Di kebanyakan media massa di luar negeri yang mengamati rendahnya keselamatan dunia penerbangan di Indonesia, selalu memuat gambar-gambar seperti yang dimuat dalam thread ini. Effeknya memang cukup ampuh, naik pesawat sipil Indonesia diibaratkan menaiki 'peti mati terbang' sehingga banyak orang-orang dari negera maju (yg memang sangat peduli keselamatan dirinya dan takut mati), memilih menunda perjalanan saja kalau naik pesawat maskapai kita. Tapi toh tampaknya maskapai disini tenang-tenang saja, buktinya setelah hampir 6 bulan berlalu pasca jatuhnya Adam Air di Sulawesi dan Garuda di Jogyakarta, baru maskapai Garuda yang naik kelas ke peringkat 1 untuk manajemen keselamatannya. Lalu yang lain itu kok nggak ada 'progress'?
Jakarta (ANTARA News) - Tingkat keselamatan penerbangan Indonesia hingga kini menduduki posisi enam besar terburuk dari 62 negara di dunia, karena itu wajar negeri ini jadi sorotan internasional
"Kita masuk enam besar terburuk diantara 62 negara di dunia dalam hal keselamatan penerbangan," kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Dephub, Budhi M. Suyitno menjawab pers di Jakarta, Jumat.
Dijelaskannya, data tersebut diperoleh berdasarkan data pemeringkatan yang dilakukan Aviation Safety Network. "Persisnya Indonesia berada di bawah Congo, Sudan, Nigeria, Rusia dan Iran," katanya.
Patah ditengah, kok bisa? Katanya ngeremnya terlalu keras! Atau logamnya sudah aus? atau gara-gara bannya di vulkanisir?
Kelima negara tersebut juga mempunyai data buruk mengenai penerbangan komersialnya.
Dari data Aviation Safety Network itu, kata Budhi, di Indonesia tercatat ada tujuh kecelakaan fatal yang menyebabkan meninggalnya sejumlah penumpang sejak 2002 hingga 2006. Ini belum termasuk kasus kecelakaan Adam Air 1 Januari 2007 dan Garuda pada 7 Maret 2007.
Kecelakaan fatal itu yang menjadi catatan bagi lembaga keselamatan penerbangan internasional tersebut.Meski begitu, tegasnya, tidak hanya negara berkembang saja yang buruk dalam penerbangannya.
Yang satu ini, Mandala, jatuh di Medan. Kabarnya karena 'over weight' gara-gara bawa duren setengah ton!
Buktinya, selain Rusia, ternyata Amerika Serikat juga menduduki peringkat kesepuluh. Padahal dunia penerbangan di negara itu dianggap sangat maju.
Berdasarkan fakta tersebut dan adanya peringatan dari sejumlah negara termasuk "travel ban" dari Komisi Uni Eropa sejak 6 Juli 2007, maka mau tidak mau regulator dan operator penerbangan harus bekerja keras memperbaiki peringkatnya.
Lion di Solo, mendarat terlalu ke tengah landasan? Atau BBM hanya untuk 'one way'?
"Sekarang tugas pemerintah adalah membenahi baik regulator dan operator. Agar itu berhasil, maka harus dilakukan secara transparan, terbuka, penuh komitmen dan konsistensi," katanya.
Jika faktor-aktor itu tetap dipegang, Budhi yakin dalam lima tahun ke depan, dunia penerbangan Indonesia akan maju pesat. Saat ini saja, tambahnya, rata-rata pertumbuhan penumpang di Indonesia di atas 20 persen per tahun.
Artinya, tambahnya, meskipun potensinya sangat besar, tetapi saat ini sektor transportasi udara di dalam negeri ini sedang menjadi sorotan dari dunia luar.
Masuk sungai dan selamat, cuman pilot Garuda yang bisa begini, pilot Indonesia rek!
Budhi juga mengakui hingga saat ini masih ada sejumlah regulasi yang tidak efektif dan saling tumpang tindih.
Menurutnya ada Undang-Undang yang mengatur mengenai penerbangan dengan peraturan pemerintah yang tumpang tindih.
Sudah hampir setahun sejak Dephub RI ribut mempersoalkan keselamatan pesawat disini. Tapi hingga kini, baru Garuda yang dinyatakan naik ke peringkat 1, lalu lainnya bagaimana? Apa deretan pesawat ini menunggu giliran 'crash' lagi? Kasihan deh nyawa penumpang kita!
Karenanya, Dephub juga sudah mulai mengusulkan RUU Penerbangan yang baru untuk mengatur mengenai dunia penerbangan di Indonesia.
"RUU-nya sudah ada, jadi sekarang tinggal kapan DPR-nya mau membahas. Itu terserah DPR," kata Budhi.
antara online




LinkBack URL
About LinkBacks








Reply With Quote

Bookmarks