Ratusan warga di Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, mengalami krisis air menyusul mengeringnya sumur air minum dan sungai di daerah itu akibat kemarau.

Kekeringan mengakibatkan warga mengalami gagal tanam terutama tanaman palawija yang biasanya ditanam setelah musim panen padi.
"Satu-satunya yang masih kami harapkan adalah ternak. Jika persediaan bahan makanan habis, kami jual ternak untuk memperoleh uang tunai," tutur Jakobus, 40, warga Desa Nunkurus kepada wartawan di Kupang, Minggu (29/7).

Ia mengatakan, dari dua sungai yang mengalir di wilayah Nunkurus, hanya satu sungai yang masih menyisakan air dalam jumlah sedikit. Sementara di tepi sungai, warga menggali lubang di tepai sungai agar air meresap ke dalam untuk nantinya dimanfaatkan sebagai air minum.
Sumur yang digali warga itu memiliki kedalaman sekitar 50 sentimeter (cm) sampai satu meter. "Air yang meresap ke dalam sumur warnanya bening dan kami bawa pulang untuk minum," ujarnya.

Sementara di bagian lain sungai, pada siang hari para gembala membawa ternak mereka seperti sapi dan kuda untuk minum setelah merumput. Selain itu, warga juga juga memanfaatkan air sungai untuk mandi cuci.

Wakil Gubernur NTT Frans Lebu Raya mengatakan, bencana kekeringan terus melanda NTT bertepatan dengan kemarau. Kekeringan mengakibatkan sungai dan sumur air minum terutama di pedalaman mengering. Kondisi ini sering mengakibatkan warga mengalami gagal penen dan gagal tanam.

Menurut dia, hampir semua daerah di NTT memiliki sungai kering yang mengharapkan air hujan. "Jika hujan tidak turun normal, persediaan air juga berkurang," katanya.

Berdasarkan data Badan Bimas Ketahanan Pangan NTT Juli 2007, gagal tanam dan gagal panen terjadi pada 67.332,72 hektare tanaman padi, 100.027,71 hektare tanaman jagung, 6.138,12 hektare ubi, dan 9.457,87 hektare tanaman kacang.

Bencana kekeringan itu tersebar di 16 kabupaten/kota, yang mengakibatkan 333.940 keluarga terancam krisis pangan.

Anggota Komisi VII DPR Sonny Keraf minta pemerintah NTT mengucurkan anggaran untuk proyek pembendungan sungai. "Jika sungai dibendung, menampung air pada musim hujan dan air itu dapat digunakan pada musim kemarau," katanya dalam pertemuan bersama gubernur NTT di Kupang akhir pekan ini.

Ia berharap pemerintah daerah melakukan berbagai terobosan untuk menyediakan air bersih bagi warga untuk minum dan mengaliri areal persawahan. Pembendungan sungai perlu dilakukan karena NTT hanya memiliki empat musim hujan dalam satu tahun sehingga persediaan air berkurang.

"Kalau tidak ada pembendungan sungai, air hujan terus mengalir ke laut," katanya.