Selasa, 31 Juli 2007 | 06:44 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Perbatasan darat antara Indonesia dan Malaysia, terutama di provinsi Kalimantan Barat terkenal rawan. Di sini banyak aktivitas ilegal seperti penebangan liar, perdagangan ilegal, perdagangan manusia, dan lainnya. "Perbatasan di Kalimantan Barat memang rawan," kata kepala biro humas Departemen Pertahanan Eddy Butar Butar di Pontianak, Selasa (31/7).

Menurut dia, selain maraknya penyelundupan, pertahanan dan keamanan
perbatasan Indonesia juga ikut terancam.

Sebelumnya, Wakil gubernur Kalimantan Barat Lorentius Herman Kadir mengatakan, infrastruktur jalan dan pengawasan di sepanjang perbatasan tidak memadai. "Bom pun kalau mereka bawa tidak bisa kami awasi," ujarnya.

Menurut Kadir dari total perbatasan Kalimantan Barat dan Malaysia sepanjang 966 km, terdapat 60 jalan tikus yang tidak terpantau. Jalan tikus itu menghubungkan desa-desa di Kalimantan Barat dengan Serawak, Malaysia. "Ini bagian dari pertahanan negara yang harus dibenahi," ujarnya.

Selain jalur perbatasan yang rawan itu, Indonesia dan Malaysia juga menyimpan sejumlah masalah perbatasan. Menurut Kadir, ada lima titik yang perlu dapat perhatian, yakni Tanjung Datuk, Gunung Raya, Gunung
Jagoi, Batu Aun, dan titik D400.

Menurut Kadir, di lima titik tersebut masalah pengukuran dan penetapan batas negara tidak mencapai kata sepakat dengan Malaysia. "Pengukuran bersama tidak sesuai dengan perjanjian yang ada," ujarnya.

Kadir meminta pemerintah pusat memberikan perhatian khusus terhadap masalah perbatasan tersebut."Karena ada kewenangan pusat yang tidak didelegasikan ke pemerintah daerah," ujarnya. Dia mengatakan, perlu pembicaran yang intensif untuk memecahkan maslah perbatasan tersebut secara komprehensif.
http://www.tempointeraktif.com/hg/nu...104656,id.html