Kami semua naik ke truk ketika rembulan pucat mulai menampakkan diri di atas pepohonan. Bising, suara botol dan derum mesin tua menciptakan musik yang janggal. Sambil batuk-batuk, truk tua berwarna biru merayapi jalan berbatu, mirip seperti katak meloncat-loncat. Di sini saya juga tahu, orang muda nggak ada susahnya, hati senang walau perjalanan bikin sengsara. Canda tawa dan senda gurau di atas truk ini bisa membuat kami melupakan sejenak kegalauan akibat guncangan yang sangat tidak nyaman. Penyeberangan ke Semau memakan waktu selama 30 menit. Senja hampir usai ketika kami menyibak di antara sekian perahu bermotor yang tertambat, mencari tempat berlabuh yang nyaman di Pantai Batu, Hansisi. Kami beristirahat sejenak menanti mobil yang akan membawa kami ke arah selatan, sekitar 35 km lagi.

Mobil pick up yang kami pesan, sudah kembali ke Selatan karena sopirnya mengira kami batal pergi. Mobil sudah menanti sejak pukul dua siang tadi dan pada jam lima, sang sopir yang cepat putus asa ini memutuskan untuk kembali dan menganggap kami ingkar janji. Karena di selatan tak ada sinyal seluler maka komunikasi tak mungkin terjadi. Bruder Ino mencoba menghubungi seorang sopir yang sedang memarkir truknya dekat kami. Akhirnya kami diijinkan menumpang ke selatan, ke Uitiuhtuan (Oetefu Besar).

Truk ini hendak mengangkut botol-botol bekas minuman Agua ke Uitiuhtuan. Mungkin untuk bahan pelampung tambatan rumput laut. Sejak Bapak Uskup, dengan kawalan satuan POLAIR mendarat langsung di pantai Oetefu Besar, depan Kapel Santu Petrus, Oktober 2008 yang lalu, konon, ombak yang dulunya ganas kini mulai ramah, dan penduduk setempat menggunakan kesempatan untuk bertani rumput laut. Syukurlah! Tapi, sekarang kami yang kena getahnya, harus rela berbagi tempat, berdesak-desakan dengan botol-botol kosong yang berisik setiap kali kau beringsut sedikit saja.

Kami semua naik ke truk ketika rembulan pucat mulai menampakkan diri di atas pepohonan. Bising, suara botol dan derum mesin tua menciptakan musik yang janggal. Sambil batuk-batuk, truk tua berwarna biru merayapi jalan berbatu, mirip seperti katak meloncat-loncat. Di sini saya juga tahu, orang muda nggak ada susahnya, hati senang walau perjalanan bikin sengsara. Canda tawa dan senda gurau di atas truk ini bisa membuat kami melupakan sejenak kegalauan akibat guncangan yang sangat tidak nyaman.

Malam turun dan rembulan bercahaya lembut. Kami menyusuri belukar Semau menuju pantai selatan. Perjalanan yang begitu melelahkan menyebabkab salah seorang puteri pingsan. Kami mesti mengaso sebentar di rumah penduduk yang untungnya rela memberi tumpangan, membiarkan gadis malang ini kembali siuman dengan hidangan teh panas dan biskuit dari kios setempat. Ban belakang mobil yang sudah meletus dua kali sepanjang perjalanan tadi diperiksa oleh sopir yang langsung mengatakan, “Oke! Mobil akan baik-baik saja karena masih ada dua ban lainnya satu ban di kiri dan satu lagi di kanan”. Dua ban yang sudah kempis dibiarkan saja. Saya pikir, hari itu saya sedang berjumpa dengan sopir yang paling hebat di dunia.

Perjalanan diteruskan ke arah selatan. Beban truk sudah mulai berkurung. Suara bising tadi sudah tak ada. Botol-botol telah diturunkan dan menyisakan ruangan yang luas. Keadaan di atas truk sungguh melegakan. Jalan mulai mulus dan truk yang berjalan dengan dua ban belakang yang kempis kini bisa melesak muslus. Kami tiba di Uitiuhtuan dengan selamat.

Umat stasi Santu Petrus Uitiuhtuan (Oetefubesar) yang sudah berkumpul sejak siang tadi menyambut kami dengan sukacita, sekaligus menghapus kekecewaan ketika terlanjur menduga kami batal pergi. Usai disuguhi makan malam, kami pergi ke pantai, beberapa meter di depan kapel, memasang kemah di sana, menyalakan api unggun dan mulai menikmati keindahan malam pantai Oetefubesar. Deburan ombak dan gemuruh dedahan cemara akibat belaian angin menciptakan musik malam yang anggun.

Dengan dua buah gitar kami duduk mengelilingi api unggun menyanyikan beberapa lagu sambil membakar ubi yang di bawa dari Kupang tadi. Beberapa lelaki mulai menikmati laru khas dari Semau, beberapa jerigen telah dihabiskan hingga satu dua mulai rajin bicara, malah yang sesungguhnya pendiam kini jadi cerewet. Ketika malam hampir suntuk, sebuah salon didatangkan dan hape Nokia Xpress music pun disambung ke salon, menghasilkan bunyi yang memecah keheningan malam. Yang putera terus bergoyang mengikuti alunan musik, lebih disebabkan karena mabuk laru. Yang puteri terus duduk bergerombol, sambil (biasa) ngegosip. Aku menahan dingin malam yang menusuk tulang, terus berbaring menanti terbitnya mentari pagi yang entah kenapa kali ini terasa begitu lambat.

Menjelang subuh kami berangkat ke „Gunung Botak“, sebuah obyek wisata yang menjadi kebanggaan orang-orang Uitiuhtuan. Obyek wisata ini meski tidak dikenal masyarakat Kupang dan sekitarnya, seringkali dikunjungi oleh pelancong dari Australia, dan turis-turis Eropa lainnya, terutama yang nesomanik (pencinta kepulauan). Yang mereka sebut Gunung Botak tak lain dari sebuah bukit yang terbentuk dari semburan lumpur bawah tanah, dengan ketinggian kira-kira 120 m, tepat di tepi hempasan ombak di mulut Selat Pukuafu.
Dari atas Gunung Botak (karena memang gundul tak ditumbuhi pepohonan), mata leluasa melahap keindahan ujung pulau Timor, daratan Semau, kelap-kelip pulau Rote dan hempasan ombak berbuih seperti kapas di pulau Tabui, sebuah pulau kecil tak berpenghuni di depan Gunung Botak. Deburan ombak terasa menenangkan hati. Pasir putih dan air yang jernih membuat mata tak lelah memandang.

Hingga mentari terasa cukup menyengat kami kembali ke kapel sembari berkejaran di hamparan pasir putih menuju kapel. Hari ini ada Misa HR Kemerdekaan sekaligus perpisahan dengan bruder Ino, CSA.

Sekitar 100 orang turut dalam perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Romo Alfon, pastor pembantu pada paroki Oleeta. Anak-anak OMK menyanyikan lagu-lagu yang rupanya telah dipersiapkan dengan sangat baik. Dalam khotbahnya Rm. Alfons menegaskan bahwa kemerdekaan sebagai bangsa tidaklah berarti apa-apa kalau dalam hidup sehari-hari dalam rumah tangga kita masih terjadi penjajahan: penjajahan suami tehadap istri dan penjajahan orang tua terhadap anak-anak. Kemerdekaan yang sejati mesti mewujud dalam kebebasan batin masing-masing individu dalam lingkungan sekitarnya.

Usai perayaan ekaristi, ada sedikit acara yang langsung dipandu oleh Rm Alfons, acara perpisahan dengan bruder yang akan hengkang ke tempat tugas yang baru, Jogjakarta. Br. Ino mengaku sudah jatuh cinta dengan umat Semau namun bagaimana pun juga ia harus tetap mengikuti kehendak Tuhan untuk berkarya di Jogya. Umat di sana pun masih membutuhkan uluran tangannya. Ketua stasi Bapak Melkianus Bela berpesan agar Bruder „setelah sampai di tanah orang jangan lupa dengan orang Semau“. „Mudah-mudahan“, katanya, „suatu saat Bruder kembali bertugas ke Semau“.

Usai makan siang, setelah Romo Alfons mengadakan rapat bersama tokoh umat, kami kembali ke Pantai Batu menanti motor penyeberangan ke Kupang dan balik ke rumah masing-masing.


Umat Semau, selamat merayakan perak kehadiran Maria dan Puteranya di tanah air tercinta!
Bruder Ino, Selamat bertugas, jangan lupa umat dan kenangan manis di Uitiuhtuan, Semau Selatan!