Lembah Karmel yang teletak di daerah Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, mendadak ramai minggu lalu akibat ada 'rame-rame'. Terlepas dari persoalan sosial dan agama serta poltik dibalik peristiwa itu, lembah ini memang memberikan pemandangan alam yang sangat indah sekali. Di Lembah itu ada sebuah tempat semacam 'pondok' atau biara untuk penganut dan biarawan Katholik. Selain mengajarkan agama, rupanya para biarawan disana mempraktekkan pula penyembuhan altenatif. Yang terakhir inilah yang menarik banyak orang luar datang berkunjung kesana, disamping alamnya yang memang indah untuk beristirahat. Penziarah yang umumnya datang dari kehidupan kota yang penuh kesibukan dan stress, disana memang akan mendapatkan ketenangan karena lingkungannya yang sangat mendukung. Orang sementara akan melupakan semua persoalan hidupnya yang menekan, dan berdoa khusyu di bawah bimbingan para biarawan, bisa jadi itulah faktor yang mempercepat lenyapnya penyakit fisik mereka.
Melihat Kebesaran Tuhan di Lembah Karmel
Oleh
Periksa Ginting
CIANJUR – Sudah lama Paulus Usong mendengar nama Lembah Karmel di Cianjur, Jawa Barat. Tapi warga California, Amerika Serikat, itu selalu saja berhalangan untuk mengunjunginya. Kesibukan sehari-hari yang menuntut perhatian pria yang sudah berusia lebih setengah abad ini selalu menjadi penghalang rasa penasarannya ingin melihat dan merasakan secara langsung suasana di Lembah Karmel.
“Saya mendengar cerita tentang Lembah Karmel dari teman-teman yang pernah berkunjung ke tempat ini. Dan saya sangat ingin mendatanginya dan berdoa di Lembah Karmel. Keinginan itu baru tercapai sekarang,” kata Paulus saat bertemu dengan SH di depan patung Bunda Maria, Lembah Karmel, Jumat (27/7).
Suasana Lembah Karmel di Desa Cikanyere, Kecamatan Cipanas, Cianjur, membuat warga Indonesia yang tinggal di California ini berdecak kagum. Tak henti-hentinya, Paulus Usong memuji kebesaran Tuhan.
Rimbunan pepohonan yang menyatu dengan bangunan bertingkat serta sejumlah patung yang ada di halaman, dan aneka tumbuhan di lahan yang terhampar luas, semuanya memberikan nuansa kehidupan yang tentram dan nyaman.
Lembah Karmel, tempat yang indah dan cantik serta sejuk. Disana ada bangunan Biara Katholik yang menjadi 'core' dari kehidupan di lembah itu
“Siapa pun akan betah berlama-lama di Lembah Karmel. Selain suasananya tenang, udara di daerah ini juga sejuk. Tempat ini membuat kita bisa berdoa secara khusuk dengan bimbingan para suster dan frater,” kata Paulus Usong.
Warga California lain yang memuji kebesaran Tuhan di Lembah Karmel adalah Ny Yanli Wati. Wanita pemilik kulit putih dan berambut lurus ini mengatakan, belum pernah menemukan tempat berdoa seindah Lembah Karmel. Meskipun sudah berulang kali mendatangi tempat ziarah rohani itu, tapi perempuan bertubuh semampai ini tidak pernah merasa bosan.
“Bagi saya Lembah Karmel tidak hanya sebatas tempat berdoa, tapi juga sebagai tempat penyembuhan. Makanya saya bilang sama teman-teman kalau Lembah Karmel adalah Lembah Penyembuhan,”jelas Ny Yanli.
Sudah menjadi kenyataan dalam hidup Ny Yanli. Penyakit bengkok tulang belakang yang pernah dideritanya, sembuh dan tak pernah kambuh lagi setelah berdoa di Lembah Karmel dengan dibimbing seorang frater. “Padahal yang mendoakan saya itu hanya seorang frater, bagaimana kalau seorang romo atau pastor yang mendoakan,”papar Ny Yanli Wati.
Menurut wanita ini, akibat penyakit yang dideritanya sudah banyak biaya yang harus dikeluarkan. Ia sudah mendatangi beberapa dokter, dan tempat berobat lainnya, tapi tak kunjung sembuh. Ny Yanli sempat putus harapan tentang kesembuhannya. Tapi ketika berdoa dengan sungguh-sungguh di Lembah Karmel, penyakit ibu muda ini hilang seketika. Dan sampai saat ini sudah tidak pernah kambuh lagi.
Kehidupan para Frater yang tenang di lembah Karmel. Mereka inilah yang melayani penziarah ruhani yang datang disana, tentu dengan kesederhanaan kehidupan sebuah biara yang jauh dari bau dan irama kehidupan dunia yang materialistik ini
Penyembuhan juga dirasakan Frater Stepanus. Pria ini mengalami gangguan ginjal yang sempat membuatnya sangat menderita. Tapi berkat doa yang sungguh-sungguh dan penyerahan diri secara mutlak kepada Tuhan, penyakitnya hilang. Sampai saat ini tidak pernah sakit atau kambuh.
Suster Lisa Pkarm, pengelola Lembah Karmel kepada SH, membenarkan terjadinya penyembuhan berbagai penyakit di Lembah Karmel. Itu semua atas kehendak Tuhan yang menerima permintaan penderita saat berdoa dengan sungguh-sungguh.
“Jadi penyembuhan berbagai penyakit itu bukan karena kehebatan suster atau frater, tapi atas kehendak Alah yang menerima pertobatan dan doa kita. Tidak hanya penyakit fisik, tapi penyakit batin yang diderita orang-orang yang datang ke sini, terkadang bisa sembuh,”kata suster Lisa.
Tidak heran kalau kemudian setiap minggunya Lembah Karmel selalu dipadati umat Katolik dari berbagai Tanah Air. Terlebih lagi pada minggu kedua dan minggu keempat setiap bulannya, selalu dilaksanakan doa penyembuhan.
“Mulai dari yang kaya maupun yang miskin, bergabung bersama berdoa menyampaikan keinginannya Tuhan. Sebab banyak di antara mereka yang belum mendapat kesembuhan meskipun sudah berobat kemana-mana. Akhirnya mereka dengan sungguh-sungguh memohon kepada Alah untuk kesembuhannya. Pada saat itulah mereka melihat Alah yang sebenarnya. Alah yang bisa melakukan sesuatu, di mana manusia tidak bisa lakukan,”tambahnya.
Kehidupan sehari-hari di Lembah Karmel selalu dipenuhi nuansa rohani. Didukung kesejukan udara dan keheningan alam Desa Cikanyere, kini Lembah Karmel menjadi sebuah oase untuk meninggalkan sejenak segala rutinitas kehidupan. Selain penyembuhan dengan doa, para umat Katolik yang datang ke tempat ini juga bisa konseling dengan frater maupun suster mengenai masalah dunia yang sedang dihadapi. Tempat tersebut menjadi rumah retret (penyegaran rohani).
Menurut Suster Lisa, retret itu bisa dilakukan bersama dengan suster atau frater yang ada di tempat itu, tapi juga bisa dilakukan bersama keluarga. Dan kegiatan seperti itu sering dilakukan oleh umat Katolik di Lembah Karmel. Ada yang datang melakukan retret bersama sejak Kamis hingga Minggu, tapi ada juga yang hanya melakukan retret pada hari Minggu.
Sejak kapankah di Lembah Karmel atau rumah retret di Desa Cikanyere ada kegiatan rohani? Baik Suster Lisa maupun Frater Stepanus, pengelola Lembah Karmel, tidak bisa menjelaskan secara perinci. “Saya tidak tahu sejak kapan ada Lembah Karmel di Cipanas ini, tapi sejak tahun 1995 saya sudah ada di tempat ini,”kata Suster Lisa.
Demikian juga dengan Frater Stepanus yang bergabung di Lembah Karmel sejak tahun 2003, mengaku belum pernah membaca sejarah Lembah Karmel yang ada di Cipanas.
“Yang saya tahu, Lembah Karmel adalah daerah wisata rohani. Di tempat ini hanya ada kegiatan retret (penyegaran rohani-red), mulai dari membaca dan memahami Alkitab, tempat konseling dan doa penyembuhan, serta doa bersama,”jelas Frater Stepanus.
Sumber lain menyebutkan kalau Lembah Karmel didirikan Romo Yohanes Indrakusuma. Perintisannya dimulai sejak tahun 1988 silam, digunakan sebagai tempat pertapaan dan pengasingan. Yohanes menyebut tempat nyepinya dengan sebutan Pertapaan Shanti Bhuana, letaknya sekitar 100 meter di bawah tempat yang sekarang. Pada tanggal 13 April 1996, sebuah rumah retret yang diberi nama Pondok Remaja Lembah Karmel didirikan
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0707/28/opi03.html




LinkBack URL
About LinkBacks





Reply With Quote

Bookmarks