Pernahkah anda bayangkan memberikan air sekaligus pupuk P secara bersamaan secara tepat dan merata untuk seluruh tanaman? Tentu saja ini bukan dengan melarutkan pupuk P dalam air dan kemudian disiramkan langsung pada tanaman. Cara demikian bisa saja memberikan efek yang kurang baik. Kini ada tekhnologi baru yang dapat memberikan kebutuhan air bersamaan dengan pupuk dengan dosis yang tepat kepada setiap tanaman dengan sistem fertigasi. Selain tepat karena sesuai kebutuhan tanaman, juga lebih efisien

Pak Agus harus berfikir dua tiga kali setiap akan melalakukan kegiatan penyiraman. Tidak jarang beliau harus memutar otak mencari cara bagaimana agar musim tanam kali ini kebutuhan air dapat terpenuhi. Bagaimana tidak pusing? akar permasalahan yang dihadapinya ternyata tidak terlepas dari kurangnya pasokan air. Letak pertanamannya yang jauh dari sumber air tersebut membuat Pak Agus harus rela mengeluarkan ongkos tambahan guna mendatangkan suplai air. Keadaan ini akan lebih parah bila saat kemarau tiba. Permasalahan seperti ini harus dihadapi setiap tahun sehingga beliau harus bisa menggunakan air lebih bijak dan hemat agar tanaman bisa tumbuh optimal sesuai yang diharapkan.

Salah satu penggunaan sistem fertigasi pada lahan yang ada di green house untuk tanaman melon

Pak Agus tidaklah sendirian karena yang mengalami persoalan klasik seperti itu tidak hanya beliau namun beratus-ratus bahkan mungkin beribu-ribu petani lain yang tersebar di seluruh nusantara ini. Bagaimanapun juga air termasuk faktor alam vital yang ikut menentukan dalam keberhasilan usahatani. Tanpa adanya air yang memadai, pertumbuhan maupun perkembangan tanaman akan terhambat. Sebagai sumber daya alam yang vital air tentu saja tidak hanya dibutuhkan dalam dunia pertanian. Manusia dan hewan pun sangat membutuhkannya untuk pertumbuhan dan mempertahankan hidup. Dengan semakin meningkatnya populasi penduduk di dunia ini, tentu saja kebutuhan air tidak hanya untuk pertanian saja melainkan juga manusia dan hewan. Padahal ketersediaan sumber daya air ini sangat terbatas. Keterbatasan ini tentu saja “memaksa” kita untuk melakukan penghematan agar kebutuhan air masih dapat terpenuhi. Untuk itu fertigasi dalam pertanian merupakan solusi alternatif sebagai upaya penggunaan air dan pupuk lebih efektif dan efisien.

Tabel 1 : Perbandingan Resapan Phosphor Pada Setiap Jenis Irigasi
SISTEM IRIGASI
PHOSPHOR
Permukaan
Springkler (curah)
Mikro-irigasi
10 - 20
15 - 25
25 - 35
Sumber : Imphos PHOSPHATE News Latter 2001

TABEL 2
Perbandingan Hasil Panen Hortikultura antara metode Tradisional dan Fertigasi
Jenis Tanaman
Hasil panen (kg/ha)
Jenis Irigasi
Kentang
Tomat
Timun
Strawbery
Semangka
Fertigasi
Tradisional
70
40
350
150
300
145
50
20
100
60
Sumber : Imphos PHOSPHATE News Latter 2001


Fertigasi merupakan kombinasi antara irigasi dan pemupukan yang dilakukan secara bersamaan atau konsentrasi pupuk tertentu yang diaplikasikan /dicampur dalam air irigasi. Dalam sistem fertigasi ini, sistem irigasi yang digunakan adalah irigasi tetes (drip irrigation). Selama beberapa kurun waktu kegiatan irigasi dalam pertanian telah mengalami perkembangan dari tradisional yaitu irigasi permukaan (bahasa jawa = leb) kemudian irigasi curah (sprinkler) sampai irigasi tetes (drip irigation). Tekhnologi drip irigation ini banyak digunakan di daerah yang kekurangan air, makanya tidaklah mengherankan bila pertanian di Arab Saudi, maupun Israel berkembang dengan menggunakan sistem irigasi ini.

Tekhnologi mikro-irigasi seperti irigasi curah maupun irigasi tetes memberikan keuntungan dalam efisiensi penggunaan air dan pupuk. Irigasi tetes mampu menyimpan (menghemat) air serta mampu meningkatkan produktifitas tanaman hortikultura.


Sistem irigasi ini ternyata lebih efisien 40 – 50 % dibandingkan irigasi konvensional dimana penggunaan air untuk irigasi permukaan (leb) bisa mencapai efisiensi/penghematan sebesar 34 kg/ha/mm (dalam luasan satu hektar untuk pengairan setebal 1 mm mampu menghemat air sebanyak 34 kg) sedangkan untuk irigasi tetes mencapai efisiensi 52 kg/ha/mm dan 60 kg/ha/mm bila irigasi tetes dipadukan dengan penggunaan mulsa. Bagaimanapun dengan perluasan tanah yang harus terairi menyebabkan ketersediaan air dan pupuk menjadi lebih efisien dan terjamin. Keunggulan lain dari irigasi tetes adalah mengurangi kesalahan saat melakukan penyiraman dimana bisa saja dalam kegiatan penyiraman tersebut ada bagian yang memperoleh air yang cukup, ada yang kurang bahkan ada pula yang berlebihan. Tentu saja hal ini kurang baik bagi perkembangan tanaman.
Fertilizer tank


Tidak Rumit, Lebih Efisien
Pada sistem fertigasi yang modern seperti yang diterapkan di Haifa (Israel), design alatnya terbagi atas tiga bagian utama yaitu By Pass, Hydraulic Injector dan Injection Device Driven By. Pada By Pass terdapat tiga bagian utama yaitu Fertilizer tank (tangki pupuk), ventury dan dosatron. Fertilizer tank berfungsi untuk menampung larutan nutrisi (campuran air dan pupuk) yang ukurannya tergantung pada populasi tanaman. Tangki ini sebaiknya diletakkan di pojok kebun/petak sawah. Kemudian Sistem venturi merupakan jenis pengatur tekanan yang merupakan elemen primer yang paling akurat. Dimana ketika terjadi perubahan kecepatan aliran maka tekanan juga berubah dan ketika kecepatan aliran maksimum menyebabkan tekanan minimum. Dengan sistem ini, tekanan output selalu lebih kecil daripada tekanan input dan fluida (campuran air dan pupuk) dalam jumlah yang besar atau yang mempunyai kekentalan (viscous) yang tinggi, dapat diukur dengan tingkat akurasi maksimum. Dan yang terakhir yaitu dosatron merupakan bagian dari sistem by-pass yang berfungsi untuk mengatur konsentrasi dan aliran nutrisi (campuran air-pupuk), sehingga pengontrolan bisa lebih akurat. Adapun Hidraulic Injector berfungsi sebagai alat untuk memompa (mendorong) larutan nutrisi (campuran pupuk dan air) untuk masuk ke jaringan distribusi. Sistem ini berkerja berdasarkan prinsip hidrolik. Sedangkan Injection Devices Driven by merupakan tenaga penggerak dari sistem fertigasi secara keseluruhan.


Prinsip kerja sistem fertigasi sebenarnya tidak terlalu rumit dimana pupuk P dilarutkan terlebih dahulu kedalam air dalam sebuah tabung (fertilizer tank). Dalam hal ini air memasuki bagian awal by pass. Air yang berasal dari sumber dialirkan melalui pipa yang terhubung dengan tabung suplai pupuk di pusat pengendali. Air yang melalui kran penghubung tabung larutan pupuk akan tersedot dan tercampur dengan pupuk untuk selanjutnya dihubungkan dengan pipa yang tersebar ke seluruh areal kebun. Dari tiap pipa tersebut akan dipecah menjadi beberapa selang sesuai banyaknya bedengan. Pada selang itupun akan terpecah kembali menjadi bagian lebih kecil yang akan langsung berhubungan dengan setiap lubang tanam. Air yang keluar dari selang pada lubang tanam tidak memancar atau menggenang, sehingga baik bagian bunga maupun batang atau daun tidak akan basah. Tentu saja hal ini akan memperkecil resiko serangan jamur pada batang, daun maupun bunga.


Skema Mekanisme Kerja Sistem Fertigasi dengan Drip Irigation


Manfaat
Menyinggung masalah keunggulan atau manfaat dari penggunaan fertigasi ini yang paling utama adalah dalam hal efisiensi penggunaan air serta pupuk. Bayangkan bila kita menggunakan irigasi konvensional baik itu penggenangan maupun penyiraman, tentu saja air yang dibutuhkan lebih banyak .

Tidak hanya itu, tenaga kerja yang dibutuhkan pun lebih banyak. Menyiram tanaman memang mudah demikian pula dengan memberi pupuk. Namun, untuk mendapatkan hasil maksimal dimana kebutuhan air dan pupuk dapat terpenuhi lebih merata di setiap tanaman dengan melakukan penghematan adalah sangat sulit. Untuk itu fertigasi merupakan solusi alternatif yang cocok. Dengan fertigasi, ada beberapa keunggulan yang dapat kita raih diantaranya : kebutuhan nutrisi yang sesuai dengan fase pertumbuhan, distribusi pupuk maupun air lebih seragam, merata dan langsung kepada sistem perakaran, ketersediaan nutrisi untuk tanaman lebih baik, hilangnya nutrisi akibat pencucian dapat dihindarkan, tingkat kepadatan tanah menjadi rendah, aplikasi yang fleksibel dan masih banyak lagi manfaat yang bisa kita dapatkan.

Irigasi modern erat kaitannya dengan peningkatan efisiensi penggunaan sumberdaya alam untuk pertanian. Dalam hal ini terbuka peluang untuk memperbaharui dan lebih mengefisienkan sumber yang ada, antara lain dengan mengatur pemupukan dan aplikasi agrochemical lainnya. Bagaimanapun fertigasi bertujuan untuk melestarikan pertanian dengan memperhatikan beberapa faktor, antara lain : (1) biaya fertigasi harus mencakup kendala-kendala dan peralatan-peralatan yang mungkin harganya mahal, (2) desain dan operasi sistem mikro irigasi harus tepat untuk menyeragamkan distribusi air dengan menekan kehilangan air dan pupuk (3) penggunaan irigasi modern erat kaitannya dengan pengelolaan air tanaman. Ada indikasi bahwa sistem irigasi mikro akan mengubah pengelolaan air tanaman, sehingga harus ada penelitian tentang efisiensi penggunaan air (4) fertigasi merupakan salah satu teknologi mikro-irigasi yang mampu memberikan keuntungan tertinggi.


Penelitian tentang fertigasi yang akan intensif dengan mengaplikasikan unsur hara melalui air irigasi tanpa merusak kelestarian lingkungan (5) intensifikasi irigasi pertanian sama artinya dengan meningkatkan aplikasi pupuk, sehingga produksi rata-rata akan meningkat dan (6) tidak ada masalah dalam pemupukan P melalui fertigasi, bahkan lebih baik daripada pemupukan secara konvensional.


Berdasarkan uraian diatas maka tidak ada salahnya bila investasi pada pertanian besar-besaran tidak hanya mengarah pada pencapaian produksi tanpa mempertimbangkan keterbatasan sumberdaya air. Meskipun penggunaan fertigasi memang tidak mutlak harus dimiliki dan diadopsi apalagi untuk tanaman palawija, maupun padi namun bila ditinjau pertanian yang berkelanjutan, efektif dan efisien, cara ini merupakan alternatif yang bisa diambil manfaatnya pada saat ini dan juga untuk masa yang akan datang.