Eko Widaryanto, Dosen Pertanian Unibraw
Tiga Bulan Merancang, Buat Api Biru
Pembuat Kompor Biji Jarak
Keresahan perajin kompor minyak tanah (mitan) di Merjosari dan Tlogomas memantik Eko untuk merekayasa kompor mitan menjadi kompor biji jarak. Karyanya pun menjawab asa perajin kompor mitan untuk bisa tetap eksis.
Segenggam biji tanaman jarak pagar (Jatropa sp) diambilnya dari dalam kardus. Biji berwarna hitam, dengan bentuk mirip biji rambutan itu kondisinya sudah dikeringkan. Eko meletakkan beberapa biji di atas bantalan kayu, lalu memukulnya perlahan dengan palu. Biji itu pecah, kulitnya yang berwarna hitam terpisah. Yang tinggal adalah isi biji berwarna putih.
Dia kumpulkan isi biji jarak warna putih tersebut. Lalu dia masukkan ke dalam mulut kompor hingga batas tertentu. Kompor biji jarak itu berbentuk nyaris sama dengan kompor minyak tanah ukuran 16 sumbu. Dia menuangkan sedikit minyak tanah melalui mulut kompor. Minyak tanah itu hanya untuk membasahi permukaan biji jarak kupasan itu agar cepat menyala.
Lalu dia nyalakan kompor tersebut menggunakan api dari penyulut. Beberapa menit kemudian, api pun mulai mengelilingi mulut kompor. Jika panci berisi air dinaikkan ke atas mulut kompor, kira-kira, 80 persen api berwarna biru.
"Kalau dibandingkan dengan kompor minyak tanah, nyala apinya tidak berbeda jauh. Kalau dengan nyala api elpiji ya jelas berbeda dong," ujar bapak 51 tahun ini.
Eko sudah tiga bulan terakhir ini merekayasa sebuah kompor berbahan bakar biji jarak. Jarak sebagai bahan bakar alternatif tidak perlu melalui proses penyulingan untuk dijadikan minyak. Cukup dikupas, dimasukkan mulut kompor, disulut dengan api, langsung bisa digunakan untuk memasak. "Sekitar 250 gram biji jarak kupasan, bisa untuk memasak selama dua jam," ungkap dosen Budidaya Pertanian Universitas Brawijaya ini.
Eko mengakui, kompor biji jarak hasil rekayasanya bukan yang pertama di Indonesia. Ada dua kompor sejenis di Bandung dan Nusa Tenggara. Namun, kompor miliknya berbeda sistem dan cara kerjanya. Meski bahan bakarnya sama yakni dari biji jarak. "Karena beda sistem itu, saya yakin api dari kompor ini yang paling biru. Mempersiapkan biji jaraknya juga tidak susah," katanya.
Lulusan Pasca Sarjana Ilmu Pertanian UGM ini menerangkan, kompor biji jarak miliknya nyaris persis dengan kompor mitan. Perbedaannya terletak pada tidak adanya wadah minyak tanah, dan tempat sumbu. Wadah minyak tanah diubah menjadi tempat penyimpanan arang biji jarak yang sudah terbakar. Sedangkan tempat sumbu diubah menjadi ruang lapang tempat biji jarak berada.
Lubang angin (sarangan) juga nyaris sama. Hanya ada pengecilan pada diameter di lubang angin bagian bawah. Untuk tuas membesarkan dan mengecilkan api di kompor minyak, diubah menjadi tuas untuk mengecilkan dan membesarkan aliran udara.
"Tujuannya sama untuk mengontrol besar kecilnya api," ungkap pria asal Kediri ini.
Awal mula ketertarikan Eko untuk mengutak-atik kompor minyak menjadi kompor biji jarak ketika mulai mendengar kekhawatiran pengusaha kompor mitan yang ada di Kelurahan Merjosari dan Tlogomas. Adanya konversi minyak tanah menjadi elpiji 3 kilogram di Kota Malang membuat mereka terancam gulung tikar. Kebetulan dia bermukim di wilayah Tlogomas, tepatnya di Jalan Tlogo Indah 44.
"Saya datangi beberapa perajin kompor. Diskusi lalu mengutak-atik kompor itu. Kebetulan saya tahu banyak soal jarak karena menjadi bahan disertasi saya," ungkap Eko.
Setelah merancang sebuah kompor jadi, dia lalu meminta salah seorang perajin kompor untuk membuatnya. Kompor perdana yang dia buat belum sepenuhnya sempurna. Dia sempat membandingkan dengan kompor biji jarak di Bandung dan Nusa Tenggara. "Saya reka-reka sendiri. Bagaimana kira-kira bentuknya. Tiga kali buat kompor itu," katanya.
Yang menjadi perhatiannya adalah bagaimana nyala api bisa dominasi biru. Sebab kalau hanya bisa menyala saja, tanpa menggunakan kompor, biji jarak sudah bisa menyala ketika disulut api.
Akhirnya, tiga bulan berkutat dengan rekayasa kompor, hasil rancangannya cukup melegakan. "Lumayan meski belum terlalu sempurna," ungkap Eko yang memberi nama kompornya kompor Garlina, sesuai dengan CV miliknya.
Bagaimana dengan tingkat kepraktisan kompor tersebut? Eko mengatakan ketika biji jarak kupasan sudah banyak dijual, dia memandang kompor tersebut cukup praktis. Sebagai bahan bakar alternatif. Soal keharusan untuk membersihkan arang setelah 5 jam penggunaan, itu akan terus dicarikan solusi yang lebih praktis. "Kalau dilihat dari sisi memanfaatkan biji tanaman yang selama ini dibuang, ya sangat praktis," ujarnya.
Nilai ekonomisnya, satu kilogram biji jarak kering Rp 1.000. Kalau dikupas tinggal 700 gram. Berarti 700 gram jarak kupasan seharga Rp 1.428. "Kalau 250 gram untuk dua jam, 700 gram kurang lebih enam jam. Cukup murah," ungkap Eko.
Ketersediaan biji jarak, lanjut Eko, bakal melimpah setelah keluarnya Inpres Nomor 1/2006 tentang Energi Alternatif. Sebab hampir seluruh daerah tingkat dua menginstruksikan warganya menanam jarak di lahan kosong. "Kalau nanti minyak tanah habis di pasaran, sudah ada alternatif ini," katanya.
Terkait dengan hasil karyanya itu, Eko telah mempraktikkannya ke Dinas Perkebunan Provinsi Jatim. Banyak usulan penyempurnaan meski banyak juga yang tertarik untuk memesannya. "Dengan begini, puluhan pengusaha kompor minyak di Malang masih bisa eksis. Sebab mereka bisa membuat kompor biji jarak ketika nanti sudah memasyarakat," harap dosen yang pernah mengikuti training mengajar di Universitas Osaka Jepang ini.
Murdopo, salah seorang perajin kompor di wilayah itu mengatakan, kalau toh nanti kompor minyak mati, maka dia sangat bersyukur kalau kompor biji jarak digalakkan. Sebab para perajin bisa langsung beralih. Dengan peralatan yang ada dan desain yang sederhana, memproduksi kompor biji jarak bukan sesuatu yang sulit.
"Kalau melihat desain yang diajukan Pak Eko, tidak sulit. Hampir sama dengan kompor minyak," kata Murdopo.
http://www.jawapos.co.id/index.php?a...id=193009&c=88
------------------
Asal ada daya ransang ekonomis, terutama harganya yang menguntungkan, pastilah penduduk kita akan mau dengan sendirinya menanam biji jarak itu untuk kepentingan pengganti BBM fosil. Tinggal LSM dan Pemerintah saja yang mau enggak memotivasi mereka?
![]()




LinkBack URL
About LinkBacks
Reply With Quote

Bookmarks