Prof.Dorodjatun K Jakti

Ekonom senior, mantan Menko Perekonomian RI, Professor Dorojatun mengingatkan agar para elite Indonesia berhati-hati dalam membuat skenario strategi pembangunan ekonomi jangka panjang (rencana diatas 15-25 tahun keatas). Perubahan tatanan ekonomi Dunia yang cepat, sementara 56% dari GDP kita masih berasal dari akitivitas Ekonomi Internasional (terutama yg menyangkut export-import dan arus modal asing), menjadikan Indonesia sangat rentan dengan perubahan sekecil apapun di Ekonomi Dunia.
Parahnya, para ekonom ahli yang paham trend semacam itu dalam Kabinet SBY saat ini hanya segelintir saja. Sisanya kebanyakan di duduki para politisi. Sebut saja Ketua Bappenas misalnya, meskipun dia Sarjana Ekonomi, tapi hanya S1 dan dia lebih paham dunia politik (karena dia adalah elite Golkar) daripada persoalan ekonomi nasional secara mendasar. Pemerintahan sekarang kalah jauh dengan zaman Soeharto dulu, meskipun dia seorang militer, tetapi untuk masalah tehnis semacam ekonomi, beliau lebih percaya pada para ekonom senior di UI saat itu drpd para Jenderal dan politisi Golkar saat itu. Zaman memang telah berubah


Kuncoro Ingatkan Adanya Perubahan Ekonomi Dunia

BANDUNG, (PR).-
Mantan Menko Ekuin, Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro Jakti mengingatkan berbagai pihak untuk lebih berhati-hati dalam menyusun strategi pembangunan ekonomi jangka panjang, terutama dalam hal kecukupan antisipasi terhadap berbagai perubahan perekonomian dunia.

"Perekonomian kita memang sangat terkait dengan ekonomi internasional. Karena porsi kegiatan ekspor-impor dalam PDB (produk domestik bruto) mencapai 56%," katanya, dalam Ceramah Umum Visi Ekonomi Indonesia 2015, di Fakultas Pascasarjana Unisba, Sabtu (28/7).

Menurut dia, dalam membuat perencanaan jangka panjang, hal penting yang seringkali kurang ditekuni adalah pembuatan tahapan-tahapan yang operasional. Hal tersebut dinilai Guru Besar UI tersebut sangat penting. Karena dalam menjalani skenario perencanaan, setiap tahapan harus terselesaikan.

Ditambahkan, setiap tahapan pembangunan tersebut memiliki keruwetan dan permasalahan berbeda-beda yang harus dihadapi. Oleh karena itulah, setiap tahapan pembangunan harus dirampungkan terlebih dahulu sebelum meningkat kepada tahapan berikutnya.

"Oleh sebab itu, bisa dikatakan dalam pembangunan ekonomi, lompatan jauh ke depan (great leap forward) bisa dikatakan tidak mungkin. Karena jika itu dilakukan, akan menimbulkan ancaman krisis," katanya.

Di acara yang dihadiri oleh akademisi, birokrat, mahasiswa, pengusaha, dan berbagai pihak yang terkait dengan bidang ekonomi, Dorodjatun juga menjelaskan beberapa metode pikir yang diperlukan untuk membuat sebuah strategi pembangunan jangka panjang.

Di antaranya untuk melihat dinamisme proses pembangunan, dia menyarankan untuk memerhatikan dua unsur utama penggerak pembangunan, yaitu mekanisme pasar dan perencanaan. Dunia usaha dan masyarakat sebagai konsumen dikelompokkan dalam "mekanisme pasar", sedangkan pemerintah dan para pemangku kepentingan (stakeholder), masuk dalam perencanaan. "Kombinasi di antara kedua unsur utama ini memiliki peranan besar di dalam penentuan kecepatan sebuah proses pembangunan," katanya.
http://www.pikiran-rakyat.co.id/ceta...07/30/0601.htm