Sebentar lagi akan hadir varitas cabe tahan penyakit, tak perlu lagi obat atau pestisida. Riset Syarifin Firdaus, Universitas Wageningen Belanda, ini membuat petani bisa irit ongkos produksi.Riset ini bagian dari major project yang didanai oleh pemerintah Belanda (KNAW) melalui program khusus Scientific Program Indonesia-The Netherlands (SPIN), bagian dari kerjasama peneliti Belanda dan Indonesia.
Major project ini dinamai Indosol alias Indonesian Solanacea.Sesuai dengan nama proyek, tanaman yang diteliti tidak hanya cabe tetapi juga tanaman bernilai ekonomi lainnya yang masih satu famili Solanacea."Banyaknya komoditi penting pertanian dari anggota famili Solanaceae ini, seperti cabe, tomat, kentang, terong, tembakau, merupakan latarbelakang proyek ini," terang Firdaus saat dikunjungi detikcom di greenhouse Unifarm, Universitas Wageningen, Rabu (6/8/2008).

Di kompleks universitas berjarak 220km p.p dari Den Haag ini Firdaus, jebolan FMIPA Universitas Negeri Malang yang saat ini sedang menempuh program Phd di Universitas Wageningen, menjelaskan bahwa tujuan dari penelitiannya adalah untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman-tanaman tersebut.Menurut Firdaus, penanaman famili Solanaceae secara umum sangat dibatasi tumbuh dan produksinya oleh berbagai macam hama dan penyakit.
Terutama di Indonesia yang iklimnya ideal bagi beragam hama dan penyakit tanaman dan sistem cocok-tanamnya di lahan terbuka. Beragam hama dan penyakit itulah yang menyebabkan tingginya proses produksi (pengendalian hama penyakit) dan bahkan produksi bisa menurun.Untuk mendapatkan varitas baru yang tahan penyakit itu, dia mengambil faktor unggul dari gen-gen cabe dan tomat jenis liar yang memiliki pertahanan kemampuan mengusir atau bahkan membunuh berbagai hama dan penyakit tersebut.

"Melalui riset dan breeding (pembiakan, red) dipelajari mekanisme pertahanan tanaman ini dan memindahkan gen-gen terkait pertahanan ke tomat dan cabai komersial," demikian Firdaus.Varitas baru tersebut, yang saat ini belum disediakan nama, kelak selain akan menguntungkan petani juga para konsumen. Konsumen bisa menikmati cabe, tomat dan tanaman dari famili Solanacea yang bebas pestisida atau obat kimia lainnya. (es/es)

**************

Selain tahan terhadap hama dan penyakit (tak perlu obat kimia), cabe varitas baru nantinya juga kaya nutrisi seperti vitamin C, karotenoid (prekursor vitamin A), dan lain-lain.
Cabe yang kaya nutrisi ini risetnya juga dilakukan di Universitas Wageningen oleh Wahyuni dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Cibinong. Ini saling melengkapi dengan riset ketahanan cabe terhadap hama dan penyakit yang digeluti Syarifin Firdaus dari Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB (jebolan Universitas Negeri Malang), Awang Maharijaya dari Departemen Agronomi IPB, dan Hartati dari Bioteknologi LIPI Cibinong.Menilik cabe dan tanaman lainnya dari famili Solanacea tak terpisahkan dari gastronomi dan pola makan rakyat Indonesia, maka hasil riset mereka kelak bisa sangat terasa manfaatnya.

Konsumen bisa menikmati cabe kaya nutrisi (sangat bergizi) dan bebas dari residu pestisida atau obat kimia lainnya. Sementara petani juga bisa meraih margin lebih besar karena ongkos produksi murah.Eksplorasi nutrisi dan genetiknya diupayakan meningkatkan kualitas nutrisi cabe komersial melalui introgresi (pemindahan, red) gen-gen pengendalinya dari suatu jenis ke jenis komersial."Ada beberapa metabolit yang dijadikan target dalam riset ini, yaitu metabolit sekunder terkait dengan kesehatan tubuh seperti vitamin C, karotenoid dan lain-lain," ujar Wahyuni kepada detikcom saat dikunjungi di greenhouse Unifarm, Universitas Wageningen, Rabu (6/8/2008).Riset Wahyuni ini berlangsung mulai Maret 2008 hingga 2012, dinaungi oleh kerjasama Indonesia-Belanda dengan nama Indosol Project.

Pendekatan dan MetodeAnalisis metabolit sekunder tersebut dilakukan pada beberapa jenis cabe yang berasal dari beberapa negara di seluruh dunia seperti AS, Bolivia, Mexico, Suriname, dan Indonesia. Pemilihan jenis cabai didasarkan pada keunikan yang dimiliki setiap jenis cabai, termasuk warna dan bentuk buah. Wahyuni melakukannya dengan dua pendekatan, yakni Targeted Analysis (TA) dan Untargeted Analysis (UA). TA dimaksudkan untuk menganalisis kandungan metabolit tertentu, seperti yang telah disebutkan di atas. Metode yang digunakan adalah High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Sementara UA dilakukan untuk mengungkap seluruh kandungan metabolit lain (selain target), sehingga didapatkan gambaran menyeluruh mengenai metabolit apa saja yang terkandung di dalam buah cabe. Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah Liquid Chromatography-Mass Spectrometry (LC-MS) dan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS).

Hasil analisis kemudian dibandingkan antara satu jenis dengan jenis cabe yang lain, dengan membandingkan konsentrasi masing-masing metabolit dan ada tidaknya metabolit di antara jenis-jenis cabe. Perbedaan konsentrasi metabolit selanjutnya akan dicek tingkat genetik yaitu melihat pengaturan ekspresi gen-gen yang terkait dengan produksi metabolit sekunder. Supervisi dilakukan oleh dua pakar di bidangnya yaitu Dr Arnaud Bovy dari Plant Research Institute (PRI) Wageningen, Belanda, dan Dr Enny Sudarmonowati dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI. [detik]

~~maztrie~~