Power Line Communications: Dan PLN pun Menyetrum Telkom

wartaekonomi.com
Dengan tebaran kabelnya, PLN sudah menjadi 'gula' bagi operator telekomunikasi lainnya untuk bekerja sama. Power Line Communications (PLC) akan mengubah kerja sama ini menjadi persaingan. Apalagi, regulator memberikan sinyal positif. Investor pun diam-diam ikut melirik.



Ini mungkin kabar baik bagi para pelanggan listrik yang belum bisa menikmati layanan telepon maupun internet. Tidak lama lagi, jaringan kabel yang menghantarkan arus listrik ke dalam rumah mereka akan bisa digunakan untuk menerima atau mengirimkan berbagai unsur multimedia seperti suara, data, dan gambar. Konkretnya, dengan mencolokkan kabel modem di listrik, akses internet bisa direngkuh. Sayang, harga pastinya belum ada. Kendati demikian, toh ini tetap merupakan kabar baik, karena akan ada alternatif bagi para pengguna internet dan telepon.

Kabar ini datang dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) melalui anak usahanya, PT Indonesia Comnets Plus (Icon+). Perusahaan ini telah memperkenalkan brand-nya dengan nama Icon+. Bahkan, mereka telah berhasil membangun teknologi yang dinamakan power line communications (PLC). Lebih dari itu, mereka pun mengklaim telah berhasil melakukan uji coba di 20 rumah karyawan PLN di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan.
PLC adalah komunikasi melalui kabel listrik. Artinya, dari kabel yang sehari-harinya menghantarkan listrik ini, akan berfungsi juga untuk melakukan sambungan telepon maupun internet. Komunikasi dengan teknologi seperti ini merupakan sebuah teknologi jaringan local loop yang sering juga disebut dengan teknologi last mile.

Nah, dengan PLC itu, kini Icon+ berpotensi mengeruk pendapatan dengan tiga pola. Pola pertama yakni dengan menyewakan jaringan serat optik yang mereka miliki. Berikutnya, mereka akan bertindak sebagai penyedia jasa internet (internet service provider) dan menyasar daerah-daerah yang belum dimasuki perusahaan jasa internet (PJI) lainnya. Berikutnya, pola ketiga, yaitu dengan terjun dan menjadi operator telepon. Dari ketiga pola ini, penyewaan jaringan serat optik telah dilakukan. Sementara itu, PJI baru akan diluncurkan tahun depan, dan evolusi menjadi operator telepon adalah kemungkinan dalam jangka waktu yang belum dapat diperkirakan.

Kalau membandingkan pelanggan listrik dengan telepon, maka kita akan menemukan sebuah kenyataan bahwa jumlah pelanggan listrik jauh lebih banyak dibandingkan dengan pelanggan telepon yang selama ini dilayani PT Telkom. Nah, perbandingan yang sedemikian, bagi pihak Icon+, merupakan peluang bisnis yang amat menguntungkan. Mengapa menguntungkan? Kendati mereka belum mendapatkan izin menjadi operator telepon, tetapi ada cara lain yang bisa mereka tempuh. Cara tersebut adalah, jika fungsi sebagai PJI telah berjalan, bukan tidak mungkin mereka bekerja sama dengan pemegang lisensi voice over internet protocol (VoIP) lain untuk menyelenggarakan internet teleponi.

Keterbatasan Telkom mau pun PJI lainnya untuk memenuhi kebutuhan akses internet dan telepon di daerah pelosok merupakan peluang bisnis Icon+. Bandingkan data pelanggan perorangan PLN yang mencapai 30 juta, sementara pelanggan internet, menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), baru sekitar satu juta orang (perkiraan sampai akhir 2002). Di samping itu, tingkat densitas telepon secara nasional baru 2,91% (6,4 juta satuan sambungan telepon, SST) dari 220 juta penduduk Indonesia. Dan, jumlah pelanggan selular pada akhir tahun 2001 baru mencapai 6,0 juta.

Akan tetapi, untuk akses internet, lihat juga infrastruktur penunjangnya. Di antaranya adalah jumlah kepemilikan komputer pribadi di Indonesia yang per 100 rumah tangga diperkirakan hanya memiliki antara satu sampai lima komputer. Karena akses internet ini tetap tergantung pada personal computer (PC), maka faktor kepemilikan komputer menjadi penting. Artinya, peluang bagi pengguna perorangan hanya bisa diambil dari pemakai internet yang sekarang sudah ada. Hanya saja, kalau jasa via PLC ini lebih murah dari akses dial-up, Telkomnet, gelombang 24 gigahertz, atau satelit, maka ada 2.500 warnet yang mungkin bisa tertarik, juga bagi yang berniat membuka warnet di daerah (lihat juga, 'Tabel Beberapa Indikator Telematika di Indonesia').

Okelah, bisa diasumsikan ada pasar yang lumayan terbuka. Namun, bagaimana potensi pelanggan listrik untuk berinternet secara teknis? Apakah kualitasnya cukup memuaskan? 'Sudah ada beberapa teman dari Telkom dan Indosat yang pernah mencobanya. Hasilnya, menurut mereka, cukup bagus, suaranya cukup jernih,' ujar Didi Ali Achmadi, manajer umum pengembangan bisnis PT Icon+.

Didi boleh saja mengatakan demikian. Lalu kita bisa membayangkan, alangkah idealnya jika setiap pelanggan listrik yang ada di pedesaan bisa menikmati sambungan multimedia dari saluran listriknya. Namun, apakah dengan begitu mudahnya hal ini dilaksanakan? 'Mereka butuh research and development yang bagus dulu untuk bisa merealisasikan hal tersebut,' sanggah Bambang Baroto, kepala pengembangan bisnis grup PT Telkom.

Benar. Dari sisi teknisnya, tidak begitu saja sambungan internet dan telepon langsung dipasangkan pada setiap pelanggan listrik. Mereka harus dimodali dulu dengan sebuah modem untuk memilah arus listrik dari kabel penghantar dengan frekuensi yang akan berfungsi menjadi kendaraan bagi suara atau data tersebut. Maklum, frekuensi itu dihasilkan oleh medan magnet dari arus yang mengaliri kabel listrik tersebut. Nah, keluaran dari modem tersebut baru bisa disambungkan dengan pesawat telepon atau komputer untuk mengakses internet. Selain itu, di setiap gardu listrik, akan disematkan pula peranti tambahan yang berfungsi untuk menyelenggarakan komunikasi data.

Itu soal teknis yang bagi Didi dan rekan-rekannya di ICP bukanlah perkara sulit. Dari beberapa sosialisasi yang dilakukan, ICP ternyata mendapat sambutan yang antusias dari para pelaku dan pengamat di industri telekomunikasi. Dalam sebuah seminar yang bertajuk 'Penyelenggaraan Telekomunikasi Melalui Jaringan Listrik dengan Teknologi PLC' yang diselenggarakan di Jakarta, Juli lalu, ada beberapa rekomendasi yang menarik. Hal yang paling penting dari rekomendasi itu adalah uji coba, proyek percontohan, pengembangan industri PLC dalam negeri, dan sinergi dengan BUMN penyelenggara telekomunikasi. Poin penting lainnya adalah pengembangan Kawasan Timur Indonesia, pengembangan jaringan Infokom nasional, regulasi, pendanaan, dan forum PLC internasional.

Kerja Sama Dulu, Baru Bersaing Total

Aktivitas seputar bisnis jaringan yang dimiliki oleh PLN ini sebetulnya sudah mulai dijalankan PT Icon+ sejak beberapa waktu lalu. Rupanya, jaringan backbone PLN yang menggunakan serat optik itu telah pula disewakan kepada beberapa operator telekomunikasi lainnya.

Didi menyebut beberapa nama seperti Indosat Multi Media Mobile (IM3), Telkom, Satelindo, dan Indosat Mega Media (IM2). Mereka ini sejak lama telah menyewa serat optik dari PT Icon+. Hashnul Suhaemi, direktur niaga PT Indosat yang sebelumnya menjadi presiden direktur IM3, mengakui bahwa IM3 sejak awal berdiri telah menggunakan jasa jaringan PT Icon+ untuk sambungan ke setiap basic transceiver station-nya. 'Hanya saja, ini kan benar-benar bisnis murni antara IM3 dan pihak Icon+. Jadi, pada tempat yang kami rasa lebih murah menggunakan jasa mereka, ya kami sewa saja.'

Bambang Baroto pun mengamini pendapat rekannya dari Indosat itu. Telkom, ujarnya, kini pun telah menggunakan jaringan milik PT Icon+ untuk layanan telekomunikasi mereka. Ia menuturkan, beberapa tahun yang lalu, ketika jaringan kabel bawah laut yang menghubungkan Jawa dan Bali terputus, mereka akhirnya menyewa milik PT Icon+. 'Hingga sekarang, bahkan kami masih menggunakannya sembari memperbaiki milik kami.'

Sayangnya, baik Bambang maupun Hashnul tidak merinci berapa yang harus mereka bayar untuk sebulan penyewaan. Didi sendiri pun enggan. Boleh jadi, pihak Didi memberikan tarif yang berbeda-beda bagi setiap penyewa. Yang pasti, kata mereka, ketimbang membangun sendiri, masih lebih hemat kalau menyewa. 'Tetapi, ini untuk kasus tertentu lho, tidak bisa digeneralisir, sebab IM3 pun hanya menyewa untuk wilayah Bandung, Semarang, dan Surabaya saja. Selebihnya, lebih menguntungkan jika membangun sendiri,' akunya.

Pasal kerja sama ini, ICP sendiri masih terbuka peluangnya untuk mendulang untung dari diberlakukannya liberalisasi telekomunikasi Indonesia dengan pemberlakuan duopoli per 1 Agustus lalu. Indosat, sebagai pendatang baru dalam dunia komunikasi fixed line, tentu membutuhkan infrastruktur untuk menjaring pelanggan telepon. Nah, tanpa harus menggerai kabel-kabel telepon, sebetulnya mereka bisa memanfaatkan hamparan kabel listrik yang sudah menembus pelosok-pelosok Indonesia.

'Bisa saja,' ungkap Hashnul,' hanya, tentu saja mereka juga harus menambahkan fasilitas-fasilitas lain dulu agar bisa dipakai.' Senada dengan Hashnul, Bambang pun menambahkan bahwa pihaknya akan sangat terbuka untuk menggunakan jaringan Icon+ untuk memperluas cakupan sambungan telepon mereka. Namun, pertimbangannya adalah soal biaya. Menurut dia, untuk menyewa jaringan ini, ukurannya adalah biaya sewa per point of presence (POP). 'Yang saya lihat dari data mereka, sewa untuk satu POP bisa mencapai angka tujuh ratus dolar AS.'

Mengacu kepada angka itu, maka membangun sendiri masih jauh lebih murah bagi operator karena mereka bisa menekan biaya hingga angka US$400 saja per POP. 'Jadi, kita memang tidak separonya, tetapi kalau melihat dari perbandingan itu maka masih lebih murah jika kita membangun sendiri.' Pihak Icon+ sendiri, menurut Bambang, pernah mengungkapkan bahwa tarif ini akan menggelincir turun hingga angka yang lebih kecil lagi. Hanya saja, kapan pemberlakuan tarif itu, mereka belum tahu.

Terbukti bahwa hal yang paling penting dalam urusan sewa-menyewa ini adalah kalkulasi bisnis. Jika memang tidak harus melewati hamparan kabel, koneksi pun bisa melewati medium lain. Menurut Hashnul, bisa saja Indosat menggunakan cara lain seperti dengan Wave LAN komunikasi data atau suara dengan menggunakan frekuensi radio yang dipatok di 2,4 gigahertz. Alternatif lain, 'Bisa juga dengan satelit, kan? Jadi, kita tinggal membandingkan biayanya saja. Mereka mau menyewakannya dengan biaya berapa dulu,' tandasnya.

Menanggapi Hashnul dan Bambang, Didi mengungkapkan, pihaknya tengah melakukan pembicaraan serius dengan Telkom dan Indosat sebagai operator telepon. Dengan penawaran bagi hasil, Icon+ akan merelakan layanan telepon dengan jaringan milik Icon+ ini tetap menggunakan label sang operator tersebut. 'Ya, sudah ada pembicaraan yang mengarah ke sana, tetapi belum final.'

Pasar jaringan serat optik milik Icon+ ini, dari sisi perizinannya, akan stagnan pada satu titik. Artinya, boleh-boleh saja jumlah kapasitas yang disewa akan terus berkembang, tetapi penyewanya hanya itu-itu juga. Hal ini demi mematuhi aturan yang menggariskan bahwa Icon+ hanya boleh menyewakan jaringannya kepada para operator telekomunikasi saja. Pasalnya, izin yang mereka kantongi adalah izin penyelenggaraan jaringan tertutup. Mereka tidak bisa menjual langsung ke pelanggan.

Jika melihat jangkauan PLN yang demikian luas, bukankah akan lebih menguntungkan secara bisnis jika mereka menyelenggarakan sendiri? Artinya, mereka bisa saja menjadi operator telepon tanpa harus bekerja sama dengan siapa pun. Kemungkinan ini tidak ditepis oleh Bambang. Ia melihat kemungkinan itu bisa saja terjadi. Hanya, apakah kemampuan mereka bisa sampai ke sana? 'Itu pertanyaannya.'

Kendati demikian, ia menyadari bahwa teknologi PLC sangat memungkinkan Icon+ untuk menjadi label baru operator telepon di Indonesia. Jika demikian, kata dia, para operator harus memikirkan dengan serius si pendatang baru ini. Berbeda dengan Bambang, Hashnul sedikit lebih ekstrem menyela, 'Mereka itu penyedia jaringan, bukan operator telekomunikasi. Kami ini operator, lho!'

Kalau Jadi Operator?

Lupakanlah soal keberadaan Icon+ saat ini. Mari kita lihat, sebesar apakah peluang bisnis yang terpendam di lahan telepon jika Icon+ menjadi operator? Dari sisi harga, menurut Didi, mereka tentu akan memberikan harga yang lebih murah karena mereka tidak perlu lagi menanam tiang serta menarik kabel dari rumah ke rumah. 'Namun, tidak begitu saja kami hendak menentukan tarif telepon. Soal tarif kan ada regulasinya.'

Nah, regulasi jualah yang menjadi ganjalan bagi Icon+ untuk menyediakan layanan telepon ini. Maklumlah, Indosat yang bisnis intinya di telekomunikasi saja baru dipersilakan menjadi operator telepon lokal pada 1 Agustus lalu. Kemungkinan sih tentu saja tetap ada. Apalagi kepentingan pemerintah adalah agar seluruh wilayah Indonesia secepat mungkin bisa tersambungkan dengan kabel telepon (lihat boks Djamhari Sirat).

Jika boleh berandai-andai, anggaplah Icon+ dalam waktu dekat akan mendapatkan lisensi untuk operator telepon. Lalu, bagaimana persisnya kondisi persaingan yang akan terjadi? Yang pasti, Telkom dan Indosat akan kewalahan juga menghadapi gempuran Icon+. Mengapa? Kemampuannya menjangkau pelanggan sudah tidak mungkin tertandingi oleh kedua operator terdahulu. Sementara itu, jika pemberlakuan tarif dilegitimasi oleh pemerintah, kedua operator ini pun akan kewalahan.

Sambil menunggu datangnya lisensi sebagai operator telepon, obsesi Icon+ untuk ber-'halo-halo' lewat kabel-kabel listrik mereka dalam jangka pendek tetap bisa diraih. Apalagi izin untuk menyelenggarakan jasa internet sudah ada di tangan mereka. Sebagaimana diungkapkan sebelumnya bahwa internet teleponi bisa mereka selenggarakan, maka, 'Kini kami tengah melakukan perundingan dengan Atlasat untuk menyediakan jasa VoIP,' ujar Didi. Atlasat adalah salah satu pemegang lisensi penyelenggaraan jasa VoIP. Jika kerja sama ini berhasil, maka bukan saja telepon lokal yang bisa disediakan oleh Icon+, sambungan langsung internasional (SLI) pun bisa dilakukan.

Melihat jabaran di atas, tergambar bahwa potensi bisnis yang disongsong oleh Icon+ ini tidaklah kecil. Jelas bahwa investasinya pun tidak kecil. Pernah terbersit kabar bahwa untuk investasi peralatan, pihak Icon+ butuh dana sekitar Rp320 miliar. Nah, dari mana Icon+ akan mendapatkan dana tambahan? Grup Berca, milik Hartati Murdaya, memang pernah berniat ikut urunan dengan PLN, tetapi belakangan isu itu menguap begitu saja. Pihak Icon+ pun tak memberikan jawaban yang jelas.

Bisnis ini memang menggiurkan, sementara jika benar investasinya sebesar itu, bukan tidak mungkin pintu terbuka lebar bagi peminat lain. Siapa yang mau ikut?

Wawancara: Soal Regulasi, Tidak Ada Masalah

Masuknya PLN ke bisnis telekomunikasi tentu saja menyentak banyak pihak, terutama para operator telepon fixed line, Telkom, dan Indosat. Kendati Didi Ali Achmadi, manajer umum pengembangan bisnis PT Indonesia Comnets Plus, tidak secara terang-terangan mengisyaratkan hal itu, tetapi kemungkinan persaingan ketat di sektor ini sangat terbuka. Apa saja yang sudah dilakukan serta bagaimana rencana mereka ke depan? Warta Ekonomi melalui Achmad Adhito pada Selasa 1 Oktober 2002 menanyakan banyak hal mengenai bisnis anak usaha PLN ini. Berikut petikannya.

Warta Ekonomi: PLN, induk perusahaan dari perusahaan Anda, adalah perusahaan listrik. Sekarang sudah membangun anak perusahaannya yang kelihatannya akan bergerak ke sektor telko. Apa penjelasan Anda?

Didi Ali Achmadi: Kami sudah memiliki jaringan, terutama jaringan fiber optik. Itu adalah jaringan listrik yang dipakai untuk komunikasi suara ataupun data. Nah, bisnis utama kami dengan label Icon+ sekarang ini adalah menyediakan jaringan backbone yang menggunakan serat optik. Dan saat ini, pelanggan kami sudah banyak. Di antaranya, perusahaan-perusahaan operator telekomunikasi.

Banyak juga pelaku di industri penyewaan jaringan serat optik. Bagaimana kualitas jaringan Anda jika benar Anda akan masuk ke multimedia?
Kami sudah melakukan uji coba di Jakarta, tepatnya di kawasan Duren Tiga. Uji coba itu masih berjalan terus hingga kini. Dalam waktu dekat, uji coba ini akan dikembangkan dari satu lokasi menjadi beberapa lokasi lagi. Akan ada 400 lokasi di Jakarta dan Bandung yang akan kami gunakan sebagai area uji coba.

Namun, dari hasil sementara bisa kami simpulkan, secara teknis bagus, tidak ada masalah. Untuk komunikasi suara hasilnya cukup jernih. Ya, memang teknologinya pakai VoIP (voice over internet protocol) juga, tetapi bandwidth-nya cukup lebar yakni 16 kbps (kilobit per sekon) sehingga suaranya cukup bagus. Selain itu, sudah ada beberapa teman dari Telkom dan Indosat yang mencoba. Secara teknis, menurut mereka, cukup memuaskan.


Benarkah teknologi power line communication communications (PLC) milik perusahaan Anda ini akan bisa dipakai juga untuk sambungan telepon?
Ya, benar. Kami memakainya untuk menyediakan akses data dan suara atau yang disebut internet.

Oke, Anda sudah menjelaskan soal tahap persiapan untuk masuk ke bisnis multimedia. Bagaimana mengenai tahap komersialisasinya?
Untuk komersial, terutama soal penentuan tarifnya, nantinya, kan ada struktur tarifnya. Misalnya, untuk biaya penyambungannya dan biaya terminalnya. Jadi, kami mengikuti struktur tarif sesuai ketentuan pemerintah yang intinya ada biaya penyambungan, biaya terminal, lalu ada biaya abonemen dan biaya pemakaian. Mungkin juga biaya pemakaian dan abonemen dibuat fixed, sebulan membayar tarif tertentu.

Kapan perkiraan waktu untuk masuk ke tahap komersial?
Kami mengharapkan ini bisa diluncurkan awal tahun depan. Nah, tentunya kami mencari daerah-daerah perumahan yang cukup potensial, dan lokasinya tidak terlalu jauh dari fiber optik kami. Kami sudah punya node fiber optik di seputar Jakarta, itu sudah banyak. Jadi, di tiap-tiap gardu listrik ada fiber optiknya. Nah, dari situ, kami harus tarik ke gardu distribusi area pelayanan PLC. Kami memakai teknologi fiber optik juga. Dari gardu ke rumah-rumah barulah memakai PLC. Kami mengambil daerah-daerah yang tidak terlalu jauh dari fiber optik. Kalau terlalu jauh, kan nanti biayanya mahal.

Bagaimana target awal pelanggannya?
Tahap awal mungkin belum bisa besar. Satu tahun berikutnya baru kami pasang target. Target kami tahun berikutnya sekitar 2.000 sampai 3.000 pelanggan.

Soal regulasi, apakah ada halangan?
Soal regulasi, kalau untuk izin penyelenggara jasa internet, kami tidak ada masalah. Icon+ kan sudah punya izin sebagai internet service provider.

Kabel listrik PLN kan sudah ada di mana-mana. Berarti wilayah layanan Icon+ bisa ke seluruh Indonesia?
Ya, bisa. Hanya saja, kalau yang di luar Jawa-Bali, kan kami belum punya infrastruktur untuk fiber optik. Nah, ini mungkin nanti bekerja sama dengan pihak lain yang menyediakan itu, apakah itu bisa fiber optik, satelit, atau bisa juga radio microwave. Jadi, di situ PLN menyediakan kabel listriknya, sedangkan backbone-nya mereka.
Bagaimana dengan kabar bahwa Icon+ akan terjun juga ke bisnis televisi kabel?
Kalau untuk televisi kabel, Icon+ tidak terjun sendiri. Jadi, space yang kami punyai tadi, itu yang kami kerja samakan dengan operator televisi kabel. Kalau untuk menggelar kabel, mereka akan memerlukan tiang listrik sebagai cantelan, dan itu menyewa tiang milik PLN.

Siapa Yang Akan Tersengat Icon + ?

1. Internet Service Provider (ISP)
Dengan jangkauannya yang lebih luas, pelayanan akses internet Icon+ bisa lebih menjangkau ke pelosok Tanah Air. Masalahnya, tingkat penetrasi PC di Indonesia relatif rendah, dan belum diketahui berapa tarif standar untuk pengguna individu.

2. Telkom
Kalau bisa memperoleh izin sebagai operator telepon, maka Icon+ bisa mengancam Telkom, walaupun secara teknologi dibutuhkan pengetahuan dan pengalaman lanjutan untuk, misalnya, membuat layanan mobile fixed phone. Layanan Telkom-Net Instan dan Turbo (jasa akses internet) juga bisa terancam.

3. Indosat
Sama seperti Telkom, di bidang fixed phone, Indosat akan terancam. Selain itu, dengan kemampuan pengembangan jasa VoIP-nya, jalur SLI Indosat juga bisa terancam.

4. Perusahaan Jaringan Broadband
Kalau dibarengi dengan kompetensi pengembangan jasa-jasa lanjutan dari akses broadband (teve kabel, internet, dll.), maka Icon+ juga bisa mengancam penyedia jasa-jasa yang berbasis akses broadband semacam KabelVision atau TelkomVision.

5. Operator VoIP
Kalau regulator memberi izin, tentunya akan memungkinkan bagi Icon+ untuk memberi nilai tambah akses internet yang dimilikinya dengan memberikan jasa VoIP.

Beberapa Indikator Telematika di Indonesia

- Jumlah ISP (internet service provider). Berdasarkan izin yang diperoleh, seharusnya jumlah ISP di Indonesia di atas 200 perusahaan, tetapi hanya 51 yang beroperasi. Dari jumlah tersebut, ada 10 ISP yang menguasai 80% pasar.

- Jumlah pelanggan. Saat ini diperkirakan sekitar 900.000 orang, dan pada akhir 2002 jumlahnya diperkirakan mencapai satu juta orang.

- Jumlah pengguna internet. Saat ini diperkirakan ada 3.500.000 pengguna internet. Dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia sebesar 220 juta jiwa, maka penetrasi internet Indonesia hanya 1,59% termasuk negara dengan penetrasi internet terendah.

- Kepemilikan personal computer (PC). Rasionya diperkirakan kurang dari satu sampai lima PC per 100 rumah tangga (0,01%-0,05%).

- Warnet. Ini merupakan tempat penyewaan komputer yang bisa mengakses internet yang populer di kota-kota besar, terutama di Jawa dan Bali. Saat ini jumlahnya diperkirakan mencapai 2.500 buah.

- Penggunaan internet. Berdasarkan survei yang diadakan oleh Accenture, I2BC, dan APJII pada Oktober 2000, 41% responden mengakses internet dari kantor, 42% dari warnet, dan hanya 17% yang mengakses dari rumah.

- Densitas telepon. Untuk ukuran nasional, angkanya 2,91%, dan 2,04% untuk wilayah Timur, tetapi untuk kota-kota besar, tingkat densitasnya sekitar 20%-25%.

- Telepon selular. Berdasarkan data dari Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI), jumlah pemakai ponsel pada Desember 2001 sudah mencapai enam juta, atau tingkat densitasnya 2,72%.

Komentar Azwani Sjech Umar, direktur SDM PT PLN dan komisaris utama PT Indonesia Comnets Plus:

Alasan PLN untuk terjun ke dalam bisnis jaringan telekomunikasi ini pada dasarnya ada dua hal pokok. Pertama, menyempurnakan pelayanan telekomunikasi internal PLN, khususnya di Jawa-Bali, yang sudah sejak lama dilengkapi dengan FOBB (fiber optic backbone) . FOBB ini dimanfaatkan untuk telekomunikasi operasi sistem kelistrikan, baik itu berupa suara maupun transmisi data.

Alasan kedua adalah utilisasi aset PLN untuk dapat pula dimanfaatkan di bisnis telekomunikasi sejalan dengan perkembangan teknologi yang terjadi. Dalam hal ini, pertama, kami bermaksud mengkerjasamakan ROW Jaringan Tegangan Tinggi milik PLN, khususnya di luar Jawa dan Bali, dengan para operator telekomunikasi. Kedua, menawarkan pemanfaatan Jaringan Tegangan Rendah milik PLN untuk penerapan teknologi PLC ( power line communications) bekerja sama dengan para operator telekomunikasi. Untuk hal ini, kami sedang merintis kerja sama dengan Telkom dan Indosat.

Apakah bisnis telekomunikasi PLN ini dibenarkan menurut regulasi? Menurut saya, UU No. 36/99 membuka kesempatan tersebut dan Comnets Plus telah mendapatkan izin Penyelenggara Jaringan Tetap Tertutup untuk mengoperasikan jaringan FOBB secara komersial. Ini sekaligus menunjukkan adanya dukungan pemerintah terhadap bisnis PLN di bidang telekomunikasi ini.

Saya kira pula bisnis telekomunikasi PLN ini tidak akan tumpang-tindih dengan bisnis BUMN lainnya yang juga bergerak di sektor telekomunikasi. Ini karena produk Comnets akan kami sinergikan dengan bisnis BUMN yang lain. Bisnis telekomunikasi ini juga tidak akan menjadikan PLN keluar dari bisnis intinya, sebab, dengan adanya PT Comnets Plus sebagai unit khusus yang menangani telekomunikasi ini, PLN akan lebih fokus dan efektif.
Lalu berapa besar rencana investasi PLN di bisnis telekomunikasi ini, khususnya di PT Indonesia Comnets Plus? Ini masih belum bisa saya berikan secara gamblang karena, hingga saat ini, investasi fiber optik masih disesuaikan dengan tuntutan operasional kelistrikan.

Hanya saja, selain untuk penyempurnaan layanan telekomunikasi internal PLN dan utilisasi aset PLN di bisnis telekomunikasi, kami sebenarnya menargetkan beberapa hal untuk bisa dilakukan PT Indonesia Comnets Plus hingga akhir tahun ini. Pertama, untuk optimasi pemakaian internal PLN, Comnets akan diperankan sebagai institusi sharedservice. Kedua, mengembangkan usaha ISP (internet service provider) untuk kebutuhan internal PLN. Ketiga, pemasaran keluar dan kerja sama Comnets dengan pelaku bisnis telekomunikasi lainnya.