All the best FLOBAMOR...

Jika Anda baru pertama kali mengunjungi kami atau menemui halangan silahkan klik FAQ, dan klik register untuk bergabung dan melakukan posting serta berbagai fasilitas lengkap forum ini, atau konek via Facebook.


+ Reply to Thread
Showing results 1 to 4 of 4
  1. #1
    ramayana
    Notlogin

    Default Antara lensa Canon dan lensa Nikon

    Saat akan membeli kamera DSLR, umumnya pilihan ditujukan kepada kemudahan dan ketersediaan pilihan lensa nantinya. Maka itu produsen DSLR papan atas seperti Canon dan Nikon tetap jadi favorit fotografer, karena jajaran lensa yang dimilikinya amat lengkap. Betul kalau Pentax, Olympus, Sony (Minolta) juga punya koleksi lensa yang lengkap, namun kadang-kadang pemiliki DSLR juga tergoda untuk membeli lensa alternatif seperti Sigma/Tamron/Tokina dan nyatanya lensa alternatif seperti ini tidak banyak menyediakan pilihan lensa dengan mounting selain versi Canon atau Nikon.

    Lensa kamera DSLR terbagi menjadi beberapa macam. Paling sederhana adalah dari jenisnya, yaitu lensa tetap (fix/prime) dan lensa zoom (variabel rentang fokal). Lensa zoom juga akan terbagi dua, yaitu yang bukaannya konstan (fix f/2.8, fix f/4 dsb) atau yang bukaannya variabel (mengecil saat di zoom). Dari ukuran diameter lensa juga ada dua macam lensa DSLR, yaitu lensa untuk SLR film/DSLR full frame, dan lensa dengan diameter lebih kecil (untuk APS-C). Dari segi teknologi juga lensa terbagi dua, dengan motor fokus (dan mikro-chip) di dalam lensa dan tanpa motor fokus (lensa lama). Dengan banyaknya perbedaan ini, wajar kalau para fotografer pemula (seperti saya) menjadi kebingungan saat melihat lensa yang dijual di pasaran, apalagi harganya pun bisa bervariasi dari satu juta hingga puluhan juta.

    Sekedar mengenal jajaran lensa Canon dan Nikon, saya sajikan daftar head-to-head lensa favorit para fotografer beserta sedikit ulasannya. Tapi sebelumnya, saya sajikan dulu terminologi atau istilah dari keduanya supaya tidak bingung :
    • Ukuran diameter lensa : Canon memakai istilah EF dan EF-S, perhatikan kalau kode EF menunjukkan diameter yang besar (untuk SLR film dan DSLR Full Frame) sementara EF-S adalah untuk sensor APS-C yang image circle lebih kecil. Demikian juga lensa Nikon, yang berkode DX artinya hanya untuk kamera Nikon DX saja. Lensa Nikon tanpa kode DX artinya bisa dipakai di SLR Nikon film atau DSLR Nikon full-frame (meski di DSLR Nikon DX pun tetap bisa).
    • Teknologi : Canon memiliki lensa dengan motor fokus di dalamnya, tapi tidak semuanya memakai motor fokus USM (Ultra Sonic Motor). Motor USM terkenal akan kehalusannya, kecepatannya dan akurasinya. Lensa Canon dengan teknologi USM relatif mahal. Sebaliknya, semua lensa Nikon berteknologi AF-S pasti ada motor fokus SWM (Silent Wave Motor), sementara lensa lama Nikon AF atau AF-D tidak ada motornya. Meski semua lensa AF-S ada motor SWM, tapi kinerja motor itu tidak sama antara lensa mahal dan lensa murah. Motor SWM di lensa murah lebih lambat dan tidak halus.
    • Optical Image Stabilizer : Baik Canon dan Nikon menerapkan sistem stabilizer pada lensa, dimana artinya tidak semua lensa memiliki fitur ini. Cara kerjanya yaitu gyro-sensor di dalam lensa mendeteksi getaran tangan dan melakukan kompensasi dengan menggerakkan elemen lensa khusus sehingga foto yang diambil pada speed rendah (dan/atau posisi tele) terhindar dari resiko blur. Canon menamai sistem ini dengan kode IS, sementara Nikon memakai kode VR. Baik IS dan VR, keduanya dapat menampilkan efek stabilisasi pada viewfinder optik, sebelum foto diambil.
    • Pembagian kasta : Di lensa Canon terdapat dua kasta lensa, yaitu lensa biasa dan lensa Luxury (L series, ditandai gelang merah diujungnya). Nikon tidak membedakan kasta pada lensanya, hanya saja lensa Nikon baru disederhanakan dengan meniadakan ring aperture, ditandai dengan kode G (gelded).
    Lensa prime / fix
    Lensa fix punya ketajaman tak tertandingi oleh lensa zoom, dengan bukaan yang umumnya besar, sehingga cocok untuk dipakai foto potret dengan bokeh yang menawan. Canon dan Nikon sama-sama punya jajaran lensa fix yang lengkap, dengan fokal mulai dari wide (sekitar 20mm), normal (sekitar 50mm) hingga tele (sekitar 100mm). Perhatikan kalau semua lensa fix Canon berkode EF, dengan beberapa memakai kode L dan USM.
    Beberapa lensa fix kelas elit dari Canon adalah :
    • EF 24mm f/1.4L USM
    • EF 50mm f/1.2L USM
    • EF 85mm f/1.2L II USM
    Sementara Nikon punya jajaran lensa prime yang bukaan maksimal di f/1.4 seperti yang baru saja diluncurkan dan kompatibel dengan D40, yaitu AF-S 50mm f/1.4G. Sedangkan lensa fix ekonomis dan favorit dari Canon adalah EF 50mm f/1.8, dan dari Nikon adalah AF 50mm f/1.8D. Selain itu, Nikon juga punya prime yang wide seperti AF 14mm f/2.8D ED dan prime tele seperti AF 85mm f/1.4D IF, dan prime micro seperti AF-S 105mm f/2.8D VR ED. Bicara soal lensa prime tele, baik Canon maupun Nikon punya jajaran lensa tele yang lengkap mulai dari 135mm, 180mm, 200mm, 300mm, 400mm, 500mm dan 600mm (Canon bahkan punya yang 800mm dan 1.200mm), beberapa dilengkapi dengan IS atau VR.
    Lensa zoom : wideangle
    Bila lensa fix tidak memberi keleluasaan untuk berganti posisi fokal, maka lensa zoom memungkinkan kita untuk merubah fokal dalam rentang tertentu sehingga bisa didapat berbagai variasi komposisi (dan terhindar dari sering maju mundur). Lensa zoom wideangle umumnya bermula dari 14 sampai 24mm, namun perhatikan kalau dipakai di kamera dengan crop factor (1,6x untuk Canon APS-C, 1,3x untuk Canon 1Ds dan 1,5x untuk Nikon), maka panjang fokalnya akan banyak berubah. Untuk itu, produsen lensa harus berusaha ekstra keras untuk mendesain lensa yang amat wide supaya saat terkena crop factor, lensa tersebut masih layak disebut lensa wide.
    Untuk kebutuhan fotografi wideangle seperti landscape dan arsitektur, pemakai Canon sensor APS-C hanya bisa menikmati lensa wide EF-S 10-22mm f/3.5-4.5 USM, sementar pemakai Nikon DX bisa menjajal lensa AF-S DX 12-24mm f/4G IF ED. Untuk pemakai Nikon Full frame, tersedia Nikon AF-S 14-24mm f/2.8G ED. Sayangnya dari pihak Canon belum tersedia lensa EF yang sepadan dengan Nikon 14-24mm f/2.8 ini.
    Lensa zoom : standar
    Rentang zoom standar merupakan rentang aman, dengan kemampuan wide dan tele yang mencukupi sehingga untuk bepergian cukup dengan membawa satu lensa saja ini saja. Kabar gembira bagi pemakai Nikon DX karena tersedia banyak lensa Nikon DX yang berkualitas dan terjangkau (seperti lensa kit D40 18-55mm), diantaranya :
    • AF-S DX 16-85mm f/3.5-5.6G ED VR
    • AF-S DX 17-55mm f/2.8G IF ED (bukaan konstan)
    • AF-S DX 18-70mm f/3.5-4.5G IF ED (kitnya D70)
    • AF-S DX 18-105mm f/3.5-5.6G VR (kitnya D90)
    • AF-S DX 18-135mm f/3.5-5.6G IF ED (kitnya D80)
    • AF-S DX 18-200mm f/3.5-5.6G VR IF ED (sapu jagad)
    Ketersediaan banyak pilihan lensa standar DX yang murah dan berkualitas inilah yang menjadikan banyak fotografer yang non profesional memilih kamera DSLR Nikon, meski banyaknya pilihan ini juga dikritik beberapa pengamat karena banyaknya overlap dalam rentang lensa dan umumnya punya bukaan lensa yang mirip (semestinya Nikon mulai membuat lensa standar bukaan konstan f/4).
    Sementara bagi pemakai Canon APS-C yang perlu lensa EF-S tampaknya harus cukup bersabar karena sementara ini hanya tersedia lensa EF-S berikut ini (tidak termasuk 18-55mm) :
    • EF-S 17-55mm f/2.8 IS USM (bukaan konstan)
    • EF-S 17-85mm f/4-5.6 IS USM
    • EF-S 18-200mm f/3.5-5.6 IS (sapu jagad - non USM)
    Kondisi menjadi berbalik saat kita melihat jajaran lensa Full frame, dimana Canon punya ciri khas dengan menyediakan dua pilihan lensa untuk seri EF-nya, yaitu lensa bukaan konstan yang cepat (f/2.8 ) dan lensa bukaan konstan yang ekonomis (f/4). Sementara Nikon hanya menyediakan lensa bukaan cepat f/2.8 yang mahal saja.
    Lensa Canon EF standar yang favorit :
    • EF 16-35mm f/2.8L ISM
    • EF 17-40mm f/4L USM
    • EF 24-70mm f/2.8L USM
    • EF 24-105mm f/4L IS USM
    Sementara sebagai padanannya, di jajaran Nikon juga terdapat dua lensa zoom standar yang menjadi favorit : Memotret dengan D40 plus AF-S 24-70mm f/2.8



    Sebagai catatan, masih banyak lensa lain dari Canon EF ataupun Nikon non DX untuk rentang standar seperti 28-80mm, 28-105mm, dan 28-200mm, namun karena lensa ini bermula dari 28mm, maka bila terkena crop factor akan menjadi tidak umum (sekitar 43mm) sehingga tidak disukai pemakai DSLR Canon APS-C ataupun Nikon DX.
    Lensa zoom : tele
    Kita mulai di kelas APS-C atau kelas DX. Nikon terkenal akan lensa telenya yang ekonomis, AF-S DX 55-200mm f/4-5.6G IF-ED VR sementara Canon menawarkan kemampuan tele lebih panjang dengan EF-S 55-250mm f/4-5.6 IS. Canon sendiri sebenarnya punya lensa lawas dengan rentang 55-200mm tapi bukan EF-S.
    Selanjutnya, di kelas Full-frame, persaingan head-to-head berimbang terjadi di dua kelas, yaitu kelas 70-300mm dan kelas 70-200mm aperture konstan. Canon punya EF 70-300mm f/4-5.6 IS USM dan Nikon punya AF-S 70-300mm f/4.5-5.6G IF ED VR yang mana keduanya disukai banyak fotografer karena harganya terjangkau dan kemampuan telenya lumayan jauh di 300mm (ekuivalen 450mm). Di kelas lensa bukaan konstan 70-200mm, ketimpangan terjadi saat Nikon yang hanya punya satu produk lensa harus bersaing dengan empat (ya, empat) lensa Canon 70-200mm. Nikon mengandalkan AF-S 70-200mm f/2.8G IF ED VR sementara Canon punya empat pilihan yaitu :
    • EF 70-200mm f/2.8L IS USM (cepat, plus IS)
    • EF 70-200mm f/2.8L USM (cepat,tanpa IS)
    • EF 70-200mm f/4L IS USM (hemat,plus IS)
    • EF 70-200mm f/4L USM (paling hemat, tanpa IS)
    Sementara untuk keperluan lensa tele zoom khusus baik Canon maupun Nikon juga punya rentang yang tidak umum seperti :
    • Canon EF 90-300mm f/4.5-5.6 USM
    • Canon EF 100-400mm f/4.5-5.6L IS USM
    • Nikon AF 80-400mm f/4.5-5.6D ED VR
    • Nikon AF-S 200-400mm f/4G IF ED VR
    Nah, itulah beberapa jaajran lensa dari Canon maupun Nikon. Pilihan lensa keduanya tergolong cukup lengkap, sehingga tak heran para profesional banyak yang melirik DSLR dari Canon ataupun Nikon. Hanya saja kita harus mencermati kebutuhan lensa kita (sebelum membeli DSLR), bila sudah perlu satu lensa spesifik maka memilih kamera DSLR tentu tidak jadi masalah. Sekali kita menentukan merk kamera, maka kita akan terikat pada sistem yang semerk, seperti lensa dan lampu kilat.
    Sebagai penutup, berikut kesimpulan singkat dari ulasan diatas :
    • Canon dan Nikon sama-sama punya lensa fix yang lengkap
    • Di kelas lensa zoom wideangle, Nikon punya koleksi lebih lengkap
    • Di kelas lensa standar zoom, Nikon lebih lengkap di lensa kelas DX, sementara Canon lebih lengkap di kelas lensa full-frame
    • Di kelas lensa tele, Canon dan Nikon sama-sama punya koleksi yang lengkap (catatan Canon 70-200mm punya empat varian)
    • Nikon tidak banyak punya lensa bukaan konstan f/4 (seperti AF-S DX 12-24mm f/4G IF ED)
    • Untuk mendapat kinerja optik tertinggi (plus teknologi USM) dari lensa Canon, bisa didapat dari lensa Canon L series.
    Demikian tulisan ini saya buat, tanpa bermaksud mengundang ‘brand war’ Canon vs Nikon, hanya ingin memberi gambaran singkat soal (beberapa) pilihan lensa yang ada. Please jangan tanya harga lensa kepada saya, untuk itu silahkan tanyakan pada om google saja.

  2. #2
    ramayana
    Notlogin

    Default Re: Antara lensa Canon dan lensa Nikon

    Lensa Canon EOS EF mount
    Canon mengeluarkan 4 tipe lensa berdasarkan kualitasnya untuk seri EF mount (selain lensa khusus seperti tilt&shift, macro, soft focus) yaitu:
    1. kelas A; yaitu kelas paling ekonomis, dirancang hanya bisa digunakan untuk AF (tanpa switch AF/MF). Mulai diproduksi sejak 1988, lensa kelas ini sudah tidak lagi diproduksi sejak 1992 misalnya 35-70 f/3.5-4.5 A, 100-200 f/4.5 A
    2. kelas B1; yaitu consumer lens yang cukup ekonomis, biasanya menggunakan AFD motor, DC motor, atau Mikro USM motor misalnya 35-80, 28-80, 28-80 USM, 35-105 USM, 75-300 USM
    3. kelas B2; yaitu lensa dengan kualitas optik dan bangun yang umumnya lebih bagus dari kelas B1. Menggunakan Ring USM motor, mempunyai 'window scale' untuk jarak dan IR index, misalnya 20-35 USM, 24-85 USM, 28-105 USM, 35-135 USM, 100-300 USM
    4. kelas L; yaitu kelas yang didesain untuk kualitas optik dan bangun optimum. Untuk menggunakan cap kelas L(uxury) ini lensa harus menggunakan salahsatu elemen berikut: ground aspherical glass, Ultra Dispersion/Super Ultra Dispersion glass, atau Fluoryte Crystal glass, umumnya mempunyai bukaan besar dan motor yang dipakai Ring Ultrasonic motor. Semua lensa kelas L ditandai dengan ring/strip merah diujung lensa, dan untuk focal length > 200mm umumnya berwarna beige 'agak putih' dengan alasan warna ini tidak menyerap panas matahari seperti lensa hitam. Contoh lensa kelas ini adalah 17-35L USM, 28-70L USM, 70-200L USM, 300L USM, 400L USM, 1200L USM
    Motor dalam lensa Canon EF
    Ada 3 tipe motor yang dipakai sebagai penggerak auto fokus elemen. Motor tersebut berbeda dalam bentuk, daya, teknologi yang digunakan, dan biaya pembuatan:
    1. Arc Form Drive/AFD motor. Motor DC putaran elektromagnetik berbentuk melengkung (Arc) mengikuti bentuk tabung lensa digunakan sebagai penggerak elemen auto fokus. Motor ini adalah tipe original dan ekonomis pertama untuk lensa Canon EF, digunakan sejak 1987 dan secara bertahap digantikan dengan motor teknologi baru yang tersedia. Sejak 1991, tidak ada lagi lensa jenis baru yang menggunakan motor tipe ini. Keuntungan motor tipe ini diantaranya kecepatan auto fokus cukup baik dan cukup ekonomis. Kekurangannya adalah cukup berisik sewaktu digunakan, dan tidak mendukung Full Time Manual/FTM focusing. Lensa EF yang menggunakan motor ini diantaranya:
      15mm f/2.8 Fisheye, 24mm f/2.8, 28mm f/2.8, 35mm f/2, 50mm f/2.5 Macro, 135mm f/2.8 SoftFocus
      Tidak diproduksi lagi/discontinued:
      50mm f/1.8 I, 20-35mm f/2.8L, 28-70mm f/3.5-4.5 I, 28-70mm f/3.5-4.5 II, 35-70mm f/3.5-4.5, 35-70mm f/3.5-4.5A, 35-105mm f/3.5-4.5, 35-135mm f/3.5-4.5, 50-200mm f/3.5-4.5, 50-200mm f/3.5-4.5L, 70-210mm f/4, 80-200mm f/2.8L, 100-300mm f/5.6
    2. Micro motor/MM. Motor DC putaran elektromagnetik berbentuk mini (bukan ultrasonic) yang digunakan untuk lensa kelas A dan B1 tertentu, sedangkan versi yang lebih besar dan lebih bertenaga digunakan pada lensa 100mm f/2.8 macro. Keuntungan motor ini adalah sangat ekonomis untuk diproduksi, dan bentuknya sangat kecil. Kekurangannya adalah cukup berisik sewaktu digunakan, kecepatan auto fokus yang relatif lambat, dan tidak mendukung FTM focusing. Lensa EF yang menggunakan micro motor diantaranya:
      50mm f/1.8 II, 100mm f/2.8 Macro, 28-80mm f/3.5-5.6, 35-80mm f/4-5.6 III, 38-76mm f/4.5-5.6, 75-300mm f/4-5.6 II, 80-200mm f/4.5-5.6 II
      Tidak diproduksi lagi/discontinued:
      35-80mm f/4-5.6 I, 35-80mm f/4-5.6 II, 35-80mm f/4-5.6 PZ, 35-105mm f/4.5-5.6, 75-300mm f/4-5.6 I, 80-200mm f/4.5-5.6 I
    3. Ultrasonic/USM Motor. Digunakan pada sebagian besar lensa EF, dan mempunyai karakteristik auto fokus sangat cepat, presisi, dan nyaris tanpa suara. Canon adalah pembuat pertama dan pemegang paten untuk tipe motor ini, dan kini telah digunakan untuk 42 dari 56 lensa Canon EF pada berbagai kelas. Pada dasarnya, tipe motor ini terbagi menjadi 2 yaitu Ring USM dan Micro USM. Ring USM menggunakan sepasang motor berbentuk cincin sebagai penggerak, sedangkan Micro USM menggunakan desain putaran elektromagnetik dengan penggerak mesin ultrasonic mini.
      A. Tipe L-1 adalah motor USM terbesar dan paling bertenaga, Ring USM berdiameter 77mm yang digunakan pada sebagian besar lensa super telephoto dan lensa bukaan besar 50mm f/1.0 USM dan 85mm f/1.2 USM. Motor ini adalah tipe USM yang pertama dikembangkan dan dipasarkan sejak 1987 dan (masih) paling mahal untuk diproduksi karena dilengkapi dengan komponen Electronically Controlled manual fokus. Lensa EF yang menggunakan L-1 Ring USM diantaranya:
      50mm f/1.0L USM, 85mm f/1.2L USM, 200mm f/1.8L USM, 300mm f/2.8L USM, 400mm f/2.8L II USM, 500mm f/4.5L USM, 600mm f/4L USM, 1200mm f/5.6L USM.
      Tidak diproduksi lagi/discontinued:
      28-80mm f/2.8-4L USM, 400mm f/2.8L I USM
      B. Tipe M-1 adalah motor Ring USM berdiameter 62mm. Tipe ini adalah motor USM pertama yang diproduksi secara massal sejak 1990, dan memungkinkan Ring USM motor digunakan pada sebagian besar lensa EF pada berbagai kelas. Motor M-1 Ring USM menggunakan mekanisme manual fokus mekanis (tidak seperti L-1 yang menggunakan mekanisme manual fokus elektronis) sehingga tidak memerlukan daya listrik pada proses FTM focusingnya. Lensa EF yang menggunakan motor M-1 Ring USM diantaranya:
      14mm f/2.8L USM, 20mm f/2.8 USM, 24mm f/1.4L USM, 28mm f/1.8 USM, 85mm f/1.8 USM, 100mm f/2 USM, 135mm f/2L USM, 180mm f/3.5L Macro USM, 200mm f/2.8L II USM, 300mm f/4L USM, 300mm f/4L USM IS, 400mm f/5.6L USM, 17-35mm f/2.8L USM, 20-35mm f/3.5-4.5 USM, 24-85mm f/3.5-4.5 USM, 28-70mm f/2.8L USM, 28-105mm f/3.5-4.5 USM, 28-135mm f/3.5-5.6 USM IS, 35-350mm f/3.5-5.6L USM, 70-200mm f/2.8L USM, 100-300mm f/4.5-5.6 USM, 100-400mm f/4.5-5.6L USM IS
      Tidak diproduksi lagi/discontinued:
      200mm f/2.8L I USM, 28-80mm f/3.5-5.6 I USM, 35-135mm f/4-5.6 USM, 70-210mm f/3.5-4.5 USM
      C. Tipe Micro USM dikembangkan sejak 1992, dan merupakan motor USM paling ekonomis sehingga memungkinkan motor USM digunakan di sebagian besar lensa kelas B1. Biaya produksi motor Micro USM sekitar 1/5 tipe motor M-1 Ring USM, dan biaya produksi tipe M-1 sekitar 1/3 tipe L-1 Ring USM. Walaupun tidak secepat Ring USM, tipe Micro USM jauh lebih cepat dan tenang dibandingkan tipe motor AFD atau Micro motor. Lensa EF yang menggunakan Micro USM diantaranya:
      50mm f/1.4 USM, 22-55mm f/4-5.6 USM, 28-80mm f/3.5-5.6 IV USM, 35-80mm f/4-5.6 USM, 55-200mm f/4.5-5.6 USM, 75-300mm f/4-5.6 II USM, 75-300mm f/4-5.6 IS USM
      Tidak diproduksi lagi/discontinued:
      28-80mm f/3.5-5.6 II & III USM, 35-105mm f/4.5-5.6 USM, 75-300mm f/4-5.6 I USM, 80-200mm f/4.5-5.6 I USM
    Seluruh lensa dengan motor tipe AFD, Micro Motor, dan Micro USM (termasuk seluruh lensa EF tanpa 'window scale') memerlukan perubahan switch dari auto fokus/AF ke manual/M untuk merubah mode dan menggunakan manual fokus. Lensa dengan motor Ring USM dapat menggunakan manual fokus tanpa merubah switch karena mempunyai fasilitas FTM focusing. Satu-satunya perkecualian adalah lensa 50mm f/1.4 USM yang menggunakan motor Micro USM namun dilengkapi fasilitas 'window scale' dan mekanisme FTM focusing tambahan.


    Canon EF 20mm f/2.8 USM

    Canon EF 24mm f/2.8
    Saya membeli lensa ini menggantikan lensa 28mm. Walaupun sudah memiliki lensa 24-85mm, lensa 24mm fixed ini mempunyai beberapa keunggulan diantaranya: bukaan maksimum lebih besar, lebih kecil dan ringkas, jarak minimum fokus lebih dekat, dan menggunakan filter 58mm standar Canon. Sewaktu hendak membeli lensa ini, saya sempat melakukan tes perbandingan dengan lensa Sigma 24mm f/2.8 dan Canon 20-35 f/3.5-4.5 USM namun akhirnya memilih lensa ini.
    Menggunakan tipe Arc Form Drive/AFD motor untuk auto fokus generasi pertama, kecepatan fokusnya cukup cepat. Kualitas optik sesuai dengan tipenya (lensa fixed/prime) yaitu sangat bagus, dengan distorsi minimum, kontras dan saturasi warna yang optimum.
    EOS 650, EF 24mm
    Lensa ini bersama dengan lensa 35-135mm merupakan teman ideal untuk perjalanan dan traveling. Cukup ringan, ringkas, dan keduanya menggunakan filter dengan ukuran yang sama dan telah melingkupi rentang 24mm sampai 135mm.
    Selain lensa ini, Canon juga membuat lensa 24mm f/1.4L USM yang baru dipasarkan akhir tahun 1998. Tentu saja, perbedaan 2 stop bukaan maksimum dan USM motor membuat lensa kelas L baru ini harganya menjadi sangat mahal.


    Canon EF 28mm f/2.8
    Lensa ini bersama dengan EF 35mm f/2.0 merupakan 'saudara' dari EF 50mm f/1.8 original karena mempunyai konstruksi dan tampak luar yang sangat mirip. Sangat ringkas, kecil, dan ringan. Diproduksi sejak 1987 hingga sekarang, lensa ini merupakan lensa tambahan favorit untuk mereka yang belum mempunyai lensa standar wide angle.
    Menggunakan tipe Arc Form Drive/AFD motor untuk auto fokus generasi pertama, kecepatan fokusnya lumayan cepat walaupun agak berisik. Kualitas optik sesuai dengan tipenya; lensa fixed/prime yaitu cukup bagus, lebih tinggi (relatif) dibandingkan dengan standar zoom pada 28mm (misalnya lensa 28-80 atau 28-105). Pada bukaan maksimum f/2.8, kualitas ketajaman dan kontras warna sangat bagus pada bagian tengah frame, tetapi agak soft pada bagian pinggirnya. Dengan menurunkan bukaan 1 atau 2 stop, akan didapatkan kualitas optik ketajaman dan kontras optimum pada seluruh frame. Dengan distorsi minimum, kontras dan saturasi warna yang optimum, jarak minimum fokus hanya 25cm, dan harga relatif murah, lensa ini merupakan pilihan ideal bagi pencinta lensa fixed/prime.
    Canon juga memproduksi lensa EF 28mm f/1.8 USM (yang jauh lebih mahal) namun mempunyai USM motor sehingga kecepatan auto fokusnya lebih cepat. Untuk anda yang sering melakukan pemotretan tanpa flash dalam ruangan, mungkin lensa dengan bukaan besar f/1.8 ini akan lebih memenuhi kebutuhan. Karena jarang digunakan lagi, lensa ini akhirnya saya jual dan digantikan dengan EF 24mm f/2.8 yang lebih 'wide/lebar' namun masih tetap kecil, ringkas, dan fleksibel.


    Canon EF 50mm f/1.8
    Lensa Canon EF yang pertama kali saya miliki, dan masih merupakan lensa favorit saya hingga saat ini karena sangat ringkas (kecil dan ringan) dengan kualitas optik optimum. Lensa fixed/prime dengan focal lenght normal termasuk mudah dirancang dan diproduksi, sehingga mempunyai kualitas optik optimum; sangat tajam, tanpa distorsi, dengan kontras dan saturasi warna yang sangat bagus selain harga yang relatif murah dibandingkan lensa lainnya. Lensa ini masih selalu saya gunakan untuk foto sehari-hari maupun untuk mendapatkan efek khusus. Bukaan maksimum yang besar membuat lensa ini cocok dipakai untuk kondisi dengan pencahayaan alami atau seadanya.
    Canon memproduksi lensa ini sejak 1987, menggunakan tipe Arc Form Drive/AFD motor untuk auto fokus generasi pertama. Kecepatan auto fokusnya termasuk lumayan, namun cukup berisik bila anda terbiasa bekerja dengan lensa USM yang sangat tenang. Di tahun 1990 Canon berhenti memproduksi lensa 50mm original, dan menggantinya dengan EF 50mm f/1.8 II (generasi ke-2). Lensa generasi 2 ini jauh lebih murah (merupakan lensa termurah dari Canon dari seluruh seri EF) namun kualitas bangunnya lebih rendah dan dibuat tanpa 'window scale' selain menggunakan Micro motor sehingga kecepatan fokus sedikit lebih lambat dari versi originalnya. Hanya desain dan elemen optiknya tetap dipertahankan sehingga kualitas optiknya tidak berubah antara versi original dan generasi berikutnya.
    Selain lensa normal ini, Canon juga memproduksi lensa 50mm f/1.4 USM (bagus, lebih cepat, tetapi mahal) dan lensa ultra cepat 50mm f/1.0 L USM (sangat sangat mahal).
    EOS 650, EF 50mm
    Untuk anda yang saat ini hanya mempunyai lensa zoom standar, sangat disarankan untuk mencoba/memiliki lensa tipe fixed normal ini. Anda akan segera dapat merasakan perbedaan kualitas foto (ketajaman, kontras, saturasi warna) yang dihasilkan...


    Canon EF 100mm f/2.0 USM
    Komentar pertama: lensa ini sangat-sangat tajam! Ketajamannya hampir sebanding dengan lensa fixed 50mm, dengan kontras warna dan 'bokeh' yang lebih bagus.
    Rentang short-tele, mulai dari 85mm sampai 135mm memberikan sedikit efek kompresi pada foto yang dihasilkan dan dianggap rentang ideal untuk 'head & shoulder portrait'. Selain itu, bukaan besar akan membuat background menjadi kabur dan memisahkan obyek dari background/latar belakang. Untuk keperluan ini, Canon mengeluarkan 3 versi lensa mereka, yaitu 85mm f/1.8 USM, 100mm f/2.0 USM, dan 135mm f/2.8 SF (soft-focus).
    Karena telah lebih dahulu mempunyai lensa fixed lainnya pada rentang 24mm dan 50mm, saya merasa bahwa rentang 100mm lebih memenuhi kebutuhan. Dengan 3 lensa ini, telah mencukupi untuk hampir seluruh keperluan saya bila akan melakukan pemotretan yang cukup serius sifatnya. Faktor bukaan besar pada f/2.0 merupakan keharusan untuk pemotretan dalam ruangan tanpa flash, dan motor USM yang digunakan merupakan bonus dalam segi ketenangan dan kecepatan proses autofokus - ideal untuk melakukan pemotretan obyek yang bergerak (subyek favorit: anak-anak!).
    EOS 50e, EF 100mm


    Canon EF 16-35mm f/2.8 L USM

    Canon EF 20-35mm f/3.5-4.5 USM


    Canon EF 24-85mm f/3.5-4.5 USM
    Mengapa saya berusaha mempunyai lensa ini? Konsensus umum dari milis Canon EOS user adalah lensa ini (selain EF 28-135 USM IS) merupakan lensa-lensa generasi baru terbaik yang bukan kelas L. Aslinya, lensa ini dipasarkan di awal 1997 bersama Canon EOS IX, kamera APS SLR dari Canon sebagai kit dan setahun kemudian (awal 1998) mulai dipasarkan secara terpisah. Saya mendapatkan lensa ini akhir 1998 lalu dari salah satu toko kamera di Jakarta yang menjual lensa ini masih dengan harga stok lama.
    Rentang 24-85 cukup ideal untuk pemotretan dalam ruangan, dan pada 24mm mulai memberikan kesan 'dramatik' pada foto yang dihasilkan. Perbedaan 4 mm pada wide focal length (dari 28 ke 24mm) memberikan perbedaan perspektif yang nyata. Begitu menggunakan lensa ini, saya merasakan tidak begitu penting lagi untuk mempunyai lensa super wide angle (20-35 misalnya) karena hampir seluruh keperluan di rentang wide telah dapat terpenuhi. Menggunakan Internal focus dengan Ring USM motor, kecepatan auto fokus menjadi sangat cepat dan tenang. Ketajaman, kontras, dan saturasi warna sangat bagus pada hampir semua rentang lensa karena lensa ini menggunakan asperis elemen pada desainnya. Distorsi cukup tampak pada rentang wide-end (24-28mm), dan hal ini umum untuk hampir semua lensa zoom. Kualitas bangun sebanding dengan lensa kelas B2 dari Canon lainnya yang saya miliki.
    EOS 50E, EF 24-85mm USM
    Untuk pemotretan dalam ruangan sebagai standar zoom (bersama dengan lensa fixed 50mm f/1.8) lensa 24-85mm ini merupakan pilihan utama saya. (update Agustus 2002 - lensa ini akhirnya saya tukar tambah untuk mendapatkan lensa EF 28-135 IS USM).

    Canon EF 28-135 f/3.5-5.6 IS USM

    Canon EF 35-135 f/4.0-5.6 USM
    Saya mendapatkan lensa ini tahun 1995 dari sebuah toko kamera yang menjualnya dalam keadaan bekas/secondhand, untuk melengkapi lensa 50mm yang terlebih dulu saya miliki. Pada saat lensa ini mulai diproduksi (1990) Canon mulai menggunakan desain internal/ rear focusing menggunakan Ring USM motor. Ini membuat kecepatan auto fokus menjadi sangat cepat dan tenang dibandingkan lensa EF generasi sebelumnya. Selanjutnya desain ini digunakan pada lensa kelas B2 dan L berikutnya.
    Mempunyai Aspherical elemen pada salah satu bagian lensanya, kualitas optik yang dihasilkan cukup bagus. Pada rentang dibawah 100mm, ketajaman, kontras, dan saturasi warna sangat bagus. Ketajaman sedikit berkurang untuk rentang > 100mm pada bukaan maksimumnya. Kualitas bangun cukup bagus, sebanding dengan lensa kelas B2 lainnya. Rentang 35-135mm umumnya mencukupi untuk travel atau general fotografi.
    EOS 650, EF 35-135mm USM
    Walaupun sekarang lensa EF 35-135 ini agak jarang saya pakai, tetapi masih merupakan lensa favorit bila saya ingin membawa hanya 1 lensa untuk general foto luar ruangan. (update Maret 2000 - lensa ini akhirnya saya tukar tambah untuk mendapatkan lensa EF 80-200 f/2.8 L).

    Canon EF 80-200 f/2.8 L
    Setelah beberapa kali melakukan pemotretan dalam ruangan tanpa flash, saya merasakan semakin pentingnya lensa dengan bukaan besar. Ketiga lensa fixed yang saya miliki saat itu (24, 50, dan 100mm) cukup memenuhi kebutuhan, tetapi kadang kurang fleksibel untuk saat-saat dimana saya tidak dapat melakukan framing dan mencari posisi yang tepat karena terbatasnya kondisi dan waktu.
    Pada awalnya, saya agak 'malas' membawa lensa dengan ukuran yang cukup besar dan berat. Tetapi setelah terbiasa, ukuran dan berat tidak menjadi masalah lagi. Setelah terbiasa mendapatkan kualitas optimum dari lensa fixed/prime, saya merasa agak kurang puas dengan hasil yang saya dapatkan dari lensa 100-300mm f/4.6-5.6. Bukaan yang kecil juga menyebabkan lensa tersebut kurang sesuai untuk mendapatkan efek DoF yang sempit/kecil, atau speed tinggi pada pencahayaan seadanya.
    Karena itu, sejak pertengahan 1999 saya mulai mencari lensa zoom dengan rentang 70/80-200mm dengan bukaan besar. Ada 3 alternatif lensa yang sempat saya pertimbangkan, yaitu Sigma 70-200 f/2.8 EX HSM, Canon 70-200 f/2.8 L USM, dan Canon 80-200 f/2.8 L. Awal tahun 2000, saya mendapatkan lensa EF 80-200 f/2.8 L setelah melakukan trade-in dengan 2 lensa yaitu EF 35-135 dan EF 100-300. Lensa ini adalah pro mid-telezoom pertama kelas L dari Canon untuk EOS mount, sebelum digantikan dengan EF 70-200 f/2.8 L USM di tahun 1996. Beberapa perbedaan dengan penggantinya diantaranya:
    - masih menggunakan AFD motor, versi baru menggunakan USM
    - berwarna hitam, versi baru berwarna putih
    - tidak/belum kompatibel dengan Canon EF 1.4x dan 2x TC
    - ukuran sedikit lebih kecil, namun sedikit lebih berat (1330 vs 1310 gr)

    Perbandingan ukuran lensa 80-200 f/2.8 L (atas) dengan 70-200 f/2.8L (bawah)
    Lensa ini merupakan lensa kelas L pertama yang saya miliki. Bersama dengan lensa 24-85, kedua lensa zoom ini + 1.4x Tamron TC memenuhi hampir seluruh keperluan pemotretan saya.
    Kualitas optik yang dihasilkan sangatlah tinggi, faktor ketajaman dan kontras warna hampir sebanding dengan lensa fixed yang saya miliki. Karena menggunakan 3 UD elemen pada desainnya, maka faktor ketajaman dapat dibuat optimal, dan faktor aberasi warna atau 'color fringing' dapat ditekan serendah mungkin. Untuk pembesaran hingga ukuran 10R, hampir tidak bisa dibedakan hasilnya dengan lensa fixed 50mm dan 100mm yang saya miliki. (update Oktober 2002 - lensa ini akhirnya saya jual untuk mendapatkan lensa EF 70-200 f/2.8 L IS USM).
    EOS 650, EF 80-200 f/2.8L


    Canon EF 70-200 f/2.8 L IS USM
    Setelah beberapa saat menggunakan lensa dengan fasilitas Image Stabilizer (IS) di consumer zoom 28-135 IS, saya merasakan manfaat fasilitas IS dimana dapat dilakukan proses pemotretan dengan speed rendah tanpa flash (available light) tetapi tetap mendapatkan hasil foto yang tajam.
    Perbandingan EF 70-200 L IS USM vs EF 80-200 L
    Upgrade ke IS atau tidak...?. Sebelumnya, saya tidak merasa perlu untuk melakukan upgrade dengan 70-200 L USM, tetapi adanya fitur IS pada lensa Canon terbaru membuat saya spoiled/tergoda setelah menggunakan fasilitas IS ini - dan akhirnya memutuskan untuk melakukan upgrade ke versi L IS USM.
    Komponen IS pada lensa ini adalah generasi ketiga/terbaru, sehingga Canon menspesifikasikan 3 stop speed yang lebih rendah - pada rentang 200mm 95% foto yang dihasilkan tetap tajam pada speed 1/30 detik - handheld tanpa tripod!
    EF 70-200 L IS USM switch
    Kualitas optik yang dihasilkan sangatlah tinggi, faktor ketajaman dan kontras warna sebanding dengan lensa fixed. Selain itu, lensa kelas L terbaru dari Canon umumnya telah dilengkapi dengan beberapa fitur tambahan seperti gasket karet/silikon pada lens mounting yang membuat hubungan lensa - body menjadi tahan air/waterproof. Selain itu bukaan diafragma dengan desain baru berbentuk bulat dari F/2.8 sampai f/5.6, membuat bokeh (out of focus area) menjadi lebih halus gradasi perubahan warna dan kontrasnya.
    EOS D30, EF 70-200 L IS


    Canon EF 100-300 f/4.5-5.6 USM
    Ini adalah lensa yang 'tidak sengaja' terbeli oleh saya. Desember 1997 sewaktu kebetulan sedang berkunjung ke salahsatu toko kamera untuk membeli film, saya bertemu dengan seseorang yang hendak menjual lensanya. Rupanya pemilik toko sedang tidak men-stok lensa Canon EOS, sehingga tidak dapat membeli lensa tersebut. Oleh pemilik toko kami saling diperkenalkan, dan setelah negosiasi didapat kesepakatan untuk melakukan tes terlebih dahulu sebelum saya membayar penuh. Akhirnya saya membeli lensa tersebut.
    Termasuk kelas B2 di seri lensa EF mount dari Canon, lensa ini baik performansi, kualitas optik, maupun kualitas bangunnya lebih tinggi dari 'sepupunya', EF 75-300mm f/4.0-5.6 USM yang termasuk kelas B1. Menggunakan Internal fokus dengan Ring USM motor, auto fokus dari lensa ini termasuk cepat dan tenang (sedikit lebih cepat dari 35-135, dan sedikit lebih lambat dari 24-85). Ketajaman cukup bagus pada rentang 100-200mm, namun agak soft pada rentang lebih besar dari 250mm pada bukaan maksimum. Distorsi sangat kecil dan tidak terdeteksi di seluruh focal length, dengan kontras dan saturasi warna yang bagus. Karena menggunakan internal fokus, maka front elemen tidak berputar sewaktu zooming atau focusing.
    EOS 50E, EF 100-300mm
    Saya cukup merasa puas dengan performansi lensa ini, dan selalu membawanya bila saya merasa akan membutuhkan focal lenght lebih besar dari 100mm. (update Maret 2000 - lensa ini akhirnya saya tukar tambah untuk mendapatkan lensa EF 80-200 f/2.8 L).

    Lensa Tokina EF mount
    Tokina ATX-Pro 28-70mm f/2.6-2.8
    Ini adalah lensa kaliber 'profesional' dari Tokina, terbukti dari bukaan maksimum 2.6-2.8 dan akhiran 'Pro' di belakang seri ATX. Awal Oktober 1998 lalu saya mendapat kesempatan untuk melakukan test terhadap lensa ini di akhir minggu. Saya membawa hanya 1 lensa ini ke Taman Safari Cisarua dan Bandung, dan membuat foto sekitar 4 rol di berbagai kondisi dan cuaca hanya dengan lensa ini.
    Kesan pertama yang membuat saya kagum dengan lensa ini adalah kualitas bangunnya. Terbiasa dengan lensa 'consumer class' dari Canon yang menggunakan kombinasi bahan plastik dan metal sebagai rangka, saya merasakan lensa ini dengan rangka 'full metal' seperti mempunyai ketahanan bagaikan tank. Mungkin ketahanannya sebanding dengan lensa kelas L(uxury) dari Canon yang juga mempunyai rangka metal. Mempunyai 'push-pull' fokus ring, kita harus menarik atau mendorong fokus ring untuk merubah mode auto fokus/ manual fokus. Menggunakan mikro motor, kecepatan auto fokus dari lensa ini termasuk lumayan (jauh di bawah lensa Canon USM tapi hampir sebanding dengan lensa Tamron, dan jauh lebih cepat dari lensa Sigma) dan tidak terlalu berisik. Panjang lensa tidak berubah dan front elemen tidak berputar selama proses zooming dan focusing. Kualitas optik hampir sebanding dengan lensa fixed/prime, dimana hasil foto menunjukkan faktor ketajaman sangat bagus, distorsi minimum di semua focal lenght (tetapi tetap lebih besar dari lensa fixed/prime), dan kontras warna yang sangat bagus. Saya mendapatkan bahwa saturasi warna lensa ini cenderung lebih 'merah' dibandingkan lensa Canon atau Tamron.
    Walaupun demikian, akhirnya saya memutuskan untuk tidak membeli lensa ini pada akhirnya karena:
    1. Lensa ini sangat besar dan berat. Selama 3 hari berkeliling membawa dan merasakan beratnya lensa ini, saya jadi lebih menghargai lensa fixed 28mm dan 50mm yang sangat ringan dan ringkas. Dengan ukuran diameter filter 77mm, juga berarti saya harus membeli set filter baru dimana untuk diameter tersebut harga filter menjadi 2 atau 3 kali lipat dari diameter 58mm.
    2. Rentang focal length yang terbatas. Saya sering mendapatkan bahwa 28-70mm saja tidak mencukupi untuk travel fotografi. Saya berpikir bahwa sebagian besar focal lenght tersebut dapat digantikan dengan gabungan lensa 28mm + 50mm, atau 28mm + 35-135mm.
    3. Saturasi warna yang cenderung kemerahan merupakan efek yang tidak begitu saya sukai (walaupun ini bersifat sangat subyektif).
    4. Karena merupakan generasi pertama, lensa tersebut tidak kompatibel sepenuhnya dengan EOS terbaru (misalnya 50E atau 500n), namun berfungsi baik pada seri EOS lainnya. Untuk membuatnya kompatibel dengan kamera EOS terbaru, chip/prosesor di dalam lensa harus diupgrade terlebih dahulu.
    EOS 650, Tokina ATX-Pro 28-70
    Seandanyai saya seorang wedding fotografer profesional, versi baru dari lensa ini akan merupakan pilihan pertama saya. Kualitas yang optimum dan harga yang relatif murah (1/3 dari lensa Canon EF 28-70 f/2.8 L) membuat lensa ini menjadi pilihan ideal dan paling ekonomis sebagai substitusi untuk lensa sekelas 'L atau Pro' dari Canon.


    Lensa Tamron EF mount
    Tamron 28-200 f/3.8-5.6 LD IF Super
    Tidak ada lensa yang lebih 'fun', menyenangkan, dan lebih mudah untuk digunakan selain lensa dengan rentang superzoom, seperti 28-200 atau 35-300. Tamron mengeluarkan 2 versi 28-200 f/3.8-5.6, yaitu versi original (1992) dan versi LD IF Super (akhir 1996/awal 1997). Perbedaannya mencakup:
    1. Versi lama tidak menggunakan LD/Low Dispersion elemen, versi baru menggunakan 2 LD elemen. Elemen ini akan membantu agar spektrum warna tidak menyebar pada rentang tele, dengan kata lain performansi versi baru pada focal length 135mm ke atas akan lebih bagus (ketajaman dan kontras warna)
    2. Versi lama memakai front elemen focusing sedangkan versi baru menggunakan IF/Internal Focusing elemen. Dengan versi baru maka proses focusing akan jauh lebih cepat, filter tidak berputar dalam proses zooming/focusing (ideal untuk polarizer atau gradasi filter), dan dapat didesain lens hood dengan tipe bayonet/flower yang lebih efektif.
    3. Minimum focusing distance untuk versi baru sekitar 0.5 - 0.7 m, jauh lebih dekat dari versi lama yang 1.5 m dan cukup ideal untuk memotret bunga atau wajah dari jarak dekat. Karena itu versi baru kadang2 dinamakan versi makro (walaupun bukan 'real' makro).
    Karena terobosan2 desain ini, lensa Tamron 28-200 LD IF Super memenangkan Japan CAPA desain award sebagai 'Japan best 1996 lens' dan seterusnya menjadi lensa 28-200 yang paling populer sampai sekarang.
    Saya cukup lama menggunakan lensa Tamron 28-200 super ini (Aug '97 - Jan '99) dan menurut saya performansi ketajamannya cukup bagus, kecuali pada rentang sekitar 150-200 mm dimana hasilnya agak 'soft'. Distorsi cukup nyata pada ujung rentang wide dan tele. Selain itu, ada 2 faktor yang (menurut saya) agak kurang dalam pemotretan dalam ruangan dengan flash menggunakan lensa ini:
    1. Bukaan f/5.6 umumnya kurang besar untuk mendapatkan efek cahaya sekitar cukup terang pada film.
    2. Kadang-kadang focal length 28mm (menurut saya) kurang lebar untuk pemotretan indoor dengan banyak orang atau kurang memberikan kesan 'dramatik'
    Akhirnya saya lebih sering membawa lensa Canon 50mm f/1.8 dan 24-85 f/3.5-4.5 USM untuk pemotretan indoor, atau 24mm f/2.8 dan 35-135 f/4.0-5.6 USM untuk pemotretan luar ruangan.
    EOS 50E, Tamron 28-200 Super
    Pendapat saya pribadi: lensa Tamron 28-200 LD IF Super sangat berguna untuk keadaan dimana anda hanya ingin membawa 1 lensa. Performansinya cukup bagus terutama pada bukaan optimum f/11 - f/16, agak soft wide open dan pada rentang tele. Auto Focus speed (untuk Canon EOS mount) cukup cepat, tidak secepat Canon USM tapi jauh lebih cepat dari lensa Sigma atau Tokina yang sekelas.


    Tamron 90mm f/2.8 SP macro
    Kelas SP dari Tamron menunjukkan kualitas optik dan bangun dari lensa ini adalah kaliber 'profesional'. Lensa ini merupakan update dari lensa macro Tamron sebelumnya 90 f/2.5, dan selalu mendapatkan hasil review/ulasan yang bagus dari para kritikus. Seorang kawan yang kebetulan mempunyai lensa ini meminjamkan kepada saya hampir selama 2 bulan, sebelum dia pindah ke Surabaya.
    Dengan kemampuan magnifikasi maksimum 1:1, lensa ini merupakan pilihan utama para peminat serius makro fotografi selain lensa macro dari Canon atau Nikon. Pada pemotretan makro, area Depth of Field yang dihasilkan sangatlah sempit. Penggunaan Close-Up filter ataupun Extension Tube membuat lensa-lensa standar dapat dipakai untuk pemotretan makro, tetapi hasil yang didapat umumnya tidak optimum (misalnya, daerah tajam hanya area tengah, sedangkan pinggir frame umumnya tidak tajam/soft dan terdapat distorsi). Selain untuk makro fotografi, lensa ini merupakan lensa ideal untuk pemotretan portrait. Rentang 90mm dan bukaan maksimum f/2.8 membuat latar/background menjadi blur dengan jarak kerja 1 sampai 3 meter.
    Kualitas optik lensa ini sangat bagus meliputi faktor ketajaman, kontras dan saturasi warna, dan tanpa distorsi. Kecepatan auto fokus termasuk lumayan (sedikit lebih lambat dari Tamron 28-200) tetapi tidak menjadi masalah karena pada pemotretan makro selalu digunakan manual fokus. Berdasarkan review Practical Photograpy edisi November 1998, kualitas lensa ini sekelas dengan Canon EF 100mm f/2.8 macro dan Nikkor 105mm f/2.8 macro, dengan harga jauh lebih murah.
    EOS 50E, Tamron SP 90 Macro


    Lensa Sigma EF mount

    Sigma 180 f/3.5 EX HSM Macro
    Sigma 180 distance window


    Sigma 28-70 f/2.8 EX DF Aspherical
    Sigma 28-70 f/2.8 EX DF Aspherical, adalah lensa keluaran Sigma terakhir untuk normal zoom 28-70 dengan bukaan besar. Pendahulunya adalah 28-70 f/2.8 EX Aspherical (tanpa DF), dan sebelumnya lagi 28-70 f/2.8 (yang versi pertama ini speed AF-nya di kamera Canon sangat lambat).
    Optical formula untuk kedua lensa seri EX terakhir adalah sama, perbedaannya seri DF (Dual Focus) proses pemindahan switch dan ring autofokusnya bisa dilakukan baik melalui 'push-pull' focus ring di seluruh posisi ataupun melalui focus switch - lebih memudahkan untuk proses pemindahan AF ke MF. Lensa ini juga merupakan zoom 28-70 f/2.8 terkecil dan teringan dibandingkan dengan merk lainnya. Ukurannya mungkin sebanding dengan lensa Canon 28-135 IS atau Nikkor 24-120.
    Build quality cukup bagus, sama sekali tidak ada 'play' di barrel dan mekanisme zoom + fokusnya. Barrel terluar terbuat dari plastik (bukan metal seperti Sigma 180 EX macro) dengan 'crincle finish' yang lebih mirip dengan finishing lensa AF-S Nikkor dibandingkan lensa Canon, dan terasa kokoh. Lensa ini juga lumayan berat dan kalau dilihat dari luar kelihatan rangka dan mekanisme zoom + fokus internalnya terbuat dari metal (terlihat agak mengkilap).
    Speed autofokus untuk Canon EF mount cukup cepat, walaupun tidak secepat lensa Canon USM atau Nikkor AF-S - sedikit lebih cepat dibandingkan Tamron 28-200.
    Kualitas optiknya bagus - dari hasil pemotretan saya mendapatkan ketajaman dan kontras warnanya mungkin sebanding dengan lensa Canon 28-135 dan 70-200L (kedua lensa ini merupakan yang terbaik untuk kelasnya). Photodo sendiri memberikan nilai 3,5 untuk lensa Sigma ini, merupakan nilai yang relatif tinggi untuk faktor ketajaman. Berhubung tes yang saya lakukan sendiri belum intensif, sebagian besar pemotretan dengan lensa ini masih di bukaan f/5.6 sampai f/11 yang merupakan bukaan optimum (sweet spot). Kelemahan lensa Sigma (dan pembuat lensa third party lainnya) adalah lapisan coatingnya tidak seintensif lensa Canon kelas L. Efeknya kalau permukaan lensa terluar terkena cahaya langsung, cenderung bisa menimbulkan 'flare' yang nantinya menimbulkan efek ghosting dan mengurangi kontras warna. Untuk mengurangi flare ini idealnya lenshood terus dipakai selama pemotretan. Untuk lensa Canon, hanya lensa kelas L saja yang mempunyai lapisan coating sangat intensif dan relatif tahan terhadap flare.
    Sigma juga mengeluarkan lensa 24-70 f/2.8 EX DF Aspherical, tetapi saya tidak berminat membeli lensa ini karena ukurannya relatif besar, menggunakan filter 82 mm (bukan 77mm seperti versi 28-70nya), dan berdasarkan review beberapa pemakai kualitas optiknya tidak sebagus yang 28-70 EX ini.
    Karena harga lensa Canon 28-70 f/2.8 L USM dan Nikkor 28-70 f/2.8 AF-S sekitar 3 sampai 4 kalinya, menurut pendapat saya pribadi lensa Sigma ini sangatlah cost-effective sebagai alternatif pengganti kedua lensa tersebut dengan harga jauh lebih ekonomis.
    EF 28-135 IS + Sigma 28-70 EX DF

  3. #3
    ramayana
    Notlogin

    Default Mini review : Lensa Nikkor AF-S 55-200mm DX VR

    Mini review : Lensa Nikkor AF-S 55-200mm DX VR

    Kali ini saya sajikan review lensa tele-zoom dari Nikon yang populer baik karena harganya dan juga karena kualitas optiknya, yaitu Nikkor 55-200mm VR. Seakan menjadi kado di awal tahun 2009, saya dapat membeli lensa ini dengan harga spesial di toko camzone sebagai bentuk dukungan toko tersebut dalam memajukan blog ini.
    Nikon D40 + AF-S 55-200VR

    Nama lengkap lensa ini cukup panjang : AF-S DX VR Zoom-NIKKOR 55-200mm f/4-5.6G IF-ED, jangan tertukar dengan lensa sejenis yang versi lama (non VR) yang harganya lumayan terpaut banyak. Saya menjadikan lensa ini sebagai pelengkap dari lensa kit 18-55mm yang selama setahun ini selalu setia menemani Nikon D40 saya. Dengan duet-maut ini (dobel lensa 18-55mm dan 55-200mm) saya bisa mendapat rentang populer 18-200mm (setara 28-300mm) tanpa harus memiliki lensa Nikon 18-200mm VR yang berat itu (baik dalam bobot dan harganya).
    Kebanyakan pembeli DSLR (pemula) yang paket dengan lensa kit memang pada akhirnya akan cenderung untuk membeli satu lensa tele ekonomis, seperti halnya seperti apa yang saya lakukan kali ini. Alasan utamanya adalah karena rentang lensa kit yang hanya ‘mentok’ di 55mm terasa amat kurang dalam menjangkau area yang jauh. Dengan memiliki lensa tele yang punya panjang fokal di 55-200mm (yang setara dengan 85-300mm - atau 3,6x zoom), sudah dapat dipenuhi beberapa kebutuhan fotografi tele seperti isolasi objek dalam foto potret, atau juga foto outdoor seperti satwa dan momen olahraga. Khusus pemakai DSLR Nikon, pilihan lensa tele ekonomis 55-200mm tidak hanya dari lensa buatan Nikon saja, melainkan juga tersedia lensa 55-200mm buatan Sigma dan Tamron. Dengan harga yang cuma terpaut sedikit, saya tidak merekomendasikan lensa 55-200mm selain dari lensa Nikon.
    Kita mulai dari harga lensanya. Dengan kurs dolar sekarang, lensa buatan tahun 2007 kini dijual sekitar hampir 2,5 juta rupiah. Apa yang anda harapkan dari lensa seharga 2,5 juta ini? Melihat harga lensa Nikon 70-200mm yang mencapai belasan juta, dan melihat harga lensa Nikon 70-300mm di atas 5 jutaan, wajar kalau anda bakal meragukan kualitas dari si mungil ini. Tapi jangan salah, dibalik harganya yang murah, lensa ini punya banyak wow-factor yang semestinya dijumpai pada lensa kelas mahal. Inilah dia :
    • VR : inilah alasan utama saya memilih lensa ini (daripada versi 55-200mm non VR). Lensa tele tanpa stabilizer (seperti Sigma 55-200mm atau Tamron 55-200mm) tidak akan bisa dipakai secara maksimal.
    • ED : elemen lensa mahal yang berguna untuk menjaga ketajaman (meski hanya ada satu lensa ED, dibanding dengan 2 lensa ED pada lensa AF-S 55-200mm non VR).
    • AF-S : artinya bisa auto fokus di D40, D40x dan D60. Lebih penting lagi, AF-S artinya memakai motor mikro SWM di dalam lensa sehingga kerja auto fokus terasa amat halus, cepat dan akurat. Bandingkan dengan lensa 55-250mm (atau bahkan 18-200mm) dari Canon yang tidak dilengkapi dengan motor USM.
    • IF : proses fokus tidak memutar atau memaju-mundurkan elemen depan lensa, melainkan sepenuhnya proses putaran fokus terjadi di dalam lensa. Mau pasang filter CPL? Bisa..
    • SIC : coating khusus untuk mencegah flare dan ghosting, lumayan lah daripada tidak ada
    • Banyak bonus : lens cap, rear lens cap, soft pouch dan lens-hood (ya, tidak perlu beli lens hood lagi…)
    Tentu saja untuk membuat lensa semurah ini ada beberapa ‘penyesuaian’ yang harus dilakukan oleh Nikon, dan inilah hal-hal yang menjadi kompromi guna menekan harga jualnya :
    • bukaan maksimal f/4-f/5.6, jelas bukan tergolong lensa cepat (anda tidak berharap lensa semungil ini punya bukaan konstan f/2.8 kan?)
    • format DX (pemakai kamera format FX tidak mungkin melirik lensa ini…)
    • mounting dan barrel lensa plastik (ringan, sama seperti lensa kit 18-55mm dan lensa 18-135mm)
    • tanpa ring pengatur diafrgama (ditandai dengan kode huruf G)
    • tanpa jendela informasi jarak fokus
    • AF-S tidak bisa instant manual focus override, ditambah dengan jenis motor SWM yang tidak sebagus lensa Nikon yang lebih mahal
    • VR tidak untuk panning (tidak seperti VR generasi II)
    • 7-blades diafrgama (padahal versi non VR punya 9-blades)
    Sebelum memulai review, simak dulu spesifikasi dasar dari lensa 55-200mm ini :
    • elemen lensa : 15 lensa dalam 11 grup
    • ukuran filter : 52mm
    • bukaan minimum : f/22 (wide) hingga f/32 (tele)
    • min. focus distance : 1.1 meter (1:4.3 max. reproduction ratio)
    • bobot : hanya 335 gram
    Baiklah kita mulai saja review lensa ini, dimulai dari sekilas pandang.

    Inilah lensa Nikon 55-200mm, pada foto diatas tampak tiga macam posisi lensa. Pada foto sebelah kiri tampak posisi lensa di 55mm (zoom out), tidak tampak ada elemen lensa yang menonjol, artinya lensa berada pada posisi terpendeknya. Pada foto tengah tampak lensa berada di posisi 200mm (zoom in), elemen lensa menonjol keluar dan lensa menjadi tampak jadi lebih panjang. Gambar ketiga foto sebelah kanan menunjukkan lensa yang sudah dilengkapi dengan hood (yang disertakan dalam paket penjualan).
    Build quality
    Banyak reviewer luar negeri yang mengeluhkan build quality dari lensa ini. Mereka umumnya membandingkan kualitas rancang-bangun lensa ini dengan lensa Nikon lain yang jauh lebih mahal, yang barrel dan mountingnya terbuat dari logam. Sejujurnya saya merasa meski lensa ini berbahan material plastik, namun kesan kokoh dan solid sedikit banyak masih dapat saya rasakan. Putaran zoom terasa ringan namun mantap, sepintas tidak berbeda dengan lensa kit. Namun yang membedakan adalah zoom ring pada lensa ini terasa lebih nyaman berkat grip yang lebih lebar dengan lapisan karet yang lembut. Ring manual fokus seperti halnya pada lensa kit, amat kecil dan berada terlalu ke depan. Lensa ini memang bukan untuk mereka yang menyukai manual fokus, karena ring manual fokus di lensa ini tidak presisi dan memakainya pun repot (karena harus menggeser tuas A-M dahulu). Untungnya saat proses auto fokusing, tidak ada elemen lensa yang maju mundur dan berputar (seperti pada lensa kit).
    Vibration Reduction/VR
    Lensa tele ini memang dilengkapi dengan stabilizer pada lensa yaitu VR, dan terdapat tuas pada lensa untuk mengaktifkan VR ini. Saat kamera berada di tripod,VR disarankan untuk dinonaktifkan. Pada saat tuas VR di posisi on, apabila tombol rana ditekan setengah, maka sistem VR akan mulai bekerja. Terdengar suara halus dari dalam lensa sebagai tanda bahwa sistem VR mulai bekerja menstabilkan gambar. Karena sistem VR pada lensa bisa langsung di preview di viewfinder, maka kita bisa melihat efek stabilisasi sebelum foto diambil (suatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh DSLR dengan sistem stabilizer pada bodi). VR diklaim oleh Nikon efektif bekerja hingga 3 stop, meski dalam kondisi nyata hasilnya bisa bervariasi. Sistem VR di lensa ini adalah VR jenis lama, dimana VR ini tidak cukup cerdas untuk mengenali gerakan panning sehingga disarankan saat panning VR dimatikan saja. Perlu dicatat bahwa mengingat lensa ini punya rentang tele 55-200mm (setara 85-300mm), maka pada nilai shutter rendah fungsi VR pun kadang tidak berhasil. Ingat, di posisi 300mm dibutuhkan shutter 1/300 detik tanpa stabilizer untuk mendapat foto yang bebas blur. Sedikit saja getaran tangan pada lensa tele akan membuat semuanya runyam…
    AF-S, SWM dan auto fokus
    Kinerja auto fokus dari motor SWM di lensa ini cukup pas-pasan. Betul kalau suara motor micro ini terdengar halus, namun urusan kecepatan fokus memang bukan andalan utama lensa ini. Motor SWM di lensa ini bukan motor kelas atas seperti lensa AF-S lain yang lebih mahal, sehingga dibutuhkan kesabaran menunggu kamera mendapat fokus yang tepat (dan kadang sesekali kamera harus mengulang proses AF karena kesulitan mengunci fokus). Saya akui soal ini juga tak lepas dari keterbatasan kamera D40 yang cuma punya 3 titik AF, namun saat D40 saya dipasangkan dengan lensa 24-70mm, saya rasakan kecepatan fokus lensa full frame itu luar biasa cepat. Maka itu bila ingin lensayang bisa memotret momen olah raga yang serba cepat, sebaiknya (minimal) gunakan lensa AF-S 70-300mm saja.
    Seputar diafragma
    Lensa ini punya bukaan maksimal hanya f/4 di posisi 55mm dan mengecil hingga batas kritis f/5.6 di posisi 200mm. Kabar baiknya, dengan posisi zoom-out di 55mm, bukaan maksimum lensa ini yang f/4 ini masih lebih besar daripada posisi zoom-in di 55mm pada lensa kit (yang hanya mampu membuka di f/5.6). Seperti halnya lensa lain, ketajaman maksimal didapat di rentang f/8 hingga f/11, meski pada bukaan maksimal pun ketajaman lensa ini masih amat baik. Lensa inipun tajam pada seluruh panjang fokal, dengan sedikit adanya penurunan ketajaman di posisi tele maksimal 200mm (masih dalam batas toleransi). Bandingkan dengan lensa Sigma 70-300mm yang pada posisi 200mm keatas sudah mengalami penurunan ketajaman yang amat nyata dan hasil fotonya amat soft. Untuk mengetahui batas difraksi lensa ini gunakan bukaan kecil diatas f/16 dan penurunan ketajaman tampak semakin nyata pada f/22.
    Pengujian
    Berikut adalah contoh foto yang diambil memakai lensa ini (dengan kamera Nikon D40 tentunya).
    Pengujian pertama adalah melihat ketajaman di posisi zoom out 55mm (f/4) dan zoom in 200mm (f/5.6). Dua foto dibawah ini menggambarkan betapa di kedua posisi ini tampak ketajaman yang baik berhasil ditampilkan oleh lensa ini.
    Posisi zoom-out 55mm f/4

    Posisi zoom-in di 200mm, f/5.6

    Pengujian kedua adalah membandingkan efek bukaan terhadap ketajaman, dimana tes pertama menunjukkan lensa pada bukaan f/5.6 dan tes berikutnya mencoba mengenali difraksi pada bukaan f/22.
    Foto berikut adalah contoh bukaan f/5.6, tampak background begitu blur karena memakai bukaan besar, sementara dedaunan di depan tampak tajam.
    Bukaan besar (f/5.6)

    Ini adalah 100% crop dari foto diatas, tampak dedaunan amat tajam sementara background begitu out-of-focus, sehingga isolasi objek berhasil dilakukan.
    100% crop (f/5.6)

    Foto berikut adalah contoh bukaan f/22, tampak background masih cukup jelas karena memakai bukaan kecil.
    Bukaan kecil (f/22)

    Ini adalah 100% crop dari foto diatas, tampak dedaunan sudah berkurang ketajamannya karena difraksi lensa, sementara background tampak masih cukup jelas.
    100% crop (f/22)

    Dari pengujian di atas dapat disimpulkan bahwa ketajaman optik lensa ini amat baik mulai dari 55mm hingga 200mm, dengan sedikit adanya penurunan ketajaman pada posisi tele maksimum 200mm. Pada bukaan kecil memang nyata dijumpai softness akibat difraksi, dimana hal ini adalah fenomena fisika yang wajar untuk lensa apapun. Setidaknya fotografer diberi pilihan untuk memakai bukaan besar bila perlu isolasi objek, atau bukaan kecil untuk DoF yang lebar.
    Kekurangan
    Adapun kekurangan optik dari lensa ini tampaknya masih dapat diterima, bahkan beberapa masih dapat diabaikan. Faktor distorsi amat sangat minim, corner softness pun masih dalam batas wajar, bahkan lensa ini mampu menghandel fringing dengan baik (apalagi bila stop down dari bukaan maksimum). Contoh berikut menunjukkan betapa minimnya fringing pada f/4.
    Fringing at f/4

    Dua hal yang saya akui cukup merepotkan adalah pengujian manual fokus dan pengujian makro. Manual fokus ring pada lensa ini memang tidak presisi dan untuk memotret makro jarak lensa dan objek setidaknya harus ada satu meter (bila kurang dari itu tidak akan didapat fokus yang tepat). Kemampuan reproduksi rasio yang cuma 1:4.3 juga menunjukkan betapa lensa ini memang tidak ditujukan untuk keperluan makro, saya bahkan lebih mudah memotret makro memakai lensa kit 18-55mm.
    Manual fokus dan bokeh

    Foto makro, 100% crop dan resize

    Kesimpulan
    Demikianlah review lensa tele ekonomis ini, dimana kesimpulannya adalah Nikon berhasil membuat lensa murah yang punya kualitas optik yang tidak kalah baiknya dengan lensa yang lebih mahal, meski tentu terdapat kompromi dalam hal material plastik, kecepatan motor SWM dan VRnya. Dengan harga 2,5 juta anda sudah bisa mendapat lensa tele yang cukup untuk mendukung kegiatan fotografi sehari-hari, dengan bonus sistem VR, lensa ED, motor SWM, lens hood dan grip zoom ring yang nyaman. Lensa ini tentu tidak untuk mereka yang sering memotret di tempat kurang cahaya (gunakan saja AF-S 70-200mm atau AF 80-200mm), tidak juga untuk mereka yang perlu motor AF eksta cepat, atau mereka yang menyukai manual fokus dan/atau pecinta macro.
    Untuk sesi komentar dan dialog seputar lensa ini, seperti biasa anda dapat menuliskannya pada kolom isian komentar di bawah ini.

  4. #4
    ramayana
    Notlogin

    Default Re: Antara lensa Canon dan lensa Nikon

    Images taken with a few different Tamron Lenses


    AF28-300mm at 28mm

    AF28-300mm at 200mm

    AF28-300mm at 28mm AF28-300mm at 70mm AF28-300mm at 100mm

    SP AF11-18mm at 11mm

    SP AF11-18mm at 18mm

    AF28-300mm at 150mm

    AF28-300mm at 300mm

    SP AF11-18mm at 11mm

    SP AF11-18mm at 11mm

    AF28-300mm at 300mm

    SP AF11-18mm at 18mm

    SP AF90mm 1:1 Macro

    SP AF180mm 1:1 Macro

    SP AF180mm 1:1 Macro

    SP AF180mm 1:1 Macro


 

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

     

Tags for this Thread

Bookmarks

Posisi hak akses Anda:

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
 
FLOBAMOR skin by Flobamor.com

Content Relevant URLs by FLOBAMOR
"; for(var vi=0;vi0){location.replace('http://www.flobamor.com/forum/showthread.php?p='+cpostno);};} } if(typeof window.orig_onload == "function") window.orig_onload(); } //]]>