
    24 Februari 2003
    Gempa 7,6 SR melanda China menyebabkan 261 jiwa melayang
    1/5/2003
    Turki diguncang gempa berkekuatan 6,3 SR mengakibatkan 167 jiwa meninggal dunia.
    22 Mei 2003
    Gempa 7,3 SR mengguncang Aljazair menyebabkan korban jiwa 1.500 orang.
    26 Desember 2003
    Kota Bam, Iran diguncang gempa berkekuatan 6,6 SR menyebabkan 41.000 jiwa melayang.
    6 Februari 2004
    Gempa tektonik berkekuatan 6,9 SR mengguncang Kota Nabire, Papua. Jumlah korban tewas hingga (8/2/2004) sebanyak 26 orang. Sebanyak 10 korban luka berat dari ratusan korban dievakuasi ke RSUD Biak untuk mendapat perawatan intensif.
    Diperkirakan total kerugian akibat gempa mencapai Rp360 miliar.
    24 Februari 2004
    Gempa berkekuatan 6,5 SR mengguncang Maroko menyebabkan 564 korban jiwa.
    12 November 2004
    Gempa berkekuatan 6,4 SK di Laut Flores, mengakibatkan 33 penduduk Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur meninggal dunia dan sekitar 2.275 rumah hancur.
    26 November 2004
    Gempa berkekuatan 6,5 Skala Richter di Kabupaten Nabire, Prov. Papua, mengakibatkan 28 orang meninggal dunia, 378 rumah terbakar, 348 roboh dan 1.724 rusak berat.
    26 Desember 2004
    Gempa bumi tektonik berkekuatan 8,5 SR berpusat di Samudra India (2,9 LU dan 95,6 BT di kedalaman 20 km (di laut berjarak sekitar 149 km selatan kota Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam). Gempa itu disertai gelombang pasang (Tsunami) yang menyapu beberapa wilayah lepas pantai di Indonesia (Aceh dan Sumatera Utara), Sri Langka, India, Bangladesh, Malaysia, Maladewa dan Thailand.
    Menurut Koordinator Bantuan Darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jan Egeland, jumlah korban tewas akibat badai tsunami di 13 negara (hingga minggu 2/1) mencapai 127.672 orang. Namun jumlah korban tewas di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Afrika Timur yang sebenarnya tidak akan pernah bisa diketahui, diperkirakan sedikitnya 150.000 orang.
    PBB memperkirakan sebagian besar dari korban tewas tambahan berada di Indonesia. Pasalnya, sebagian besar bantuan kemanusiaan terhambat masuk karena masih banyak daerah yang terisolir.
    Sementara itu data jumlah korban tewas di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara menurut Departemen Sosial RI (11/1/2005) adalah 105.262 orang.
    Sedangkan menurut kantor berita Reuters, jumlah korban Tsunami diperkirakan sebanyak 168.183 jiwa dengan korban paling banyak diderita Indonesia, 115.229 (per Minggu 16/1/2005). Sedangkan total luka-luka sebanyak 124.057 orang, diperkirakan 100.000 diantaranya dialami rakyat Aceh dan Sumatera Utara.
    Data korban Tsunami di NAD dan Sumatera Utara menurut Lembaga Informasi Nasional 21 Januari 2005 sebagai berikut: Jenazah yang dimakamkan 93.482, korban hilang 132.172 orang dan pengungsi 394.285.
    Sementara data dari Departemen Kesehatan per 20 Januari 2005, korban meninggal (NAD) 166.520 jiwa, Sumut 240 jiwa.
    Data Kamis, 3/3/2005 yang diperoleh dari Media Center Departemen Komunikasi & Informatika dan Lembaga Informasi Nasional menyebutkan korban tewas sebanyak 125.000. Sementara jumlah orang hilang (Selasa, 1/3/2005) --diperkirakan sebagian tewas atau berada di pengungsian diluar Aceh-- sebanyak 94.994 orang.
    27 Mei 2006
    Pada pukul 05.53, gempa bumi tektonik berkekuatan 6,2 skala Richter mengguncang DI Yogyakarta dan sekitarnya. Berdasarkan pemantauan dari empat stasiun seismograf di Gunung Merapi oleh Stasiun Geofisika Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) dan laporan dari Global Seismic Network milik Amerika Serikat, gempa tektonik ini tepat terjadi pada pukul 05.53.58, persisnya di koordinat 8,007 Lintang Selatan dan 110,286 Bujur Timur dengan kemiringan 87 dan pergeseran 3 , pada garis lurus pada kedalaman 33 kilo meter di bawah permukaan tanah, yang berjarak kurang dari 35 km dari Yogyakarta persis di bibir pantai. Sedangkan menurut United States Geological Survey (USGS), lembaga survei yang memiliki peralatan serba canggih, menyatakan pusat gempa terjadi di daratan di kedalaman 35 km dan berkekuatan 6,2 Mw (moment magnitude).
    Rambatan gempa gempa berasal dari pergeseran patahan berupa gerakan berlawanan dari sekitar Pantai Depok, membujur ke arah timur laut melewati Gading Kauman, Tirtoharjo, Kaliwening, Ngambangan, Cangkiring, hingga Gondowulung di Plered, Bantul.
    Gempa ini tergolong gempa bumi merusak dengan skala kerusakan 7 Mmi (modified mercally intensity). Kerusakan mutlak apabila skala mencapai angka absolut 12 Mmi. Skala Mmi dikembangkan oleh ahli seismologi Amerika Serikat, Harry Wood dan Frank Neumann. Orang baru mulai mengenal skala Richter yang dikembangkan oleh ilmuwan dari California Institute of Technology, Charles F Richter, pada tahun 1935. Dalam skala ini magnitude 5,3 SR masuk tingkatan gempa bumi yang moderat, sedangkan gempa besar tingkatannya mulai 6,3 SR ke atas.
    Menurut analisis Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, gempa bumi di Bantul disebabkan reaktivasi sesar. Peristiwa alam ini merupakan pergeseran antara dua sesar atau patahan pada lempeng (palte) Eurasia. Pergeseran sesar aktif akibat desakan lempeng Indo-Australia terhadap Eurasia ini menimbulkan gelombang gempa mendatar.
    Kabupaten Bantul merupakan pusat kerusakan karena dekat dengan sumber gempa bumi dan substan lapisan di bawah daratan Bantul merupakan lapisan aluvial pantai, endapan batu gamping, dan endapan letusan gunung api yang bersifat memperbesar efek guncangan gempa. Daya rusak gempa ini meluas karena garis reaktivasi sesar memanjang dari Bantul ke arah Klaten, bahkan gedorannya sampai ke Solo.
    Kerusakan di tiap daerah berbeda, karena kondisi bangunan, perbedaan struktur tanah, dan letak bangunan terhadap jalur sesar. Kebanyakan bangunan yang remuk, rata dengan tanah, terjadi karena konstruksinya tidak tahan dengan gempa.
    Gempa ini sempat teredam lapisan pasir yang tebal di sepanjang 'gumuk' (bukit pasir) Pantai Selatan, Bantul, DI Yogyakarta. Karena itu, kerusakan di daerah pantai lebih ringan dibandingkan dengan daerah Bantul tengah dan utara yang struktur tanahnya mengandung lempung.
    Disamping bangunan tempat tinggal yang mengalami kerusakan, beberapa situs yang berada di wilayah DIY dan sekitarnya juga mengalami kerusakan yang parah, seperti:
    - Bangsal Traju Mas Keraton Yogyakarta, yaitu salah satu bangsal di dalam Keraton Yogyakarta yang berdiri tahun 1756.
    - Tamansari, yang berarti taman atau kebun yang indah. Dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) I (Pangeran Mangkubumi) pada tahun 1758. Konon juga tampat ini menjadi tempat pembaruan mandat Sultan dalam menjalankan pemerintahannya.
    - Makam Imogiri, merupakan kompleks makam bagi raja-raja Mataram dan keluarganya. Didirikan oleh Sultan Agung pada tahun 1632-1640 M.
    - Candi Prambanan, dibangun pada masa kejayaan Mataram Hindu abad ke-9. Candi ini memiliki nama lain yaitu Candi Loro Jonggrang.
    - Candi Ratu Boko, ditemukan tahun 1790 oleh Van Boeckhoeltz, warga Belanda. Belum diketahui kapan pasti berdirinya candi tersebut. Bukti tertua yang ada adalah Prasasti Abhayagiriwihara berangka tahun 792 M.
    - Candi Palosan, merupakan candi Budha yang memiliki dua candi utama berdampingan setinggi 21 meter. Candi Sewu, merupakan peninggalan kebudayaan Buddha kedua terbesar setelah Borobudur. Dibangun sekitar tahun 782 M.
    Dari data historis kegempaan Pulau Jawa, Yogyakarta, telah diguncang sedikitnya empat gempa berkisar 6 skala Richter, yaitu pada tahun 1867, 1937, 1943, dan 1981.
    Berikut kejadian gempa yang pernah terjadi di Pulau Jawa:
    - 1840 Beberapa bangunan rusak
    - 1852 Beberapa bangunan dan rumah penduduk rusak
    - 1863 Kerusakan bangunan dan rumah penduduk serta 1 pabrik gula
    - 10 Juni 1867 Sedikitnya 372 rumah roboh dan lima orang meninggal. Gempa yang getarannya terasa hingga Surakarta, Jawa Tengah. Kejadian ini menyebabkan runtuhnya tugu Keraton Yogyakarta dan sejumlah bangunan Tamansari. Kediaman residen Belanda (Gedung Agung) juga turut ambruk
    - 1871 Bangunan pemerintah dan rumah penduduk retak
    - 1872 Bangunan retak-retak
    - 1916 Sekitar 740 rumah roboh, beberapa sekolah rusak
    - 1923 Beberapa bangunan rusak
    - 1926 Beberapa orang luka-luka
    - 23 Juli 1943 mengakibatkan 213 orang meninggal, 2.096 orang luka-luka, dan 2.800 rumah hancur.Gempa yang berpusat di 8,6 LS dan 109,9 BT di Samudera Hindia, getarannya terasa dari Garut hingga Surakarta.
    - 14 Maret 1981 Terjadi gempa berkekuatan 6 SR di Selatan Yogyakarta pada jarak 150 km di kedalaman 33 km dari permukaan laut. Gempa ini berpusat pada 7,2 ? LS dan 109,3 ? BT itu meretakkan dinding Hotel Ambarukmo.
    - 9 Juni 1992 Gempa tektonik berkekuatan 6,5 SR terjadi pada pukul 07.31 WIB dengan kedalaman 106 km. Kejadian ini berlangsung selama satu menit dan getarannya terasa di daerah Yogyakarta, Semarang, Solo, dan Magelang.
    - 25 Mei 2001 Gempa tektonik berkekuatan 6,2 SR mengguncang Semarang, Kudus, Surakarta, Magelang, dan Yogyakarta pukul 12.10 WIB. BMG menyebutkan, pusat gempa berada di Samudera Hindia, 95 km arah selatan Yogyakarta, atau 8,62 ? LS dan 110,11 ? BT. Beberapa bangunan di Bantul mengalami keretakan.
    - 19 Agustus 2004 Gempa tektonik berkekuatan 6,3 SR mengguncang wilayah Yogyakarta pukul 13.33 WIB. Pusat gempa berada di Samudera Hindia sekitar 150 km selatan Kota Yogyakarta. Kedalaman pusat gempa 55 km dari permukaan tanah dengan posisi 9,22 LS dan 109,58 BT.
    - 19 Juli 2005 Gempa tektonik berkekuatan 5,5 SR mengguncang DI Yogyakarta pukul 19.21 WIB. Pusat gempa di kedalaman 33 km dengan jarak 220 km di selatan Yogyakarta, di Samudera Indonesia. Gempa ini akibat pergeseran lempeng tektonik Indo-Australia dan Eruasia itu hanya berlangsung sekitar lima detik dan tidak menimbulkan kerusakan.
    Gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah ini merupakan gempa terbesar dalam kurun waktu 18 bulan, setelah gempa tektonik berkekuatan 8,5 SR yang terjadi di Nangroe Aceh Darussalam yang mengakibatkan gelombang tsunami dan menelan korban ratusan ribu jiwa pada 26 Desember 2004.
    Gempa susulan berkekuatan 3,8 SR mengguncang DIY pada Kamis sekitar pukul 11.44 membuat panik warga masyarakat khususnya di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul.. Pusat gempa berada di daratan di wilayah Kabupaten Bantul dengan kedalaman 15 km dari permukaan daratan. Menurut Kasi Data dan Informasi Stasiun Geofisika, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Yogyakarta, Tiar Prasetyo, Kamis, beberapa menit sebelumnya juga terjadi gempa susulan berkekuatan 2,9 SR, dan sejak pukul 06.00 - 11.55 WIB sudah terjadi 9 kali gempa susulan.
    Berdasarkan data 1 Juni 2006, tercatat Korban meninggal mencapai 6.234 jiwa. Luka berat mencapai 33.000 jiwa. Luka ringan mencapai 13.000 jiwa. Bangunan yang rusak mencapai 233.232 rumah.
    Pemerintah, Senin 5 Juni 2006, mengeluarkan angka resmi baru mengenai jumlah korban tewas dalam bencana gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Jumlah korban itu mengalami penurunan dari data sebelumnya menjadi 5.782 orang setelah tim verifikasi melakukan pendataan jumlah korban meninggal dunia di sejumlah daerah gempa. Pekan lalu Departemen Sosial mengeluarkan data korban tewas dalam gempa 27 Mei itu yang mencapai 6.234 orang. Sementara itu, Depsos juga melakukan revisi terhadap data korban luka-luka dari sekitar 46.000 orang menjadi 36.300 orang.
    17 Juli 2006
    Gempa melanda pantai selatan Pulau Jawa pada Senin (17/07) dan membuat air laut surut hingga satu meter selama sekitar tujuh menit, sekitar 20 menit sejak gempa tersebut terjadilah tsunami setinggi tiga hingga empat meter dan sampai ke darat bahkan ada yang mencapai enam meter.
    Berdasarkan data United States Survey Geological (USGS) gempa terjadi Senin pukul 15.19 WIB itu berkekuatan 7,2 Skala Richter (SR) dan lokasi episentrum gempa sendiri berada sekitar 260 km arah selatan Kota Bandung di 9,295 LS dan 107,347 BT dengan kedalamannya 48 kilometer.
    Sementara itu data Kantor Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menyatakan gempa berpusat pada 9,41 Lintang Selatan dan 107,19 Bujur Timur, tepatnya di pantai selatan Jawa, Samudera Hindia berjarak 620 kilometer dari Bandung ke arah Selatan dan berkedalaman 33 kilometer dari permukaan laut dengan kekuatan gempa mencapai 6,8 skala richter.
    Menurut catatan Sekretaris Menko Kesra pada Selasa (18/07), jumlah korban meninggal mencapai 341 orang, sedangkan korban hilang sekitar 229 orang. Korban meninggal terbanyak ada di Jawa Barat yaitu berjumlah 239 orang terdiri atas Ciamis atau Pangandaran sebanyak 182 orang, Tasikmalaya 54 orang dan Banjar tiga orang. Sedangkan Jawa Tengah berjumlah 102 orang yang terdiri dari Cilacap 91 orang, Kebumen tujuh orang dan Gunung Kidul empat orang.


 

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

     

Tags for this Thread

Bookmarks

Posisi hak akses Anda:

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
 
FLOBAMOR skin by Flobamor.com

Content Relevant URLs by FLOBAMOR
"; for(var vi=0;vi0){location.replace('http://www.flobamor.com/forum/showthread.php?p='+cpostno);};} } if(typeof window.orig_onload == "function") window.orig_onload(); } //]]>