Sebanyak 15 petani yang berasal dari lima desa di kecamatan Ngombol, Purworejo, mengikuti studi banding sistem pertanian terpadu di joglo tani, Sayegan, Sleman, Rabu (12/3). Kedatangan petani beserta tiga perangkat desa, satu penyuluh dan satu aktivis LSM ini difasilitasi oleh mahasiswa KKN UGM di daerah Mendino dan Dwiyan dalam rangka mempelajari konsep pertanian terpadu. Mereka mendapat penyuluhan dan pengarahan dari ketua Joglo Tani, TO Suprpto (51).
Dalam pengarahannya, Suprapto menekankan betapa pentingnya bagi petani untuk mandiri di tengah berbagai tekanan dan kondisi ekonomi yang tidak stabil. “Setiap petani dari berbagai daerah yang melakukan studi banding ke sini, kami banyak memberikan penjelasan konsep pertanian terpadu terkait dengan pengenalan dan pengolahan tanah, pupuk, bibit, obat dan teknis budidaya serta komoditas ternak dan perikanan bisa dibudidayakan oleh petani,” jelasnya.
Sementara kebutuhan pupuk dan obat tidak harus tergantung dengan pabrik namun bisa memanfaatkan bahan yang ada di sekitar, termasuk teknis budidaya bahkan serta sentuhan teknologi tentang pengolahan limbah dari kotoran hewan yang bisa digunakan sebagai produk, sampai bio gas dan bio energi.
Suprapto menjelaskan, dalam pelaksanaan sistem pertanian terpadu setidaknya petani minimal memiliki lahan seluas 1000 meter persegi. Dengan modal Rp 15-20 juta, maka di lahan tersebut mereka bisa beternak itik seratus ekor, kambing sebanyak lima ekor, beternak ikan, dan menanam padi.
“Pembagian lahannya, 10 persen untuk ternak, 20 persen untuk sayur, 10 persen untuk ikan dan 60 persen untuk padi. Kalau pemerintah punya anggaran, ini bisa dilakukan dengan memberikan pinjaman bergulir, juga perbankan kalo bisa memberi pinjaman yang sangat lunak. Tapi itu pun jika mereka memang betul-betl peduli dengan petani,” imbuhnya.
Menurut Suprapto, dari konsep pertanian terpadu ini, sedikitnya penghasilan petani setiap bulan ditaksir 820 ribu perbulan, artinya dengan empat orang anggota keluarga akan mencukupi.
Suprapto menerangkan bahwa hasil panen padi ini bisa mencapai 11,2 ton per hektar dengan metode sistem padi sri melalui penggunaan pupuk organik. Sedangkan pengelolaan tanah, bibit, pengendalian hama terpadu, dilakukan tanpa menggunakan bahan non kimia.
Sementara Agus Dwi Nugroho (21), salah satu mahasiswa KKN UGM, mengakui bahwa cara budidaya bercocok tanam yang dilakukan petani di daerah lokasi KKN mereka masih menggunakan cara tradisional. “Kebanyakan sistem pertanian masih menggunakan kebiasaan dari turun-temurun sehingga pola pertanian, penggunaan pupuk, obat masih menggunakan zat kimia,” kata mahasiswa Fakultas Pertanian angkatan 2004 ini.
Menurut Agus, dengan hanya mengandalkan hasil panen dua kali setahun, kebanyakan kondisi ekonomi petani sangat mengkhawatirkan. “Hampis sebagian besar petani memiliki hutang kepada tengkulak, dengan panen yang hanya dua kali setahun, akibatnya mereka tidak mampu mengangkat kondisi ekonomi mereka sendiri,” tegasnya.
Studi banding ini, menurut Agus, merupakan salah satu usaha untuk mengubah pola pikir petani di daerah tersebut untuk mengembangkan potensi ekonomi lainnya di bidang pertanian. Sebab, di areal persawahannya bisa dikembangkan budidaya perikanan, ternak dan sayur mayur.
Source![]()




LinkBack URL
About LinkBacks


Reply With Quote

Bookmarks