Kaulah Sempurna Untukku
Air mataku jatuh menindih bumi
Dan teresap hilang menjiwaiku
Membuka kalbu
Dikala aku menepi dan meredup
Memanggil Tuhan memohon cintaku
Purnama wajahku
Hilang dari kejujuran hatiku yang putih
Tercurah dari kedua lantera mata hatiku
Terpuruk cinta yang tumbuh tak bertepi
Kesunyian terisik dari bibir rapuhku
Yang berlagu
Dari firman hati yang berbudi dan tinggi kebesaran cintaku yang tak berdosa
Yang kudoakan
Lukisan air mataku tak membawaku pula
Namun, aku terus menari di bawah awan putih
Hingga kunantikan rintikan hujan yang lembut
Membasuh tubuhku
Sebagai bahasa cintamu untukku
Pos Kupang Minggu, 7 Februari 2010, halaman 06![]()




LinkBack URL
About LinkBacks


Reply With Quote
Bookmarks