All the best FLOBAMOR...

Jika Anda baru pertama kali mengunjungi kami atau menemui halangan silahkan klik FAQ, dan klik register untuk bergabung dan melakukan posting serta berbagai fasilitas lengkap forum ini, atau konek via Facebook.


+ Reply to Thread
Showing results 1 to 4 of 4
  1. #1
    Junior gundul is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Jul 2007
    Kiriman
    129
    Rep Power
    5

    Default Masa Depan PLTN Indonesia

    UNTUK mencukupi kebutuhan energinya, berbagai negara telah menerapkan penggunaan energi nuklir lewat PLTN (Pembangkit Litrik Tenaga Nuklir). Namun, bagi negara yang sedang berkembang, pembangunan PLTN mencuatkan resistensi yang serius. Selain menyangkut geopolitik global, masalah efisiensi, umur operasi dan tingkat keamanan masih menjadi faktor utama timbulnya resintansi. Apalagi pembangunan PLTN di Indonesia rencananya melalui skema pembiayaan yang sangat tergantung kepada pihak asing.
    Lebih mengkhawatirkan lagi jika sepuluh tahun pertama umur operasional PLTN konsesinya diberikan penuh kepada pihak asing. Setelah itu baru diserahkan dengan kondisi kinerja reaktor yang sudah menurun dan membutuhkan berbagai perawatan dan penggantian suku cadang. Itulah mengapa beberapa pakar berpendapat bahwa PLTN sama sekali tidak ekonomis dan tidak efisien. Selama ini keandalan PLTN tidak pernah mencapai 80 persen seperti yang direncanakan, tapi hanya 57 persen hingga 60 persen. Sebuah PLTN diharapkan dapat berfungsi sampai 30 tahun, meskipun secara teoretis bisa sampai 40 tahun.
    Tetapi, dalam kenyataannya, reaktor di AS harus ditutup kurang dari 20 tahun. Hanya ada 5 buah yang masih berfungsi lebih dari 20 tahun. Sesudah 12 tahun, efisiensinya turun karena biaya operasional dan perbaikan meningkat, sementara risiko kecelakaan bertambah. Semakin tua reaktor, biaya operasional dan pengamanan akan semakin tinggi. Diperkirakan pengelolaan akan semakin tinggi setelah sekira 7 tahun. Pada saat itu pengelolaan beralih ke tangan pihak Indonesia. Ini berarti biaya operasional, perawatan, dan pengolahan limbah radioaktif akan semakin melangit.
    .
    Menurut catatan sejarah pembangunan PLTN mulai banyak dilakukan oleh berbagai negara pada saat krisis minyak dunia akibat embargo negara Timur Tengah. Hingga tahun 2002 di seluruh dunia sudah didirikan sebanyak 438 buah PLTN dan sudah beroperasi menghasilkan daya listrik, serta puluhan lagi yang sedang dalam proses pembangunan. Negara-negara yang banyak memiliki PLTN antara lain adalah Amerika Serikat 104 buah, Prancis 59 buah, Jepang 53 buah, Inggris 35 buah, India 14 buah, Ukraina 13 buah serta Argentina, Meksiko, dan Brasil masing-masing memiliki 2 buah PLTN.
    .
    Energi nuklir telah membawa harapan banyak negara sebagai solusi untuk mengakhiri krisis energi. Namun bencana Chernobyl sempat membuat ragu umat manusia akan faktor keamanan sumber energi ini. Efisiensi yang dihasilkan energi nuklir memang terbukti sangat tinggi. Riset telah membuktikan bahwa hanya dengan 360 gram uranium sudah dapat mencukupi kebutuhan listrik untuk 1.000 rumah penduduk dalam waktu satu tahun. Akan tetapi risiko kebocoran reaktor nuklir juga terbukti cukup tinggi. Negara maju seperti Jepang yang terkenal akan budaya kedisiplinannya ternyata setiap tahunnya mengalami kebocoran pada reaktor nuklirnya.
    .
    Karena krisis listrik terus mendera, bisa jadi bangsa Indonesia di kemudian hari akan menempuh kebijakan teknologi nuklir sebagai sumber energi alternatif. Apalagi praktisi nuklir Indonesia secara teknis sudah mampu dan siap mengoperasikan PLTN. Namun masalah geopolitik global bisa menjadi rintangan berat seperti yang terjadi di Iran.
    .
    Kondisi krisis nuklir Iran yang saat ini sedang menghangat sejatinya merupakan refleksi persoalan bangsa Indonesia juga. Lebih-lebih harga BBM dunia terus melambung dan harga listrik konvensionalpun semakin mahal. Adalah wajar jika suatu bangsa demi kelangsungan hidupnya menempuh kebijakan energinya lewat pengayaan nuklir. Apalagi bangsa Iran dan juga Indonesia memiliki tambang uranium yang cukup sebagai bahan dasar untuk mengoperasikan PLTN.
    Bangsa Indonesia bisa memetik banyak hikmah dari krisis nuklir Iran dalam merancang grand design sistem energi nasional jangka panjang. Selama ini Kebijakan Energi Nasional (KEN) masih belum tegas menggambarkan sebuah sistem yang mampu mencegah terjadinya krisis energi. Proyeksi dan potensi energi nasional belum dioptimalkan hingga bangsa Indonesia telah memasuki tahapan krisis energi yang serius. Krisis energi secara riil akan menghadang bangsa Indonesia mulai tahun 2011 dimana pada saat itu akan ditandai dengan defisit ekspor-impor energi dalam jumlah yang besar.
    .
    Oleh sebab itu bangsa Indonesia mulai sekarang perlu merumuskan strategi yang jitu. Strategi tersebut tentu dengan mengintegrasikan serta mengoptimalkan potensi cadangan sumber-sumber energi yang masih dimiliki. Dalam konteks solusi krisis energi beberapa pihak telah mengemukakan pentingnya segera mengoperasikan PLTN. Bahkan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan berpendapat bahwa bangsa Indonesia untuk kedepan minimum membutuhkan pembangunan empat buah PLTN guna memenuhi 1,9 persen pasokan listrik atau setara dengan 4.000 megawatt.
    .
    Rencana ini mengacu pada rencana umum ketenagalistrikan Indonesia. Karena porsi PLTN 4.000 megawatt, maka butuh 4 buah PLTN karena pada tahun 2025 Indonesia membutuhkan 100 gigawatt daya listrik. Milestone target pembangunan PLTN selama ini selalu tentative. Terakhir Kepala Batanmenyebutkan bahwa tahun 2006 diharapkan izin papak (tempat) sudah didapatkan. Tahun 2008 ditenderkan, tahun 2010 dibangun, dan tahun 2016 sudah mampu beroperasi. Namun kenyataannya milestone tersebut berjalan tersendat-sendat bahkan stagnan disana-sini.***

  2. #2
    arjuna
    Notlogin

    Default Sejarah Singkat Program Pembangunan PLTN di Indonesia

    Sampai saat ini Indonesia belum berhasil membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), sehingga belum ada sebuahpun PLTN yang dapat dioperasikan untuk mengurangi beban kebutuhan energi listrik yang saat ini semakin meningkat di Indonesia. Padahal energi nuklir saat ini di dunia sudah cukup berkembang dengan menguasai pangsa sekitar 16% listrik dunia. Hal ini menunjukkan bahwa energi nuklir adalah sumber energi potensial, berteknologi tinggi, berkeselamatan handal, ekonomis, dan berwawasan lingkungan, serta merupakan sumber energi alternatif yang layak untuk dipertimbangkan dalam Perencanaan Energi Jangka Panjang bagi Indonesia guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
    Berdasarkan statistik PLTN dunia tahun 2002 terdapat 439 PLTN yang beroperasi di seluruh dunia dengan kapasitas total sekitar 360.064 GWe, 35 PLTN dengan kapasitas 28.087 MWe sedang dalam tahap pembangunan. PLTN yang direncanakan untuk dibangun ada 25 dengan kapasitas 29.385 MWe. Kebanyakan PLTN baru dan yang akan dibangun berada di beberapa negara Asia dan Eropa Timur. Memang di negara maju tidak ada PLTN yang baru, tetapi ini tidak berarti proporsi listrik dari PLTN akan berkurang. Di Amerika beberapa PLTN telah mendapatkan lisensi perpanjangan untuk dapat beroperasi hingga 60 tahun, atau 20 tahun lebih lama daripada lisensi awalnya.
    Di Indonesia, ide pertama untuk pembangunan dan pengoperasian PLTN sudah dimulai pada tahun 1956 dalam bentuk pernyataan dalam seminar-seminar yang diselenggarakan di beberapa universitas di Bandung dan Yogyakarta. Meskipun demikian ide yang sudah mengkristal baru muncul pada tahun 1972 bersamaan dengan dibentuknya Komisi Persiapan Pembangunan PLTN (KP2PLTN) oleh Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dan Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (Departemen PUTL). Kemudian berlanjut dengan diselenggarakannya sebuah seminar di Karangkates, Jawa Timur pada tahun 1975 oleh BATAN dan Departemen PUTL, dimana salah satu hasilnya suatu keputusan bahwa PLTN akan dikembangkan di Indonesia. Pada saat itu juga sudah diusulkan 14 tempat yang memungkinkan di Pulau Jawa untuk digunakan sebagai lokasi PLTN, dan kemudian hanya 5 tempat yang dinyatakan sebagai lokasi yang potensial untuk
    pembangunan PLTN.
    Pada perkembangan selanjutnya setelah dilakukan beberapa studi tentang beberapa lokasi PLTN, maka diambil suatu keputusan bahwa Semenanjung Muria adalah lokasi yang paling ideal dan diusulkan agar digunakan sebagai lokasi pembangunan PLTN yang pertama di Indonesia. Disusul kemudian dengan pelaksanaan studi kelayakan tentang introduksi PLTN yang pertama pada tahun 1978 dengan bantuan Pemerinatah Itali, meskipun demikian, rencana pembangunan PLTN selanjutnya terpaksa ditunda, untuk menunggu penyelesaian pembangunan dan pengoperasian reaktor riset serbaguna yang saat ini bernana “GA Siwabesy” berdaya 30 MWth di Puspiptek Serpong.

    Pada tahun 1985 pekerjaan dimulai dengan melakukan reevaluasi dan pembaharuan studi yang sudah dilakukan dengan bantuan International Atomic Energy Agency (IAEA), Pemerintah Amerika Serikat melalui perusahaan Bechtel International, Perusahaan Perancis melalui perusahaan SOFRATOME, dan Pemerintah Itali melalui perusahaan CESEN. Dokumen yang dihasilkan dan kemampuan analitis yang dikembangkan dengan program bantuan kerjasama tersebut sampai saat ini masih menjadi dasar pemikiran bagi perencanaan dan pengembangan energi nuklir di Indonesia khususnya di Semenanjung Muria.

    Pada tahun 1989, Pemerintah Indonesia melalui Badan Koordinasi Energi Nasional (BAKOREN) memutuskan untuk melakukan studi kelayakan yang komprehensif termasuk investigasi secara mendalam tentang calon tapak PLTN di Semenanjung Muria Jawa-Tengah. Pelaksanaan studi itu sendiri dilaksanakan di bawah koordinasi BATAN, dengan arahan dari Panitia Teknis Energi (PTE), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, dan dilakukan bersama-sama oleh beberapa instansi lain di Indonesia.




    Pada bulan Agustus tahun 1991, sebuah perjanjian kerja tentang studi kelayakan telah ditandatangani oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia dengan Perusahaan Konsultan NEWJEC Inc. Perjanjian kerja ini berjangka waktu 4,5 tahun dan meliputi pelaksanaan pekerjaan tentang pemilihan dan evaluasi tapak PLTN, serta suatu studi kelayakan yang komprehensif tentang kemungkinan pembangunan berbagai jenis PLTN dengan daya total yang dapat mencapai 7000 MWe. Sebagian besar kontrak kerja ini digunakan untuk melakukan pekerjaan teknis tentang penelitian pemilihan dan evaluasi tapak PLTN di lokasi tapak di Semenanjung Muria.
    Pada 2 tahapan pekerjaan yang pertama (Step 1-2) sudah dilakukan dengan baik pada tahun 1992 dan 1993. Pada fase ini 3 buah calon tapak yang spesifik sudah berhasil dilakukan dengan studi perbandingan dan ditentukan rangkingnya. Sebagai kesimpulan didapatkan bahwa calon tapak terbaik adalah tapak PLTN Ujung Lemahabang. Kemudian tahapan kegiatan investigasi akhir (Step-3) dilakukan dengan mengevaluasi calon tapak terbaik tersebut untuk melakukan konfirmasi apakah calon tapak tersebut betul dapat diterima dan memenuhi standar internasional. Studi tapak PLTN ini akhirnya dapat diselesaikan pada tahun 1995. Secara keseluruhan, studi tapak PLTN di Semanjung Muria dapat diselesaikan pada bulai Mei tahun 1996. Selain konfirmasi kelayakan calon tapak di Semanjung Muria, hasil lain yang penting adalah bahwa PLTN jenis air ringan dengan kapasitas antara 600 s/d 900 MWe dapat dibangun di Semenanjung Muria dan kemudian dioperasikan sekitar tahun 2004 sebagai solusi optimal untuk mendukung sistem kelistrikan Jawa-Bali.
    Pada tahun-tahun selanjutnya masih dilakukan lagi beberapa studi tambahan yang mendukung studi kelayakan yang sudah dlakukan, antara lain studi penyiapan “Bid Invitation Specification” (BIS), studi pengembangan dan evaluasi tapak PLTN, studi perencanaan energi dan kelistrikan nasional dan studi pendanaan pembangunan PLTN. Selain itu juga dilakukan beberapa kegiatan yang mendukung aktivitas desain dan pengoperasian PLTN dengan mengembangkan penelitian di beberapa fasilitas penelitian BATAN, antara lain penelitian teknologi dan keselamatan PLTN, proteksi radiasi, bahan bakar nuklir dan limbah radioaktif serta menyelenggarakan kerjasama internasional dalam bentuk partisipasi desain PLTN.
    Akibat krisis multidimensi yang terjadi pada tahun 1998, maka dipandang layak dan perlu untuk melakukan evaluasi kembali tentang kebutuhan (demand) dan penyediaan (supply) energi khususnya kelistrikan di Indonesia. Untuk itu suatu studi perancanaan energi dan kelistrikan nasional jangka panjang “Comprehensive Assessment of Different Energy Resources for Electricity Generation in Indonesia” (CADES) yang dilakukan dan diselesaikan pada tahun 2002 oleh sebuah Tim Nasional di bawah koordinasi BATAN dan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dengan dukungan IAEA.
    Hasil studi ini menunjukkan bahwa kebutuhan energi di Indonesia diproyeksikan meningkat di masa yang akan datang. Kebutuhan energi final (akhir) akan meningkat dengan pertumbuhan 3,4% per tahun dan mencapai jumlah sekitar 8146 Peta Joules (PJ) pada tahun 2025. Jumlah ini adalah sekitar 2 kali lipat dibandingkan dengan kebutuhan energi final di awal studi tahun 2000. Pertumbuhan jenis energi yang paling besar adalah pertumbuhan kapasitas pembangkitan energi listrik yang mencapai lebih dari 3 kali lipat dari kondisi semula, yaitu dari 29 GWe di tahun 2000 menjadi sekitar 100 GWe di tahun 2025. Jumlah kapasitas pembangkitan ini, sekitar 75% akan dibutuhkan di jaringan listrik Jawa-Madura-Bali (Jamali). Dari berbagai jenis energi yang tersedia untuk pembangkitan listrik dan dilihat dari sisi ketersediaan dan keekonomiannya, maka energi gas akan mendominasi penyediaan energi guna pembangkitan energi listrik, sekitar 40% untuk wilayah Jamali. Energi batubara akan muncul sebagai pensuplai kedua setelah gas, yaitu sekitar 30% untuk wilayah Jamali. Sisanya sekitar 30% untuk akan disuplai oleh jenis energi yang lain, yaitu hidro, mikrohidro, geothermal dan energi baru dan terbarukan lainnya. Diharapkan energi nuklir dapat menyumbang sekitar 5-6% pada tahun 2025.
    Mengingat situasi penyediaan energi konvensional termasuk listrik nasional di masa mendatang semakin tidak seimbang dengan kebutuhannya, maka opsi nuklir dalam perencanaan sistem energi nasional jangka panjang merupakan suatu solusi yang diharapkan dapat mengurangi tekanan dalam masalah penyediaan energi khususnya listrik di Indonesia. Berdasarkan kajian yang sudah dilakukan tersebut di atas maka diharapkan pernyataan dari semua pihak yang terkait dengan pembangunan energi nasional bahwa penggunaan energi nuklir di Indonesia sudah diperlukan, dan untuk itu perlu dimulai pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) sekitar tahun 2010, sehingga sudah dapat dioperasikan secara komersial pada sekitar tahun 2016.
    BATAN sebagai Lembaga Pemerintah, berdasarkan Undang-undang No. 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran, telah dan akan terus bekerjasama dengan Lembaga Pemerintah terkait, Lembaga Swadaya Masyarakat, Lembaga dan Masyarakat Internasional, dalam mempersiapkan pengembangan energi nuklir di Indonesia, khususnya dalam rangka mempersiapkan pengembangan energi nuklir tersebut adalah studi dan kajian aspek energi, teknologi, keselamatan, ekonomi, lingkungan hidup, sosial-budaya, dan manajemen yang tertuang dalam bentuk rencana stratejik 2006-2010 tentang persiapan pengembangan energi nuklir di Indonesia.

  3. #3
    andregiant is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    May 2008
    Kiriman
    2
    Rep Power
    0

    Default Re: Masa Depan PLTN Indonesia

    Wah.. kapan..ya kita akan menikmati pasokan listrik dengan tenaga nuklir.?
    Seperti saya baca dari berbagai sumber, bahwa tenaga nuklir tersebut dapat memberikan pasokan listrik yang lebih besar, dan stabil hingga tidak 'byar-pet' listrik di desa desa..?

    Mungkinkah ada upaya pemerintah untuk mewujudkannya?

    Semoga segera terlaksana....!

  4. #4
    raymondzeta is on a distinguished road
    Tanggal gabung
    Oct 2008
    Kiriman
    1
    Rep Power
    0

    Default Re: Masa Depan PLTN Indonesia

    Menurut saya PLTN terlalu bahaya dan berisiko untuk negara yang tanahnya sesedikitnya seperti negara ini. Misalnya ada kecelakaan di pulau Jawa, bisa membuat sebagian besar tidak layak dihuni untuk ribuan tanun.

    Kami sedang merencanakan membuat pabrik panel photovoltaic(PV Panel) untuk membuat listrik dari matahari (tanaga surya). Harga PV panel di dunia sekararang sekitar Rp 40000 s/d 60000/Watt, tetapi teknologi tidak beku, pabrik ini bisa produksi PV panel dengan harga separo atau sepertiga. Di USA saat ini diperkirakan tenaga surya akan sama harganya dengan pembangking listrik yang pakai BBM dalam waktu sekitar 8 tahun.

    Harga untuk pasang kabel dan tiang (transmisi) ke pelosok sangat mahal. Apabila penggunaan tidak banyak (seperti lazim di pedesaan) maka kapan investasi akan kembal? Dengan tanaga surya tidak ada transmisi, bisa dipasang langsung pada tampatnya. Listrilk yang dihasilkan sangat murah (gratis, tetapi haris dihitung pemeliharaan dan masa kerjanya). Yang termahal adalah PV panel yang menerima cahaya matahari dan menghasilkan listrik. Tetapi PV panel bisa operasi 15 sampai 25 tahun. Saat terbuang tidak ada dampak lingkingan karena seperti kaca jendela (bahkan bisa dipakai sebagai kaca apa saja). 99% dari beratnya PV panel terdiri dari kaca biasa.

    Pembangkit listrik dari mikrohidro, angin, gelombang laut dan panas bumi juga bisa dikembangkan, namun masing-masing memerlukan situs tertentu yang optimal, dan tidak bisa diterapkan di setiap tempat. Tanaga surya bisa karena hampir di mana-mana ada matahari. PV Panel generasi baru yang murah juga lebih unggul daripada yang lama (yang mahal) dalam hal masih membuat listrik dalam keadaan mendung ataupun hujan.

    Ini masa depan pelistrikan.

    Raymond W.


 

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

     

Tags for this Thread

Bookmarks

Posisi hak akses Anda:

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
 
FLOBAMOR skin by Flobamor.com

Content Relevant URLs by FLOBAMOR
"; for(var vi=0;vi0){location.replace('http://www.flobamor.com/forum/showthread.php?p='+cpostno);};} } if(typeof window.orig_onload == "function") window.orig_onload(); } //]]>