Fenomena pulang kampung atau mudik, pada beberapa tahun terakhir semakin menunjukkan hal yang luar biasa. Sebagai salah satu bukti dapat dilihat dari terus meningkatnya jumlah pemudik sekaligus sarana angkutan yang disiapkan pemerintah.

Meski rutin terjadi, berita mengenai mudik tetap menjadi perhatian. Entah karena mengandung informasi angkutan dan jalan ataupun mengenai pernik-pernik di dalamnya. Contoh terakhir adalah Lebaran tahun lalu di mana pemudik yang menggunakan sepeda motor naik tajam. Alhasil, kecelakaan yang melibatkan kendaraan roda dua itu pun meningkat. Belum lagi bila memperhatikan polah para pemudik yang seolah "berani mati" untuk sampai di kampung halaman.

Tahun ini, Dephub melansir prediksi jumlah orang dan angkutan yang terlibat dalam mudik tahun ini. Jumlah penumpang angkutan umum tahun 2008 ini (1429 H) meningkat 6,14 persen dibandingkan realisasi tahun 2007 (sebanyak 14,885 juta penumpang). Dengan demikian, jumlah penumpang tahun ini diperkirakan mencapai 15.799.853 orang.

Khusus untuk DKI Jakarta, tahun ini jumlah pemudik diperkirakan naik sembilan persen dari 2,184 juta menjadi 2,485 juta orang.

Hitung-hitungan itu dari tahun ke tahun memang tidak jauh meleset. Menurut Direktur Jenderal Perhubungan Darat (Dirjen Hubdat) Dephub, Iskandar Abubakar, metode yang digunakan untuk memprediksi adalah dengan melihat tren di masyarakat dan menggunakan program statistik. "Dari sanalah tampak model pertumbuhan yang terjadi sehingga menghasilkan prediksi," katanya.

Perhitungan jumlah biaya yang dikeluarkan oleh pemudik, kata Iskandar, bisa dilakukan dengan menggunakan metode survei.

Acuan penyelenggaraan angkutan lebaran 2008 menggunakan hasil survei tahun sebelumnya, 2007.

Seandainya tarif perjalanan dipukul rata Rp 100.000 per orang maka total biaya yang dikeluarkan untuk satu perjalanan pada mudik tahun ini mencapai Rp 1,5 triliun lebih. Angka tersebut baru dari perhitungan biaya perjalanan. Padahal, dalam rangka pulang kampung, hampir setiap pemudik melengkapi diri dengan berbagai barang, baik apa yang menjadi kebutuhannya sendiri atau keluarga maupun untuk buah tangan keluarga di kampung. "Jika dihitung secara keseluruhan, memang bisa menghasilkan angka yang sangat besar," kata Iskandar.

Di luar itu, aliran dana melalui wesel pos atau rekening bank mengalir deras ke kampung halaman. Sebagai contoh, pengiriman melalui Kantor Pos dan Giro di Bandung pada 2005 mencapai Rp 27,53 miliar, naik menjadi Rp 28,78 miliar (2006) dan Rp 33,39 miliar (2007). Uang yang mengalir ke Sukabumi pada pertengahan September 2007 mencapai Rp 12,1 miliar dan pertengahan bulan ini mencapai Rp 12,2 miliar. Sedangkan, melalui rekening seperti di Pekalongan, uang kiriman mencapai Rp 2,1 miliar lebih. Angka itu hanya dari dua bank swasta besar saja, belum bank lainnya.

Raup Keuntungan

Tak kalah menarik, momen pra dan pasca-Lebaran digunakan juga oleh beberapa pihak untuk meraup keuntungan. Banyak bisnis usaha atau produsen yang menawarkan berbagai iming-iming keunggulan, kemudahan, dan pelayanan. Produsen jamu, mi instan, hingga provider telekomunikasi dan bank berlomba memberikan layanan/fasilitas mudik lebaran.

Yang paling jamak adalah pos jaga atau bengkel siaga 24 jam yang disediakan para agen tunggal pemegang merek (ATPM). Persaingan bisnis otomotif yang tinggi melatarbelakangi ATPM berlomba memanjakan konsumennya. Layanan mudik dimanfaatkan untuk meyakinkan konsumen bahwa jaringan bengkel mereka oke. "Kami ingin menjaga loyalitas konsumen dan ini bagian dari promosi jangka panjang kami," ujar Deputy General Manager Marketing PT Toyota Astra Motor (TAM), Widyawati.

Tahun ini, TAM menyiapkan pos jaga darurat 24 jam berupa layanan servis gratis dengan 105 orang teknisi yang tersebar di 14 lokasi di Lampung dan Jawa. Seolah tak mau kalah, Indomobil, kelompok usaha yang menaungi mobil merek Nissan, Suzuki, Mazda, Chery, Audi dan VW ini, menyediakan Indomobil Rest Point.

"Keberadaan pos jaga dan bengkel siaga saling menguntungkan terutama karena ditujukan untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi pemudik selama di perjalanan," kata Direktur Pemasaran PT Honda Prospect Motor, Jonfis Fandy.

Konsumen (baca: pemudik) pun diuntungkan. TAM misalnya yang bekerja sama dengan PT Unilever menggelar mudik bersama Sariwangi menggunakan Kijang Inova. Sebagai imbal baliknya, Unilever menyediakan aneka minuman gratis bagi pengunjung pos siaga Toyota.

Anggaran yang dikeluarkan ATPM untuk pelayanan kepada konsumen atau promosi ini tentunya cukup besar. Angka itu tentu kecil untuk sebuah kelompok bisnis. Apalagi bila dibandingkan dengan citra baik perusahaan dan loyalitas konsumen yang akan didapat. Nah, apakah rumus ini akan dilirik oleh partai politik atau jago-jago calon presiden di Pemilu 2009? Kita lihat saja