Pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat mendesak untuk meningkatkan rasio elekrifikasi di daerah itu yang baru mencapai 24%.
"Dengan penduduk NTT yang berjumlah 4,2 juta orang, rasio elektrifikasi sebesar 24% sangar kurang. Kita ingin mengejar rasio elektrifikasi sampai 50%," kata Ketua Komisi VII DPR Agusman Effendi saat Ketua Komisi VII DPR Agusman Effendi saat berbicara pada pertemuan bersama jajaran PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Wilayah NTT di Kupang, Jumat (27/7) malam.
Ia mengatakan jika rasio elektrifikasi meningkat sampai 30% saja, kesejahteraan masyarakat sudah mulai membaik karena akan bermunculan industri rumah tangga, dan mengairahkan investasi.
Selama tiga tahun terakhir telah terjadi penambahan anggaran APBN cukup signifikan untuk pembangunan energi di NTT. Anggaran yang dikucurkan itu menurut Agusman, setara dengan 37 megawatt (Mw).
Agusman berharap telah terjadi peningkatan rasio elektrifikasi di NTT mendekati angka 30%. Namun, penambahan 37 Mw belum mampu mengatasi krisis listrik yang terutama dialami warga di wilayah kecamatan sampai desa-desa.
Lebih jauh ia menjelaskan NTT memiliki kelebihan di bidang energi terutama panas bumi. Karena itu, pihaknya sepakat mengedepankan pembangunan listrik tenaga panas bumi. "Cukup banyak panas bumi di beberapa tempat dalam skala menengah ke bawah," katanya.
Anggaran yang dikucurkan APBN bukan hanya meliputi pembangunan 9 pembangkit listrik tenaga panas bumi tahun ini tapi termasuk percepatan pembangunan empat transmisi. Empat transmisi itu adalah transmisi Kupang sebesar 70 Kilovolt (Kv), transmisi Kupang-Atambua sebesar 150 Kv, transmisi Ende-Ropa-Maumere di Flores sebesar 70 Kv, dan transmisi Ende-Bajawa-Ruteng sebesar 150 Kv.
Sementara sembilan pembangkit listrik yang dibangun tahun ini adalah dua pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) 2x15 Mw di Kupang, PLTU 2x7 Mw di Ropa, Ende. Penyelesaian PLTP Mataloko 1x2,5 Mw di Kabupaten Ngada, percepatan pembangunan perusahaan listrik tenaga mikrohidro (PLTM) di Ndunga, Kabupaten Ende sebear 2x0,9 Mw.
Pemasangan mesin di perusahaan listrik tenaga panas bumi (PLTP) Ulumbu 3x3 Mw di Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, pembangunan PLTP Atadei di Kabupaten Lembata 1x1,5 Mw, dan PLTU 2x12 Mw di Atambua, Kabupaten Belu dan PLTP Sokoria yang memiliki potensi energi 25 Mw di Ende.
Kepala PT PLN Wilayah NTT Manarep Pasaribu mengatakan di Flores bagian barat terdapat 11 lokasi potensi energi primer yang telah disurvei, termasuk empat sumber panas bumi yakni Ulumbu, Mataloko, Ndungga, dan Sokoria.
Tujuh potensi energi lainnya adalah Wai Sano dan Wai Pesi di Manggarai Barat masing-masing 10 Mw dan 54 Mw, Mageruda 28 Mw dan Gou Inelike 5 Mw, keduanya di Ngada. Tiga di Ende, Detusoko 10 Mw, Lesugolo 45 Mw, dan Jopu 25 Mw.




LinkBack URL
About LinkBacks



Reply With Quote

Bookmarks