All the best FLOBAMOR...

Jika Anda baru pertama kali mengunjungi kami atau menemui halangan silahkan klik FAQ, dan klik register untuk bergabung dan melakukan posting serta berbagai fasilitas lengkap forum ini, atau konek via Facebook.


+ Reply to Thread
Hal. 1 dari 3 123 LastLast
Showing results 1 to 10 of 30
  1. #1
    Junior gundul is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Jul 2007
    Kiriman
    129
    Rep Power
    5

    Wink [Digital Kamera] Panduan Praktis untuk mencetak Hasil Foto

    Sebelumnya ingin memperjelas dulu tentang kerancuan-kerancuan yang sering terjadi, yaitu :
    • Besar resolusi yaitu 1280x960 (1MegaPixel), 1600x1200 (2 MP ), 3MP maupun 4MP dan lain � lain itu adalah menandakan banyaknya titik yang ada dalam gambar tersebut. Semisal foto dengan resolusi 1600x1200 berarti ada 1600 titik di horizontal dan 1200 titik di vertikal.
    • Densitas foto 72dpi, 180dpi, maupun 300dpi (terlihat pada EXIF data yang menempel pada foto yang bersangkutan) itu menandakan tingkat kerapatan dari titik � titik tersebut dalam suatu satuan ukuran inch (dot per inch). Misalnya kita selama ini mendengar ada printer berkemampuan cetak dengan densitas 300dpi, 600dpi, 1200dpi, maupun 4800dpi. Contoh printer dengan kemampuan densitas 4800dpi itu berarti bisa mencetak sebanyak 4800 titik sepanjang garis 1 inch (2,54cm), begitu juga dengan printer berkemampuan densitas 300dpi berarti hanya bisa mencetak 300 titik sepanjang garis 1 inch (2,54cm).

    Terkait dengan hal � hal diatas, maka kita patut mengetahui juga bahwa mesin cetak foto itu biasanya berkemampuan densitas 300dpi sehingga kita akhirnya sering memakai patokan ini sebagai standard densitas minimum yang diperlukan baik untuk mencetak di laboratorium foto ataupun dengan printer sendiri.


    Berikut daftar ukuran kertas foto yang biasanya dipakai di laboratorium foto :
    • 2R = 6 x 9 cm
    • 3R = 8,9 x 12,7 cm
    • 4R = 10,2 x 15,2 cm
    • 5R = 12,7 x 17,8 cm
    • 6R = 15,2 x 20,3 cm
    • 8R = 20,3 x 25,4 cm
    • 8R Plus = 20,3 x 30,5 cm
    • 10R = 25,4 x 30,5 cm
    • 10R Plus = 25,4 x 38,1 cm

    Kita akan mengambil contoh salah satu ukuran yang biasa dipakai yaitu 4R dalam hal ini, yaitu : 10,2x15,2cm

    (10,2cm : 2,54) x 300dpi = 1204 titik atau pixel,

    (15,2cm : 2,54) x 300dpi = 1795 titik atau pixel.

    Dengan ini berarti kita mengetahui bahwa resolusi minimum yang dibutuhkan untuk mencetak 4R adalah 1795 x 1204 pixel.


    Dalam hal ini berarti boleh dikatakan bahwa resolusi kamera digital yang mendekati ukuran tersebut mungkin adalah 2MP yaitu 1600x1200. Tetapi harus diingat bahwa adanya perbedaan rasio panjang lebar antara file kamera digital (4:3) dengan standar kertas foto (3:2) itu biasanya berakibat terjadinya cropping (pemotongan) pada samping2 foto karena laboratorium foto itu biasanya melakukan sedikit peregangan secara otomatis pada file � file yang bersangkutan, misalnya foto dengan resolusi 1600x1200 akan diperbesar menjadi 1795x1346 untuk memenuhi ukuran frame minimal dari 4R untuk kemudian dicropping lagi sehingga bagian yang tercetak itu tetap beresolusi 1795x1204.


    Ada beberapa kasus dimana ada yang berhasil melakukan pencetakan dengan ukuran 8R hanya dengan kamera 2MP ataupun juga mungkin bisa 10R. Dalam hal ini kita harus melihat lagi beberapa hal yaitu :
    1. Kompleksitas dari gambar yang diambil, misalnya gambar � gambar dokumentasi orang tentunya jauh berbeda tingkat detailnya dibandingkan dengan gambar pemandangan alam misalnya pada waktu sunrise. Dalam hal ini gambar orang biasanya lebih mudah untuk diperbesar dibandingkan dengan gambar pemandangan alam. Perkecualian jikalau foto dokumentasi lebih dari 15orang ataupun satu orang tetapi ingin menampilkan detail urat muka yang pada dasarnya juga berarti kompleksitas gambar cukup tinggi.
    2. Tingkat kompresi dari gambar yang dipakai (dengan ACDSee biasanya terlihat dengan click kanan properties, bagian file, di compression ratio). Biasanya file � file yang berpotensi dan bisa dicetak jauh lebih besar dari ukuran yang direkomendasikan itu file � file dengan tingkat kompresi antara 5 � 10. Lebih dari itu, biasanya sulit sekali untuk meningkatkan ukuran gambar.
    3. Ada beberapa kamera yang menyediakan mode RAW dan juga mode TIFF pada hasil akhir gambar yang ditangkap, dalam hal RAW file dan TIFF file itu tidak terdapat kompresi sama sekali sehingga sangat dimungkinkan untuk melakukan resize ulang untuk melakukan cetak pada ukuran lebih besar.

    Dari 3 hal diatas, (dari pengalaman pribadi) juga bisa dilakukan cetak pada 10R maupun 12R dengan kamera 4MP meskipun secara perhitungan tidak memungkinkan untuk melakukan pencetakan tersebut. Dalam hal ini kita bisa melakukan test sederhana apakah file yang bersangkutan masih bisa untuk dicetak pada ukuran yang bersangkutan atau tidak dengan cara melakukan image resize pada photoshop dan kemudian melihat apakah detail - detail tersebut masih bisa terlihat.



    Semoga artikel berikut ini berguna sebagai panduan dalam melakukan pencetakan foto dari kamera digital. Di bawah ini terdapat daftar acuan praktis untuk pencetakan foto yang diinginkan beserta resolusi yang dibutuhkan.
    • 3R = 8,9 x 12,7cm @300 dpi = 1051x1500 pixel
    • 4R = 10,2 x 15,2cm @300 dpi = 1205x1795 pixel
    • 5R = 12,7 x 17,8cm @300 dpi = 1500x2102 pixel
    • 6R = 15,2 x 21,6cm @300 dpi = 1795x2551 pixel
    • 8R = 20,3 x 25,4cm @300 dpi = 2398x3000 pixel
    • 8R Plus = 20,3 x 30,5cm @300 dpi = 2398x3602 pixel
    • 10R = 25,4 x 30,5cm @300 dpi = 3000x3602 pixel
    • 10R Plus = 25,4 x 38,1cm @300 dpi = 3000 x 4500 pixel
    2003 September 01 10:32:25
    Maaf sebelumnya kalau artikelnya tidak begitu rapi dan penulisannya juga tidak terstruktur dengan baik. Maklum baru pertama kali menulis artikel. Mohon kritik dan sarannya.

  2. #2
    Junior gundul is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Jul 2007
    Kiriman
    129
    Rep Power
    5

    Default Re: [Digital Kamera] Panduan Praktis untuk mencetak Hasil Foto

    Apa yang dimaksud dengan Digital?

    Sebelum kita membahas apa itu kamera digital, mungkin kita bisa mencoba mengerti dulu apa sih yang dimaksud dengan Digital? Bagi yang belum tahu, dunia kita ini semuanya adalah analog. Bisa dibilang manusia mengenal digital tidak terlalu lama. Dahulu kala semua mesin dan peralatan mesin dijalankan secara analog, bahkan sampai sekarang pun masih banyak mesin yang masih menjalankan system analog. Contoh terutama adalah kamera anda sendiri. Lensa anda memakai teknologi mekanik. Meski demikian kamera yang memakai film sebagian besar pasti mempunyai bagian yang memakai teknologi digital. Jika kamera itu mempunyai panel LCD, sudah pasti itu merupakan teknologi digital. Menurut saya "Digital is the future", mau tidak mau kita tidak bisa menghindar bahwa semua yang ada di sekitar kita akan memakai teknologi digital.

    Apa yang dimaksud dengan Kamera Digital?

    Saya rasa semua orang pasti pernah melihat kamera. Kalau tidak mana mungkin anda mengunjungi site ini. Tapi mungkin saja sebagian dari anda yang belum pernah memegang kamera digital (tidak bermaksud mengejek). Secara penampilan kamera digital mirip dengan kamera biasa (jenis film), perbedaan terbesar kamera digital tidak memakai film. Lupakan lah pergi ke toko membeli film setiap kali anda mau pergi memotret. Kamera digital tidak memerlukan film sama sekali. Ini semua diganti dengan media penyimpan yang bisa dihapus ulang, layaknya disket komputer. Nah disket komputer khan mempunyai kapasitas sendiri, sama juga dengan memory kamera ini. Sizenya dari 8MB sampai ke 4GB (4000 MB), data ini valid pada saat Dec 2003. Formatnya pun bermacam-macam, sebagai contoh: Compact Flash (Type 1 dan 2), SD card, MMC card, Memory Stick (Khusus kamera Sony), Disket, CDR. Satu hal yang pasti dari adanya media seperti ini, anda bisa menghemat biaya karena media ini bisa dipakai berkali-kali.

    Mari kita masuk ke bagian teknikal dari kamera digital ini. Pertanyaan.... bagaimana kamera digital menangkap cahaya yang masuk dari lensa? Cahaya ini tidak ditangkap oleh memory (lihat atas), kerja memory hanya menyimpan gambar yang sudah diproses. Cahaya yang masuk sebenarnya ditangkap oleh CCD sensor atau CMOS sensor. CCD (Charged Coupled Device) dan CMOS (Complementary Metal Oxide Semiconductor) adalah suatu chip yang terletak tepat di belakang lensa anda.
    CCD Sensor (Tidak sesuai ukuran asli). Ukuran asli jauh lebih kecil

    Untuk kebanyakan kamera digital di pasaran chip ini kecil sekali, lebih kecil dari ukuran film 35mm. Pada saat ini hanya satu kamera saja yang mempunyai sensor sebesar 35mm yaitu Canon 1Ds. Jadi untuk kamera digital, sensor inilah yang dimaksud dengan film. CCD dan CMOS adalah 2 teknologi yang umum digunakan di dalam kamera. Umumnya kamera yang ada di pasaran menggunakan CCD sensor. Masih ada satu jenis chip yang dinamakan X3 sensor, tapi ini masih belum umum digunakan karena masih mahal harganya dan kualitas photo yang dihasilkan masih tidak terlalu berbeda dengan 2 sensor yang saya utarakan sebelumnya. Setiap kali anda membeli kamera pasti ditanya mau beli yang berapa megapixel, tahukan anda megapixel disini adalah jumlah pixel pada CCD atau CMOS sensor anda. Jadi kalau anda mempunyai 4 MegaPixel camera, berarti CCD sensor anda mempunyai sekitar 4,000,000 pixel. Satu pixel itu sangat kecil, dan satu pixel itu hanya menangkap satu jenis warna. Jika sensor diatas diperbesar sampai pixelnya terlihat maka kira-kira yang akan anda lihat seperti gambar dibawah.


    Kebanyakan sensor di pasaran memakai format RGBG, pixel untuk menangkap warna hijau lebih banyak. Pixel-nya sendiri tidak berwarna, diatas pixel ada coating warna.

    Berhubung kamera digital mempunyai sensor yang lebih kecil dari film, maka panjang fokal lensa pun tidak berlaku seperti layaknya pada kamera film biasa. Idealnya sih seharusnya ukuran sensor harus setara dengan film, tetapi itu merupakan hal yang tidak memungkinkan. Sebab untuk membuat ukuran sensor sebesar film maka harga kamera anda bisa selangit (Hanya Canon 1Ds mempunyai sensor sebesar 35mm, harganya $$$$). Lagipula dengan ukuran yang mini seperti sekarang saja, kualitas gambar sudah lumayan memuaskan.

    Plus and Minus of a Digital Camera

    Seperti yang saya utarakan terlebih dahulu bahwa "Digital is the future", maka saya akan memberikan beberapa point plus dari Kamera digital dibanding kamera yang memakai film:
    - Kalau dihitung secara jangka panjang, kamera digital lebih murah. Sebab tidak perlu membeli film, dan hasil potret yang gagal bisa dihapus dan tinggal mengambil shot lagi.
    - Hasil potret real time, kita dapat melihat hasil apakah bagus apa tidak.
    - Karena format sudah digital maka untuk proses editing sangat mudah, hanya perlu dihubungkan ke komputer dan diedit (Scanner sudah tidak diperlukan lagi)
    - Memory kamera digital sangatlah besar sehingga anda tidak perlu terlalu cepat membeli memory baru

    Tidak ada teknologi yang sempurna, maka dari itu saya perlu memberikan point minus dari kamera digital:
    - Kamera digital cenderung memiliki shutter lag yang lebih lama dibanding kamera jenis film.
    - Harga kamera yang cenderung mahal dibanding kamera jenis film
    - Karena ukuran sensor yang tidak sesuai dengan kamera jenis film, maka untuk mendapatkan wide angle shot pada DSLR diharuskan membeli lensa yang lebih lebar.

    Sekian dulu artikel ini, semoga pengetahuan ini dapat berguna bagi para pembaca. Semua pengetahuan yang ada disini saya ambil dari berbagai sumber, salah satu sumber yang menurut saya sangat lah lengkap adalah dpreview.com. Silahkan mengunjungi site ini, untuk pengetahuan kamera digital bisa klik link "Glossary". Untuk buku yang membahas Digital Photography, saya sarankan buku dari Tom Ang berjudul "Digital Photographer's Handbook". Buat anda yang ingin belajar mengenai basic photography saya bisa menyarankan "National Geographic Photography Field Guide: Secrets to Making Great Pictures".

  3. #3
    Junior gundul is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Jul 2007
    Kiriman
    129
    Rep Power
    5

    Default Re: [Digital Kamera] Panduan Praktis untuk mencetak Hasil Foto

    Lanjutan dari artikel saya yang pertama (Pengetahuan Dasar Kamera Digital). Kali ini saya mencoba untuk menjelaskan lebih jauh mengenai kamera digital. Untuk artikel kali ini saya akan membandingkan kamera digital dengan kamera analog. Topik yang akan dibahas sebagai berikut:
    - Ukuran sensor pada kamera digital dibanding dengan kamera analog
    - Penggunaan ISO pada kamera digital
    - �Focal Length� antara DSLR dengan SLR

    Ukuran sensor pada kamera digital dibanding dengan kamera analog
    Seperti yang saya utarakan pada artikel sebelumnya. Kamera digital kelas prosumer dan consumer mempunyai sensor CCD/CMOS yang sangat kecil. Sebagai perbandingan silahkan lihat gambar di bawah.



    Kamera yang menggunakan 1/1.8 sensor biasanya adalah kamera kelas consumer, contoh: Olympus C-5060. Kamera yang menggunakan 2/3 sensor, contoh: Sony F717, Nikon 5700. Kelas DSLR menggunakan sensor yang lebih besar, seperti Canon D60 menggunakan 4/3 format. Sampai saat ini hanya satu digital kamera yang mempunyai sensor sebesar 35mm, kamera itu adalah Canon 1Ds. Jika anda ingin tahu ukuran sensor kamera anda, silahkan check �data sheet� kamera anda, bisa didapat dari www.dpreview.com atau www.imaging-resource.com

    Total pixel antara sensor 2/3 dengan 4/3 bisa saja sama, contoh: 4 Megapixel (4 juta pixel). Yang membedakan keduanya adalah ukuran pixel. Semakin luas suatu sensor maka makin besar pula pixelnya. Pixel yang lebih besar akan menguntungkan pada penggunaan ISO yang tinggi.


    Penggunaan ISO pada kamera digital
    Dengan menggunakan sensor yang lebih besar maka otomatis pixelnya juga lebih besar. Pixel yang lebih besar memungkinkan kita untuk menggunakan ISO yang lebih tinggi. Maka dari itu jangan kaget apabila beberapa DSLR mempunyai ISO setting sampai 3200. Dimana pada kamera kelas prosumer seperti G3, ISO 400 akan menghasilkan foto dengan noise yang sangat tinggi. Ini semua disebabkan oleh sensor size, semakin besar semakin bagus. Tetapi tentu saja sensor itu salah satu component yang paling mahal di kamera digital.

    Berhubung kamera digital tidak mempunya film maka setting ISO dilakukan oleh perangkat elektronik di dalam kamera anda. Sewaktu anda merubah ISO value misal dari ISO100 ke ISO200, kepekaan sensor didalam kamera anda ditingkatkan. Dan di dalam dunia elektronik, nothing is perfect. There is always something to trade. Sewaktu ISO ditingkatkan sensor kamera anda diset supaya lebih sensitif terhadap cahaya. Misalkan sewaktu menggunakan ISO100 anda harus menggunakan shutter speed 1/15, apabila anda menaikkan ISO rating menjadi ISO200 maka otomatis shutter speed menjadi 1/30 (1 stop difference). The down side is, kalau sensor dinaikkan maka sensor akan mudah menangkap �noise�. �noise� berwujud bercak-bercak di dalam foto anda, �noise� akan lebih terlihat jelas apabila anda mencoba mengambil shot pada situasi minim cahaya.

    Contoh lain ibarat kalau anda mendengarkan lagu dengan perangkat Hi Fi, jika volume kecil maka suara yang muncul akan jernih. Tetapi bila anda mencoba menaikkan volume, maka pada suatu saat suara yang muncul akan terdengar pecah. Kira-kira seperti inilah noise itu.

    �Focal Length� antara DSLR dengan SLR
    Penjelasan dibawah ini hanya berguna bagi pemilik SLR dan DSLR, kamera digital kelas prosumer tidak perlu pusing tentang �focal length� sebab lensa yang ada di kamera terpasang mati. Apabila anda membeli lensa tele 100mm dan dipasang ke kamera SLR anda, maka 100mm itu adalah �focal length� lensa anda. Tetapi bila anda memasang lensa yang sama pada DSLR contoh Canon 300D, maka �focal length� yang didapat bukan 100mm, tetapi 160mm (100mm x 1.6). Sebenarnya �focal length� lensa anda tetap 100mm, tetapi �angle of view� akan membuat hasil foto anda seolah-olah dihasilkan dari lensa 160mm. Ini berhubung dengan ukuran sensor kamera anda yang lebih kecil dari 35mm. Hal ini hanya berlaku pada kamera yang mempunyai ukuran sensor lebih kecil dari 35mm, Canon 1Ds tidak mengalami hal diatas.

    Agar lebih jelasnya, silahkan lihat di foto dibawah ini. Full frame adalah hasil dari lensa 100mm yang dipasang pada Canon 1Ds atau kamera SLR. Kotak kecil didalamnya, adalah hasil yang anda dapatkan bila kita memasang lensa yang sama pada Canon 10D atau 300D.


    Sepintas kita berpikir bahwa kita mendapat untung, sebab dengan membeli 100mm maka dapat menghasilkan 160mm. Memang betul, cuman ini semua hanya ilusi sebab panjang fokal lensa anda tetap 100mm, hanya gambar yang dihasilkan seolah-olah berasal dari 160mm lensa. DOF (Depth of Field) yang dihasilkan juga sesuai dengan perhitungan lensa 100mm, bukan 160mm. Dan satu lagi hal yang membikin sebagian orang kesal apabila anda suka memakai lensa lebar (Wide angle lens), maka anda harus membeli lensa yang lebih lebar untuk mendapatkan efek yang anda inginkan. Bayangkan suatu shot harus menggunakan lensa 24mm di kamera SLR, tetapi sewaktu anda memasang 24mm ke DSLR anda maka �effective focal length� menjadi 38.4 (24mm x 1.6). Jadi untuk mendapatkan 24mm, anda harus membeli lensa lebih lebar. Tentu saja semakin lebar suatu lensa maka semakin mahal, maka bagi pecinta wide angle shot bakal kecewa dengan keterbatasan ini. Kecuali anda menggunakan Canon 1Ds yang mempunyai sensor sebesar 35mm, so what you see is what you get.

    Conclusion
    Kelihatannya dari awal yang kita baca cuman sisi negatif melulu dari kamera digital. Sebenarnya kalau mau lihat sisi positif, maka sisi negatif itu bisa dilupakan. Bayangkan anda tidak perlu membeli film lagi, tidak perlu capek-capek scan film/slide, tidak perlu pusing soal ISO dan masih banyak lagi.

  4. #4
    Junior gundul is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Jul 2007
    Kiriman
    129
    Rep Power
    5

    Default Re: [Digital Kamera] Panduan Praktis untuk mencetak Hasil Foto

    Infrared Photography pada Kamera Digital

    Normalnya sewaktu kita buat foto, kita mengharapkan hasil yang tajam dengan warna-warna yang sesuai dengan aslinya atau natural. Bagaimana bila kita ingin mencoba melewati batas-batas normal? Ingin hasil foto dengan warna-warna yang lain dari yang lain? Cobalah Infrared Photography...

    Itulah kalimat yang sempat saya baca pada suatu artikel. Sangat menarik. Setelah mencoba baca-baca dan menelusuri beberapa link di internet, saya mencoba berkreasi membuat foto-foto infrared dengan menggunakan kamera digital, yang menurut saya cukup mudah.


    Filter Infrared

    Berbeda dengan kamera film yang menggunakan film IR, untuk membuat foto-foto infrared pada kamera digital dibutuhkan filter Hoya Infrared R72.

    Dari salah satu artikel di internet yang saya baca, filter ini cocok digunakan pada kamera digital untuk menghasilkan foto-foto infrared. Sebenarnya masih ada beberapa jenis filter infrared lainnya yang juga dapat dipakai, namun hanya filter Hoya R72 ini yang dapat saya temukan di toko kamera di Jakarta.


    Test Kamera Digital Anda

    Sebelum anda beli filter infrared, sebaiknya anda test dulu kamera digital anda. Menurut artikel tersebut, ada beberapa kamera digital yang tidak dapat meng-capture/tidak sensitive terhadap cahaya IR. Testnya juga sangat mudah yaitu dgn menggunakan remote control untuk TV, AC, atau peralatan Audio Video lainnya.

    Seperti yang sudah kita ketahui, remote control menggunakan cahaya infrared untuk menyampaikan perintah ke suatu device. Hadapkan aja remote control ke depan lensa kamera digital anda, lalu tekan salah satu tombolnya. Pada kamera digital consumer atau prosumer, kita bisa lihat langsung pada layar LCD. Kalau menggunakan DSLR, kita mesti capture/shot terlebih dahulu, baru lihat hasilnya pada layar LCD.

    Jika pada hasilnya terlihat cahaya terang yg berasal dari remote control, itu berarti kamera anda dapat menggunakan filter infrared tersebut untuk dapat menghasilkan foto-foto infrared. Tetapi kalau terlihat hanya cahaya yang lemah atau tidak terlihat cahaya sama sekali, kamera digital anda tidak lulus test ini, dan tidak dapat digunakan untuk membuat foto-foto infrared.

    Hasil test yang dilakukan pada kamera digital saya (Canon G3) dapat dilihat dibawah ini.




    Tehnis Foto

    Saya akan coba sharing seting kamera digital saya dalam menghasilkan foto2 infrared menggunakan filter Hoya R72 berikut ini:

    1. Selalu gunakan tripod. Filter infrared akan sangat mengurangi cahaya dan pemotretan biasanya selalu menggunakan kecepatan lambat;
    2. Biasanya saya mengatur komposisi terlebih dahulu sebelum memasang filter infrared pada lensa. Filter infrared yang berwarna merah pekat ini akan sangat menyulitkan melakukan komposisi jika sudah terpasang;
    3. Kamera digital juga akan kesulitan dalam melakukan auto focus. Saya selalu menggunakan manual focus dengan mengatur focus ke infinity;
    4. Setelah melakukan beberapa uji coba, seting eksposur yang pas (IMHO) pada kamera digital saya adalah dengan menggunakan shutter speed priority pada kecepatan 4 detik. Seting eksposur ini sangat tergantung pada sensitivitas kamera pada cahaya infrared. Silahkan lakukan uji coba sendiri untuk mendapatkan seting eksposur yang tepat pada kamera digital anda;
    5. Menggunakan seting ISO yang terendah (ISO 50 pada Canon G3). Hal ini untuk mengurangi noise yang muncul karena pemotretan pada kecepatan lambat;
    6. Pemotretan infrared ini selalu saya lakukan dalam mode warna. Hal ini akan memberikan kebebasan pada saya untuk merubah warna hasil foto lebih lanjut ataupun merubahnya ke BW dengan menggunakan PS;
    7. Saya selalu menggunakan jenis file RAW (uncompressed data). File jenis ini akan menghasilkan kualitas foto yang terbaik.
    8. Ingat, setiap jenis kamera digital punya sensitivitas pada cahaya infrared yang berbeda-beda. Jadi seting di atas juga kemungkinan berbeda pada setiap jenis kamera digital.


    Hasil Foto

    Hasil foto infrared dengan seting di atas akan nampak seperti dibawah ini:



    Foto di atas dihasilkan menggunakan Canon G3, dengan menggunakan kamera digital jenis lain mungkin akan terlihat berbeda. Terlihat hasil foto agak kemerah-merahan cenderung ke ungu, daun, rumput dan tumbuh-tumbuhan berwarna terang, dan langit menjadi gelap dgn awan yang agak terang. Pertama kali melihat hasilnya di kamera digital, saya sampai takjub sendiri. Seperti melihat dunia lain.


    Digital Darkroom

    Keuntungan lain menggunakan kamera digital adalah kita dapat melakukan koreksi warna di computer dengan menggunakan program Photoshop (PS). Misalnya dengan mengubahnya menjadi BW. Salah seorang rekan di FN ada yang menyarankan untuk mengambil channel red saja, sehingga akan menghasilkan BW yang bagus.

    Setelah mencoba berbagai koreksi warna dengan PS, saya menemukan satu trik mudah untuk merubah hasil foto infrared menjadi warna-warna yang dramatis. Saya suka sekali dengan warna yang dihasilkan, yang menurut saya (IMHO lagi) jadi hampir mirip dengan foto-foto infrared yang dihasilkan oleh film IR. Yaitu dengan mengaplikasikan Auto Level dan USM pada setiap channel (Red, Green, Blue). Maka warna akan otomatis berubah menjadi warna-warna surealis. Dan hasilnya jadi tambah dramatis.

    Setelah diaplikasikan AutoLevel dan USM pada setiap channel, foto infrared di atas akan menjadi seperti dibawah ini:



    Silahkan mencoba sendiri koreksi warna ini. Tidak ada warna yang pasti dalam infrared photography. Semua tergantung pada hasil foto dan diri anda. Kreatifitas adalah kuncinya.

    Untuk melihat foto-foto infrared yang sudah saya upload ke FN, silahkan lihat pada gallery Surreal Images disini.

  5. #5
    gilbert
    Notlogin

    Default Re: [Digital Kamera] Panduan Praktis untuk mencetak Hasil Foto

    Salah satu obyek yang paling sering dipotret adalah manusia. Ketika berwisata bersama keluarga, sekedar kumpul bareng teman, atau ketika lulus kuliah, kamera menjadi alat utama untuk mengabadikan saat-saat kenangan. Di dinding rumah pun bisa jadi foto manusia yang banyak dipajang, dalam bentuk foto keluarga di studio
    atau reuni teman-teman sekampus, sebagai misal.



    Dalam data pribadi kerap kali dijumpai hobi difoto, untuk menyebut hobi-hobi lain seperti membaca, jalan-jalan, dan nonton film. Bisa jadi yang sebenarnya menjadi hobi adalah hobi melihat foto diri sendiri ketimbang difoto. Karena untuk difoto sebenarnya tidak selalu semenyenangkan duduk sambil ngemil di depan TV atau membaca di kursi malas. Difoto, dalam arti serius, berarti wanita harus menyiapkan rias wajah dan rambut, sementara pria harus tampil rapi dengan pakaian necis.



    Semakin serius sebuah pemotretan, berarti semakin serius pula persiapannya. Sebuah pemotretan model gaya ABG di studio-studio foto tentu tak seberat sesi pemotretan model untuk iklan produk. Lebih serius lagi jikalau model yang di-casting adalah model terkenal yang dibayar mahal. Bisa jadi sangat serius jika model foto adalah
    pejabat tinggi negara atau pengusaha kaya yang hendak ditampilkan anggun, gagah, berwibawa, chic dan mewah. Di luar itu semua, unsur fun tetap lebih banyak dan lebih dinikmati ketimbang peluh yang bercucuran untuk menyiapkan kostum dan setting
    tempat. Terlebih lagi jika seluruh kru pemotretan dan model bisa berkomunikasi dengan akrab.



    Segi Teknis Penting

    Tentu saja, unsur-unsur teknis tetap tak bisa disepelekan. Karena sedap tidaknya
    sebuah foto dipandang tetap dibangun oleh unsur-unsur teori dasar fotografi. Tak perlu rumit-rumit, cukup dengan bermain-main dengan komposisi dan pencahayaan maka sebuah foto model bisa dibuat dengan benar. Selebihnya, tinggal bagaimana cara fotografer mengarahkan pose dan ekspresi sang model. Misalnya saja pada foto
    close up Rahma Azhari. Dalam foto tersebut bisa dilihat penempatan titik Point of Interest (POI) sesuai dengan komposisi sepertiga (Rule of Third). Pencahayaan dibuat frontal menggunakan reflektor, karena kondisi pemotretan aslinya adalah outdoor pada saat cahaya matahari pada posisi top lighting. Sementara pada foto �Rahma in Blue� komposisi masih dibuat sesuai komposisi sepertiga tapi dalam format horisontal.

    Masih dalam kaitan unsur teknis dasar fotografi, komposisi sepertiga juga diterapkan pada foto �Main Air�. POI diletakkan pada sepertiga bagian sebelah kanan dengan pose menghadap ke kiri untuk �mengisi� bagian kiri foto. Di sini ada unsur teknis lain yang terlibat, yakni pemilihan ruang tajam (depth of field) yang sempit sehingga mem-blur-kan latar depan dan latar belakang. Ruang tajam yang sempit (shallow depth of field) membantu fotografer mengarahkan perhatian pemirsa foto hanya pada model yang menjadi POI, tanpa harus teralihkan perhatiannya dengan bebatuan di sekitar model. Teknik dasar lain yang digunakan adalah freezing (membekukan gerak), dengan cara memakai kecepatan rana tinggi, untuk merekam butir-butir air secara tajam. Elemen-elemen yang ada di lokasi pemotretan, terutama pemotretan di luar ruangan, akan sangat
    berguna jika dimanfaatkan secara cerdik.



    Pose dan Ekspresi

    Kemampuan model berpose dan berekspresi tetap menjadi unsur yang tak terpisahkan
    dari keberhasilan sebuah foto model. Mengarahkan model yang bukan profesional
    lebih menantang daripada model profesional. Tapi, bisa jadi lebih menarik dan
    menantang jika memotret tokoh dalam pose-pose yang lain dari biasanya. Istilah
    gampangnya, tampil unik tapi menarik, nyeleneh tapi jenaka, pose tak biasa tapi tetap sedap dipandang. Pose-pose tersebut membutuhkan kemampuan non-fotografis
    yang kental, seperti pendalaman pribadi, kedekatan emosional dan kemampuan berkomunikasi.
    Resep utamanya adalah menggali hal unik yang menjadi pencerminan khas tokoh dan model yang hendak difoto.

    Ketika memotret Sheila on 7 (SO7), yang notabene kerap bertemu muka di sebuah radio di Yogyakarta, tetap menjadi tantangan tersendiri. Komunikasi yang dibangun kerap kali menjadi bercanda yang kebablasan bercanda terus, atau malah sebaliknya serius yang bablas menjadi kaku. Ketika itu sekitar tahun 1998, SO7 baru menyelesaikan album pertama dan dipotret untuk kepentingan materi iklan sebuah perusahaan t-shirt.
    Hari berikutnya, mereka ingin difoto untuk kepentingan manajemen mereka dan koleksi pribadi. Jadilah, pose-pose yang nyeleneh, jenaka, dan unik yang tak terencanakan sebelumnya. Foto �Sheila on 7�s Free Style� akhirnya dihasilkan bermodal komunikasi akrab. Ketika itu, kamera medium format fokus manual memaksa tangan terus menerus melekat di gelang fokus lensa dan tombol pelepas rana agar momen ekspresi yang muncul hanya untuk beberapa detik tak luput dari rekaman.

    Lain halnya dengan pose-pose yang tidak terlalu dinamis bergerak atau berekspresi.
    Fotografer bisa dengan perlahan mengeset kamera dan pencahayaan serta berhati-hati memilih angle. Misalnya saja pada foto �Terkulai� yang dibuat pada set indoor dengan pencahayaan artifisial dan sentuhan akhir di komputer untuk memberi pewarnaan berkesankesan lembut dan hangat.






    Perlu Pendekatan Personal

    Keberhasilan merekam pose-pose menarik memang tak berhubungan langsung dengan segi teknis fotografi. Tapi, keberhasilan secara teknis fotografi tak ada artinya dalam kancah memotret model dan tokoh tanpa pose yang sedap dipandang mata. Terlebih lagi jika ingin mengekplorasi seorang tokoh dalam pose-pose yang unik dan ekspresif.
    Bisa jadi pose-pose tersebut adalah pose-pose �apa adanya� meski sebenarnya diarahkan oleh fotografer.

    Ketika memotret seorang aktor teater dan seniman serba bisa Butet Kertarejasa, misalnya. Tak ada pembicaraan khusus sebelumnya, selain berbincang ringan di ruang tunggu bandara pada suatu pagi. Lantas, niat untuk membuat suatu sesi foto kemudian muncul yang dilanjutkan dengan beberapa perencanaan sederhana, seperti soal lokasi dan kostum. Memang, adalah penting untuk membuat tokoh sebagai model tetap nyaman berpose di depan kamera dan berbagai perlengkapan pencahayaan. Dan memutuskan kediaman pribadi tokoh itu sendiri sebagai lokasi pemotretan tentu bukanlah suatu syarat yang sulit.

    Perencanaan yang cerdik dibutuhkan untuk berhasil membuat foto-foto bagus. Mengenali diri seorang tokoh, berikut keseharian dan karir tokoh tersebut sama pentingnya dengan merencanakan kostum yang hendak dikenakan. Pemanfaatan properti pun jangan disepelekan demi menciptakan suasana yang mencerminkan pribadi sang tokoh. Seperti dalam foto �Oom Pasikom Style�, sudah diketahui terlebih dahulu bahwa Butet melakoni tokoh bernama sama dengan judul foto dalam sebuah sinetron di stasiun TV swasta.
    Maka, kostumnya pun menjadi saling dukung-mendukung dengan pose, plus imbuhan properti mobil kuno koleksi pribadi Butet.





    Lokasi dan Properti

    Masih dalam mobil kunonya, Butet terlihat merasa sangat bebas dan nyaman, didukung suasana penuh canda dan komunikasi yang berlangsung akrab. Jadilah pose jenaka pada foto �Butet in Expression� tercipta. Ini adalah pose yang tak muncul dalam benak saya sebagai fotografer ketika merencanakan pemotretan Butet. Bisa dibilang, pose ini adalah improvisasi yang berhasil.

    Kebutuhan akan properti tak perlu berlebihan, dengan cara memanfaatkan properti yang sudah ada di lokasi. Kebetulan Butet pernah menulis di Kompas perihal koleksi kotak rokoknya. Maka, adalah pose yang wajar jika Butet kemudian difoto sambil
    merokok di depan koleksi kotak-kotak rokoknya, seperti pada foto �Butet dan Koleksi Kotak Rokoknya�. Lantas, ada pula faktor keberuntungan dan kebetulan yang bisa menghasilkan foto candid. Ketika dalam pose merokok di depan lemari koleksi kotak rokoknya, kebetulan ponsel Butet berdering dan saya persilakan untuk menjawabnya.
    Tentu bukan tanpa alasan dan sama sekali tidak mengganggu sesi pemotretan, karena pada saat itulah salah satu kesempatan emas muncul untuk merekam ekspresi Butet yang paling tak dibuat-buat. Maka, terciptalah foto �Halo, Butet di Sini...�.



    Mengukur Keberhasilan

    Membuat foto model dan foto tokoh bisa disebut berhasil jika fotografer berhasil mengkomunikasikan ide di benaknya kepada para pemirsa foto. Jika pemirsa foto mengernyitkan dahi pertanda bingung atau memicingkan mata pertanda tak nyaman memandang, maka bisa dibilang pemotretan belum berhasil sepenuhnya. Lain halnya
    jika pemirsa foto mengangguk-angguk pertanda paham atau diam untuk merenung lantaran berhasil meresapi makna dan rasa dari foto yang dilihatnya. Keberhasilan itu menjadi lebih berguna lagi tatkala muncul inspirasi-inspirasi baru di benak pemirsa foto setelah melihat karya-karya seorang fotografer.***

  6. #6
    gilbert
    Notlogin

    Default Re: [Digital Kamera] Panduan Praktis untuk mencetak Hasil Foto

    Lensa Berbukaan Besar, Perlukah?

    BEGITU populernya lensa vario (zoom lens) di kalangan pemotret, sehingga rasanya tak ada yang tak memilikinya. Selain karena sering digunakan, lensa vario terasa praktis dibawa, fisiknya cukup ringkas, dan mutu gambar yang dihasilkannya pun baik. Bahkan kini banyak kamera digital yang sudah dilengkapi lensa vario bawaan (tidak bisa dilepas-tukar). Padahal, dulu, hasil pemotretan dengan lensa vario sempat diragukan kualitasnya.
    Saat ini mutu lensa vario bisa dikatakan tidak kalah dengan kualitas lensa tetap (fixed lens). Namun, secara teknis, ada kekurangan yang dimiliki lensa vario yaitu, kuat (bukaan) lensanya masih kecil. Sejauh ini, bukaan terbesar sebuah lensa vario adalah f/2,8 dan tidak sedikit� umumnya f/3,5 sampai f/5,6. Kendati kini pada kamera digital ada juga yang memiliki bukaan lensa varionya dari f/2,0 �seperti pada Canon Powershot G5 dengan lensa vario 7,2�28,8mm (f/2,0�3,0) atau yang terbaru dari Leica, Digilux 2 dengan� f/2,0�f/2,4� (7�22,5 mm).
    Bandingkan dengan kuat sebuah lensa tetap. Lensa 50mm misalnya, rata-rata mempunyai bukaan terbesar f/1,4. Bahkan dulu Canon sempat membuat lensa 50mm f/0,95 untuk kamera Canon 7S. Belakangnan Carl Zeiss, produsen lensa terkenal di Jerman, membuat lensa Planar 50mm berkekuatan f/0,7 untuk kamera Contax/Yashica (Fotomedia No 5/I, 1990). Ini merupakan lensa terkuat dalam bidang fotografi (film), sampai saat ini.
    Bagi yang belum tahu, kuat lensa (lens speed) jelas tertulis pada setiap lensa dengan kode 1:xx. Contoh, jika pada lensa 50mm tertulis 1:1.4, artinya panjang fokal lensa (F=) 50mm dan kuat lensa sekaligus juga bukaan terbesarnya f/1,4. Lensa vario 70-210mm 1:4-5,6 berarti kuat lensa pada F=70mm adalah f/4, sedangkan di posisi 210mm kuat lensa �bergeser� menjadi f/5,6.
    Manfaat
    Lensa berkekuatan besar biasanya sering digunakan para profesional dan fotojurnalis. Terutama bagi fotografer olahraga dan satwa, lensa tele dengan bukaan besar merupakan suatu keharusan. Bayangkan bila dikombinasikan dengan kamera SLR digital yang memiliki kemampuan menambah panjang fokal lensa sekitar 50 persen, terasa benar manfaatnya.
    Manfaat lain yang bisa diperoleh misalnya, ketika kita memotret suatu objek/subjek tampil dengan pencahayaan alami (natural) dalam kondisi cahaya lemah. Selain menghindarkan hasil pemotretan yang tidak diinginkan (tidak jelas, kabur, goyang), gerak pemotret menjadi lebih bebas karena tidak menggunakan penyangga kamera dan lampu kilat. Apalagi kalau dipadukan dengan film ber-ISO tinggi (yang mudah dilakukan pada kamera digital).
    Ada manfaat signifikan yang mungkin tidak dirasakan ketika menggunakan lensa berbukaan besar yaitu, saat memfokus sasaran pemotretan menjadi lebih mudah dan cepat (dengan fokus manual). Ini sangat terasa saat menggunakannya dalam suasana minim cahaya. Cobalah sekali waktu Anda memfokus suatu objek dengan panjang fokal lensa yang sama, tetapi berbeda kuatnya, misalnya dengan lensa 35mm f/1,4 lalu diganti 35mm f/2,8.
    Memang, umumnya, hasil pemotretan dengan lensa berkekuatan besar lebih baik dari lensa berkekuatan kecil, misalnya beberapa lensa dengan daya rentang 80-200mm dan bukaan f/2,8 dibandingkan dengan yang kekuatannya f/4 atau lebih kecil. Tapi ini tidak selalu. Ambil contoh, lensa Nikkor AF 50mm f/1,8 ternyata �menurut beberapa majalah foto mancanegara dan situs fotografi�� hasilnya lebih baik dibandingkan lensa setipe tapi dengan kekuatan f/1,4. Oleh karena itu, yang lebih penting adalah, jangan berharap banyak bila foto yang dibuat secara teknis sangat baik tetapi tidak istimewa ide dan presentasinya.
    Harus diingat pula, harga lensa-lensa berkekuatan besar relatif mahal dan semakin terus meningkat. Dan ini biasanya menjadi pertimbangan (sangat) besar bagi yang ingin memilikinya. Namun kalau kocek Anda memungkinkan, kenapa tidak mendapatkannya, bukan?�
    Mengherankan
    Sesungguhnya, apapun tipe lensa yang digunakan bisa menghasilkan foto yang baik, sepanjang penggunaannya tepat guna dan yang lebih menentukan adalah pemotret itu sendiri. Ingat ungkapan populer the man behind the camera? Mengenal dan mengoptimalkan kemampuan peralatan fotografi yang kita miliki jauh lebih penting ketimbang selalu memburu peralatan yang lebih canggih dan relatif mahal.
    Meski mutu lensa mempengaruhi kualitas foto yang dihasilkan, namun harus diingat, untuk lensa yang diproduksi dekade ini, perbedaan hasil pemotretan antara lensa yang �canggih� dan tidak hanya terlihat secara signifikan jika diuji dengan teliti di laboratorium. Secara kasat mata jelas sukar membedakannya, selama kondisi lensa terlihat jernih (tidak berjamur, tergores, dan sejenisnya). Malah pada kamera digital, keefektifan sensor berupa CCD atau CMOS yang menangkap elemen-elemen gambar (pixel) yang lebih berperan. Semakin tinggi resolusinya, biasanya semakin baik citra foto yang dibentuk.
    Hal lain yang sering terjadi dan cukup mengherankan ialah, ada kebiasaan di antara kita untuk tidak atau hampir tidak pernah menggunakan bukaan diafragma penuh (fully open) sewaktu memotret, kendati dalam kondisi dan situasi yang memungkinkan. Seolah-olah timbul kekhawatiran ada kesan �takut gagal� ketika memotret dengan bukaan terbesar lensa yang digunakan.
    Jadi, bila Anda mempunyai lensa berkekuatan besar, jangan ragu menggunakan bukaan terbesarnya pada saat memotret kalau kondisi memang menghendaki demikian. Terutama jika Anda menggunakan lensa tele atau tele zoom, seringkali untuk mengkompensasi berat lensa harus diimbangi dengan kecepatan (cukup) tinggi, yang biasanya diperoleh dengan menempatkan diafragma pada angka terkecil (bukaan terbesarnya). Sebagai contoh, kalau Anda menggunakan lensa vario 80-200m f/2,8 maka atur diafragma pada f/2,8.
    Harus disadari, untuk apa Anda membeli lensa Canon 24mm f/1,4 atau Nikkor 300mm f/2,8 misalnya, kalau Anda tidak pernah menggunakan bukaan terbesarnya? Kenapa tidak membeli lensa 24mm f/2,8 atau 300m f/4 yang harganya mungkin tidak sampai sepertiganya? Padahal salah satu faktor yang menentukan tinggi-rendahnya harga sebuah lensa adalah dari bukaan terbesarnya atau kekuatan lensa itu.***

  7. #7
    ratukore is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Dec 2007
    Kiriman
    9
    Rep Power
    0

    Default Tips Fotografi Masakan

    Tips Fotografi Masakan

    Kawan-kawan,
    di sini Jeni ada compile sikit tips-tips fotografi yang Jeni ada. Semua ni belajar sendiri punya. Baca-baca sikit dari sumber-sumber lain. Jadi Jeni ni cikgu yang tak bertauliah saja la ye. Syok sendiri saja hehehe. Kalau ada apa apa pertanyaan boleh tanya ye.
    • Dekat pada objek yang kita nak tangkap. Kalau boleh penuhkan frame kamera anda dengan image makanan tersebut.
    • Gunakan option macro/close up supaya image kita tidak blur apabila kita menangkap dengan jarak dekat.
    • Untuk mendapatkan image background blur, gunakan option macro dan bukan super macro/super close.

    Icon Macro
    • Tekan punat kamera separuh jalan dahulu. Kamera akan memfokuskan dulu object kita. And kalau image tu dah seperti yang kita nak then tekan sampai habis.
    • Selalunya makanan akan nampak lebih menarik bila bahagian latar belakang makanan blur dan hanya focus pada makanan tersebut.
    • Kalau boleh jangan tangkap gambar secara typical, iaitu dari atas. Makanan nampak flat sahaja. Cuba tangkap gambar dari sisi makanan, angle-angle lainlah selain dari atas.

    Gambar yang menarik

    Gambar yang membosankan
    • Pencahayaan : Seboleh bolehnya dapatkan natural sunlight. Kerana kebanyakan kita tak ada peralatan lampu yang canggih-canggih. Apa yang saya selalu lakukan ialah, kalau tangkap gambar di siang hari, saya akan tangkap ditepi tingkap atau mana-mana tempat yang terang dengan cahaya matahari. Kalau diwaktu malam atau gelap pula, saya tangkap gambar dibawah lampu kalimantang. Kalau boleh tak nak ada bayang-bayang.
    • Selalunya saya akan offkan flash sebab gambar tanpa flash warnanya nampak lebih natural. Tapi berhati-hati kalau off flash, pastikan anda takde sakit parkinson sebab ianya memerlukan anda tak menggigil hehe. Kalau menggigil juga gunakanlah tripod.

    Dengan Flash

    Tanpa Flash
    • Hiaskan makanan dan susun makanan yang nak ditangkap itu.
    • Pastikan tak ada benda-benda yang boleh distract image makanan tu. Botol-botol kicap ke kat belakang tu alihkan. Saya perasan background putih paling cun untuk tangkap gambar makanan. Dan pastikan pinggan tak meriah sangat kalernya supaya fokus tak lari dari makanan.
    • Akhir sekali, bagi saya majalah Rasa memang banyak bagi kita idea menarik macamana nak tangkap gambar. Idea-idea ni boleh kita dapat dengan rajin-rajin menelek majalah atau buku masakan.

  8. #8
    ratukore is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Dec 2007
    Kiriman
    9
    Rep Power
    0

    Default Re: [Digital Kamera] Panduan Praktis untuk mencetak Hasil Foto

    Memotret Foto Berkualitas dengan Kamera Digital


    Memotret dengan menggunakan kamera analog ataupun digital secara prinsip fotografi tidak berbeda. Bedanya, dengan kamera analog ada penggantian film, sementara kamera digital tidak ada penggantian film tapi dengan sensor digital.

    Namun kamera digital akhir-akhir ini lebih banyak disukai konsumen karena hasil akhirnya bisa langsung dilihat, dan diulang jika hasil fotonya kurang memuaskan. Bagaimana cara menghasilkan foto yang berkualitas lewat kamera digital? Simak beberapa tips berikut ini:


    1. Atur kamera dengan mode ukuran gambar paling besar.

    Keuntungan dari mode ini adalah memungkinkan Anda dapat mencetaknya dalam ukuran terbesar tanpa ancaman warna foto pecah. Selain itu Anda juga dapat memotong bagian yang tidak dikehendaki pada foto tersebut. Tidak ada gunanya jika Anda membeli kamera dengan resolusi 5, 6, atau 8 megapiksel, tapi Anda tetap memasang mode ukuran gambar standar, dan bukan maksimum.

    2. Gunakan pengaturan kualitas dengan level maksimal.

    Banyak gambar hasil kamera digital memakai format JPEG. JPEG menghasilkan gambar yang buruk jika dikompresi berlebihan. Agar gambar Anda tampak seperti aslinya, gunakan pengaturan kualitas dengan level maksimal.

    3. Pakai tipe gambar JPEG.

    JPEG, meskipun bersifat lossy (kurang jelas), bisa jadi merupakan pilihan terbaik. Pasalnya, ketika Anda mengambil gambar dengan format JPEG, keuntungan yang diperoleh juga berlipat karena Anda bisa mengolahnya lagi dengan Adobe Photoshop.

    Kamera SLR biasanya memberikan pilihan apakah Anda ingin menggunakan format JPEG, TIF atau Raw. TIF biasa digunakan untuk reproduksi grafis yang berbau seni, misalnya pada majalah dan koran. Sementara Raw, menyimpan apa adanya tanpa pemrosesan gambar lebih lanjut.

    Dibanding dengan TIF dan Raw, format JPEG lebih mudah dikelola dengan Photoshop. Kedua format tersebut (TIF dan Raw-red) hanya akan menambah pekerjaan Anda sewaktu akan diproses pada Photoshop.

    4. Camkan bahwa Whitte Balance itu penting.

    Untuk kebanyakan pengambilan gambar, dianjurkan agar dimulai dengan mode Auto white balance. Fungsinya agar kamera Anda bisa membaca pewarnaan dari cahaya yang ada disekitarnya dan secara otomatis mengatur dirinya sendiri untuk mengoptimalkan white balance.

    Mode Daylight cocok untuk hari terang, sementara jika hari berawan, dianjurkan agar Anda memakai mode Cloudy. Untuk mengevaluasi pewarnaan dan pencahayaan, jangan lupa mengetesnya dengan mengambil satu atau dua gambar.

    5. Jangan lupa mengatur "Low ISO Number" atau "Use Auto ISO".

    Hasil gambar akan lebih jernih jika Anda menggunakan ISO rendah, namun sensitivitas kamera dalam menangkap cahaya menjadi lebih rendah. Sementara jika memakai ISO terlalu tinggi, seperti dilansir Dale laboratories, hanya akan menimbulkan noise pada gambar.

    6. Optimalkan penggunaan Histogram.

    Dengan menggunakan histogram Anda dapat melihat seberapa optimal sensitivitas sensor kamera dalam menangkap gambar.

    7. Hindari menggunakan zoom secara digital.

    Sebaiknya jangan menggunakan zoom secara digital karena hanya akan membuat kinerja chip yang mengatur tingkat resolusi (piksel) pada kamera menjadi boros. Coba gunakan zoom dari lensa saja, agar bisa menghemat penggunaan chip. Selain itu hasil bidikan, jika menggunakan zoom secara digital, tidak sebagus jika menggunakan zoom lensa.

    8. Belilah kartu Memori berkualitas profesional.

    Kecepatan rekam pengambilan gambar dengan memakai memori yang berkualitas tinggi dapat mengimbangi teknologi kamera Anda. Misalnya dengan kartu memori berkecepatan 40x, dapat merekam 3 dari 10 jepretan berturut-turut dalam 1 detik. Sementara dengan memori 4x, Anda hanya bisa merekam 1 gambar dalam 3 detik. Keuntungannya, dengan memori berkualitas tinggi Anda tidak perlu mengkhawatirkan terjadinya pergeseran warna dalam foto.

    9. Backup hasil foto dalam CD atau DVD.

    Menyiapkan payung sebelum hujan adalah lebih baik. Pastikan backup seluruh kreasi foto-foto Anda dalam CD atau DVD, sebagai antisipasi jika hard drive Anda rusak.


  9. #9
    ratukore is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Dec 2007
    Kiriman
    9
    Rep Power
    0

    Default Menghilangkan 'Red Eye' dari Foto Digital

    Jika Anda menemukan keanehan di foto bagian mata teman Anda, jangan buru-buru memanggil pengusir hantu. Pada beberapa orang dan kondisi pencahayaan tertentu adalah media yang sempurna untuk munculnya efek red eye yang nampak seperti hantu. Pupil mata yang terbuka lebar dan kondisi pencahayaan yang buruk membuat flash dari kamera memantulkan pembuluh darah di balik mata dan membuat teman Anda terlihat seperti sedang kerasukan.




    Daripada memakai bawang putih di leher Anda dan menenteng pasak kayu, tips ini akan membantu membawa kembali teman Anda dari dunia kegelapan.


    - Gunakan setting Red Eye reduction kamera Anda
    Cari di dalam setting flash sampai Anda menemukan icon yang berbentuk seperti mata. Ini akan memerintahkan kamera untuk memancarkan preflash yang akan membuat pupil dari objek foto anda akan mengerut dan mencegah sinar dari flash memantul dari pembuluh darah di balik mata.

    - Nyalakan lampu
    Lampu yang terang akan memberikan efek yang sama pada pupil objek foto Anda seperti dengan memakai setting red eye reduction dan dengan pupil yang tidak terlalu terbuka lebar, efek red eye akan berkurang.

    - Ambil gambar dari sudut tertentu
    Jika Anda mengatur posisi dari kamera Anda sehingga sinar flash tidak langsung mengarah ke mata teman Anda, maka tidak akan ada cahaya yang terpantul dan jika flash-nya diarahkan ke arah yang tepat, tidak akan terjadi efek red eye. Tentu saja jika Anda mempunyai flash yang terpisah dari kamera akan jauh lebih bagus hasiilnya karena terletak lebih tinggi di atas lensa dan efektif untuk semua kondisi pencahayaan. Ini akan memudahkan Anda dan teman Anda juga.

    - Hilangkan dengan program
    Jika tidak ada cara lain untuk menghilang mata hantu teman Anda, masih ada satu harapan. Semua program pengolah gambar kebanyakn sudah mempunyai fasilitas penghilang red eye yang biasanya hanya tinggal dengan satu klik. Umumnya, yang perlu Anda lakukan yaitu pilih menu red eye-nya, klik di tengah mata objek anda dan sebelum Anda selesai mengucapkan satu patah kata, red eye-nya sudah hilang!


  10. #10
    ratukore is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Dec 2007
    Kiriman
    9
    Rep Power
    0

    Default Re: [Digital Kamera] Panduan Praktis untuk mencetak Hasil Foto

    Mengabadikan Kenangan di Perjalanan
    Sebuah perjalanan menyimpan sejuta kenangan. Dan foto menjadi "tempat" untuk mengabadikan kenangan tersebut. Itu sebabnya kamera selalu menjadi peranti yang tak boleh terlupakan bagi seorang traveler.

    Kini, memotret jauh lebih mudah dengan hadirnya kamera digital. Hampir dalam segala hal, kamera digital memberi kemudahan dibandingkan kamera-kamera "jadoel". Jika dulu Anda harus membawa sejumlah rol film, kini cukup dengan sekeping kartu memori. Kartu memori jenis SD (secure digital) misalnya, ukurannya tak lebih besar dari keping uang logam, tapi kapasitasnya dapat menampung ratusan hingga ribuan foto.

    Bagi Anda yang awam dengan teknik pemotretan, dulu tentu direpotkan dengan urusan pencahayaan. Namun, kini Anda tak perlu repot lagi karena semua sudah diambil alih oleh "kecerdasan" kamera. Apalagi, dengan hadirnya layar LCD yang memungkinkan melihat tampilan obyek, Anda sudah dapat memperkirakan hasil foto sebelum menjepretkan kamera digital.

    Jika Anda cukup memahami teknik-teknik dasar pemotretan, menggunakan kamera digital tentu lebih menyenangkan lagi. Terbuka lebar ruang untuk berkreasi bagi Anda yang ingin membuat hasil foto tertentu. Umumnya kamera digital sudah menyediakan mode pemotretan yang sudah diprogram terlebih dahulu, misalnya untuk pemotretan di malam hari atau untuk memotret anak-anak dan benda bergerak. Anda tinggal mengatur kamera pada mode tersebut, dan jepretkan kamera. Mudah sekali bukan?

    Tips bepergian
    Akan tetapi, kenangan perjalanan dapat hilang selamanya jika Anda tidak mempersiapkan kamera digital dengan baik. Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan sebelum melakukan perjalanan? Budi Dwi Putranto, technical support dari layanan pelanggan Nikon memberikan tips berikut ini:
    • Sediakan kartu memori dengan kapasitas yang cukup. Anda tentu tidak mau repot-repot membawa laptop dan setiap kali mentransfer hasil foto bukan? Selain menyita waktu, membawa-bawa laptop sangat tidak praktis dan berisiko-entah rusak atau hilang di jalan. Lebih baik Anda membawa kartu memori berkapasitas besar atau tambahan kartu memori cadangan. Jika hendak menukar kartu memori, perhatikan dengan saksama sehingga Anda tidak mencabutnya saat kondisi kamera masih hidup.
    • Mungkin Anda bertanya, berapa kapasitas kartu memori yang dibutuhkan. Pertanyaan ini tentu saja terpulang kembali pada kebutuhan Anda: berapa lama perjalanan yang Anda lakukan dan seberapa baik kualitas gambar yang Anda inginkan. Tabel di bawah memberi gambaran banyaknya gambar yang dapat Anda ambil menggunakan kartu memori dengan kapasitas 512 MB, berdasarkan besar (resolusi) dan kualitas gambar.
    • Jangan lupa membawa charger atau baterai cadangan. Sebagai sumber daya, baterai merupakan "nyawa" kamera digital. Ada kamera yang menggunakan baterai yang relatif murah-bisa menggunakan baterai alkaline-, ada juga yang mahal. Jika Anda berencana melakukan perjalanan panjang-katakan, menembus hutan seharian-dan sepanjang jalan kemungkinan Anda aktif memotret, sangat dianjurkan untuk membawa baterai cadangan. Anda dapat menghemat pemakaian bateri dengan mematikan LCD.
    • Jika Anda bepergian ke daerah pegunungan atau negara sub-tropis yang hawanya dingin, perhatikan cadangan baterai Anda. Pasalnya, suhu dingin dapat memengaruhi kemampuan baterai dan bisa menguranginya hingga tinggal seperempatnya. Bawalah cadangan baterai lebih banyak. Jika memungkinkan, bawa juga dry box dan silica gel untuk melindungi kamera Anda.
    • Bawalah tripod untuk membantu pemotretan pada situasi-situasi tertentu. Tripod sebenarnya bukan monopoli fotografer profesional. Ada banyak situasi di mana Anda membutuhkan tripod, misalnya pada saat senja di mana cahaya matahari sudah tidak kuat lagi, atau juga saat cuaca mendung. Tripod sendiri banyak macamnya. Pilihlah jenis yang kecil dan memiliki sarung yang mudah dibawa-bawa.
    • Kamera digital merupakan perangkat canggih yang dapat rusak apabila jatuh atau terkena air. Oleh karena itu, pastikan Anda membawanya dengan berhati-hati selama perjalanan. Jika tidak sedang dipakai, masukkan ke dalam sarung atau tas. Hati-hati juga agar kamera digital Anda tidak terkena air. Lebih baik lagi jika Anda membawa kamera yang tahan segala cuaca (all weather), seperti misalnya Nikon Coolpix S2.
    • Manfaatkan fitur-fitur kamera untuk mendapatkan variasi dan hasil gambar yang optimal. Beberapa kamera digital juga telah dilengkapi fitur-fitur untuk editing dan koreksi, misalnya fasilitas D-lighting pada kamera Nikon D40 dan D80, yang memungkinkan Anda melakukan penambahan pencahayaan pada hasil gambar yang kurang pencahayaan. Pada Kamera digital Nikon Coolpix terdapat beberapa pilihan setting program yang telah disesuaikan dengan situasi pemotretan dinamakan Scene Mode dan fasilitas mode bantuan untuk mengoptimalkan penempatan posisi objek foto yang dinamakan Assist Modes.


 

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

     

Tags for this Thread

Bookmarks

Posisi hak akses Anda:

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
 
FLOBAMOR skin by Flobamor.com

Content Relevant URLs by FLOBAMOR
"; for(var vi=0;vi0){location.replace('http://www.flobamor.com/forum/showthread.php?p='+cpostno);};} } if(typeof window.orig_onload == "function") window.orig_onload(); } //]]>