Kawasan Amerika Utara, termasuk Amerika Serikat (AS), terus disibukkan hantaman berbagai macam badai. Bencana alam yang cukup dahsyat ini mengakibatkan banjir, menghancurkan ribuan rumah, dan meluluhlantakkan infrastruktur di AS, Kuba, dan Haiti. Jutaan warga harus diungsikan atau dievakuasi ke tempat yang aman. Di Haiti, badai Ike menewaskan sekitar 600 orang.


Ya, badai Gustav, Hanna, dan Ike, telah memporak-porandakan sejumlah tempat di negara-negara kawasan Pasifik. Badai itu juga memiliki dampak politis, karena mampu menunda konvensi Partai Republik dalam kampanye pemilihan calon presiden AS.
Mungkin Anda bertanya-tanya kapan dan mengapa badai-badai itu diberi nama? Badan Meteorologi Dunia (WMO) menyebutkan, badai tropis diberi nama dengan alasan untuk mempermudah aliran komunikasi dan informasi dari instansi peramalan cuaca kepada masyarakat umum, terutama dalam hal prediksi cuaca, pengamatan, dan peringatan-peringatan dini.
Hal ini disebabkan badai bisa berlangsung lebih dari satu minggu, dan tidak jarang terjadi lebih dari satu badai di kawasan yang sama dalam waktu sama pula. Jadi, bisa saja terjadi saat badai Hanna masih berkecamuk di kawasan tertentu, muncul pada saat bersamaan badai Ike.
Awal Penamaan
Awalnya, penamaan badai dilakukan semuanya. Sebelum tahun 1900-an, sebuah badai di Atlantik yang menghancurkan sebuah kapal bernama Antje diberi nama sesuai dengan kapal tersebut, yakni badai Antje.
Selanjutnya, pada pertengahan tahun 1900-an, penamaan badai sudah mulai menggunakan nama-nama yang cenderung feminis. Ada yang berpendapat, selama Perang Dunia II, para ahli meteorologi dari US Army Air Corp dan Angkatan Laut Amerika Serikat menambahkan nama perempuan (pacar-pacar dan istri-istri mereka) pada badai-badai di Pasifik.
Untuk lebih menertibkan penggunaan nama-nama badai, saat itu disepakati untuk menerapkan peraturan pemberian nama sesuai dengan huruf depan nama badai. Misalnya, badai Hanna akan lebih dulu disebut baru badai Ike, tidak berlaku sebaliknya.
Tetapi, pada tahun 1953, Badan Badai Nasional Amerika Serikat secara resmi mengadopsi dan menggunakan penamaan badai ini. Pada 1979, WMO dan US National Weather Service (NWS) tidak hanya memberikan nama-nama wanita, tetapi juga menambahkan laki-laki dalam daftar nama badai.
WMO saat ini telah membuat enam daftar nama badai untuk kawasan Atlantik. Setiap daftar dipakai untuk satu tahun. Setelah tahun keenam, daftar pertama digunakan lagi pada tahun berikutnya. Sebagai contoh, jika badai Hanna digunakan pada tahun 2008, maka badai dengan nama yang sama baru boleh dipakai pada 2014. Setiap nama diawali dengan huruf berbeda yang diurutkan menurut abjad.
Badai yang muncul pertama pada tahun bersangkutan diawali dengan huruf A, kemudian badai kedua B, ketiga C, dan seterusnya. Daftar nama ini mengecualikan huruf Q, U, X, Y, dan Z.
Untuk nama perempuan dan laki-laki digunakan secara berselang-seling. Sebagai contoh bisa dilihat pada daftar tahun 2008, yakni dimulai dari Arthur, selanjutnya Bertha, kemudian Cristobal, disusul Dolly. Selanjutnya, berturut-turut, Edouard, Fay, Gustav, Hanna, Ike, Josephine, Kyle, Laura, Marco, Nana, Omar, Paloma, Rene, Sally, Teddy, Vicky, dan Wilfred.
Siklus enam tahunan ini juga berlaku untuk kawasan Pasifik Timur Laut. Di kawasan yang disebut terakhir ini nama berawalan X, Y, dan Z boleh digunakan.
Berbeda dengan yang lain, nama-nama yang berawalan dengan ketiga huruf tadi muncul setiap dua tahun. Sebagai contoh tahun 2008, 2009, 2010, 2011,2012, dan 2013 akan muncul berturut-turut Zeke, Zelda, Zeke, Zelda, Zeke, dan Zelda lagi.
Ketentuan ini juga dipakai oleh Kawasan Australia Barat, Australia Utara, Australia Timur, Kepulauan Fiji, dan Papua Nugini. Jadi, andaikan deretan badai tahun tertentu berakhir dengan nama yang diawali dengan huruf L, misalnya saja Lisa, maka badai pertama tahun berikutnya dijuluki nama yang diawali dengan huruf M, misalnya Marcus.
Menurut ketentuan WMO, nama badai yang telah menimbulkan kerusakan hebat, sehingga menimbulkan kerugian nyawa, harta, dan benda yang amat besar, tidak akan dipakai lagi.
Sejak 1954, terdapat 40 nama yang dipensiunkan dari daftar nama badai. Misalnya, badai Agnes, Camille, Flora, Jane, dan sebagainya. Eliminasi nama dari daftar ini diputuskan oleh sidang tahunan WMO, dan selanjutnya digantikan dengan nama lain. Pertimbangannya, antara lain didasarkan pada alasan psikologis.
Contoh eliminasi dapat dilihat pada daftar 2001, Luis tidak ada lagi karena telah diganti dengan Lorenzo, Michelle menggantikan Marilyn, Olga menggantikan Opal, dan Roxanne digantikan oleh Rebekah. Pada daftar 2002, nama Cesar digusur Cristobal, Fay menggantikan Fran, dan Hanna menggantikan Hortense.
Daftar 2004 tercatat, Gaston menggantikan Georges, dan Mitch digantikan oleh Matthew. Dalam daftar 2006, Keith sudah raib karena digantikan Kirk. Sedangkan, badai Katrina yang meluluhlantakkan New Orleans tahun 2005 lalu yang sedianya muncul lagi tahun 2011, dihapus dan diganti dengan Katia.
Di Indonesia
Bagaimana dengan di Indonesia? Kepala Sub Bidang Informasi Meteorologi Publik Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Achmad Zakir, menjelaskan, badai tidak akan melintasi Indonesia, tetapi hanya menerima dampak tidak langsung dari badai tersebut.
Zakir mengatakan, suatu Pusat Peringatan Siklon Tropis yang telah ditunjuk sebelumnya oleh WMO berwenang memberi nama badai ini dan menyebarkan peringatan ke seluruh dunia.
Mendekati bulan September-Oktober, perairan Filipina menjadi wilayah yang mesti diwaspadai.
Meski badai tropis selalu reda begitu mendekati khatulistiwa, ekor badai masih sangat mungkin menyapu kawasan Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Maluku Utara, atau Kalimantan bagian Utara.
Sebaliknya, pada periode September-April, saatnya mewaspadai badai tropis di kawasan utara Australia. Laut Timor merupakan kawasan di perairan terdekat Indonesia yang paling berbahaya.
WMO mencatat, Indonesia telah memberi nama-nama badai yang menjadi tanggung jawabnya pada 2008. Nama-nama badai itu lain seperti di AS.
Jika di sana menggunakan nama laki-laki dan perempuan, di Indonesia menggunakan nama bunga, yakni Anggrek, Bakung, Cempaka, Dahlia, Flamboyan, Kenanga, Lili, Mawar, Seroja, dan Teratai.*