Ruteng, Flobamor.com— Nama Maria Diana Tilan menjadi perhatian dalam momentum Wisuda Sarjana dan Ahli Madya Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng yang digelar di Aula Asumpta, Sabtu (6/12/2025). Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tersebut berhasil meraih predikat Wisudawati Terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,89 dari total 1.304 lulusan yang dikukuhkan.
Suasana aula sempat hening ketika Maria berdiri di podium. Dengan suara tenang namun tegas, ia menyampaikan orasi wisuda mewakili seluruh lulusan yang hadir.
Dalam sambutannya, Maria menggambarkan bahwa perjalanan akademik bukan sekadar rutinitas kuliah, mengerjakan tugas, atau mengejar nilai, tetapi proses membentuk karakter dan pola pikir.
“Kita datang dengan penuh harapan sekaligus rasa cemas. Namun rasa cemas itu perlahan memudar karena UNIKA menyuguhkan banyak pengalaman berharga — bukan hanya ilmu pengetahuan, tetapi pelatihan untuk berpikir kritis, inovatif, dan adaptif,” ujar Maria di hadapan para wisudawan, dosen, dan tamu undangan.
Ia juga menyinggung lika-liku yang dialaminya selama menyelesaikan studi, mulai dari manajemen waktu, tugas lapangan, hingga perjuangan panjang revisi skripsi yang menguras energi dan mental.
“Kadang kita merasa lelah, ingin menyerah, atau hilang arah. Tapi di saat seperti itu kita belajar arti tekad, ketulusan, dan komitmen,” tambahnya.
Tak lupa, Maria mempersembahkan keberhasilannya kepada orang tua dan seluruh tenaga pendidik Unika Santu Paulus Ruteng.
“Hari ini adalah bukti dari doa, dukungan, dan pengorbanan banyak pihak, terutama orang tua yang selalu percaya pada proses kita.” ungkapnya penuh haru.
Ungkapan tersebut disambut tepuk tangan meriah dari peserta wisuda.
Dalam bagian akhir pidatonya, Maria menyoroti tantangan zaman, terutama fenomena post-truth, sebuah era ketika fakta sering kalah oleh opini, emosi, dan informasi yang tidak tervalidasi.
Ia mengajak para wisudawan agar tidak sekadar menjadi lulusan dengan gelar akademik, tetapi menjadi generasi yang mampu berpikir jernih dan bertanggung jawab.
“Di dunia yang penuh hoaks, manipulasi, dan narasi yang dibangun tanpa data, lulusan perguruan tinggi harus mampu membedakan fakta dan opini. Kita tidak boleh menjadi penonton, tetapi pelaku perubahan.”ujarnya.
Setelah menutup pidatonya, Maria menerima penghargaan sebagai lulusan terbaik. Senyum haru terlihat di wajahnya ketika menerima selempang penghormatan yang diserahkan langsung oleh pihak rektorat.
Bagi Maria, wisuda bukan akhir dari perjalanan, melainkan pintu baru menuju panggilan profesi sebagai pendidik.
“Kami telah ditempa, kini saatnya melayani dan memberi dampak, bukan hanya berharap perubahan, tetapi menjadi perubahan itu sendiri.” pintanya.
Wisuda tahun ini menjadi ruang refleksi dan harapan baru bagi para lulusan Unika Santu Paulus Ruteng, dan nama Maria Diana Tilan akan dikenang sebagai salah satu suara intelektual muda yang digaungkan pada momentum tersebut.












