Tanya:
assalamualaikum..
mau tanya dan mohon maaf,
apakah selama ini kalau saya sholat seperti gambar diatas sholat saya tidak diterima oleh Alloh…..?
seingat saya, saya berusaha sholat dengan segenap hati dan pikiran serta perasaan saya untuk berdialog dengan Alloh swt.
kadang2 saya tak perhatikan bagaimana posisi tangan saya bagaimana posisi siku saya bagaimana posisi telapak tangan saya,
tapi yg saya tau pasti…..pada saat sujud saya sujud ( tidak berkacak pinggang). pada saat rukuk saya rukuk (tidak jongkok) danseterusnya.
jadi intinya apakah lebih baik mempersalah salahkan orang sholat dari pada membahas esensi dari pada sholat itu sendiri….?
terimakasih….mohon maaf.
wassalamualaikum wr wb.
JawaB:Wa’alaikumsalam warohmatulloh
Bagus sekali pertanyaannya akh ‘abangan’. Baik, saya akan mencoba menjawabnya. Saya akan menjawab pertanyaan yg terakhir terlebih dahulu, yaitu tentang mana yang lebih baik, membahas kesalahan dalam sholat atau membahas esensi sholat. Saya katakan dua-duanya baik. Sebab, kalau kita cermati, dalam bahasan ilmu agama Islam, selain membahas tentang hal-hal yang mesti dilakukan, juga dibahas tentang hal-hal mesti dihindari. Hal ini tentu saja agar umat tidak terjerumus ke dalam kesalahan yang ada. Contohnya, dalam materi akidah, selain membahas mengenai bagaimana kedudukan seorang muslim di hadapan Alloh, yang ini berpengaruh pada akhlak seorang muslim, juga membahas mengenai larangan berbuat syirik (mempersekutukan Alloh dengan selain-Nya), dan bagaimana Islam dengan jelas dan tegas membahas kesalahan yang satu ini. Hal ini dapat memperjelas mana yang hak dan mana yang batil. Nah, di sini tentu saja saya tidak bermaksud mengecilkan arti dari esensi sholat itu sendiri. Mengenai alasan mengapa yang saya tampilkan di situs ini hanya pembahasan kesalahan dalam sholat, itu berkaitan dengan pertimbangan bahwa pembahasan mengenai tata cara sholat yang benar sudah banyak terdapat di mana-mana. Hal ini bisa dibuktikan dengan mencari lewat situs pencari dengan kata-kata yang berkaitan, seperti “sifat sholat Nabi” atau “tata cara Sholat Nabi”. Anda akan langsung disodori puluhan, bahkan mungkin ratusan literatur. Di sini saya hanya mencoba menyusun sesuatu yang “berbeda” dari yang lain. Dan menurut pertimbangan pribadi, pembahasan mengenai kesalahan terhadap suatu masalah biasanya lebih melekat di ingatan kita.
Kemudian, terkait dengan perlu tidaknya kita memperhatikan gerakan-gerakan sholat, hal ini menyangkut beberapa poin:
- Dalam agama Islam, kita diwajibkan menuntut ilmu sebelum berkata dan berbuat (berdasarkan hadits shohih riwayat Imam Bukhori). Jadi, dalam hal ini, sebelum kita menjalankan sholat, kita wajib mengilmui terlebih dahulu semua hal yang berkaitan dengan sholat, termasuk di dalamnya adalah rukun, syarat sah, gerakan-gerakan, dsb. Namun, sebagai catatan, di sini saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kalau belum mengilmui semuanya, lantas tidak sholat. Bukan begitu. Idealnya sebelum kita berstatus mukallaf (orang yang terkena kewajiban syariat Islam, termasuk sholat), kita telah mengilmui masalah sholat. Namun jika belum, atau baru sebagian saja kita ilmui, sambil mengerjakan sholat, terus-meneruslah menimba ilmu;
- Gerakan sholat harus sesuai tuntunan Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassallam. Percuma jika kita mengakui bahwa Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassallam adalah panutan dan contoh yang baik, tetapi dalam berperilaku kita tidak mencontoh beliau. Inilah yang disebut ketidak-konsisten-an, lain perkataan dengan perbuatan. Mengenai sholat, dalam sebuah hadits, Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassallam bersabda yang artinya, “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat” (HR. Bukhori-Muslim). Di sini jelas bahwa gerakan sholat ada patokannya, yaitu gerakan yang dilakukan oleh Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassallam, bukan dibuat-buat masing-masing orang. Akan sangat riskan sekali kelak gerakan sholat akan berbeda sama sekali dengan tuntunan Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassallam, jika setiap muslim mempunyai pendapat yang sama dengan Anda, bahwa dalam sholat kita tidak perlu mempedulikan gerakan-gerakannya. Itu belum lagi jika muncul gerakan-gerakan baru yang tidak ada contohnya dari Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassallam, yang bisa masuk dalam kategori bid’ah, di mana bid’ah ini adalah UUN (ujung-ujungnya neraka);
- Harus dibedakan antara syarat sah, rukun, dan kesempurnaan sholat. Terkait dengan gerakan sholat, apabila tidak berkaitan dengan rukun sholat, “hanya” akan mempengaruhi kesempurnaan sholat. Sholatnya tetap sah, namun nilainya di hadapan Alloh akan ber-fluktuatif, tergantung dari kesesuaiannya dengan gerakan sholat yang benar. Tentunya Anda tidak mau apabila sholat Anda “cedera”, gara-gara tidak melakukannya sesuai tuntunan Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassallam. Lagipula sholat akan lebih khusyuk apabila kita yakin bahwa gerakan-gerakan sholat kita mempunyai dasar yang benar.
Nah, saran saya, teruslah belajar ilmu dien (ilmu agama Islam). Ini ada beberapa literatur mengenai tuntunan sholat ala Rosululloh sholallohu ‘alaihi wassallam:
- Kitab Tatacara Sholat Nabi oleh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani, sudah ada terjemahan versi Bahasa Indonesia
- Kitab Sifat Sholat Nabi oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany.
Semoga kita senantiasa diberikan kemudahan oleh Alloh dalam menuntut ilmu agama dan menjalankannya.
Wallohu a’lam bishshowab.
Zuhudhi
Bookmarks