Rupiah pada Selasa (9/12) sore ditutup menguat di bawah Rp 11.000 per dollar AS, setelah Pemerintah AS memberikan talangan dana kepada perusahaan besar AS yang mengalami kesulitan likuiditas. Posisi beli rupiah pada Rp 10.925 per dollar AS, sedangkan untuk jual pada Rp 11.075 per dollar AS.

"Upaya AS mendapat respons positif pasar karena diperkirakan akan mengurangi tekanan krisis finansial global yang terjadi akhir-akhir ini," kata Direktur Utama Financ Corfindo Edwin Sinaga di Jakarta.

Ia mengatakan, Pemerintah AS telah mempersiapkan dana talangan sebesar 700 miliar dollar AS untuk menyelamatkan perekonomian akibat krisis keuangan global.

Kondisi ini, menurut dia, juga dimanfaatkan Bank Indonesia (BI) untuk segera masuk pasar dengan mengeluarkan stok dollar AS ke pasar domestik. "Akibatnya, rupiah mengalami kenaikan yang cukup drastis," ujarnya.

Ia mengatakan, pelaku pasar optimistis bahwa AS berusaha menurunkan tekanan krisis keuangan global itu yang diperkirakan akan terjadi pada awal 2009.
Ia mengatakan, kenaikan rupiah harus dijaga agar tidak menjadi bumerang karena kenaikan yang cepat akan membuat rupiah juga kembali merosot.

"Kenaikan itu akibat faktor eksternal, di mana kebutuhan dollar AS di pasar global yang sangat kuat dapat diantisipasi oleh dana talangan yang dikeluarkan Pemerintah AS," katanya.